Purnama Kedua

Purnama Kedua
Dandi dan Gea


__ADS_3

"Eh, ini handphone lo."


"Kalung itu cocok juga, udah buat lo aja," ucap Angela ketika mengambil handphone dari Gea. Tapi kalungnya malah Gea pakai.


"Tapi ini emas putih atau perak sih?" tanya Gea.


"Mana gue tau, cek sendiri aja ke toko emas."


Gea belum selesai, tapi Angela sudah menghabiskan makanannya.


"Gue balik dulu yah," pamit Angela. Gea hanya mengangguk, mulutnya udah penuh lagi dengan spaghetti.


Hari sudah petang.


Tanpa sengaja Tatapan Gea menemukan Dandi yang melintas agak jauh di hadapannya dan duduk dan memesan makan sendirian. Tiba-tiba Gea melotot.


Gea mengambil pisau servis yang memang tersedia di setiap meja bersama garpu dan sendok. Restoran itu menyediakan menu Beefsteak. Gea memasukkan pisau itu ke dalam tasnya.


Selesai makan, Gea menunggu Dandi keluar dari restoran itu.


Setengah jam sudah Gea menunggu dalam mobilnya. Tatapannya seperti yang tidak berkedip ke pintu keluar restoran itu. Sampai akhirnya Dandi keluar dan berlalu sendiri dengan mobilnya. Mobil sejenis SUV warna silver. Gea tidak buang-buang waktu. ia pun segera menyalakan kendaraannya dan mengikuti Dandi.


Di tikungan sepi yang penuh semak-semak, tiba-tiba Gea menyalip Dandi.


CKKKTTT!


Hampir Dandi menubruk pantat city car milik Gea yang tiba-tiba menyalip dan berhenti di hadapannya.


"An***g!!!" umpat Dandi lantas membuka kaca samping dan melongok keluar. Dilihatnya Pengendara itu adalah seorang perempuan yang lantas turun dan melewati besi pengaman lalu masuk ke balik semak-semak dan melewati pepohonan.

__ADS_1


"Woy!" teriak Dandi tidak digubris oleh Gea. Dandi yang sudah terlanjur kesal kini turun dan mulai mengejar perempuan itu. Dalam hati Dandi jadi mengira perempuan itu kebelet mau pipis. Dandi terus mengejar, gak perduli itu perempuan atau bukan. Pokoknya orang yang sudah sembarang mengendarai mobil dan hampir membuatnya celaka harus diberi pelajaran.


Gea berdiri di balik pohon, ia membuka pakaian dan hanya menyisakan bh dan ****** *****.


Dandi terus merasuk ke dalam rimbun pepohonan.


"Woy! Kunyuk! Sini lu, gua gampar lu!" Teriak Dandi. Ternyata Gea berdiri di balik pohon besar dan seketika ia menampakkan diri. satu tangannya ia sembunyikan ke belakang. Sontak Dandi kaget, mendapati sosok perempuan itu hanya mengenakan pakaian dalam dan tersenyum ke arahnya. Dandi jadi berpikir, mungkin perempuan itu mengidap gangguan jiwa dan hendak mengajaknya bercinta.


"Kamu?..." Dandi tak kuasa berkata-kata. konsentrasinya buyar dan teralihkan dan kekesalannya pun sirna seketika. Gea perlahan menghampiri Dandi yang berdiri penuh rasa tak mengerti. Tanpa sengaja, Dandi melihat kalung Wini melingkar di leher itu.


"Ayo, lakukan apa yang mau kamu lakukan," ucap Gea dengan nada dan senyum yang nakal menggoda. Dandi memang seketika terpancing birahi, tapi instingnya merasa ada yang janggal. Bahkan ia curiga atas apa yang mungkin perempuan itu genggam di balik punggungnya. Gea sudah sampai ke hadapan Dandi, bahkan Dandi bisa merasakan dengusan napas Gea.


"Cepat buka celanamu," ucap Gea. Dandi tetap terpaku meski keja***nannya sudah bangkit dan meronta di balik celana.


"Cepat!" Teriak Gea sambil menempelkan pisaunya ke leher Dandi. Sontak Dandi kaget dan firasat buruknya terbukti.


"Iya, iya," jawab Dandi dengan spontan. Kemal**nnya jadi cuit seketika. Dandi pun pura-pura menurut. Tapi sedetik kemudian ia merebut pisau itu. ia pikir, lawannya hanya seorang perempuan muda dan bakal mudah ditaklukkan. Tapi perhitungannya salah. Tangan kiri perempuan itu mencekik lehernya. Kuat, kuat sekali cengkraman tangan Gea itu, Dandi sampai gelagapan kehabisan napas dan kedua tangannya kini melawan satu tangan yang mencekiknya. Otomatis Tangan Gea yang menggenggam pisau itu bebas dan langsung melesatkan serangan.


BRATTT!!!


Perut Dandi tergores panjang, bajunya tertembus dan seketika mengalirkan Darah. Gea melepaskan Dandi dan tidak buang-buang waktu lagi, Dandi yang masih tak percaya menyentuh luka di perutnya kini diserang lagi oleh Gea. Pisau kecil itu begitu cepat mengguratkan luka-luka di sekujur tubuh Dandi. Terutama bagian wajah dan dada.


Setelah Dandi tak lagi meronta Gea pun menghentikan serangannya dan menatap puas sambil menjilat darah di ujung pisaunya itu.


Langit berwarna jingga, matahari pun sudah seperti telur mata sapi setengah matang. Senja hampir usai menunaikan tugasnya. Gea sudah membersihkan darah yang berceceran di tangan dan tubuhnya dengan tisu yang sudah disiapkan dan memasukkannya ke dalam tas bersama pisau itu yang ia gulung dengan tisu. Gea lalu mengenakan pakaian dan kembali ke dalam kendaraannya dan segera berlalu. meninggalkan mobil Dandi teronggok sendiri di kelokan jalan yang sepi. satu dua kendaraan melewati tanpa ada yang peduli.


Sesampainya di rumah, Hari sudah gelap. Gea langsung menuju kamar mandi. Ia meraih lipstik dari dalam laci dan menggunakannya untuk menulis di cermin. lalu ia langsung menuju kamar mandi untuk pipis. Setelah pipis ia buka seluruh pakaian dan hendak mandi. Tubuhnya kini hanya terbalut handuk. Ia hendak kembali ke kamar mandi setelah menaruh pakaiannya di keranjang cuci. Tapi ia tertarik sesuatu pada cermin. Ia pun amati, itu tulisan jelek yang dibuat dengan lipstik.


Tulisan itu terbaca,

__ADS_1


KEMBALIKAN KALUNG ITU PADA ANGELA


Sontak Gea jadi merinding dan lantas melepaskan kalung itu. Kalung perak dengan bandul serupa cabai berwarna merah itu ia buka dengan kasar dan tergesa. Tapi sedetik kemudian, ia menahan diri seperti tertohon dan menghapus tulisan itu. Lagi lagi dengan tisu, beberapa kali sampai bersih sempurna. Tisu-tisu bekas itu ia satukan dengan tisu bekas yang lain, bekas darah Dandi dan pisau itu ia masukkan ke dalam plastik dan membuangnya ke tempat sampah.


Ia tidak jadi mandi, ia mencari ibunya, atau siapapun yang bisa ia ajak bicara dan ia tunjukkan tulisan merah ini. Tulisan yang menempel di cermin yang dibuat entah oleh siapa menggunakan lipstik. (Padahal ia yang membuatnya, seperti dalam keadaan tidak sadar atau kerasukan).


Tidak lama kemudian Gea kembali membawa ibunya.


"Tuh Bu, lah, kok ilang? Tadi..." Gea jadi bingung sendiri, apalagi ibunya. Tulisan merah di cermin itu kini tidak ada.


"Khayalan kamu aja kali, makanya jangan kebanyakan nonton film horor," ucap ibunya.


"Ih, beneran! Tadi ada, tulisannya jelas banget." Gea pun mengambil lipstiknya di rak kosmetik, tidak jauh dari cermin itu.


"Nih, tuh lihat, ini buktinya, lipstik Gea sampai tandas begini, mana mahal lagi."


"Ya tapi siapa yang iseng corat-coret cermin pake lipstik Gea?" Gea jadi aneh sendiri, dengan kengerian kini ia tatapi kalung sialan itu.


***


Wini berputar melayang-layang, seperti layangan yang dianiaya angin malam. Ia menyerap cahaya bulan, bulan yang seperti bola es berembun yang tertegun di sudut malam. Gea gelisah, ia susah untuk tertidur dan gusar berputar-putar di atas kasur.


***


Dalam kesunyian malam, Haris menggali kembali sesuatu yang ia kubur di belakang rumah Julius itu. sesuatu itu adalah sebuah album yang memuat foto-foto Wini itu.


Ia ambil album itu dan tanah galiannya ia rapikan kembali. Ia sudah putuskan, tidak ingin ia berlama-lama larut dalam perasaan bersalah dan kenangan-kenangan itu. Ia ingin move on dan memulai hidup baru tanpa beban masa lalu.


Album foto itu ia bakar di tempat sampah beserta pisau yang dulu hendak ia gunakan untuk bunuh diri.

__ADS_1


__ADS_2