Purnama Kedua

Purnama Kedua
Haris dan Julius


__ADS_3

"Bang, izinkan saya membantu Abang, bukan saya sombong Bang, demi Tuhan bukan. Tapi saya akan menyesal seumur hidup saya kalau Abang tidak mau saya bantu," ucapan Julius itu dimengerti Haris. Bagaimanapun Haris adalah orang yang pernah menolong Julius di masa lalu. Tepatnya tujuh tahun yang lalu. Waktu itu Julius hanya seorang bocah kerempeng yang tidak terurus dan putus sekolah. Bang Haris berhasil mengarahkan Julius untuk bangkit dan giat berlatih hobi dan bakat yang Julius miliki.


"Jul, Abang tidak pantas, Abang telah gagal dan waktu itu, bahkan Abang membahayakan kalian, kalian yang tidak tahu apa-apa hampir saja terjerat hukum. Semua itu kesalahan Abang, jadi biarkan Abang menebusnya sendiri," tolak Haris.


"Memang saya sukses setelah membentuk band baru saat keluar dan manajemen Abang bubar. Memang saya sukses berkat modal yang banyak dari si Rudolf. Tapi Abang yang pertama mengenalkan saya cara, cara untuk menaklukkan dunia yang penuh kemunafikan ini Bang," ucap Julius dengan pandangan yang mulai kabur. air matanya merembang tiba-tiba.


"Siapa yang memungut saya dari rumah sakit Bang, siapa yang membiayai saya melanjutkan sekolah Bang? Ketika Ayah saya bangkrut dan sampai masuk penjara. Dari sekian banyak sahabat ayah saya yang berada, hanya Abang yang mau memungut saya-"


"Jangan Bebani kesuksesan kalian dengan kehadiran saya." Rupanya ucapan Rudi benar. Bang Haris ini tidak mau dibantu. Sebelum memberikan nomer telepon dan alamat bang Haris, waktu di kediaman Dandi itu. Rudi mengatakan, bang Haris sudah bangkrut. Masalah perizinan manajemen artis yang tidak diperpanjang, soal para orangtua yang menurut tanggung jawab karena anak-anak mereka di salurkan menjadi model ke majalah-majalah erotis, soal perselingkuhan dengan Wini yang membuahkan perceraian dan kehilangan hak asuh anak. Sungguh, Rudi bilang, bang Haris tidak stres saja sudah untung.


Julius seolah kehabisan cara untuk membujuk orang yang sudah ia anggap ayah angkat itu.


"Tinggallah bersama saya Bang, Rumah saya adalah rumah Abang juga," ucap Julius. Bahkan kini Julius bersujud dihadapan Haris. Haris menangis dan tak kuasa berkata-kata lagi. Julius ingin membalas budi. Haris membangunkan Julius dan memeluknya dengan erat, layaknya seorang paman yang menerima bakti seorang keponakan.


Setelah dibujuk sedemikian rupa, akhirnya Julius berhasil membujuk Haris untuk keluar dari kontrakan bau cunguk itu.


Julius sangat senang dan terharu. Ia juga buru-buru menghubungi Nani dan Nani menyetujuinya tanpa syarat. Nani tahu masa lalu Julius dan cerita tentang hubungan Julius dan bang Haris itu.


***


Angela menerima pemberitahuan dan setumpuk naskah. Ia mendapat peran dan lebih dari yang ia harapkan. Ia mendapat peran utama. Ia senang bukan kepalang sampai meloncat dan mengepalkan tangan.


YES!

__ADS_1


Angela juga buru-buru menghubungi Gea.


***


Nani menyambut bang Haris dengan sopan, selayaknya seorang menantu menyambut sang Bapak Mertua. Nani juga yang menunjukkan kamar untuk Haris tinggali dan Julius yang mengeluarkan dan membawa tas-tas besar, barang-barang dan pakaian milik Haris dari dalam bagasi. Haris patut bersyukur, tidak salah ia memungut Julius dan mengarahkan Julius, hingga kini Julius sukses dan menjadi orang yang besar. Tapi di balik itu, ia merasa malu atas nasibnya sendiri. Bahkan ia sendiri masih merasa semua kesialan yang ia lalui seperti mimpi buruk yang ia alami hanya dalam satu malam tapi mampu mengubah hidupnya seratus persen.


Di dalam kamar yang baru, di dalam rumah Julius itu. Seolah ia berada di satu dimensi yang baru. Kamar yang nyaman, AC-nya dingin, kasurnya empuk dan besar. Ia pun bertekad untuk bangkit, mencari pekerjaan mungkin. Tidak mungkin ia tinggal di situ tanpa melakukan sesuatu apapun. Memang Julius sudah tidak mempersoalkan uang untuk sekedar menghidupi dirinya seorang. Tapi lebih ke menghibur diri. Tapi, album itu, kembali Haris membuka album itu. Album foto yang seluruh isinya adalah foto-foto Wini, sepanjang karier Wini turut ia bawa.


Lama ia kembali tertegun dan menikmati kerinduan yang semakin lama terasa semakin mendalam. Haris sampai mendengusi dan menjilati foto-foto itu. Ia seperti seorang gila yang kelaparan menemukan sisa makanan yang masih segar dalam bungkusan. Kembali dunia mendadak suram dan mengerikan.


TOKK! TOK!


Suara pintu diketuk pelan kembali membuyarkan lamunan Haris.


"Bang, makan dulu. Ayo! Julius udah menunggu tuh," suara Nani terdengar jelas. Buru-buru Haris menyembunyikan album foto itu. Semua pakaian yang tidak seberapa banyak itu sudah ia rapikan. Bahkan pisau dapur yang jelek itu pun ia bawa dan ia simpan rapi di dalam lemari di bawah tumpukan baju.


***


Scene demi scene berhasil dibuat tanpa kendala. Sampai pada suatu ketika ketika Angela pulang malam bersama Gea.


Sejak syuting dimulai, Gea tinggal dengan Angela dan Rendi sudah tidak tinggal lagi di samping apartemen Angela itu.


Suatu malam ketika pulang syuting, keduanya mendapati kalung perak sialan itu menggantung di pintu Apartemen Angela. Sontak Angela dan Gea jadi saling pandang ngeri. Bagaimana caranya kalung itu bisa sampai ke situ? Logika Gea dan Angela dibuat tumpul oleh kehadiran kalung itu.

__ADS_1


Selain kalung dengan bandul merah serupa cabai itu. Pintu apartemen Angela juga ada yang mencoret-coret dengan lipstik. Coretan-coretan itu membentuk huruf-huruf dan agak sulit di baca. Tulisannya jelek dan tidak kontras dengan warna pintu yang coklat tua. Jadi untuk membacanya Gea perlu mengamatinya dengan seksama. Rangkaian huruf itu adalah sebuah kalimat yang berbunyi,


ANGELA, GUNAKAN KALUNG INI SELAMA KAMU SYUTING.


Selesai membaca huruf-huruf yang jelek itu Gea dan Angela kembali saling pandang ngeri.


"Jel, bagaimana ini? Kita kasih tahu Rendi aja, kamu masih punya nomer teleponnya kan?" saran Gea.


"Males gue berurusan sama polisi lagi," Angela menolak saran Gea.


"Ini sudah termasuk teror Jel! Oh iya, nih kalung kita bawa ke paranormal yang tempo hari gue ceritain, Bagaimana?" saran kedua dari Gea. Sejenak Angela menimbang rasa untuk saran kedua dari Gea itu. Tidak ada salahnya Angela rasa.


"Baiklah, kamu tau di mana paranormal yang bisa dipercaya?" Angela setuju dan bertanya lebih lanjut.


"Gua tau, ayo kita mandi dulu," ucap Gea sambil mengantongi kalung itu dan membuka pintu.


"Sekarang juga?"


"Ya iya lah, kapan lagi, Minggu depan?"


***


Sersan Heri, meringkus seorang pria yang awalnya berhasil kabur dari penyergapan. Pria itu disinyalir punya kedekatan dengan wanita yang tewas bersama dengan ayahnya Angela itu.

__ADS_1


"Pak, Salah saya apa Pak?" rengek pria itu.


"Kenapa saudara kabur, kami hanya mau minta keterangan pada saudara soal kematian Devina," tukas sersan Heri.


__ADS_2