Purnama Kedua

Purnama Kedua
Satu Kematian


__ADS_3

Wini mendengar seorang polisi berbisik pada seorang polisi yang lain.


"P***cur ini mati bunuh diri, saksi mata yang tinggal di samping apartemennya melihatnya langsung," Bisik polisi itu sambil menunjuk Bram.


"Itu saja?"


"Ya, lagipula untuk apa kita repot-repot menyelidikinya, cuma p***cur, kebetulan ada saksi, jadi kita mudah buat laporan dan kasus ini pun segera ditutup."


orang-orang makin banyak berkerumun, wartawan semakin banyak berdatangan. jasadnya dimasukkan ke dalam plastik hitam dengan kasar.


Wini juga melihat Dandi dan Bram dan seorang polisi sedang bisik-bisik di tempat yang agak jauh. Seketika Wini melesat mendatangi Bram dan Dandi. Tapi udara seperti jerat tak kasat mata yang menahannya atau seperti melawan arus sungai yang deras.


Entah kenapa, Wini merasa seperti terhisap oleh mobil ambulans yang mulai melaju membawa Jasadnya itu. Wini melayang-layang mengikuti ambulans itu, seperti layangan besar yang robek hilang keseimbangan.


***


Akhirnya, seorang polisi menyerahkan kalungnya kepada Tina setelah selesai melakukan otopsi. Tina di dampingi Dandi menjawab pertanyaan-pertanyaan polisi. Tina yang matanya sembab, Tina yang wajahnya pucat. Orang-orang mulai menjauh dan pergi. Bahkan Dandi yang tadi tampak bersemangat sekali meladeni para polisi mulai pergi.


Tinggallah Tina sendiri yang sesegukan penuh ngeri.


Semua Wini saksikan, semua Wini dengar, semua Wini amati. Bahkan Tina yang ia belai dengan penuh kasih sayang tidak merasakan kehadirannya. Wini benar-benar merasa sendiri meski masih di bumi yang sama. Sepertinya ia berada di dimensi yang berbeda.


Wini juga melihat Julius datang tergesa saat malam buta, Julius yang sudah berbeda, Julius yang sudah sukses. Bahkan penampilannya sudah jauh berbeda, tidak urakan seperti dulu. Tapi Julius tetaplah Julius, perhatian dan rendah hati. Wini ingat betul, kalo iya pergi bersama Haris, ia selalu menitipkan Tina pada Julius itu. Tina yang lucu, Tina yang cengeng selalu aman bersama Julius.


Julius membantu Tina menyelesaikan administrasi dan mengantar jasadnya pulang. Tina yang bloon akhirnya tidak kebingungan lagi.


***

__ADS_1


Dalam rumahnya, Bram berhak bernapas lega. Meski ia harus rela kehilangan banyak uang. Rumah yang besar, rumah yang sepi seperti kuburan.


Hari demi hari ia jalani dengan kejenuhan yang menjelma menjadi siksa. Sejak istrinya minggat ia memang sering main gila dengan wanita-wanita penghibur. Tapi sejak kematian Wini yang hampir menyeretnya ke meja hijau, ia tidak pernah lagi menyentuh wanita. Tapi sore ini, kebetulan sekali ia di ganggu oleh seorang wanita muda yang terobsesi menjadi artis dan mau diapakan saja olehnya. Hasratnya bangkit dan wanita itu segera tiba.


Adzan isya barulah berkumandang ketika wanita itu datang menawarkan keindahan. Baru saja keduanya memulai pemanasan, Angela datang dan mengacaukan hatinya.


"Angel, kamu-" ucap Bram dengan kagok langsung disela oleh Angela, "Maaf mengganggu, cuma mau ngambil barang yang ketinggalan," ketus Angela dengan tatapan berpaling.


Tidak lama kemudian Angela berjingkat pergi, entah apa yang ia ambil dari dalam kamarnya itu. Ingin sekali Bram menyergah Angela dan memeluknya dengan sejuta rasa sayang. Tapi sampai Angela melewati pintu, ia tidak melakukan apa-apa. Hubungan keduanya renggang sejak istrinya minggat.


Bram hanya termenung dan hasratnya luruh seketika.


"Om, kenapa sih, kok malah diem?" tanya wanita itu sambil membetulkan tatanan rambutnya pada Bram yang tampak termenung.


"Mending kamu segera pergi," ucap Bram. Rupanya, hasratnya hilang seketika karena kedatangan Angela.


"Gimana besok aja," jawab Bram lantas tertekuk lesu. Kali ini dirinya benar-benar kepergok sama Angel.


Tapi wanita itu sudah nekad dan melorotkan seluruh pakaiannya di hadapan Bram tanpa ragu. Bram pun melongo dan menelan ludah.


Memang, dunia perfilman tidak melulu identik dengan pelakunya yang menganut paham *** bebas. Tapi pergaulan bebas bisa saja terjadi di balik ketiak profesionalisme dunia hiburan. Seperti kawin cerai, kumpul kebo dan sebagainya.


Bram mengunci pintu lalu meladeni wanita itu.


***


Tiba-tiba Angela membuka mata dan perlahan bangkit. Tubuhnya begitu kaku dan berdiri dengan tegak. Angela meraih pisau buahnya yang tergeletak di atas meja, mancis, satu stel baju dan tissu basah lalu memasukkannya ke dalam tas. Mata Angela melotot, bibirnya kelu dan rambutnya yang terurai tidak ia rapikan. Sepertinya ia punya rencana, ia pun lalu meraih kunci. Aneh, padahal ia baru saja muntah dan terkapar. Tapi sekarang ia begitu tegar berdiri dan melangkah keluar dari apartemennya dengan mantap.

__ADS_1


Malam belumlah larut ketika Angela memarkir sedannya di tanah kosong yang agak jauh dari kompleks perumahan. Kompleks perumahan di mana rumahnya berada. Kini Ayahnya sedang bercinta dengan wanita binal itu. Tepatnya diruang tamu yang langsung bisa diakses dari pintu depan.


Angela mematikan mesin sedannya dan melangkah keluar menjinjing tas tadi yang berisi, pisau, tisu basah dan pematik api (mancis). Ia terus berjalan menembus jalan setapak yang tersembunyi di antara pepohonan dan belukar. Binatang malam yang berderik menggenapi kesunyian. Jalan setapak itu masih bisa dilalui, sepertinya masih ada yang suka melewatinya. Itu adalah jalan tikus yang dulu biasa ia dan teman-temannya lalui kalo pulang kemalaman atau memasukan kekasih ke dalam kamar. Jalur itu luput dari pantauan cctv dan satpam kompleks. Jalan setapak yang penuh ilalang dan melingkar itu menuju ke sebuah gerbang rahasia yang berupa beton pembatas yang roboh di belakang komplek.


Saat melintasi beton itu lengan Angela sedikit tergores ranting kering yang membelukar. Tapi Angela seperti mati rasa dan tidak merasakan apa-apa.


Angela terus melangkah ke dalam kompleks perumahannya melalui jalur gelap memotong jalan dan berbelok ke gang gelap yang langsung menuju samping rumahnya. Suasana sudah hening, orang-orang sudah tertidur atau berdiam di dalam rumah masing-masing, mengurusi urusan masing-masing. Hanya Angela sendiri yang melangkah santai dalam keremangan. Tidak ada yang memperhatikan, tidak ada yang perduli, apalagi tahu apa yang akan Angela lakukan. Sesampainya di depan pintu ia langsung mengambil pisau, menggenggamnya erat dan mendobrak pintu.


BRAAKKK!!!


Pintu rumah terbuka seketika dengan satu dorongan kaki. Dorongan kaki Angela begitu bertenaga, tidak masuk akal jika dibandingkan dengan pintu jati yang dalam keadaan terkunci itu.


Bram dan wanita ****** itu yang baru saja selesai mengenakan pakaian jadi kaget bukan main mendapati Angela yang datang lagi ke situ dengan menggenggam pisau dan dengusan penuh dendam.


"Angela!!!"


BRAAATT!!!


Angela langsung melesatkan pisaunya merobek lengan wanita itu yang tak sempat menjauh. Darah pun berceceran, lukanya dalam dan panjang. Sabitan pisau dalam genggaman Angela begitu sembarang dan bertenaga. Bram yang tidak tinggal diam dan melerai turut terkena sabitan pisau di dadanya. Pisau itu terus Angela sabit-sabitkan dengan kalap. Bram dan wanita itu mengaduh dan menjauh. Setelah wanita itu tak bergerak lagi dan terkapar bersimbah darah. Tatapan bengis Angela mengarah kepada Bram. Bram yang beringsut ketakutan sambil satu tangannya menahan darah yang bercucuran di dada yang sudah robek.


"Angela! Ini Ayah Angela!!" Angela seperti orang Budek dan matanya yang melotot seperti buta tak mengenal Ayah kandungnya sendiri. Angela kembali melancarkan serangan-serangan dan lebih kencang dan tandas kali ini. Darah sampai muncrat ke wajah dan pakaiannya sendiri.


Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh malam.


***


Asap hitam mulai memudar seiring api mulai menyala membakar ranting-ranting kering dan pakaian Angela yang penuh darah itu. Angela berdiri hanya mengenakan pakaian dalam di hadapan api unggun itu. Ia pun mengambil tisu basah dan mengelap sisa percikan darah dari wajah, leher dan tangannya. Ia seperti sebuah patung porselen di tengah lahan kosong yang luas. Lembar-lembar tisu yang kini memerah pun turut ia bakar.

__ADS_1


Terakhir ia melempar pisau buahnya itu ke dalam kobaran api yang makin besar. Angela pun menyalakan mesin sedan dan berlalu dengan santai.


__ADS_2