
Awan mendung bergulung-gulung, awan mendung menutupi langit. Tina bersimpuh di pusara kakaknya. Setitik air meluncur di pipinya. Terlalu banyak kenangan untuk dikenang, terlalu sakit untuk diingat kembali. Perlahan Tina merogoh sakunya dan kalung itu ia lilitkan ke papan Nisan kuburan kakaknya itu. Papan nisan kayu yang masih segar dan belum dimakan rayap.
Angela dan Gea sudah berlalu, tak ayal, itu membuat Tina jadi berpikir,
"Ada apa dengan kalung ini, kenapa Angela dan Gea jauh-jauh mengunjungi hanya untuk mengembalikan Kalung ini," gumam Tina.
Wini tertegun di belakang Tina yang sedang bersimpuh menguras kepiluan. Wini tampak mulus bersih dan berpakaian seperti seorang pesinden, lengkap dengan riasan dan perhiasan.
"Tina, maafkan kakak Tina," ucap Wini memelas. Tina tidak mendengarnya.
"Bantu kakak Tina," Tina tetap tidak mendengar. Tapi Wini telah mempengaruhi Tina. Tina mengambil kembali kalung itu dan membawanya.
Dedemit sakti yang menghuni bandul kalung itu menuntun Tina dan Wini kembali ke apartemen Angela.
Hari sudah gelap, ketika Tina sampai dan mengaitkan kalung itu ke daun pintu. Tina pun merogoh tas dan meraih lipstik lalu menuliskan serangkaian kata di pintu itu dengan lipstiknya.
Wini tersenyum manis, lalu tertawa sampai terkikik-kikik nyaring sekali. Tapi tidak ada yang mendengarnya, tidak ada yang terganggu, suasana sepi tetap melingkupi. Tina yang begitu kaku kini beranjak menjauh diiringi tawa Wini yang semakin nyaring di dimensi yang lain.
***
"Tadi siang, Abang bertanya langsung soal kalung itu pada Angela," ucap Haris. Saat ia kembali bersama Julius. Berdua di beranda belakang. Mau tidak mau Julius jadi terpancing jadi serius.
"Saya tidak enak dianggap gila terus-menerus sama kamu, jadi tadi saya pastikan langsung dengan bertanya pada Angela."
"Maksud saya Bang-"
"Ah, sudahlah, aktingmu masih saja payah," potong Haris. Julius jadi malu sendiri, karena tidak bisa menyembunyikan tatapannya yang memang menganggap Ayah angkatnya itu sedang sakit jiwa.
Nani datang menyuguhkan minuman hangat dan duduk di samping Julius.
"Angela bilang, memang kalung itu milik Wini."
"Tapi? bagaimana bisa? maksud saya, dari mana Angela mendapatkannya?" Julius jadi tambah aneh.
"Tina yang memberikannya langsung pada Angela," ucap Nani menarik perhatian Haris dan Julius.
"Dulu, waktu saya dan Angela nyari nih orang Bang," lanjut Nani jadi lucu sendiri mengingat perjuangannya mengejar Julius. "Saya dan Angela sampai ke rumah Tina, karena ada petunjuk nih orang tampan ini ke situ, ke pemakamannya Wini. Memang benar, Julius yang mengantarnya. Tapi sudah pergi lagi, buru-buru katanya. Lalu sebelum kami pulang, Tina memberikan kalung itu pada Angela," cerita Nani.
"Jadi, kamu sama Angela, walaupun saingan kalian tetap jalan bareng gitu, nyusul si Panjul ini?" tanya Haris jadi kepo.
"Ya mau gimana lagi, daripada saya kehilangan jejak, mau tidak mau saya nebeng sama Angela," jujur Nani lantas tertawa.
Julius tersenyum malu, ia merasa konyol.
"Bisa dibikin sinetron ini, judulnya, dua bidadari mengejar pujangga pencari cinta sejati," canda Haris.
"Tau gak Bang, Ternyata bukan Wini atau Tina gadis pujaannya," lanjut Nani. "Nih orang udah gak ada, pergi lagi, nyamperin cewek yang lain lagi."
"Waduh, cewek yang mana lagi Jul, Haha," Haris jadi tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita Nani dan roman malu di wajah Julius. Tapi Julius jadi senang, setelah sekian lama akhirnya ia bisa melihat ayah angkatnya itu tertawa lepas, seperti dulu.
"Awalnya saya membaca koran soal kematian Wini itu, kasian Tina, ia sendiri ngurus jenazah Wini. Saya pun turun tangan dan mengantarkannya sampai kampung," ucap Julius menggenapi cerita Nani. Mendengar nama Wini di sebut-sebut, kembali Haris tertekuk pilu. Tahu begitu, Julius pun menyesal telah menyebut nama Wini.
"Apa kamu juga tahu, siapa yang telah membunuh Wini?" tanya Haris pada Julius dengan tatapan yang sangat serius.
"Entahlah Bang, saya tidak tahu, Bahkan Tina tidak sedang bersama Wini saat malam kejadian itu. Justru Tina bilang, yang mengantar Wini adalah Dandi." Sampai di situ, mereka bertiga seakan menemukan titik terang. Apalagi Julius, ia sendiri yang membaca berita kematian Wini dan ia juga yang menanyai Tina soal kematian Wini itu.
__ADS_1
"Sekarang Dandi sudah tiada, apa mungkin, Wini balas dendam?" angan Haris membuat Nani dan Julius bergidik ngeri.
"Astaga, kalung itu ada pada Angela, Ayahnya Angela juga Tewas dengan cara yang sama dengan Dandi. Apa kalian bisa menebak siapa pelakunya?" tanya Haris. Nani jadi saling pandang dengan Julius.
"Angela pelakunya," lanjut Haris. Julius dan Nani pun sependapat.
"Percaya atau tidak, petunjuk itu datang kepada kita, sekarang juga, kita rebut kalung itu dari Angela," ucap Haris jadi tampak gusar.
"Sekarang juga? Tapi sekarang sudah malam Bang," redam Julius," Lagipula, siapa lagi calon korbannya. Sudah seminggu sejak kematian Dandi, sampai sekarang tidak jatuh korban lagi. Jadi sangat mungkin, Dendam Wini sudah tuntas," lanjut Julius. Haris pikir, ada benarnya juga ucapan Julius itu.
"Tapi perasaan saya... Ah, entahlah, mungkin hanya perasaan saya saja," ucap Haris.
***
"Gea, gue ke rumah Oma dulu, ada urusan penting katanya," ucap Angela lalu memulas bibir dengan lipstik.
"Ya udah, jangan pulang kemalaman, besok pagi kita ada jadwal," jawab Gea.
"Ya udah, tapi awas, jangan masukin cowok ke sini," ancam Angela.
"Elit, emang gue cewek apakah? enak aja," tepis Gea. Angela sudah nyelonong pergi. Gea pikir, Angela mau di kasih warisan. Tapi ternyata Angela melesat ke rumah Gio.
Angela bertamu ke Rumah Gio dengan senyum manis dan disambut dengan hangat.
"Eh, Angela yah?" tunjuk istrinya Gio. Mungkin ia lebih sering melihat Angela di layar televisi daripada aslinya, jadi ia agak ragu.
"Iya Tante, maaf mengganggu," senyum Angela.
"Ayo masuklah," Ramah Wanita cantik itu lantas celingukan ke arah luar.
"Enggak Tante, kendaraan saya mogok, sekarang lagi di bengkel, rusaknya lumayan parah, jadi lama, ya saya ke sini aja," kilah Angela.
"Oh, silahkan duduk, Pah! ada Angela nih," panggil istrinya Gio itu. Angela lupa Namanya.
"Dia lagi makan. Oh iya, kamu udah makan belum? Ayo kita makan yuk!" ajak istrinya Gio. Baru saja iya duduk, ia bangkit lagi dan hendak menarik Angela.
"Makasih Tante, udah, saya udah makan," tolak Angela dengan senyuman.
"Bener nih?"
"Beneran, suer, hihi."
***
"Oh iya Jul, siapa itu, asistennya Angela itu," tanya Haris. Rupanya ia masih penasaran membahas Angela.
"Oh, Gea namanya, ada apa emang Bang?"
"Apa kamu punya nomor telponnya?" tanya Haris. Nani jadi menatap Julius, seorang menilai air muka Julius.
"Kalo nomor telponnya Angela, masih ada," Nani yang menjawab. Tapi jawaban itu beda dari pertanyaan yang diajukan. Jawaban itu seperti curhatan seorang menantu pada mertuanya. Seperti, Ini loh bapak mertua, anaknya tuh masih nyimpen nomor mantan.
Otomatis Julius jadi tersinggung oleh ucapan Nani itu.
"Tenang Nani, kalo si Panjul macem-macem, bilang saja sama Abang. Tapi sekarang masalahnya, firasat saya mengatakan, kita harus pastikan Angela tidak melakukan lagi pembunuhan. Sini, Biar saya yang bicara Jul," ucap Haris menadahkan tangan dengan wajah serius.
__ADS_1
"Nih," Julius pun menyerahkan Handphonenya pada Haris.
Angela sedang bersenda gurau dengan Gio dan istrinya Gio di meja makan. Gio sudah selesai makan dan Angela menikmati teh hangat yang disuguhkan.
Handphone Angela berbunyi, Angela pun melihat layarnya. Terpampang dengan jelas, nama Julius tertera di situ. Sejenak Angela merasa aneh, Ada perlu apa Julius menelponnya. Tapi sedetik kemudian, ia putuskan itu ia jadikan lelucon.
"Om, Tante, coba tebak? siapa yang nelpon saya?" ucap Angela dengan wajah polos yang siap tertawa.
"Saya bukan ahli nujum, mana bisa tau itu siapa," jawab Gio santai lalu mengunyah buah apel yang baru selesai dikupas.
"Julius, Julius nelpon saya, buat apa coba?"
"Oh, Julius. Iya, iya, Tante ingat, bukannya sekarang ia sudah menikah,"
"Iya Tante, ngapain coba ia masih suka nelpon saya,"
"Kamunya juga, masih suka kan sama dia," cetus Gio.
"Hus, Papa ini, denger yah," yang menimpali istrinya sendiri. "Nih, cewek itu beda sama cowok, cowok bisa aja dengan mudah ngelupain mantannya. Tapi yang namanya perempuan, perasaannya sensitif, apalagi kalo putusnya gara-gara si cowoknya yang selingkuh, uh, sakitnya kerasa sampe mati."
"Jadi curhat nih, ceritanya," goda Gio. Angela jadi lucu sendiri mendapati pasangan yang sudah tak muda lagi tapi masih membahas masalah pacaran.
"Eh, Angela, kenapa gak diangkat teleponnya?" tunjuk Gio ke handphone Angela yang kini padam.
"Males ah Om, takut perasaan saya yang dulu terungkit lagi," jawab Angela malu-malu.
"Tuh kan, cewek mah gitu, coba kalo cowok yang di telepon sama mantannya. Uh, langsung tuh, idungnya terbang." ucap istrinya Gio yang kini Angela ingat namanya Shintia.
"Sekarang nyindir, tapi saya, apa itu istilah anak sekarang? Santuy, hehe, berhubungan saya tidak pernah ditelepon sama mantan, jadi santuy aja,"
***
"Tidak diangkat," ucap Haris.
"Coba ke Gea," saran Julius. Haris pun mencari nama Gea dan begitu ketemu ia langsung meneleponnya.
Gea menerima panggilan itu,
"Iya, halo,"
"Maaf Gea, ini bang Haris, Angelanya ada?"
"Oh, bang Haris, Angela lagi keluar tuh Bang, ada apa yah? soal kerjaan??"
"Nanti Saya jelaskan, sekarang apa kamu tahu Angela kemana?" desak Haris.
"Mm katanya sih dia dipanggil keluarga besarnya gitu, mau bagi-bagi warisan kali," jawab Gea.
"Oh, tapi maaf, apa kamu punya nomer keluarga dekatnya, pamannya atau Tantenya mungkin,"
"Mm, ada ada, sebentar, saya ada nomer sepupunya," jawab Gea.
"Ya sudah, nanti ada tidaknya Angela kabari ke sini yah, penting."
"Ya,"
__ADS_1
"Ya, makasih Gea," pamit Haris lalu sambungan telepon ia putus.