
Julius dan Nani pergi makan malam dengan rekan-rekan bandnya Julius. Haris tidak ikut, padahal Julius dan Nani ingin sekali Ayah angkatnya itu ikut.
Malam sepi dan tenang, Haris menyelinap dan mengendap-endap ke belakang rumah Julius itu. Suasana sepi. Sepertinya dua pembantu Julius sudah tidur. Kilau air dari kolam renang menari-nari di tembok pagar belakang.
Haris keluar melalui pintu belakang, di pinggangnya terselip pisau dapurnya itu.
***
Sesampainya di tempat tujuan, Gea memarkir mobilnya dan segera mengajak Angela turun dan mengetuk pintu. Rumah paranormal yang dimaksud Gea itu terletak di tengah kota. Bahkan hampir serupa dengan deretan ruko di depannya. Angela jadi berpikir, sudah sekomersil itu kah ilmu mistis dan ramal-meramal?
Gea membunyikan bel dan seseorang segera membukakan pintu. Wajah seorang wanita muda muncul dan ramah menyapa. Dandanannya mencolok. Angela kira, wanita itu cocoknya jadi pemeran Tante girang yang doyan berondong.
"Hay, Gea yah," tebak wanita itu dan dibenarkan oleh anggukan dan senyum Gea.
"Ayo, masuk," ucap wanita itu sambil melebarkan pintu. Gea dan Angela pun masuk dan duduk, membuat diri mereka sendiri senyaman mungkin. Padahal, hati mereka gusar bukan main.
"Saya kira, kamu gak jadi datang Gea," ucap wanita itu. Kerena memang Gea membuat janji berkunjung seminggu yang lalu saat pertama ia mengusulkannya pada Angela. Tapi Angela lebih memilih mengembalikan kalung itu pada tempatnya.
"Ini lho Tante, ada yang menakut-nakuti kami dengan kalung ini, Oh iya, Jel, ini Tante Selvi. Tante, ini Angela," ucap Gea lantas mengeluarkan kalung itu. Sementara Angela dan Tante Silvi bersalaman.
"Ini." Kalung itu Gea tunjukkan. Sejenak Tante Silvi tertegun, menatap kalung itu. Ada kengerian dimatanya. Ia lalu menatap Angela dan Gea bergantian dengan tatapan yang lebih mengerikan. Di mata Tante Silvi Gea dan Angela itu seperti dua orang perampok sadis yang sedang menodong.
"Kenapa Tante?" tanya Gea jadi ikut ikutan ngeri penuh rasa tak mengerti. Perlahan Tante Silvi pun meraih kalung itu dan menggenggamnya. Erat, makin erat. Melihat tingkah Tante Silvi itu Gea dan Angela jadi saling pandang tak mengerti.
"Setiap perhiasan punya kesempatan di ikuti oleh mahluk halus," ucap Tante Silvi dengan mata tertutup dan penghayatan yang dalam, "apalagi batu permata merah ini. Perlu kalian tahu, semua bangsa jin menyukai batu mulia, terutama yang berwarna merah," Lanjut Tante Silvi.
"Jadi, kalung ini dibawa sama mahluk halus gitu?" tanya Gea penuh rasa ingin tahu.
"Tidak, mereka hanya mendekati dan mengikuti kemana permata itu pergi dan kadang ada yang nekad menghuni batu mulia. Tapi batu permata ini. Seseorang sengaja mengisinya dengan satu mahluk halus yang sakti. Dalam hal ini, kalung ini menjadikan siapa pun yang memakainya bakal disukai oleh lawan jenis," lanjut Tante Silvi.
__ADS_1
"Jadi kalung ini semacam jimat pemikat gitu?" tanya Gea. Kali ini Tante Silvi membenarkan dugaan Gea.
"Yah, lebih dari itu, kalung ini juga jadi pelindung dari kekuatan jahat tak kasat mata. Seperti santet dan semacamnya."
Angela yang dari tadi menyimak kini merasakan pusing. Ia tidak pernah percaya akan hal-hal tersebut dan ia ingin segera ke inti permasalahannya.
"Maaf Tante, kami cuma tidak mau, kalung ini mengikuti kami terus?" potong Angela.
"Kalung ini dan segala keistimewaannya pasti punya alasan tersendiri, Coba ingat-ingat, kalian punya hubungan atau kepentingan apa dengan pemilik kalung ini?" tanya Tante Silvi dengan wajah serius. Tapi bagi Angela, tampang itu seperti orang yang sok tahu dan penipu. Dalam hati Angela merasa dongkol. Kalo ia tahu masalahnya, ngapain ia jauh-jauh datang ke situ. Buang-buang waktu dan uang saja.
"Bagaimana kalo kalung itu Tante simpan saja dan kunci rapat-rapat agar tidak datang lagi kepada saya," ucap Angela dengan nada sinis.
"Maksud kami begini Tante, mmm?" Dengan sigap, Gea coba mengalihkan kesinisan Angela.
"Sederhana saja, kalo kalian tidak percaya pada hal-hal mistis, ngapain kalian kemari?" ketus Tante Silvi menanggapi sikap Angela yang sudah antipati. Angela berjingkat pergi. Sontak Gea jadi tak enak hati.
Angela berdiri melipat kedua tangan. Ia tampak emosi dan bingung sendiri, mondar-mandir sendiri di luar, di dekat sedannya.
"Lo kenapa sih Jel? malu-maluin gue aja," cetus Gea begitu sampai dan menghadapi Angela yang terus berpaling.
"Gue ngerasa konyol aja, yuk balik," jawab Angela sambil membuka pintu sedan dan masuk. Gea menyusul.
"Ya udah, yang penting kalung itu udah gue titipin sama Tante Silvi dan ia berjanji. Kalung itu gak bakalan datang lagi sama kita," ucap Gea membuat Angela sedikit lega.
"Baguslah, berarti urusan kita beres," ucap Angela lantas menyalakan mesin dan segera berlalu.
***
Di sudut taman halaman belakang rumah Julius. Agak jauh dari kolam renang, tepatnya dekat dengan beton pagar pembatas. Haris Tampak sedang menggali tanah dengan pisau dapurnya itu. Tanah merah yang berumput. Keringat yang bercucuran, air matanya berlinang.
__ADS_1
***
Julius melaju pelan, acara makan malam sudah usai dan ia sekarang menuju pulang. Saat melintasi pertokoan yang mulai sepi, Handphone Julius berbunyi.
"Maaf sayang, angkat tuh, dari siapa?" ucap Julius. Nani pun mengerti, Julius harus tetap fokus menyetir.
"Tina," bilang Nani. Mendengar nama Tina Julius jadi heran. Urusan apalagi Tina meneleponnya.
"Ya udah, angkat aja." Nani pun menurut saja.
"Halo! Ya, ini Nani."
"Apa kabar Tina?" Julius sesekali menoleh ke arah Nani yang mulai asik ngobrol sama Tina. Suara Tina tidak terdengar oleh Julius. Tapi bagi Nani, cukup jelas dan bisa dimengerti.
"Ada, lagi nyetir. Ada apa sih, kamu serius amat?" tanya Nani.
"Apa? Kamu ada di Jakarta? di mana?? Ya udah, kasih tau ciri-cirinya. Oke, terus, ya."
"Tina ada di Jakarta?" tanya Julius. Suara Tina terdengar samar bagi Julius. Julius jadi makin penasaran.
"Iya," jawab Nani, "ya udah, share lokasi aja yah, kebetulan kami sedang di jalan. Ya, ya udah jangan panik." Sambungan telepon terputus.
"Tina ada di Jakarta, tapi ia tidak tahu jalan pulang. lagian udah malem begini, emang masih ada bis," ujar Nani.
"Lha, emang dia ke Jakarta sama siapa?" ucap Julius. Ia semakin bingung dibuatnya.
"Nih lokasi nya," ucap Nani sambil menunjukkan chat dari Tina.
"Ya udah klik aja lokasinya, di loud speaker aja navigasinya." Nani pun menurut saja dan mereka segera ganti tujuan. Satu yang Julius yakini. Tina sepertinya dalam masalah.
__ADS_1