Purnama Kedua

Purnama Kedua
Awal Petaka


__ADS_3

Di antara rimbun taman belakang apartemen, tepatnya di atas beton, Dandi sedang menggosok-gosok tubuh Wini yang tertekuk dan bersimbah darah di antara serpihan kaca itu dengan selembar kain basah. Malam sangat sepi. Seluruh bagian tubuh Wini yang bisa ia jangkau terus ia gosok-gosok dengan kain itu. Bahkan ia membolak-balik tubuh Wini yang sudah tak bernyawa itu. Dandi hampir muntah. leher Wini patah, kepalanya hancur sebelah, dan matanya melotot. Mau tidak mau ia harus menuruti perintah Bramantyo.


"Sebelum ada orang yang tahu, cepat hapus sidik jari kami dari tubuhnya." Selain sidik jari Bram dan dua temannya itu, Dandi juga merasa tadi sore ia sempat bersentuhan dengan Wini.


***


Tina tampak gelisah di dalam apartemennya, sejak jam 19:00 tadi kakaknya yang pergi belum juga kembali. Tina merasa kesepian, bagaimanapun rindu pada rumah dan kampung halaman sering membuatnya menitikkan air mata.


Seperti sekarang, memang ia tidak lagi kelaparan seperti saat tinggal dalam kontrakan itu. Tapi kesepian, itulah masalahnya. sungguh membuatnya mati berdiri.


jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Rembulan bulat sempurna tertegun di relung malam. Hati Tina khawatir, sesekali ia menyingkap gordennya dan memandang kosong jauh ke bawah. Kakaknya belum juga pulang. Hanya bulan purnama yang menemaninya. cemerlang dan indah.


***


Bramantyo menenangkan Gio dan Herlambang yang jadi tegang.


"Tenang! Tenang."


"Bagaimana saya bisa tenang Bram?" sahut Gio.


"Saya selalu menggunakan kamar yang berbeda dari yang saya pesan," ucap Bram dengan nada yang tenang meski debaran kaget masih ia rasakan dalam dadanya.


"Maksud kau apa Bram?" Herlambang menatap heran. Sekujur tubuh Herlambang berkeringat dingin. Ia sangat ketakutan.


"Saya memesan no. 16 dan ini kamar no. 17. Saya tidak pernah main-main soal urusan privasi apalagi saat bersama pe**cur!" ucap Bramantyo membungkam Gio dan Herlambang.


"Saya selalu membayar lebih. Artinya, saya selalu menyogok petugas hotel dan memberikan nomor ponsel atau minta dia untuk pura-pura salah memberikan kunci atau membayar satu kamar lagi atas nama orang lain dan sekarang, apartemen ini di sewa atas nama pelacur itu. Sekarang razia hotel dan apartemen gak bisa diprediksi. Jadi kita harus antisipasi. Itulah kenapa selama ini saya lolos dari razia, karena petugas hotel yang sudah disogok memberitahu saat ada razia.


"Maksudnya?" Gio belum mengerti.


"Artinya kita sekarang hanya perlu menghapus sidik jari lalu pergi ke kamar sebelah. Sudah, beres, kamar ini di pesan atas nama pe**cur itu. Kamar sebelah, saya yang pesan," ucap Bram dengan penekanan kata, berharap kedua temannya itu mengerti.


***


Dandi turun tergesa dari taksi dan menuju pintu apartemen di mana Tina berada.

__ADS_1


TOKK! TOK!


"Tina! Buka pintunya Tina!" ucap Dandi setengah berteriak. Sikapnya kikuk bukan main. Tidak lama kemudian, Tina membuka pintu. Kebetulan Tina memang belum bisa tidur.


"Tina, maafkan Kakak Tina," ucap Dandi gelagapan dan tubuhnya berkeringat. Tina menatap penuh heran.


"Kak Wini mana?" tanya Tina dengan tatapan mencari.


"Ini semua salah Kakak, tapi dia melakukan itu semua demi kamu juga," ucap Dandi. Tina tidak mengerti. Sikap Dandi sungguh tidak biasa. Dandi seperti orang yang habis dikejar hantu.


"Kakak mau jujur, tapi tolong, kamu jangan bilang apapun pada polisi. Karena ini menyangkut nama baik keluarga kamu juga."


"Polisi? Nama baik keluargaku?? Apa sih yang kakak omongin?" Tina semakin tak mengerti.


"Jadi begini, kakak sudah menyerah mencarikan kerjaan buat kamu dan Wini. Tapi Wini terus memaksa untuk segera mendapatkan uang. Bahkan maaf, Wini mau menjual diri. Kakak Hanya mengantar, Wini yang tentukan harga dan tempatnya," bohong Dandi.


"Apa???" Hati Tina meledak sudah.


"Sebenarnya dari kemarin-kemarin Kakak mengantar Wini menjual diri, sudah tidak adalagi PH dan rumah mode yang mau memakai kakakmu lagi, dan sekarang?"


"Dan sekarang apa???" pekik Tina. Berlinang sudah air matanya.


"Tina, Tina?" Tina pingsan Dandi jadi kebingungan. Dandi membawa Tubuh Tina yang terkulai tak berdaya itu ke dalam.


***


Gio, Herlambang dan Bram sudah merasa lelah dan yakin, tidak ada sidik jari mereka yang tersisa. mulai dari gagang pintu sampai gelas dan meja.


Sesampainya di dalam apartemen yang berbeda, Herlambang langsung menjatuhkan diri ke sofa.


"Bagaimana kalo polisi tau dan memeriksa cctv?" ucap Herlambang menatap Gio dan Bram bergantian.


"Kalian datang belakangan, Dia datang duluan. Sepertinya saya yang paling banyak terekam, sebentar, saya telpon dulu pihak apartemen, kita sogok Mereka supaya rekaman cctv di lantai ini dihapus.


"Ya Sudah, bilang saja berapapun yang dia minta, saya siap membayarnya," Tukas Gio seperti menemukan titik terang.

__ADS_1


***


Tina tersadar dari pingsan. Ternyata Dandi menidurkannya di sofa. Tina berharap, itu semua adalah mimpi. Tapi ternyata, Dandi melanjutkan ocehannya tentang kematian Kakaknya itu. Satu hal yang kini membuat Tina ciut. Apa yang harus ia katakan pada keluarganya di kampung. Terbayang sudah kesedihan mereka.


"Tina, pelanggan yang bersama kakakmu adalah seorang pejabat. Ini uang darinya untuk kamu, untuk biaya pemakaman kakakmu." ucap Dandi dengan wajah penuh harap dan ketakutan.


Tina yang baru saja sadar, rasanya ingin mati saja.


"Kakak juga minta tolong, kalo polisi banyak bertanya. Tolong, jangan bilang kakak yang mengantar yah." Tina tak sanggup menjawab. Hatinya belum percaya kalo kakaknya meninggal dengan cara seperti itu.


***


Wini melihat jasadnya sendiri dihinggapi nyamuk dan semut hitam. Ia juga melihat cahaya bulan meresap ke dalam dirinya, seolah dirinya itu mesin penyedot debu. Aneh, aneh sekali Wini rasa. Rasa sakit mulai merayapi sekujur tubuhnya.


Bulan purnama berputar-putar, bulan purnama melenguh menggelepar. Wini menjerit meraung-raung. Wini melayang dan berputar-putar di langit malam. Ia merasa terbang seperti saat bersama Nyi Damar di dunia Demit itu.


"Nyi Damar!!! Tolong Nyi!!! Nyi Damar, sakit Nyi!!! Sakit sekaliiii!!!!"


Wini terus menjerit, berteriak dan meronta meraung-raung. Tapi dunia seolah bisu, dunia tetap tenggelam dan tidak ada yang memperdulikannya.


***


"Setiap malam bulan purnama penuh. Terjadi satu keajaiban di muka bumi. Dan malam ini, keajaiban itu adalah milikmu seorang," ucap Nyi Damar pada Wini sesaat setelah selesai melakukan ritual yang terakhir di atas batu hitam yang besar itu.


***


Seseorang datang dan memberitahu orang-orang yang lain. Hari sudah pagi.


"Ada mayat! ada mayat!!" Tukang taman yang hendak menyapu halaman belakang itu yang pertama menemukan jasad Wini. Ia lantas berlari dan begitu menemukan temannya, ia berteriak dengan gelagapan.


"panggil satpam, tolong telpon polisi,"


Orang-orang banyak berdatangan.


satpam menelepon polisi, ada juga yang memotret dan merekam.

__ADS_1


"Bagaimana ini?"


"Jangan dipegang, sebentar lagi polisi datang," ucap seseorang pada orang-orang yang semakin banyak berdatangan. "Tutup tutup!"


__ADS_2