Purnama Kedua

Purnama Kedua
Kecurigaan yang terbukti


__ADS_3

Gea menelepon Haris. Buru-buru Haris membukanya.


"Ya, Gea, Bagaimana?"


"Katanya Angela tidak ada di sana. Bahkan sejak Ayahnya meninggal, Angela tidak pernah hadir untuk doa bersama. Tidak ada perkumpulan keluarga besarnya selain urusan berdoa bersama," tutur Gea.


"Oh, ya sudah, terima kasih Gea, maaf ya sudah mengganggu,"


"Ya, tapi ada apa sih, sepertinya serius amat?"


"Besok di lokasi syuting pasti saya kasih tahu kamu, ya sudah, terima kasih. Sampai besok," pamit Haris.


"Angela berbohong pada Gea?" ucap Haris pada Julius dan Nani. Haris iseng-iseng menelepon Gio. Haris tidak tahu harus bertanya pada siapa lagi selain orang-orang di lingkungan kerjanya dan Angela itu.


Gio, pun membukanya. Angela dan Istrinya lagi sibuk bergosip sambil mengupas apel.


"Ya, tumben nelpon. Ada apa yah?"


Angela tidak curiga, sementara Gio menyimak apa yang Haris katakan. Angela hampir selesai menguliti satu butir apel. pisau buah yang tajam dan bersih mengkilat itu terbuat dari stainless murni.


Kini Gio menatap ngeri ke arah Angela sambil mendengarkan Haris.


"Tante, Tante tau gak, kalo laki-laki paruh baya itu lebih nakal dari seorang pemuda, doyan perempuan muda," ucap Angela tanpa beban. Tapi lawan bicaranya jadi seksama dan tak enak hati mendengarnya.


"Seperti ayah saya dan sahabat-sahabatnya sering lakukan," lanjut Angela dengan wajah tersenyum dan pisaunya kini membelah apel itu dengan pasti.


KREKK!


"Bahkan ayah saya suka melakukannya bersama-sama." Sampai di situ, Gio menatap ngeri dan Tante Shintia masih tampak berpikir keras. Pikirnya, tidak sopan sekali si Angela ini.


Tiba-tiba Angela menudingkan pisau buah itu tepat ke hidung Gio.


"Mereka cabul! mereka pembunuh!!!" Bentak Angela dengan suara serak berat yang berbeda dan matanya melotot. Sontak Gio kaget dan hampir terserak jatuh dari kursinya.


Angela Bangkit, tapi tudingannya semakin dekat, satu centi lagi ujung pisau buah itu menempel ke jidat Gio. Tante Shintia jadi panik. Dia sama sekali tidak menyangka, Angela tiba-tiba berubah jadi bengis begitu.


Anak sulung Gio pulang dan langsung masuk. Pintu tidak dikunci. ia seorang gadis yang masih duduk di kelas 3 SMA.


"Pah! Mah?" teriaknya.


"Nabilla," gumam Shintia khawatir.


"Jangan masuk Nabilla! Pergi!!" Tapi terlambat, Wajah polos Nabilla muncul ke dapur dan menyaksikan Ayahnya tak berkutik dalam todongan pisau. Shintia menangis, khawatir atas apa yang mungkin Angela lakukan pada keluarganya.


Tiba-tiba Nabilla putuskan balik badan dan berlari. Angela mengejar, bahkan ia meloncati meja makan dengan mudahnya. Angela seperti kucing besar yang lincah. Nabilla hampir mencapai pintu depan ketika Angela tiba-tiba mendahului dan menghalangi pintu. Nabilla pun kaget dan terpeleset. Ia jatuh dan Angela langsung menjebak rambut panjang Nabilla dan menyeretnya ke dapur.


"Mah, telepon polisi ini, cepat!" Gio memberikan handphonenya pada istrinya dan bergegas mengejar Angela yang memburu Nabilla.


"Jangan coba-coba telepon polisi!" bentak Angela sambil menjambak dan menyeret dan menodong Nabilla. Nyali Gio sirna seketika.


Angela melempar Nabilla, tubuh langsing Nabilla pun terlontar menghantam meja makan yang bundar dan besar itu.


"Aduh!" Nabilla mengaduh, pinggangnya yang ramping seketika tadi menghantam tepian meja. Shintia menolong Anak kesayangannya itu.


"Kalian berdua duduk," ucap Angela dengan suara serak seperti pelepah kering yang terseret-seret.

__ADS_1


Meja yang membuat sempit itu di tendang oleh Angela.


BRAKKK!


Dengan satu tendang, Meja bundar itu melayang dan kacanya pecah menghantam tembok. Sekarang Angela kembali menodong Gio.


"Ikat mereka," titah Angela pada Gio. Supaya Gio mengikat Istri dan anak gadisnya itu.


"Kalian duduk, duduk di kursi itu. Kalian harus menyaksikan apa yang sering Manusia bejad ini lakukan."


***


"Jul, apa kamu tahu rumah Gio?" tanya Haris sambil berdiri dan ingin segera pergi.


"Tau Bang, tau,"


"Ayo," Ajak Haris sambil beranjak.


"Aku ikut!" ucap Nani.


Julius dan Haris jadi berhenti dan menatap ragu ke arah Nani.


"Aku tunggu di mobil," tawar Nani.


***


Gio sudah selesai mengikat Nabilla dan Shintia sambil ditodong Angela. Sebenarnya Gio hendak melawan. tapi tatapan istrinya mengatakan jangan. Gio pun jadi berpikir, mengalah adalah pilihan bijak. Apalagi tadi ia melihat sendiri, tenaga dan gerakan Angela yang begitu kuat dan cepat.


***


***


Shintia dan Nabilla sudah terduduk di kursi makan dengan tangan terikat kebelakang. keduanya di ikat dengan gulungan lakban warna coklat.


"Sekarang kau buka baju gadis ini," titah Angela pada Gio. Gio merasa aneh, kenapa Angela menunjuk diri sendiri dengan sebutan gadis ini. Ia juga jadi berpikir, ternyata pemberitahuan Haris tadi di telepon benar adanya. Walau sebenarnya ia adalah seorang yang realistis dan tidak mempercayai hal mistis seperti yang Haris katakan. Tapi tadi ia melihat dengan mata dan kepalanya sendiri. Angela meloncat seperti terbang.


"Cepat!!!" Angela berteriak kencang sekali, seperti orang yang menjerit.


Gio mulai membuka kancing baju Angela. Ada perasaan takut dimatanya, ada perasaan malu dihatinya, sepertinya Angela sudah kerasukan dan hendak menyuruhnya bercinta di hadapan istri dan anak gadisnya.


"Kalian, lihat, lihat orang munafik ini. Lihat manusia yang lebih biadab dari binatang ini," ucap Angela pelan pada Shintia dan Nabilla.


Shintia dan Nabilla menangis ketakutan dan hatinya menduga sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan.


Gio berhasil membuka seluruh kancing kemeja yang Angela kenakan. Kini Angela menunjuk rok untuk Gio buka.


Shintia dan Nabilla memalingkan wajah. Sepertinya, keduanya tidak sudi untuk melihat itu semua.


Julius mendapati pintu rumah Gio tidak terkunci, ia dan Haris pun segera masuk dan mendengar suara tangis dan berisik di ruang belakang, tepatnya di ruang makan.


"Angela!" tukas Julius. ia pun terpana melihat Angela yang kini hanya mengenakan pakaian dalam dan rambut panjangnya acak-acakan.


Tapi Dimata Haris, sosok Angela itu adalah Wini yang anggun sekali dalam balutan dan riasan layaknya seorang pesinden.


"Wini?" ucap Haris. Angela pun menoleh dan seketika tampak terpengaruh.

__ADS_1


"Julius? Haris??" ucap Angela. Entah itu suara Angela atau Wini. Hampir tak ada beda.


"Wini, sudahlah Wini, maafkan mereka Wini," ucap Haris.


Gio tertekuk lesu. Ia ingat betul kejadian malam itu. Ia dan dua rekannya telah melakukan kesalahan yang sangat fatal.


"Kau boleh bunuh saya, tapi tolong, biarkan anak dan istri saya hidup. Mereka tidak bersalah," ucap Gio sambil bertekuk lutut.


Angela tampak kelimpungan. Sungguh kedatangan Haris dan Julius di luar dugaan.


"Mereka mau memperkosa saya Bang, mereka-"


"Lepaskan kalung itu Angela," ucap Julius sambil perlahan mendekati Angela.


"Cukup Julius!" pekik Angela, air matanya membuncah seketika. Angela dan Wini punya pandangan yang sama, Julius laki-laki terbaik yang pernah mereka kenal.


Tubuh Angela bergetar hebat. Keringat mengucur di sekujur tubuhnya, sampai-sampai tubuhnya seperti orang yang habis kena gerimis.


"Lepaskan kalung itu Wini," ucap Haris. Mau tidak mau, perasaan bersalah Wini pada Haris itu tak bisa ia sembunyikan. Angela seperti kebingungan dan menatap Haris dan Julius bergantian. Julius perlahan kembali mendekat. Begitu juga Haris. Ia begitu khawatir.


"Maafkan aku Bang, aku sudah membuat hidup Abang berantakan."


"Sudah, sudah, sudah Abang maafkan Wini, sudahlah, dendam hanya akan membuat kita sengsara Wini, Abang mohon, lepaskan kalung itu," ucap Haris begitu tulus.


Pisau terjatuh, dan perlahan kedua tangan Angela meraih kalung itu. Sekuat tenaga ia coba meraih kalung itu dari lehernya sendiri. Seperti ada daya magnet tak kasat mata yang membuatnya kesulitan untuk meraih kalung itu.


"Ayo Angela, yah Angela, lepaskan segera," ucap Julius. Akhirnya Angela mampu menggenggam kalung itu dan seketika menariknya sampai terputus. Bandul kalung itu sampai terlontar.


Bersamaan dengan lepasnya kalung itu, Angela terkulai lemas dan Julius segera meraihnya.


Julius berhasil meraih Angela yang seketika lemas. Angela pun tidak terjatuh, ia pegang lengan Julius lalu memeluk Julius dan menangis tersedu-sedu, menumpahkan kekalutannya di dada Julius. Haris segera mengambil kalung itu.


Gio, Shintia dan Nabilla pun menghela napas bebas.


Nani datang dan memergoki Suaminya sedang berpelukan dengan Angela. Bagaimanapun, Nani merasa cemburu. Apalagi dilihatnya Angela hanya mengenakan pakaian dalam.


"Semua sudah usai, Angela sudah bebas," ucap Haris pada Nani sambil menunjukkan kalung itu. Nani tampak ngeri melihat meja yang berantakan dan penghuni rumah yang terikat.


Gio membuka ikatan yang membelenggu istri dan anaknya itu.


"Terima kasih pak, terima kasih," ucap Shintia pada Haris.


"Semua sudah berakhir," ucap Haris. Gio menghampiri Haris dan berterima kasih pada Haris.


perlahan Angela melepaskan pelukannya, karena dilihatnya Nani memalingkan wajah.


Malam belumlah larut, kini Julius sudah berada di balik kemudi, di sampingnya Nani. Haris dan Angela duduk di bangku belakang. Julius menyalakan AC dan udara dingin yang terasa begitu menyegarkan dan damai mereka hirup dengan santai. Angela berbalut selimut. Ia tampak kelelahan dan ingin segera pulang.


Di muka rumahnya, Gio dan Shintia melambai melepas kepergian Julius.


Julius, Haris, Nani dan Angela pun berlalu.


Nabilla memungut bandul kalung itu dengan tangan kanan dan begitu bandul merah serupa cabai itu ia genggam, matanya melotot dan tangan kirinya meraih pisau buah yang tergeletak tidak jauh dari kakinya berdiri.


Pisau ia genggam erat dan matanya semakin lebar, melotot.

__ADS_1


__ADS_2