
Wini berjalan hati-hati, ia menapaki jalanan berbatu yang licin. Ia dipapah seorang tua yang ia kenal siang tadi dari petunjuk salah satu temannya. Jalanan semakin sempit karena belukar di kanan-kiri jalan setapak itu merintangi.
Awalnya Wini gencar mencari info kepada teman-temannya, ia mencari seorang dukun sakti untuk meminta ilmu pelet. Dalam Hal ini, ia bertekad merebut Haris dari istrinya itu. Wini terlanjur jatuh hati pada Haris, tapi sayang, Haris hanya menganggap dirinya pelarian saja. Paling tidak seperti itulah penilaian Wini.
"Sebentar lagi kita sampai Neng," ucap Pak Tua itu. Wini hanya mengangguk dan tersenyum.
Matahari sudah tersamar kabut dan pepohonan yang rindang. Jalanan Semakin menanjak dan licin. Dalam hati, Wini merasa konyol juga dan masih seperti mimpi. Dirinya kini berada di tempat itu. Hutan dan bebukitan yang masih rimbun.
"Aku lihat sendiri, efek dari ilmu pelet itu, cowok yang dulu meludahi si Rina, kini berbalik ngemis-ngemis cinta si Rina," cerita seorang temannya Wini ketika Wini berkunjung.
"Datanglah menjelang tanggal yang tepat sebelum bulan purnama. katanya dia punya banyak ilmu pelet, dan yang paling ampuh hanya bisa didapat saat bulan purnama."
Wini mulai melihat seonggok rumah yang terbuat dari kayu. Rumah itu lebih layaknya disebut gudang. Tampak berantakan dan berlumut, berdiri kokoh sendirian di puncak bukit yang selalu berkabut.
"Ki, itu rumahnya?" Tanya Wini pada Pak Tua yang dengan sabar menuntunnya itu.
"Iya, ayo," jawab Pak Tua itu bersemangat. Mereka pun sampai ke depan pintu. Wini jadi berpikir, wanita atau nenek sihir macam apa yang mau tinggal di gudang kayu seperti itu. Sendirian, di puncak bukit.
"Nyi!! Nyi Damar? Ada tamu Nyi," sapa Pak Tua itu setengah berteriak.
__ADS_1
Sejenak sepi menghening, tapi tidak lama kemudian terdengar suara dari dalam.
"Iya! Masuk saja Ki," suara itu terdengar merdu dan wajar. Jelas bukan suara seorang nenek-nenek.
"Ayo," Pak Tua itu membuka pintu dan mempersilahkan Wini untuk masuk. Wini pun masuk duluan dan Pak Tua itu belakangan.
"Silahkan duduk," ramah seorang ibu pemilik rumah itu. Terlalu tua untuk disebut ibu, mungkin Bibi, atau Tante lebih pantas. Penampilannya sederhana. Daster motif bunga sepatu warna merah yang ia kenakan warnanya sudah pudar, wajahnya bersih tanpa riasan, rambutnya hitam panjang terurai sepinggang. Padahal Wini membayangkan, dukun perempuan yang ia datangi itu berpenampilan seram seperti nenek lampir dan sebagainya. Tapi sungguh, wanita itu ternyata penampilannya jauh dari dugaan Wini. Bahkan Wini merasa seperti mendatangi seorang bidan yang sedang santai dan tidak berpakaian dinas.
"Teteh, boleh saya pegang telapak tangan teteh," pintanya pada Wini tanpa basa-basi terlebih dahulu. Wini pun menurut saja, ia menjulurkan kedua telapak tangannya. Wanita yang dikenal dengan nama Nyi Damar itupun menyentuh kedua telapak tangan Wini. Lembut, lembut sekali Wini rasa. Sentuhannya perlahan dan dingin.
Sejenak Nyi Damar memejamkan mata sambil kedua telapak tangannya beradu dengan telapak tangan Wini. Perlahan Wini merasakan suatu kehangatan yang tersalurkan dari telapak tangan Nyi Damar ke telapak tangannya. Sontak Wini kaget. Bagaimana bisa, telapak tangan menghasilkan hawa panas? Wini merasa seperti menyentuh kening orang yang sedang sakit demam. Wini mulai percaya, semoga apa yang diceritakan temannya soal Nyi Damar ini benar adanya, batin Wini.
Tidak lama kemudian, Nyi Damar membuka mata dan hawa panas itu seketika hilang. Nyi Damar menyudahi sentuhan itu.
"Gak apa-apa Neng, Nanti Aki juga ke sini lagi, mengantar perbekalan," ucap Pak Tua itu dengan senyum ramah. Giginya sudah ompong semua. Pak Tua itu mirip Ki Daus.
"Tapi mm, soal biayanya-"
"Ah, Teteh tidak usah memikirkan masalah itu, saya tidak pernah memasang harga, seikhlasnya saja," ucap Nyi Damar membuat Wini jadi tersipu malu dan rasa canggungnya belum juga hilang.
__ADS_1
"Makasih Nyi, ya sudah, gak apa-apa saya nginep di sini," ucap Wini dengan mantap dan dadanya berdebar penuh semangat. Ia pasrah mau diapakan juga, yang penting, Niatnya terlaksana dengan baik.
"Ya sudah, terima kasih Ki, ini," ucap Nyi Damar sambil menyerahkan sejumlah uang sama Pak Tua itu. Otomatis Wini menyela.
"Tapi, ini saja, pake uang saya Ki," ucap Wini.
"Udah Teh, santai saja, simpan dulu uang Teteh. Perlu teteh tau, saya hanya menerima tamu perempuan. Tau kenapa? Niat saya memang membantu, bukan untuk cari uang. Seperti biasa, tolong bawakan segala keperluan saya ya Ki," ucap Nyi Damar beralih pada Pak Tua itu.
"Iya, iya, pasti Nyai, terima kasih," ucap Pak Tua itu sambil menerima segulung uang itu.
"Ya sudah, saya pamit dulu yah. Neng, Aki pamit dulu yah, besok sore Aki ke sini lagi." Pak Tua itupun segera berlalu setelah pamitan sama Nyi Damar dan Wini.
Kini tinggal Wini berdua dengan Nyi Damar di dalam rumah kayu itu. Wini tidak pernah menyangka, ternyata isi dan tatanan perabotan dalam rumah itu cukup apik dan modern. lemari pajangan yang besar, ranjang besi yang besar, dapur yang bersih dan sebagainya. Sebenarnya banyak yang ingin Wini tanyakan. Seperti bagaimana cara bertahan hidup sendirian di puncak bukit ini, apakah tidak banyak nyamuk atau ular mungkin. Atau Bagaimana cara mengangkut lemari itu ke tengah hutan, ke atas bukit ini? Logika Wini tidak bisa menjawabnya. Tapi ia tetap diam dan hormat. Ia ke situ bukan untuk mengomentari perabotan atau nyamuk dan ular.
"Teteh, besok pagi kita baru mulai. Sekarang kita makan saja yuk, perjalanan ke sini pasti bikin lapar kan?" ucap Nyi Damar. Wini mulai nyaman. Nyi Damar sungguh terkesan seperti seorang Tante yang menerima keponakan yang kabur dari rumah karena masalah pelik.
Mereka kini makan dengan lahap sambil sesekali berbincang, keduanya makin akrab.
"Mata teteh begitu indah, mata adalah hal yang paling berharga dan sekaligus paling murah bagi perempuan. Ibarat permata, mata teteh sudah cukup untuk menjatuhkan hati lelaki manapun yang teteh kehendaki. Tapi sekaligus, mata teteh itu bisa menjadi lorong yang sangat menakutkan dan membuat teteh dicampakkan begitu saja." Wini lebih banyak menyimak. Meski hampir semua yang dikatakan Nyi Damar itu tidak ia mengerti.
__ADS_1
Di luar kabut makin pekat, rumah kayu itu seperti perahu yang tenggelam perlahan oleh lautan Kabut.
Burung-burung Pipit pulang ke sarang. Binatang-binatang malam mulai berkeliaran. Seekor ular hitam menggeliat dan mencaplok seekor katak. Rembulan yang hampir penuh, tampak bening dan cahayanya membias di puncak-puncak bukit, memulas daun-daun dan bebatuan dan air sungai yang mengalir jadi berkilau. seperti untaian mutiara di antara gelap rambut putri mahkota yang sedang menari-nari.