Purnama Kedua

Purnama Kedua
Bang Haris


__ADS_3

Julius Tampak lega, alamat yang dulu ia ingat ternyata masih ditempati keluarga Dandi. Terbukti rumah itu banyak di kunjungi orang dan beberapa rangkaian bunga yang besar bersandar pada gerbangnya. Orang-orang berkerumun, orang-orang berwajah muram.


Julius dan Nani pun turun dari mobil, keduanya melangkah santai. Dari dalam rumah Dandi, tampak seorang om-om berperawakan tinggi putih agak gendut keluar dari rumah Dandi dan begitu menemukan Julius, om-om itu mempercepat langkahnya.


Julius segera menyadari itu, Julius sepertinya mengenal orang itu.


"Itu, itu sepertinya bang Haris?" tukas Julius dan bergegas mengejar. Nani jadi ikut-ikutan mengejar. Orang itu keburu masuk taksi dan menutup kacanya.


"Bang? Bang Haris! Sebentar Bang! ini saya Bang!! Halo?" Julius lantas menyapa sampai mengetuk pintu kaca taksi yang segera berlalu itu. Aneh Julius rasa. Kecurigaannya pun semakin besar.


"Sudahlah, kita masuk saja dulu, gak enak tuh, orang-orang ngelihatin kita," ucap Nani sambil menarik Julius. Julius pun menghela napas dan menurut pada Nani. Ia pikir, iya bisa mencari dan menemui Bang Haris lain kali.


Julius kini masuk rumah keluarga Dandi dan disambut hangat oleh keluarga Dandi. Istri Dandi tampak pucat, sepertinya ia sangat terpukul.


Kedatangan Julius memancing cerita panjang, karena di situ ternyata ada Rudi yang baru datang, Jamal dan yang lainnya. Teman-teman seperjuangan Julius di awal-awal menapaki dunia hiburan.


"Jul, lu kemana aja sih? Susah amat gue mau hubungin lo," protes Jamal.


"Gak punya TV nih orang, Julius lagi bulan madu dodol, elu tuh yang kemana aja," Rudi yang menjawab. Pertemuan dan canda para sahabat lama itu cukup ampuh mengusir kepiluan pemilik rumah. Jamal sekarang sudah menjadi komedian dan ia gunakan kepandaiannya meramu kebegoan itu untuk menghibur keluarga Dandi yang lagi muram. Jamal, Rudi dan Julius berhasil menyingkirkan roman pilu dari wajah-wajah tertekuk itu menjadi gelak tawa.


"Eh Jul, Lo pake formasi apa? buat menjebol gawang," tanya Jamal dengan wajah serius seperti orang yang membicarakan tandingan sepak bola kelas dunia. Padahal mereka sedang membahas malam pertama Julius dan Nani.


"Yang pasti gue gak pake cara Italia, kelamaan ngegocek, gue pake cara Inggris, Wus! Wus!!" jawab Julius menanggapi. Nani dan puluhan keluarga Dandi sudah terbahak-bahak. Ternyata Julius bisa kocak juga.


"Trus, gol pertama di menit ke berapa?" lanjut Jamal.


"Sembarang! bukan menit, tapi jam."


"hahaha..."


***


Angela sudah di luar kota. Tepatnya daerah Bandung.


"Jel, Kok gue jadi deg-degan yah," ucap Gea. Kini ia menggunakan sabuk pengaman.


"Kenapa sih lu ngotot mau kembali kan tuh kalung sama yang punya?"


"Gak tau juga gue, gue ngerasa ini pilihan bijak aja. Gue gak pernah ngeremehin fans. Orangnya baik kok, tenang aja, sebentar lagi kita sampai."


Ban sedan yang dikendarai Angela mulai menapaki jalanan tanah berbatu, di kiri kanan banyak pohon-pohon besar dan rumah-rumah semakin jarang.

__ADS_1


"Itu rumahnya, yuk," tunjuk Angela ke sebuah rumah sederhana yang temboknya belum diplester. Jarak satu rumah ke rumah yang lain sekitar 50 meter, bahkan kadang terhalang kebun sayuran.


Angela dan Gea pun turun. Langkah Gea hati-hati, karena jalanan setapak itu masih tanah dan tidak begitu rata.


"Bagaimana ceritanya cewek kampung sini bisa-bisanya sampai Jakarta dan mengacaukan liburan Gue," gerutu Gea.


"Sett! Itu bapaknya," tunjuk Angela pada sosok tua sederhana yang sedang mengikat sayuran.


"Permisi Pak, kami temannya Tina, dari kota. Tinanya ada?" ramah Angela agak membungkukkan badan.


"Eh, ada, ada, sebentar, bapak panggil dulu yah, Tina sedang mencuci baju. Silahkan duduk," orang tua itu menunjuk sebidang teras bambu yang sepertinya baru.


"Iya, terima kasih," jawab Gea dengan senyuman.


Sejenak Gea menarik nafas panjang dan menghelanya dengan rasa syukur.


"Seger banget ya, udaranya di sini. Teduh juga, masih banyak pohon."


Tidak lama kemudian, Tina datang bersama Bapaknya. Bapaknya kembali pada pekerjaannya, mengikat sayuran dan Tina menyalami Angela dan Gea dengan senyum dan sikap yang ramah.


"Mm, Kak Angel yah?" ucap Tina kemudian. Ia agak ragu.


"Silahkan duduk," ucap Tina. Angela dan Gea pun duduk. Sementara itu bapaknya Tina selesai mengikat dan hendak membawa sayurannya dengan motor. Motor bebek yang tampak baru.


"Tina, Abah ke pasar dulu yah, Temannya di bikinin minum dulu."


"Iya, Bah," jawab Tina, "Sebentar ya Kak, Tina bikin teh dulu."


"Gak usah repot-repot," sergah Gea.


"Teh hijau dengan sedikit gula," ucap Angela. Tina pun ingat. Dulu waktu pertama kali ke situ, Angela sangat suka teh hijau buatan Tina. Dengan teh yang dipetik langsung oleh Tina.


Tina beranjak ke dalam.


"Lo harus coba, teh hijaunya, mantap banget."


"Lo sering ke sini?" tanya Gea.


"Gak, cuma sekali dan nginep semalem. Tidak lama kemudian Tina kembali dan menyuguhkan teh hijau hangat dan satu piring besar cemilan kering. Cemilan kampung yang Angela lupa namanya.


"Langsung aja ya Tina, maksud kedatangan Kakak ke sini itu, mau mengembalikan kalung yang dulu kamu berikan itu," ucap Angela.

__ADS_1


"Ah, kok repot-repot ke sini, tinggal buang aja kalo Kak Angel gak suka mah, saya jadi gak enak," ucap Tina.


"Ah, tidak baik membuang sesuatu pemberian orang. Apalagi itu perhiasan." Untuk ucapan Angela yang satu ini Tina jadi kagum dan mengerti apa itu harga-menghargai. Padahal nyatanya, Angela hanya membuang sial atau seperti mengembalikan kesialan yang ia tuduhkan pada kalung itu, ke tempat asalnya.


"Oh iya Kak, Tina juga lihat di berita, soal bapaknya Kak Angel. Yang tabah ya Kak."


"Iya, terima kasih." Sejenak suasana hening.


"Oh iya, silahkan diminum dulu tehnya, keburu dingin nanti gak enak."


"Iya, iya, cobain Gea, enak loh, lo harus sering minum teh kayak gini, biar gendut lu berkurang.


"Sembarangan, lihat dong, orang seksi kayak gini, gendut apanya?"


***


Sepulang dari rumah Dandi, Julius mendapatkan sesuatu. Sesuatu yang membuatnya bersyukur. Tapi di balik itu ia juga jadi tidak enak hati. Rudi memberikan nomer Bang Haris disertai dengan cerita pilu. Bang Haris Bangkrut, keluarganya berantakan. Kecurigaan Julius makin teryakinkan. Banyak fakta, orang yang sedang jatuh bangkrut bisa melakukan hal nekad. Tanpa pikir panjang lagi, Julius pun menghubungi nomer Bang Haris itu. Julius bersyukur nomor itu masih aktif.


***


Kalung itu pun berpindah tangan, dari Angela ke Tina. Gea tampak lega, begitupula dengan Angela.


Angela dan Gea segera undur pamit.


"Terima kasih Tina, teh nya enak banget," ucap Gea.


"Kalo mau ada banyak kok, baru kering di jemur"


"Ah, jangan-jangan," tolak Gea


"Jangan sedikit maksudnya," canda Angela.


"Sebentar ya," Tina pun bersemangat.


"Malu-maluin aja luh," senggol Gea pada Angela.


Tina kembali dan memberikan oleh-oleh. Sekantung teh hijau yang sudah kering tapi masih berwarna kehijauan.


"Aduh, banyak banget," senang Gea.


"Ingat, kalo gak suka, jangan dibalikin, dibuang aja," senyum Tina begitu ramah. Akhirnya mereka pun berpisah dengan pelukan persahabatan.

__ADS_1


__ADS_2