Purnama Kedua

Purnama Kedua
Malam Yang Panjang


__ADS_3

Selesai makan malam, Wini kini duduk lagi di kursi kayu ruang tamu dan kembali berbincang-bincang dengan Nyi Damar.


"Ada tiga macam ilmu yang saya tawarkan. Pertama, Sebut saja daya pikat tempelan. Ini yang paling gampang. Teteh tidak perlu tarekat atau menggunakan ajimat. Tinggal saya tempelkan Dedemit Ronggeng, selesai. Seperti menggunakan jubah dan topeng tak kasat mata."


"Ya kedua Nyi," tanya Wini. Sepertinya ia tidak tertarik opsi pertama itu.


"Yang kedua, Teteh Harus tarekat, melafalkan mantra dan memahaminya. Nantinya daya pikat Teteh bersifat permanen dan tidak ada pantangan. Kalo opsi pertama, kekuatannya mudah hilang bila melakukan pantangan. Kalo yang kedua ini tidak," papar Nyi Damar panjang lebar.


Sejenak Wini mencerna ucapan Nyi Damar itu.


"Lalu yang ke tiga?"


"Apa teteh masih perawan?" Nyi Damar mengawali penjelasannya dengan satu pertanyaan sensitif. Wini pun menjawabnya dengan jujur.


"Masih Nyi."


"Baiklah, kalo yang ketiga adalah menggabungkan kekuatan dari dalam diri pribadi Teteh dan kekuatan dari luar.


Singkatnya, Jenis ketiga ini adalah tingkat puncak. Dimana tingkat pertama dan tingkat kedua digabungkan."


"Saya ambil yang tingkat ketiga aja Nyi," pinta Wini bersemangat.


"Aura merah di sekujur tubuh Teteh, memang menginginkan pilihan ketiga."


"Tapi Nyi, saya tidak bawa baju ganti, bukannya saya bakal lama di sini?" ucap Wini, ia baru ingat kalau dirinya memang tidak membawa baju ganti. Ia hanya membawa tas berisi kosmetik dan uang.


"Apa Teteh kira ritual yang akan Teteh jalani memerlukan pakaian?"


"Maksudnya?" Wini terheran-heran.


"Besok Teteh cuci pakaian yang teteh kenakan. Setelah kering simpan dan kenakan nanti setelah selesai. Selama di sini Teteh hanya boleh mengenakan kain batik.


***


Besoknya, Wini di mandikan di sungai berbatu terjal oleh Nyi Damar dengan bunga tujuh rupa. Nyi Damar memandikan Wini dengan Kidung yang merdu dan melengking. Wini menduga, kalo Nyi Damar ini adalah mantan pesinden. Wini hanya mengenakan kain batik tipis motif burung merak. Pakaian Wini sudah di cuci dan dijemur. Awalnya Wini merasakan dingin yang luar biasa ketika gayung pertama air sungai itu membasuh kulitnya, sampai-sampai tubuhnya bergidik. Tapi setelah beberapa detik kemudian, Wini merasakan kesegaran yang luar biasa. Kulit Wini yang putih bersih tampak bercahaya terkena sinar fajar yang mulai menelusup diantara dedaunan.


Rambut Wini yang hitam tipis juga di bilas dengan bunga-bunga yang di hancurkan.


Kidung Nyi Damar berbahasa Sunda buhun. kira-kira begini artinya,


Anak perawan mandi di kali


membuat gila si bujang buta


karena aroma bunga tak perlu mata

__ADS_1


si bujang buta bisa mencium mengenali


sampan sampan perahu sampan


berlayar sendiri di tengah lautan


badai datang petir menyambar


si bujang lapar pasti terdampar


Sedikit banyak Wini mengerti, dan protes soal kata 'bujang'


"Dia suami orang Nyi, bukan bujangan," ucap Wini sambil tersipu malu-malu dan tersenyum lucu.


"Apa Teteh kira lelaki yang sudah beristri beda dengan bujangan?" Nyi Damar malah balik bertanya pada Wini. Tapi tidak lama kemudian ia menjawab sendiri pertanyaannya.


"Bahkan setelah beristri, seorang pria lebih bujangan dari pada bujangan," ucapan Nyi Damar itu dimengerti oleh Wini. Wini ingat betul, Haris lebih romantis dan kekanak-kanakan dari bujangan manapun yang pernah ia kenal.


sekuntum bunga mekar di taman


seribu kumbang datang meminang


tapi bunga adalah rebutan. punya pilihan, punya perasaan


kumbang kalah di benci pergi


***


Malam kembali terjadi, menerbangkan mimpi-mimpi. Dalam kesunyian dan cahaya temaram yang hanya bersumber pada setitik cahaya lilin, Wini tertegun. Ia menunaikan perintah Nyi Damar, Ia disuruh duduk bersila dan menatap cahaya lilin sampai lilin itu habis. Lebih dari itu, ia juga tidak diperbolehkan memakai pakaian sehelai pun dan menggumamkan mantra yang sudah dihafalkannya tadi sore. Wini menuruti itu semua.


Nyi Damar sudah terlelap. Wini terus konsentrasi. Tidak bisa dipungkiri, dalam diamnya, dalam proses mendapatkan ilmu pelet paling dahsyat itu, Wini merasa Kedinginan. Pantatnya hanya terhalang kain sutra dengan lantai kayu yang sudah licin itu. Pantatnya seakan mati rasa. Tapi ia harus kuat, seberat apapun ritual yang harus ia jalani.


Di titik cahaya lilin itu ia melihat dirinya dihina oleh istri bang Haris, di titik cahaya lilin itu ia juga melihat dirinya sedang dimanja oleh bang Haris. Rasa sakit dan rasa suka cita bercampur aduk. Sambil terus menggumamkan mantra. Tak pelak, hatinya yang hancur itu mencair lewat dua sudut telaga dimatanya, mata yang jelita.


Seperti kata Nyi Damar tadi sore, Sekarang Wini sedang melatih kekuatan mata.


Mata adalah senjata cinta yang yang ampuh. Sekaligus juga bagian manusia yang paling rapuh.


Kata-kata Nyi Damar terus terngiang,


.


Dengan mata kita bisa menaklukkan lelaki paling kejam sekalipun


Tapi lewat mata juga lah, kita bisa ditaklukkan

__ADS_1


Lilin sudah hampir tandas. Lilin putih yang panjang, kesunyian yang menyiksa hampir tuntas Wini lakoni.


"Aku harus kuat, aku pasti bisa!" desir Wini dalam batin.


Tepat ketika lilin padam dan seluruhnya menjadi lelehan dan beku, Nyi Damar tiba-tiba ada di hadapan Wini. Sontak Wini kaget, Sosok berambut panjang itu secepat kilat ada dihadapannya. Wini pun menoleh ke arah tempat tidur yang berada di samping kirinya. Ternyata Nyi Damar masih terlelap. Jadi yang berada di hadapannya itu siapa?


"Jangan takut, manusia punya dua wujud," ucap Nyi Damar yang ada di hadapan Wini. Wini mengerti. Mungkin ini yang dinamakan roh, atau nyawa.


"Sekarang, pejamkan mata," titah Nyi Damar segera dituruti oleh Wini.


"Buka telapak tangan." Wini terus menurut. Terasa telapak tangan Nyi Damar bertumpu dengan telapak tangannya. Kembali ia merasakan kehangatan yang misterius itu. Lebih dari itu, ia kini merasa berputar dan terbang. Wini merasa takut. Tapi Nyi Damar buru-buru menenangkan Wini.


"Jangan takut, sekarang buka mata." Lagi-lagi Wini pun menurutinya.


Begitu ia membuka mata, dilihatnya Nyi Damar sungguh cantik jelita dan hampir Wini tak mengenalinya. Nyi Damar menjelma jadi gadis muda berpakaian seperti pesinden. Lengkap dengan Konde-konde emas dan rambut tergulung rapi. Begitupula dilehernya, melingkar kalung emas yang pipih besar bertabur permata warna warni. Wini sungguh pangling dan hanya mengenali Nyi damar dari senyumannya yang khas.


"Kita sekarang di salah satu alam Demit," ucap Nyi Damar muda. Bahkan *********** yang setengah terkekang kain tampak lebih besar dan putih segar.


"Lihat dirimu," lanjut Nyi Damar. Wini pun melihat tubuhnya yang semula telanjang kini berbalut pakaian yang hampir sama dengan yang dikenakan Nyi Damar. Wini merasa kembali ke masa saat ia bermain di sinetron klasik. Waktu itu ia menjadi dayang. Tapi, pakaian itu, pakaian dan perhiasan-perhiasan yang sekarang tiba-tiba sudah melekat di tubuhnya itu terasa lembut. Tidak terasa berat ataupun ketat. Hancur sudah semua logika di otak Wini. Kini Wini ditarik dan melesat di antara awan-awan yang berwarna-warni seperti permen masmallow. Burung Phoenix beterbangan begitu dekat dan besar. Satu lebar bulu sayapnya sebesar daun kelapa.


"Kita akan berkunjung ke ratu Demit," ajak Nyi Damar. Wini hanya mengangguk, sementara matanya jelalatan ke segala arah. Tidak ingin ia lewatkan pemandangan menakjubkan itu. Gunung-gunung yang tinggi menjulang dengan pohon-pohon yang besar, sungai sungai yang jernih seperti kaca sehingga ikan-ikannya terlihat seperti running LED yang lincah berenang dan bercahaya menyilaukan.


Nyi Damar merendahkan terbangnya. Wini pun menemukan sebuah istana yang sepertinya terbuat dari batu pualam yang putih susu dengan landasan yang luas seperti landasan terbang. Bersih dan licin berwarna putih. Wini sampai takut tergelincir ketika kakinya mulai menapak. Tapi keduanya mendarat dengan sempurna seperti yang sudah terbiasa. Di kiri kanan landasan itu Wini mencium aroma wangi bunga-bunga yang baunya aneh dan bentuknya yang besar juga tampak aneh dan bercahaya berkilauan. Tidak satupun bunga di dunia yang bentuknya sama bunga-bunga di alam Demit itu.


Akhirnya Wini sampai dibawa ke hadapan seorang yang sepertinya seorang ratu atau penguasa di kerajaan pualam itu. Ia duduk di singgasana yang terbuat emas. Pakaiannya bergoyang berkilauan, padahal angin tidaklah kencang. Jadi Wini simpulkan, Pakaiannya terbuat dari bahan yang sangat ringan dan nyaman. Sang Ratu cantik jelita itu mengenakan mahkota dari emas yang diukir serupa batik yang sangat rumit.


"Nanti teteh ikut apa yang saya peragakan. kalo saya menunduk ya ikut menunduk, Jangan lupa terus tersenyum, apapun yang terjadi," bisik Nyi Damar. Wini pun mengangguk pasti.


Sesampainya di hadapan sang Ratu, Nyi Damar pun sungkem dan Wini mengikuti. Menundukkan badan dan kepala sambil kedua telapak tangan bertemu seperti sikap sembah. Sang Ratu menyentuh kening Wini. Wini merasakan kesegaran yang luar biasa meresap dari telapak tangan itu dari kening dan menjalar keseluruhan tubuh.


Tiba-tiba kini Wini terhempas di dalam rumah Nyi Damar. Begitu pula Nyi Damar.


Wini merasakan dirinya begitu ringan. Ia juga melihat tubuhnya masih duduk bersila dalam kegelapan tanpa pakaian. Iapun melihat tubuhnya yang kini ia rasa, ternyata masih mengenakan pakaian seperti pesinden lengkap dengan konde dan perhiasan seperti tadi di dalam ilusi atau alam demit.


Nyi Damar beranjak dan duduk dekat sosok tubuhnya yang sedang tertidur pulas.


"Teteh sudah berhasil memiliki pakaian Dedemit Ronggeng. Sekarang, cobalah masuk kembali ke raga teteh," ucap Nyi Damar dan dimengerti oleh Wini.


Wini merasa aneh juga, mendapati tubuhnya sendiri yang tertegun tak bergerak itu. Dirinya tidak bisa menyentuh jasadnya sendiri.


"Posisikan Diri teteh, persis seperti jasad teteh. Nanti juga diri teteh menyatu dengan jasad. Dan betul saja, Seperti bayangan yang terhisap, lelembutan Wini pun menyatu dengan raganya.


DES!!


Wini menghela napas dan keringat dingin tiba-tiba keluar dari seluruh pori-pori kulitnya.

__ADS_1


Nyi Damar yang sudah menyatu dengan raganya itu pun bangun.


"Sekarang teteh sudah bebas, teteh sudah berhasil. Besok kita lanjut ke tahap berikutnya."


__ADS_2