Purnama Kedua

Purnama Kedua
Wini dan Dandi


__ADS_3

Dandi kedatangan dua orang perempuan yang sepertinya ia kenal dengan baik. Ia adik kakak dari Bandung, Wini dan Tina. Dandi mengenal baik Wini dan Tina. Beberapa tahun tidak bertemu, Dandi sungguh pangling.


"Kak Dandi?" tunjuk Wini dengan kagok dan Tina tersipu malu. Keduanya sedang menjajakan kosmetik dari pintu ke pintu, sampai akhirnya kini keduanya sampai ke salah satu pintu rumah yang terbuka dan pemiliknya sedang berleha-leha di beranda depan.


"Wini? Tina?! Apa kabar, sini sini duduk dulu," Ramah Dandi. Hari begitu terik. Kulit Wini dan Tina yang dulu putih bersih, kini tampak kusam. Tubuh keduanya pun tampak agak kurus.


Pertemuan yang tak duga, berbuntut obrolan panjang. Selain sebagai guru, Dandi juga sebagai sahabat bagi semua muda-mudi di manajemen artis itu.


"Jadi kalian jualan kosmetik sekarang, kenapa gak coba cari agensi lain?" tanya Dandi.


"Hm, ceritanya panjang Kak, ucap Wini sambil tertekuk malu.


"Sepertinya saya bisa bantu kalian. Itupun kalo kalian masih ada semangat di dunia entertainment," ucap Dandi dengan mantap.


***


Hujan turun mengguyur bumi. Kasih ilahi membasuh debu-debu yang melekat di dedaunan, meredam emosi kota yang penuh asap knalpot dan bising mesin.


Di dalam kamar kontrakannya, kini Wini kembali mengenakan kalung ajimat itu setelah sekian lama ia simpan rapat-rapat. Ia sempat merasa telah membuat satu kesalahan besar dan beruntung ia masih hidup dan diberi kesempatan untuk memperbaikinya. Bagaimanapun ia telah merusak rumah tangga orang dan menghancurkan mimpi teman-temannya. Bahkan pendidikan adiknya turut kandas.


Ia bertekad menebus itu semua dengan berusaha jualan dan mencari uang dengan cara wajar.


Memang menjadi model atau pemain sinetron juga rejekinya wajar. Tapi menjadi model majalah pria dewasa dan mengencani suami orang sungguh perbuatan yang sulit untuk dimaafkan Tuhan. Uang dan asmara telah membuatnya lupa pada ibadah dan menjaga diri. Ia kebablasan dan kini ia terjatuh.


Hari demi hari iya lalui dengan sisa asmara dan sisa harta yang Haris punya.


Haris seperti orang gila yang menikmati dirinya. Haris tidak mempersoalkan usahanya yang di segel, rumah tangganya yang berantakan dan sebagainya. Asal dekat dengan dirinya, Haris tampak senang. Dalam hal ini, Wini menyalahkan efek ilmu pelet itu.

__ADS_1


Lama kelamaan Haris makin konyol, bahkan tak segan-segan mencumbu dirinya di hadapan Tina. Wini makin merasa risih dan akhirnya putuskan untuk meninggalkan Haris.


Haris yang sudah habis.


Air hujan menggenang di jalan-jalan sempit sepanjang gang yang Wini lalui. ia sudah buat Janji dengan Dandi. Sejak pertemuan yang tak terduga itu, Dandi terus membujuk Wini.


Kau sudah basah, mandilah sekalian


Satu kata dari Dandi itu terus menghantui di sepanjang hari-harinya. Haris sudah tidak bisa diandalkan, sedangkan perut minta diisi makanan setiap hari. Wini berjualan kosmetik hanya modal nekad dan terpaksa. Akhirnya ia putuskan kemas pakaian, dan Tina yang selalu merengek ingin pulang ia bawa menemui Dandi. Dandi menyewakan apartemen dan sering mengajak Wini ke berbagai PH dan rumah mode. Dandi jadi agensi bagi Wini yang siap eksis kembali, meski tidak gampang membangkitkan nama yang sudah tercoreng. Dunia entertainment itu sempit. Hanya sebatas layar televisi. Seperti seorang artis yang terlibat kriminal, reputasi Wini sudah hancur.


Tapi Dandi dan Wini sudah sepakat. Mereka harus bisa. Sampai akhirnya, Kini keduanya sudah di dalam taksi. Keduanya akan menemui satu orang penting di restoran mewah.


Wini mengenakan gaun warna krem yang terkesan kalem dan tidak mencolok. Bahkan Wini tidak banyak menggunakan riasan. Dalam hal ini, ia percaya pada kekuatan ajimatnya yang dulu sudah terbukti ampuh.


Seorang Bramantyo sudah menunggu di dalam restoran itu. Dandi datang bersama seorang gadis jangkung berambut panjang. Sorot matanya teduh tapi sekaligus tampak jelita. Kulitnya yang kenyal dan licin itu seolah menantang para kesatria berkuda untuk bertarung memperebutkan tahta.


Bramantyo pun menyambut dengan hangat dan bersalaman dengan gadis itu yang kemudian memperkenalkan diri bernama Wini.


"Tapi apa Om?" desak Wini.


"Yang bertanggung jawab dan keluar modal bukan hanya saya. Ada dua orang lagi. Kita harus menemuinya malam ini juga, sebelum mereka menemukan orang lain," ucap Bram dengan tatapan serius.


"Ya udah, bagaimana baiknya saja," ucap Dandi. Selesai makan malam yang begitu lezat Wini rasa. Om-om bernama Bramantyo (Ayahnya Angela) itu membawa Wini.


"Ini, kamu sewa apartemen untuk pertemuan kita atas nama kamu saja," ucap Bram sambil menyerahkan segulung uang tunai. Aneh Wini rasa. Tapi ia menerimanya saja.


"Bukan apa-apa, takut dua teman saya itu tak jadi datang atau datang kemalaman, kamu bisa menginap dan besok pagi kita lanjutkan pertemuan. Kamu duluan, saya juga menyewa satu pintu lagi."

__ADS_1


Herlambang dan Gio sudah on the way. Gio yang nyetir.


Dandi asik main bilyard di sebuah pub sebelah kanan apartemen yang disewa Wini. Ia tidak ikut pertemuan itu. Tidak perlu kata Bram. Wini dan Dandi setuju-setuju saja tanpa rasa curiga.


Tidak lama kemudian Herlambang dan Gio datang dan sampai ke pintu apartemen yang Bram sebutkan nomornya lewat telepon. Sementara Gio dan Herlambang berkenalan dengan Wini. Bram beranjak ke belakang.


Bram kembali dengan nampan dan menyuguhkan wine dalam gelas goblet.


Mereka terus berbincang, Sesekali Wini mengecap minumnya. Jarang ia punya kesempatan mencoba minuman mahal semacam itu. Lama mereka berbincang-bincang dan sampai pada akhirnya,


"Peran ini, cocok sekali buat kamu dan, dan sebelum kamu naik daun dan melupakan kami. Kami hanya minta kenang-kenangan," ucap Bram sambil satu tangannya menyentuh paha Wini. Wini yang mulai merasakan pening masih bisa mencerna, kemana arah pembicaraan dan sentuhan itu. Wini sadar seketika itu pula. Kepalanya terasa berat dan pandangannya mulai lamur.


Kali ini bukan hanya Bramantyo yang nakal menggerayangi Wini. Tapi Gio dan Herlambang mulai melancarkan serangan. Dengan sisa tenaga dan kesadaran yang hampir habis, Wini meronta dan menepis. Seperti kucing yang awalnya lembut dan jinak, Wini menjerit dan mencakar. Ketiga Om-om itu jadi berang, bahkan Gaun Wini sampai sobek dari leher sampai pinggang ditarik Gio.


BRATTTT!


Bra Wini pun berhasil di copot. Wini ingat ia mengenakan hi heels. Seperti yang pelatih fighting katakan, runcing sepatu hi heels adalah senjata darurat bagi perempuan. Wini pun mempraktekkannya dan mengenai sasaran. Herlambang mengaduh dan cengkramannya terlepas.


Wini tidak sia-siakan kesempatan, ia meronta hebat dari genggaman Gio dan Bram. Gio ia tendang selangkangannya, Bram ia depak dadanya dengan satu dorongan kuat, Bram pun terserak jatuh ke sopa. Wini lepas dan di hadapannya cuma ada jendela kaca yang lebar. Mungkin Wini yang sudah dalam pengaruh obat bius mengira itu pintu atau memang ia lebih memilih loncat dan menyebut kematian.


PRAYYY!!!


GREKKK!


Adonan beton meremukkan sebagian kepala dan bahu Wini. Darahnya tumpah, matanya melotot.


di balik jendela yang gordennya berkibar, Wajah kaget Bram, Gio, dan Herlambang Tampak bingung dan ketakutan.

__ADS_1


HEAHHH!!


Gio terperanjat dari tidurnya. Kematian Wini itu kembali mengganggu tidurnya. Gio bangkit dan menenggak beberapa butir obat penenang.


__ADS_2