Purnama Kedua

Purnama Kedua
Kemenangan Wini


__ADS_3

Pagi-pagi buta Haris sudah sampai ke kantor dan mengacak-acak berkas data pekerjaan untuk para anggotanya. Ia pilihkan yang bernilai tinggi untuk ia serahkan pada Wini. Ia amati satu persatu dengan seksama.


Wini sudah mandi dan berdandan rapi. Pakaiannya biasa dan tidak mencolok. Sekarang hari Sabtu, sebentar lagi kelas drama di mulai. Dandi sudah datang dan banyak temannya yang lain sudah berkumpul di aula, berjejer di kursi lipat melingkari Dandi. Mereka ramai bercerita. Kebanyakan mereka membahas lembar-lembar naskah pelajaran. Tapi ada juga yang menyebut-nyebut Nama Wini dan Haris.


"St! dia datang," ucap Fida sambil menyenggol temannya. Begitu Wini menampakkan diri. Mendadak suasana jadi hening seperti kuburan. Wini cuek saja dan mengambil bangkunya. Mereka biasa belajar di aula. Aula yang luas berlantai resin epoxy warna coklat mengkilat. Satu sudut untuk latihan fighting, satu sudut untuk latihan drama, model dan artistik dan lain-lain. tapi kalo libur, semua bangku, matras dan alat-alat peraga lainnya bisa disingkirkan dan aula itu cukup untuk main basket atau berubah menjadi dua lapang bulu tangkis dengan net yang bisa dibongkar pasang.


Baru saja Wini membaur, bang Haris datang dan memanggil Wini.


"Wini, ayo ikut ke kantor, ada yang perlu kita bicarakan." Semua tetap terdiam. Tidak ada yang berani membantah Haris. Haris adalah manajer di tempat itu. Barulah setelah Wini dan Haris hilang dari pandangan, Fida dan dua orang temannya kembali bergosip.


"Tuh lihat, bener kan dugaan gue," bisik Fida.


"Ehm, bisa kita mulai latihannya? bergosipnya nanti saja Fida," tukas Dandi sambil berdiri dan mulai membuka naskah.


***


"Ini, beberapa kontrak untuk kamu," ucap Haris sambil menunjukkan satu map berkas pada Wini. Wini pun tersenyum puas dan Haris membusungkan dada. Wini membaca surat kontrak itu satu persatu.


"Oh iya Bang, adik saya juga mau gabung di sini Bang," ucap Wini.


"Oh, Tina?" Haris ingat Tina. bocah lugu yang masih kekanak-kanakan.


"Iya, kasihan dia, dari kecil saya yang urus."

__ADS_1


"Ya, gak apa-apa, saya malah senang. khusus bagi Tina dan kamu, saya gratiskan semua biaya, mulai dari biaya mess, biaya makan, biaya latihan. Bagaimana?"


"Aduh, makasih Bang. Makasih banget," ucap Wini.


"Terus sekolahnya? bukannya kemarin itu ia baru lulus SMP?"


"Justru itu masalahnya, ia gak lanjut sekolah, Abang tau sendiri keadaan keluarga saya. ya karena itu pula, ia bosen di rumah terus." kilah Wini.


"Ya sudah, mumpung kita lagi banyak rejeki, Kita sekolahin Tina," ucap Haris lebih dari yang Wini kira.


Terima kasih Nyi Damar


***


"Banyak banget bawaannya Bang, kayak yang mau ketemu calon mertua aja," Goda Wini. Mendengar itu Haris tertawa dan perlahan kemudian, tangannya gerayangan ke paha Wini. Tapi Wini menepisnya dengan manja.


"Hus! uler nakal, dicubit nih."


Haris lupa, besok ulang tahun anaknya. Haris juga lupa, ia sudah menggunakan uang kas perusahaan terlalu banyak. Memang, kadang urusan uang itu tertutup oleh pemasukan yang tak terduga. Jamal yang saat itu menjabat sebagai koordinator mulai sibuk mengurus anak-anak yang dikontrak majalah pria dewasa. Rudi juga demikian, ia bertanggung jawab mengawal anak-anak yang dikontrak sinetron kejar tayang. Apalahi Julius, ia lagi getol-getolnya merekrut teman-temannya di sekolah yang baru.


Di tengah kesibukan yang makin memuncak, Haris putuskan mengangkat Wini jadi sekretaris. Fida langsung walk out, diikuti Aulia. meninggalkan rapat besar yang dihadiri oleh semua anggota dan staf manajemen artis itu.


"Apa-apaan, anak baru yang gak punya latar belakang manajemen diangkat jadi sekretaris," celoteh Aulia setelah menyatakan diri keluar dari keanggotaan. Wini hanya tersenyum.

__ADS_1


Hari-hari berikutnya, keberuntungan terus berpihak pada Wini dan puncaknya adalah di suatu malam, di dalam sebuah restoran mewah. Haris menunjukkan sebuah cincin berlian. Wini senang sekali. Tapi di balik itu Wini juga sadar.


"Bagaimana dengan istri Abang," ucap Wini pelan tertahan dengan satu tatapan tajam. Haris bisa mendengarnya dengan jelas dan tanpa pikir panjang ia segera putuskan.


"Terserah kamu, kalau kamu menghendaki Abang harus cerai dulu dengannya, tidak masalah. Abang akan lakukan apapun demi kamu Wini," ucap Haris. Wini benar-benar sukses.


***


Di suatu tempat yang jauh, di atas awan. Tepatnya di dalam pesawat deretan bangku tengah. Seorang Firli membuka majalah, ia tidak sabar untuk segera melihat isi majalahnya itu. Ya, melihat adalah kata yang tepat untuk majalah itu. Karena isinya lebih banyak memuat foto-foto wanita seksi ketimbang barisan huruf untuk dibaca.


Tapi baru saja halaman ketiga, Firli kaget bukan main, mendapati foto seksi adik sepupunya mejeng di situ, hanya mengenakan bikini. Seakan tidak ingin percaya atas apa yang telah dilihatnya, ia juga membaca keterangan sang Model yang ia kenal betul wajahnya itu. Ternyata benar, wanita muda dengan pose binal itu adalah adik sepupunya sendiri. Namanya tertulis dan jelas terbaca. Ayunda Himawan.


Setelah turun dari pesawat ia langsung menghubungi adik sepupunya itu.


Itulah awal kehancuran bisnis yang Haris bangun dari nol dengan susah payah itu. Firli mengintrogasi Ayunda dan keluarganya. Keluarga besar Firli adalah keluarga yang terpandang dan terkenal taat beragama. Jelas saja, kenyataan Ayunda menjadi model majalah pria dewasa itu berbuntut panjang. Ayunda terpojok dan akhirnya mengakui, ia memalsukan ijin Orangtua dibantu Jamal. Tak pelak, keluarga Ayunda melabrak Haris. Bagaimanapun Haris yang paling bertanggung jawab. Jamal Kabur sebelum di vonis sebagai tersangka. Sialnya, selain Ayunda banyak juga yang terbongkar memalsukan data perijinan dan tanda tangan orangtua dan usia. Manajemen artis yang Haris kelola mulai ramai diberitakan. Satu borok terungkap, borok yang lain turut tersingkap. Ternyata Haris tidak memperpanjang perijinan dan menggunakan uang kas untuk keperluan pribadi. Keadaan semakin kacau dan pengadilan memutuskan manajemen artis yang dikelola Haris itu ditutup untuk selamanya.


Ketukan palu itu begitu menyakinkan dan bagi Haris seorang itu adalah pukulan tinju yang telak menghantam muka dan membuatnya jatuh tersungkur.


Wini dan Tina berhasil lari dan tidak turut terjerat hukum. Dalam hal ini, uang Haris habis terkuras untuk membayar dan menutup kasus.


Wini putuskan untuk tetap bertahan di Jakarta, walau tanpa uluran biaya dari Haris. Haris sudah ia tinggalkan. Ia ngontrak dan mulai berjualan kosmetik dari pintu ke pintu.


Sampai akhirnya ia bertemu dengan Dandi dan putuskan kembali ke dunia yang telah melambungkan namanya itu. Dunia yang membuatnya terkenal dan sempat menikmati banyak uang dan bergelimang kemewahan. Tapi dunia itu pula yang menjatuhkannya, juga dengan begitu cepat.

__ADS_1


__ADS_2