Purnama Kedua

Purnama Kedua
Nyi Damar


__ADS_3

Seminggu lebih, Wini menginap di rumah kayu itu. Setiap pagi dan sore ia dimandikan di sungai dengan kidung dan taburan bunga tujuh rupa. Bukan bunga sembarang bunga. Tapi bunga-bunga yang mengandung wangi-wangian alami. seperti bunga kemuning, bunga melati dan sebagainya. Setiap hari ia di suguhi makan yang hanya di rebus dengan air dan tanpa bumbu. Seperti singkong rebus, jagung rebus, telur rebus dan sebagainya. Awalnya ia tak selera. tapi lama-lama kelamaan ia terbiasa dan terasa enak juga.


"Tinggal satu lagi, saya akan buatkan teteh ajimat. Sini tangannya," pinta Nyi Damar. Wini selalu menurut. Iapun menjulurkan kedua tangannya dengan telapak tangan terbuka.


"Tahan yah, saya hanya perlu satu tetes darah di setiap ujung jari teteh," ucap Nyi damar sambil mengambil sebuah jarum perak. Wini pun mengerti dan membebaskan Nyi Damar untuk melakukan apapun.


Wini diam saja melihat jarum itu sedikit-sedikit menusuk ujung jarinya. Sakit dan getir Winj rasa. Setetes darah pun keluar. Tetesan darah itu di kumpulkan dalam sebuah wadah kaca yang bening.


"Darah suci adalah perhiasan yang jauh lebih disukai oleh demit sakti yang nanti akan menghuni ajimat teteh," ucap Nyi Damar sambil menuangkan darah itu ke dalam sebuah wadah yang jauh lebih kecil. Warnanya bening dan bentuknya kerucut. Setelah darah itu memenuhi wadah kerucut bening itu, Nyi damar membuka dan meneteskan sesuatu yang bening meleleh. Sepertinya itu resin. Modern juga, pikir Wini. Tapi bisa jadi pemanfaatan resin sudah lama dilakukan manusia. bukankah resin adalah semacam getah pohon. Logam saja yang jauh di perut bumi sudah bisa di manfaatkan oleh orang jaman dulu. Apalagi cuma getah atau resin.


Setelah cairan itu menutup sempurna wadah kecil bentuk kerucut itu di tusuk logam berwarna perak. Setelah beku atau kering sempurna itu resin. Baru Nyi Damar mengambil sebuah kalung. Dan ternyata benar dugaan Wini. Nyi Damar membuat bandul resin dengan isian darah Wini. Bentuknya kerucut panjang serupa cabai.


"Tidak ada ajimat yang benar-benar cocok selain kita membuatnya sendiri dengan bagian dari diri kita sendiri," ucap Nyi Damar sambil memasukkan bandul itu ke sebuah kalung berwarna perak.


"Perak adalah lambang kesucian, dan keagungan," ucap Nyi Damar sambil membantu Wini mengenakan kalung itu. Wini setuju untuk ucapan Nyi Damar yang satu itu. Perak memang memiliki sifat bersih. Lebih baik dari stainless yang kini banyak digunakan untuk peralatan makan atau medis.


"Bagus sekali Nyai," ucap Wini sambil mengelus kalung itu.


"Sekarang buka sarung teteh, dan teteh perlu berdiri di puncak bukit itu. Tepatnya di atas sebuah batu besar. Teteh perlu menyerap cahaya purnama dan saya juga perlu masukkan kekuatan di sana."


Wini menurut saja. Ia melorotkan kain batik dan dituntun keluar rumah dalam keadaan telanjang bulat.


Aneh, Wini tidak merasa kedinginan, malah tubuhnya terasa hangat. sesampainya di atas batu besar agak jauh di belakang rumah Nyi Damar. Wini disuruh mengangkat satu tangan sementara satu tangannya yang lain dalam genggaman Nyi Damar. Wini menurut saja.


Rembulan bulat sempurna, rembulan yang seperti bola kristal para penyihir abad pertengahan itu seperti punya cahaya sendiri. Cahaya yang lembut.


"Tutup mata teteh, jangan takut, tarik napas dalam-dalam lalu keluarkan perlahan," titah Nyi Damar. Wini pun menunaikannya.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan Wini, tubuhnya menyerap cahaya bulan dan satu lagi, cahaya merah tampak tersedot ke dalam bandul kalung itu.


Seekor anjing gunung melolong menggema di balik lereng-lereng perbukitan. Melenguh panjang seperti mengabarkan pada pohon-pohon dan bebatuan, sesuatu yang ajaib telah terjadi.


"Sudah, semua proses sudah teteh lalui semua. Dan teteh berhasil dengan nilai sempurna," senyum puas terpancar dari wajah Nyi Damar. Terlebih di wajah Wini. Ia tampak berterima kasih sekali. Kini keduanya menuruni batu besar itu. Batu yang mulai licin oleh embun.


Sesampainya di dalam rumah, Nyi Damar melingkarkan kain ke tubuh Wini.


"Sekarang saya sudah boleh pulang Nyai? tapi maaf, berapa ongkos yang harus saya bayar?"


"Nanti saja, uangnya teteh kasih sama Ki Tarman. Saya tidak menerima uang tunai. Ki Tarman sudah biasa menukar uang kertas dengan perak atau emas murni. Teteh tinggal berikan saja uangnya sama dia. Berapa saja, seikhlasnya." Mendengar itu, Wini jadi berpikir. Baik sekali orang ini. Memang dari penampilannya dan lokasi rumahnya. Orang yang bernama Nyi Damar ini sepertinya tidak membutuhkan uang kertas. Tapi kenapa harus dengan logam mulia. Seolah mendengar bisikan hati Wini, Nyi Damar berucap dengan senyum.


"Uang kertas tidak berlaku di sini. Oh iya, nanti pagi, Ki Tarman datang." Wini pun mengenakan kembali pakaiannya. Aneh juga Wini rasa, setelah seminggu lebih ia tidak mengenakan pakaian dan hanya mengenakan sarung batik tipis. Bahkan pakaian dalam pun tidak ia kenakan. Alhasil, Ia merasa tidak nyaman dan terasa mengganjal.


Sekitar pukul dua belas siang, Ki Tarman datang dan Wini pun pulang diantar Ki Tarman sebagaimana ia datang ke situ. Wini mulai menuruni bukit. Bukit yang selalu berkabut dan dingin. Dalam hati Wini berjanji, Kalau niatnya sukses, ia bakal kembali ke bukit itu. Sekedar berterima kasih pada Nyi Damar.


"Terima kasih ya Ki, yang ini buat Aki," pamit Wini sambil memberikan uang pada Pak Tua itu.


"Hatur nuhun (terima kasih) Neng, sebentar, Aki panggilkan dulu tukang ojek yah," ucap Pak Tua itu. Tidak lama Wini menunggu.


Mereka pun berpisah setelah Ki Tarman berhasil mencarikan Ojek. Turun dari ojek, Wini langsung lanjut naik Angkot, turun dari angkot, ia langsung naik Bis. Hari mulai petang. Wini ingin sekali segera sampai ke kota dan membuktikan semua yang telah ia capai dengan susah payah itu.


***


Haris tampak gelisah, entah kenapa malam itu Haris tak bisa tenang. Pulang pun ia enggan, ia hanya mondar-mandir dalam kantornya. Wini datang dan Widya yang kebetulan hendak pulang menyambutnya.


"Win, kamu baru datang dari kampung?" tanya Widya.

__ADS_1


"Iya," jawab Wini lemah. ia tampak kecapaian.


"Bang Haris belum pulang," bisik Widya, "kamu dapet jampi peletnya?" lanjut Widya.


"Hus!, jangan sampai ada yang tau, ini rahasia kita berdua. Ya udah, aku masuk dulu," jawab Wini dengan mata mendelik ke kanan kiri.


"Ya udah, gue balik dulu. Good luck Win," pamit Widya lantas berlalu dengan riang. Wini pun melangkah masuk. Derap langkah kakinya hampir tak terdengar. Mungkin pengaruh diet ketat dan tarekat-tarekat yang ia jalani, tubuhnya jadi ringan dan lenggoknya jadi jauh lebih gemulai. Beberapa temannya yang juga hendak pulang dan berpapasan menoleh ke arah Wini. Bahkan beberapa pria yang Wini lewati sampai memutar leher.


Wini mengetuk pintu kantor Haris. Wini datang dengan pakaian yang sama ketika ia pergi. Pakaian biasa, kemeja abu-abu dan rok hitam yang melebar ke bawah.


Haris membuka pintu dan mendapati Wini.


"Wini? syukurlah. Abang cemas sekali, Abang kira kamu gak bakalan balik lagi ke sini. Job udah numpuk tuh," sambut Haris dengan mata berbinar. Seperti menemukan sebongkah berlian. Wini memang sudah menarik dari awal. Tapi sekarang, ibarat berlian. Wini sudah memoles diri dan tampak jauh lebih bersinar.


Seperti biasa, Wini sungkem dan mencium punggung tangan Haris.


"Mm, saya capek, mau istirahat dulu," pamit Wini.


"Iya! Iya tentu. Besok pagi kamu langsung ke sini yah?"


"Iya." Baru saja Wini berbaik dan melangkah, Haris berucap lagi.


"Wini, maaf soal istri saya-"


"Sudahlah Bang, saya tidak mau membahasnya," potong Wini.


"Tapi Win," Haris beranjak dan meraih tangan Wini. Wini pun menghentikan langkahnya dan mendelik menatap Haris, menjatuhkan bintang-bintang di dada Haris.

__ADS_1


Haris adalah seorang bajingan, penakluk wanita paling disegani pada jamannya. Tapi saat itu di hadapan Wini? Lutut Haris bergetar, dadanya mengap-megap seperti kehabisan oksigen dan bakal mati berdiri kalo besok tidak bertemu lagi dengan Wini


__ADS_2