Purnama Kedua

Purnama Kedua
Tersangka Kedua


__ADS_3

Sersan Heri mengintrogasi Herlambang dan Gio secara bergantian, satu persatu. Lama keduanya di cecar berbagai pertanyaan. Sampai akhirnya Sersan Heri menyerah.


"Kami turut berdukacita atas kepergian Dandi. Kami hanya minta, tolong diingat-ingat lagi, siapa kira-kira pelakunya? Atau, apa ada persaingan bisnis mungkin??"


"Sejauh ini, bisnis kami baik-baik saja. Dunia perfilman itu tidak serumit yang orang kira," ucap Gio.


"Tapi dua korban dengan cara pembunuhan yang sama adalah orang-orang yang ada dalam perusahaan yang saudara kelola," ucap Sersan Heri dan itu cukup untuk membungkam Gio beberapa saat.


Gio jadi berpikir keras, tapi lantas ia menyerah karena merasa tidak menemukan apa-apa.


"Saya pasti kabari Bapak, kalo saya ingat sesuatu."


***


Pagi-pagi buta Gea sudah meluncur ke tempat Angela.


"Jel! Anjel!! Buka Jel!" teriak Gea sambil menekan bel terus-menerus.


Tidak lama kemudian Angela pun membuka pintu dan wajah kesalnya muncul. Angela belum mandi, rambut panjangnya yang lurus itu tampak acak-acakan.


"Sialan lo, apaan sih, pagi-pagi gangguin gue?" gerutu Angela, matanya masih terasa lengket. Gea tidak menjawab, ia malah menarik Angela untuk masuk lalu mengunci pintu.


"Nih, gara-gara kalung sialan ini, gue jadi susah tidur," tukas Gea sambil menyerahkan kalung itu pada Angela.


"Nih kalung ada setannya, pokoknya tuh setan nyuruh gue buat balikin kalung itu ke elu," lanjut Gea. Angela menatap Gea. Angela bisa menilai, sahabatnya itu tidak sedang main-main.


"Tenang dulu, duduk. Coba ceritain pelan-pelan," ucap Angela sambil membawa Gea dan mendudukkan Gea. Gea lantas menangis.


"Seumur-umur gue baru ngalamin kejadian kayak gini," ucap Gea di sela isak tangisnya.


"Masa ada tulisan bisa ilang sendiri, terus gue mimpi buruk gitu, gue mimpi ngejilat darah dari pisau. Gue takut, gue takut banget Jel."


"Pisau? Ngomong-ngomong soal pisau, pisau buah gue ilang," ucap Angela. Gea jadi menatap Angela dengan ngeri, begitupula Angela. Bulu kuduknya sampai berdiri. Gea jadi makin larut dalam ketakutannya.


"Oke, sebaiknya kita buang nih kalung."


"Bakar aja, musnahkan!" Saran Gea.


"Sebentar, bagaimana kalo kita kembalikan kalung ini ke tempat asalnya," ucap Angela.

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Kita antarkan lagi kalung ini ke orangnya. Orang yang dulu memberikan kalung ini ke gue. Gue masih ingat alamatnya,"


***


Julius termenung semakin dalam. Nani yang barusan datang jadi tertarik, tidak biasanya suaminya itu berwajah kusut seperti itu.


"Ada apa, sepertinya ada yang tidak beres," tanya Nani sambil menyentuh pundak Julius dan duduk dekat dekat dengan Julius.


"Dandi meninggal, aku kira ini ada hubungannya dengan ayahnya Angela," jawab Julius dengan wajah serius, ia menatap jauh.


"Inalillahi, Dandi? Dandi yang mana?"


"Dandi, salah satu pelatih akting di kelas teater manajemen artis di tempat Bang Haris dulu," jawab Julius.


"Saran aku, kamu jangan melibatkan diri? Apalagi kasus pembunuhan ayahnya Angela itu menjadi sorotan media," saran Nani. Julius pun manggut-manggut. Ia mengerti maksud istrinya itu.


"Yah, memang, aku hanya kepikiran saja. Bagaimanapun Dandi adalah seorang guru yang banyak berjasa."


"Ya sudah, kita melayat saja dan menemui keluarganya, bagaimana?"


Iya, benar. Ayo!" ajak Julius.


"Iya, kenapa emang?"


"Ya sudah, aku ganti pakaian dulu."


***


"Jel, kamu yakin masih hapal jalan ke rumahnya?" tanya Gea. Keduanya sudah on the way.


"Aku jadi penasaran Jel, kok bisa-bisanya yah, arwah penasaran mengganggu ketenangan orang yang masih hidup?" tanya Gea.


"Iya, gue juga heran, pengetahuan gue gak nyampe ke situ," jawab Angela tanpa menoleh, ia fokus mengendalikan sedan.


"Apa gak sebaiknya kita ke paranormal dulu, kali aja kita dapat jawaban yang masuk akal," saran Gea.


"Ah, entahlah, gue hanya punya beban moral saja sama adiknya yang punya kalung itu."

__ADS_1


"Oh iya Jel, lo belum cerita, gimana awalnya lo kenal orang ini," tanya Gea. Sebenarnya Angela malas untuk menjelaskannya pada Gea, karena ini menyangkut Julius dan masa lalunya. Tapi daripada temennya itu mati penasaran, Angela akhirnya buka cerita.


"Hubungan gue sama Julius mulai ancur gara-gara Julius kembali ke orang-orang di kehidupan masa lalunya. Perlu lo tau, si Julius itu pernah belajar dan bekerja di sebuah manajemen artis di luar kota. Nah, si pemilik kalung itu dan adiknya adalah teman seperjuangan Julius." Gea hanya manggut-manggut dan terus menyimak.


"Wanita pemilik kalung itu tewas bunuh diri karena mau diperkosa oleh?-" Sampai di situ, Angela seperti menemukan sesuatu.


CKKKTTT!!!


Angela tiba-tiba injak rem dan berhenti. Sontak Gea hampir terlontar ke depan. Gea tidak mengenakan sabuk pengaman.


"Astaga! Lo apa-apaan sih?!" protes Gea. Angela tampak merinding, seketika ia jadi membayangkan, "jangan-jangan, bokap gue?" gumam Angela.


"Apa sih Jel, cerita dong ke gue? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Gea, ia tidak mengerti dengan sikap Angela.


"Kemarin Dandi juga tewas, dibunuh dengan cara yang sama seperti bokap gue."


"Iya, gue juga liat beritanya, terus?"


"Pemilik kalung itu namanya Wini, awalnya Dandi mengenalkan Wini pada seorang produser film layar lebar.  Ingat, seperti yang udah gue ceritain, Wini sangat terobsesi ingin menjadi artis, Dandi mengenalkan Wini pada seorang produser film. Nah, si Wini itu tewas bunuh diri karena hendak diperkosa oleh produser itu. Sekarang Dandi tewas, sebelumnya bokap gue. Apa mungkin produser tersebut adalah?-"


"Bokap lu?" tebak Gea. Angela menghela nafas.


"Jel, jangan berprasangka begitu-"


"Tidak mungkin kebetulan Gea! Bokap gue dan Dandi tewas mengenaskan dengan cara yang sama. Pelakunya pasti sama!" tutur Angela dengan nada yang tinggi penuh kekecewaan.


"Jadi maksud lo, si Wini yang udah tewas bunuh diri itu balas dendam! Gitu?" tanya Gea dengan nada yang tak kalah tinggi.


Angela menjambak rambutnya sendiri. Ia jadi pening memikirkan hal itu.


"Banyak cerita seperti itu!"


"Tapi tidak ada yang bisa membuktikan kalo arwah penasaran melakukan pembunuhan Angel!" Ucapan Gea ada benarnya juga Angela rasa.


"Yah, semoga saja dugaan gue salah," ucap Angela dengan nada yang pelan. Ia coba jinakkan pikirannya yang seketika tadi berkecamuk.


"Oke, sekarang anggap saja Dandi dan bokap lo yang bersalah pada wanita itu, tapi bisa saja kan pelakunya adalah pacar wanita itu? Itu lebih masuk akal, daripada menuduh hantu yang-"


"Tapi lo sendiri yang bilang, hantu itu yang minta elu balikin kalung itu ke gue!" potong Angela. Gea jadi ciut kembali. Ia ingat betul, tulisan merah itu. Itu nyata, ia yakin itu bukan halusinasi.

__ADS_1


"Bahkan barang buktinya ada," ucap Gea pelan dan mendalam dengan wajah ngeri.


"Lipstik kesayangan gue sampai tandas."


__ADS_2