
Hari demi hari, Wini banyak menghabiskan waktu dengan Haris. Mulai dari diantar jemput ke tempat kerja, sampai nonton di bioskop dan makan malam di restoran. Sadar tidak sadar, ada perasaan cocok di antara keduanya. Walau belakangan Wini tahu kalo Haris sudah berkeluarga. Tapi kejujuran Haris dan perhatiannya Wini rasa berlebihan. Wini pun tidak segan-segan bersandar ke bahu Haris saat di dalam bioskop atau saling menyuapi makan saat makan malam di dalam restoran.
Semua keindahan bagi seorang gadis ia rasakan dari Haris. Ia seperti seorang kekasih diperlakukan sangat spesial oleh sang Pacar. Bahkan saat pacaran dulu dengan pemuda kampung, tidak pernah se-mesra itu dan se-kompak itu. Ingin sekali Wini menanyakan soal status. Wini ingin lebih dari sekedar bawahan atau anak didik. Ia merasa perlakuan Haris padanya berlebihan. Tapi niat itu tidak kunjung ia utarakan. Sebagai perempuan desa, ia masih merasa tabu walau sekedar menanyakan status apalagi nembak duluan.
Sampai suatu titik, ketika istrinya Haris datang dan bermesraan di hadapannya begitu saja. Semua berubah seketika.
Saat itu Haris dan Wini sedang asik memperbincangkan masalah job baru dari sebuah majalah pria dewasa di dalam kantor Haris. Tiba-tiba istrinya Haris datang dan duduk dipangkuan Haris dengan manja dan sama sekali tidak memperdulikan keberadaan Wini.
"Sayang, Papa lagi sibuk," tepis Haris dengan halus ketika istrinya itu membelai.
"Sibuk? Yah! Kamu sekarang sibuk ngurusin pe**cur yang satu ini!" hardik istrinya Haris sambil melempar setumpuk berkas yang ia raih di atas meja seketika itu.
PRAKK!
Wini terhenyak dan hatinya sakit seketika seperti dicubit dengan kasar. Bukan sakit di pipi karena tamparan kertas-kertas itu yang membuatnya sakit. Tapi hinaan itu yang langsung mengoyak hatinya.
"Sayang! Kamu apa-apaan sih?" sergah Haris terlambat, Setumpuk kertas itu sudah terlanjur mengenai sasaran yang tidak seberapa jauh itu.
"Ayo, pulang! Kita selesaikan di rumah kalo kamu masih punya rasa malu," ucap istrinya Haris dengan nada yang sangat tidak sopan sambil bergegas pergi. Sejenak Haris menghela napas dan tidak lama kemudian iapun mengejar istrinya itu tanpa memperdulikan Wini yang tertekuk kaku dan terluka.
__ADS_1
Tinggal Wini sendirian dalam ruangan itu. Wini hanya bisa termenung dan coba meredam debaran dalam dadanya yang seketika tadi jadi bergejolak. Ia tidak pernah mengira bakal begini jadinya. Wini enggan keluar dari dalam kantor Haris itu. Ia malu, karena ia mendengar desas-desus tentang dirinya dari balik dinding. Ini masih sore, dan orang-orang sedang banyak-banyaknya. Mereka pasti melihat istrinya Bang Haris yang berjingkat pergi, mereka pasti mendengar keributan tadi, Pikir Wini merasa malu sekali. Wini tak pernah menyangka, kejadiannya jadi begini. Air matanya pun menetes. Pedih, sangat pedih dan memalukan. Gelar perusak rumah tangga orang adalah gelar yang sangat memalukan.
Seseorang datang dengan ucapan lembut, tiada hendak mengagetkan. Ia adalah Julius.
"Kak, Kak Wini? Kakak baik-baik saja kan?" ucap Julius hati-hati. Waktu itu rambut Julius masih panjang, sebagaimana kebanyakan anak band beraliran alternatif rock di waktu itu. Pakaian Julius pun seperti anak Grunge era 90-an. Tapi anehnya, pakaian be'le'l dan rambut kusam saat itu dianggap keren sampai ke masa Julius remaja bahkan sampai saat sekarang.
Wini hanya bisa menggelengkan kepala dan seketika ia berdiri dan memeluk Julius dan menumpahkan perasaan sakitnya.
"Udah, udah Kak, santai saja, jangan terlalu diambil hati," ucap Julius melipur Wini.
Diantara sekian banyak teman lelaki di tempat itu, bagi Wini hanya Julius yang ia anggap sudah seperti saudara. Kesopanannya, ketulusannya sungguh berkesan.
"Ayo, sudah malam, Kakak tidur saja, besok masih banyak kerjaan, jangan mikirin yang enggak-enggak." Wini pun menurut saja dan memasuki kamarnya diantar Julius. Setelah Julius berlalu dan mengunci kamar, Wini lantas menubruk kasur dan melanjutkan tangisannya. Lebih keras kali ini.
"Win! Wini? ini gue, Widya. Buka Win," suara dari luar pintu itu terdengar antusias. Wini pun membuka pintu setelah merapikan rambut dan sisa air mata.
GLEKK!
Pintu pun terbuka dan Widya masuk lalu mengunci pintu.
__ADS_1
"Win, gue ngerti perasaan lo, lo harus kuat, seperti pepatah lama, semakin pohon itu tumbuh tinggi, angin pasti semakin kencang menerpa," ucap Widya dengan penuh simpati sambil mengelus bahu Wini.
"Aku sama sekali gak ada niat merusak rumah tangga bang Haris, aku kira, gue kira... Ah, kenapa jadi begini?" Widya percaya dan memahami Wini sepenuhnya. Sejak pertama kali bergabung, Widya sudah bisa menilai, Wini anak kampung yang polos dan natural banget. Wini tidak biasa bilang elu atau gue. Bahkan, Widya pikir, nih anak belum di perkosa aja masih untung. Mengingat kedekatannya dengan bang Haris memang sudah diluar kewajaran. Sebaik-baiknya lelaki, kejantanannya yang normal pasti bangkit bila sedekat itu dengan gadis desa ini. Jalan berdua, pulang malem berdua dan sebagainya.
"Saran gue, mending sekalian lu rebut bang Haris dari wanita judes itu," ucap Widya tanpa Wini duga. Wini jadi menatap temannya itu dengan tatapan penuh tanya.
"Mau tidak mau, suka tidak suka. Apa mau dikata, orang-orang pasti menyalahin lu. Apalagi kalo sampai bang Haris bercerai," ucap Widya serius.
"Maksudnya?" Wini jadi tertarik dan semakin tak mengerti.
"Dimana pun, urusan kayak gini, pasti yang disalahin ceweknya, maaf dalam hal ini, lu yang disalahin. Padahal yang manjain lu bang Haris, tanpa lu pinta kan?" Wini mulai mengerti, kemana arah pembicaraan yang Widya bangun.
"Padahal cowoknya yang ngebet, padahal bininya yang gak becus meladeni suami, tetap aja lu yang salah kan?" lanjut Widya. Wini mengerti.
"Jadi maksud gue, dari pada lu jadi korban, mending jadi pelaku sekalian. Itupun kalo lu doyan sama Om-om," ucap Widya diakhiri dengan senyuman nakal ke arah Wini.
Wini tidak bisa membohongi perasaannya sendiri dan ucapan Widya ada benarnya juga.
Wini merasa nyaman dengan Haris.
__ADS_1
Saran dari Widya itu terus berputar-putar dalam kesendiriannya di hari-hari kemudian. Banyak temannya berubah sikap sejak dirinya dilabrak istrinya Haris itu. Tatapan dan sikap banyak temannya itu seperti menatap seorang pela**r, mahluk kotor yang cantik dan membuat iri. Sejak saat itu, ia juga jadi banyak menyendiri dan jarang membaur dengan yang lain. Ia membaur hanya seperlunya saja. Saat latihan atau saat bekerja sebagai tim. Selebihnya, ia banyak termenung dalam kesendirian.
Lama kelamaan ia merasa, apa yang Widya sarankan harus ia lakukan. Iapun bulatkan tekad dan tinggal menunggu waktu yang tepat.