
Sore kemudian, awan mendung menutupi langit. Tina kini bersimpuh di pusara kakaknya. Setitik air meluncur di pipinya. Terlalu banyak kenangan untuk dikenang, terlalu sakit untuk diingat kembali. Perlahan Tina merogoh sakunya dan kalung itu ia lilitkan ke papan Nisan kuburan kakaknya itu. Papan nisan kayu yang masih segar dan belum dimakan rayap.
Angin berhembus kencang menjatuhkan satu dua bunga Kamboja. Angin dingin yang ngeri.
***
Di dalam sebuah ruangan yang sempit, seorang Haris sedang termenung sendiri. Ia menatapi satu persatu foto Wini. Wini yang tampak begitu jelita dengan pakaian kemeja. Album fotonya besar, isinya foto-foto Wini semua. Mulai dari mengenakan kemeja sampai yang hanya mengenakan bikini. Dulu ia beralasan, album itu untuk arsip perusahaan. Padahal album itu untuk ia intip sendiri di saat-saat seperti ini. Ia begitu tergila-gila pada Wini, kecantikannya yang alami, bentuk tubuhnya yang sempurna. Bila ada ilmuwan yang menyatakan, fantasi *** laki-laki ada di mata. Haris sangat setuju akan hal itu.
Usia Haris memang sudah tak muda lagi saat pertama kali ia bertemu Wini. Ia ingat betul, waktu itu ia dan rombongannya sedang melakukan syuting di perkebunan teh dan Wini sedang memetik teh. Foto pertama Wini itu kini ia tatapi dengan haru, ada rindu yang terasa menggebu. Saat rehat syuting ia menyuruh kameramennya untuk merekam dan memfoto Wini. Foto-foto itulah yang jadi awal Kedekatannya dengan Wini dan bagi Wini sendiri, itu juga awal mula ia tertarik untuk menjadi model.
Haris mengenang, waktu itu sore yang gerimis. Ia datang dari Jakarta ke Bandung, jauh-jauh hanya untuk membujuk Wini supaya mau diajak bergabung di manajemen artis yang mulai ia rintis.
"Assalamualaikum, punten," ucap Haris pada penghuni rumah. Tidak mudah ia menemukan Rumah Wini, ia harus putar-putar kampung kiloan meter. Waktu itu jalanan masih tanah, belum diurug batu apalagi diaspal seperti sekarang. Awalnya ia bertanya pada pemilik perkebunan, bermodal petunjuk dari warga sekitarlah ia kini sampai ke muka rumah Wini. Wini tampak sedang memilah sayuran bersama seorang gadis yang jauh lebih muda.
"Wassalamu'alaikum, mangga, ada apa yah," ucap Wini dengan mata mendelik aneh. Penampilan Haris seperti orang bank. Wini jadi berpikir, mungkin Bapaknya punya urusan sama bank.
"Wini yah?" tunjuk Haris ramah. Sontak Wini jadi heran. ketiganya bersalaman.
"Silahkan duduk Pak, iya, saya Wini, ada apa yah," ucap Wini dengan logat Sunda yang masih kental. Bagi Haris, yang semalaman sampai susah tidur karena membayangkan untuk segera menemui pemilik keindahan itu, suara Wini itu bagaikan hembusan angin sorga yang mengajaknya terbang ke angkasa.
"Maaf ya, sebelumnya, saya dari kota. Masih ingat, Minggu kemarin saya salah satu dari rombongan kru film yang syuting di kebun teh itu. Kalian ada di lokasi kan, menonton?" ucap Haris pelan-pelan.
"Oh, iya iya, saya ingat! Tapi? Bapak ada perlu apa sama saya," tanya Wini kemudian.
"Jadi begini, saya ini, bisa dibilang penyalur tenaga kerja. Film yang kemarin kami syuting itu, para pemainnya dari saya, saya yang ngajak, saya yang ngajarin akting dan saya yang mencarikannya pekerjaan. Jadi, saya jauh-jauh ke sini, saya mau menawarkan pekerjaan sama kamu."
__ADS_1
"Jadi, Kakak saya mau diajak syuting Pak?" tanya Tina polos dan sumringah.
"Bisa dibilang begitu, bagaimana, tertarik?" ucap Haris dengan senyuman yang khas dan penuh harap, Wini mengerti dan agak tarik.
"Ah, Bapak ini, saya cuma gadis kampung, malu ah," tolak Wini dengan wajah tersipu. Tapi kata penolakan awal dari Wini itu, biasanya berujung setuju. seperti gadis lugu yang lain, yang biasa Haris rekrut.
"Jujur ya, kemaren saya iseng-iseng nyuruh kameraman buat memfoto kamu diam-diam. ini fotonya, foto ini, kemaren saya kasi lihat ke produser. Produser itu menyuruh saya mendatangi salah satu butik terkenal dan ternyata, pemilik butik itu mau kamu jadi model buat baju-baju baru mereka. bagaimana, kamu tertarik, cuma difoto aja," ucap Haris begitu meyakinkan sambil membuka amplop dan foto-foto Wini itu ia beberkan.
Wini berpikir sambil melihat-lihat fotonya sendiri. Begitu juga Tina.
Wini jadi sadar, betapa cantik dirinya dan bagusnya foto-foto itu. Sedelik kemudian, ia menatap penuh harap ke arah lelaki bersih itu. lelaki yang sepertinya sudah berumur itu masih terlihat gagah dan tampan.
"Jarang lho, ada kesempatan seperti ini. oh iya, dulu, saya pernah menawarkan 3 orang model pada butik itu. tapi tiga-tiganya mereka tolak. tapi begitu saya sodorkan foto-foto kamu itu, dia langsung menyodorkan surat kontrak sama saya." Kali ini, ucapan Haris membuat Wini bersemangat. Jiwa mudanya meletup-letup. Memang ia mau mencari kerja, seperti teman-teman seangkatannya yang sudah berkerja di pabrik atau restoran di Bandung kota. Selama ini ia hanya bekerja di kebun teh milik sendiri, atau di kebun teh para saudagar yang kebun tehnya luas. Bukan tidak bersyukur, ia hanya merasa, sebagai anak muda. Ia bisa melakukan pekerjaan yang lebih. Dan sekarang? Haris datang bagai malaikat. Wini menganggap, Kedatangan Haris berbau mukjizat.
"Yang namanya rejeki, siapa yang tahu, tiba-tiba saya dapat lokasi di perkebunan, tiba-tiba saya berpikir buat foto kamu, tiba-tiba pemilik butik mau memberi kerjaan sama kamu. Siapa sangka kan?"
"Sebentar, saya bilang Ambu sama Abah dulu," pamit Wini lantas berjingkat ke dalam.
Ibarat memancing, Umpan Haris sudah diendus sama ikan, sekarang tinggal tunggu ikan itu menelannya.
Tidak lama kemudian, Orangtua Wini keluar dan mereka pun berbicara panjang lebar. Akhirnya Wini mau dan orangtuanya merestui.
"Kalo bapak ibu mau ikut, ayo ikut aja, sekalian piknik," ucap Haris dan disambut antusias oleh Tina dan keluarganya. Tina baru lulus SMP, kebetulan waktu itu ia tidak ikut tur ke taman mini.
"Iya Bah, ikut aja yuk," ucap Tina polos.
__ADS_1
"Ah, nanti mengganggu Kerja kakakmu,"
"Ah enggak Juga Pak, kerjanya cuma difoto doang. Nyobain baju, difoto, ganti baju, difoto lagi, cuma gitu doang gak lama. Trus kita jalan-jalan deh. Kerjaan saya juga cuman nganter-nganter yang difoto doang," ucap Haris.
"Mobil perusahaan banyak, kalo mau menginap, mess juga banyak yang kosong," lanjut Haris.
"Kalo ke taman mini Deket gak Pak?" Tina makin antusias.
"Deket, seberapa luas sih Jakarta. Gimana pak? Kalo mau ikut saya ayo, atau mau Bapak Anter sendiri Wini ke tempat kerjanya langsung juga silahkan, ini alamatnya," ucap Haris sambil menyodorkan sebuah kartu nama. Wini memilih opsi yang pertama. Ia hapal betul, Bapaknya jarang sekali ke kota. Apalagi ke Jakarta, main ke rumah saudara ke Bandung kota saja nyasar.
"Ayo Bah, ikut, itung-itung piknik. Beneran gak apa-apa Pak, keluarga saya ikut," ucap Wini menghadap Haris kemudian.
"Tuh, mobilnya kosong. Saya ke sini sendiri."
"Iya, ayo Bah?" bujuk Tina. Akhirnya, orangtua itu tidak bisa menolak.
"Sekarang Juga Pak?" tanya Wini.
"Iya, pemotretannya besok siang, daripada berangkat besok pagi waktunya mepet, mending sekarang, malam ini kita nginep di mess, besoknya kan santai ke tempat pemotretannya deket.," ujar Haris. Wini dan keluarganya pun siap-siap.
Haris menghela napas. Ia ingat betul, saat pertama itu, ia merasa menemukan sesuatu yang baru dan indah. Kepolosan keluarga Wini sungguh membekas dalam batinnya. Ia seperti mengalami sendiri kehidupan dalam film Si Kabayan. Ada lucunya, ada malu-maluinnya dan sebagainya.
Kini Haris mengacungkan pisau. Pisau dapur yang tajam dan tidak menarik. Tiba-tiba bunyi pintu di ketuk mengganggu kesepiannya.
TOKK! TOKK!!
__ADS_1