
Seharian mereka menjelajahi Tempat-tempat menarik. Pertama-tama yang mereka kunjungi adalah sebuah destinasi wisata berperahu di sekitar rawa-rawa. Sebelum sampai ke rawa-rawa terlebih dulu mereka melintasi empang dan persawahan yang luas membentang.
Beberapa kali mereka singgah untuk mengambil foto ataupun berpose bersama. Raisa mengabaikan Mario yang tampak tahu diri, Ia lebih banyak sibuk berbicara dengan Erik, asisten yang dibawanya ikut serta. Itu melegakan bagi Raisa.
Mereka melanjutkan berperahu di rawa-rawa yang cukup panjang dan Naomi berteriak senang setiap melihat monyet yang muncul.
Puas menjelajah disini. Mereka menuju
destinasi wisata yang menyuguhkan padang rumput Sabana di ketinggian.
Untuk menikmati padang rumput yang luas membentang tanpa pepohonan, sehingga angin yang bertiup kencang sangat terasa. Mereka menaiki menikmati flying fox dengan lintasan sepanjang 270 Meter lalu menyewa camping ground untuk dapat duduk beristirahat.
Meski dapat menikmati senja pada saat Sunset mereka memilih tidak menunggu. Mereka masih melanjutkan ke beberapa tempat hiburan anak hingga menjelang sore.
__ADS_1
Menjelang sore Raisa mengajak kembali ke area tebing, tidak jauh dari sekolah. Sebuah celah tersembunyi di sekitar bukit tidak jauh dari lokasi Arung Jeram yang akan dibangun. Tempat yang sering dikunjunginya bila ingin menyendiri. Sebuah celah yang tertutup oleh pohon-pohon rimbun.
Dibaliknya sebuah pemandangan yang sangat indah dari tempat yang cukup tinggi, mereka dapat melihat ke bawah yang nampak mengecil.
"Kita dapat melihat banyak tempat dari sini".
" Tempat ini menjadi tempat bunda kalau lagi ingin sendiri, disini tenang dan sangat indah". Raisa memanggil bunda untuk dirinya. Naomi sendiri begitu mudah melakukan hal itu, mengikuti murid lain yang memanggilnya gurunya dengan sebutan bunda.
"Tentu sayang". Balas Raisa sambil tersenyum
" Papa boleh dong ikut juga? ". Mario yang sedari tadi menyimak ikut nimbrung. Raisa mendelik sebal. Erik tersenyum diam-diam.
"Dasar tukang selingkuh, apa tidak takut kualat? ". Guman Raisa dalam hati. Meski itu belum tentu benar. Dugaan nya belum bisa dibuktikan.
__ADS_1
Meskipun sebel dengan pria didepan nya, Raisa tidak bisa mengabaikan putri cantik nya yang lucu dan pintar.
Dan ia juga belum banyak tahu perihal istri Mario dan kehidupan mereka, Raisa masih harus menyimpan rasa penasaran nya ini. Hingga beberapa hari disini. Belum terlihat kemunculan wanita cantik, itulah yang difikirkan Raisa, bila suaminya tampan seperti Mario.
"Hehh...". Ia harus mengakui pria itu memang ganteng. Seharusnya wanita yang menjadi istrinya, biasanya juga cantik, apalagi putri mereka juga sangat cantik.
Raisa masih menyimpan tanda tanya itu namun enggan untuk menanyakan kebenarannya. Bisa-bisa Mario menjadi ge-er dan menyebutnya Kepo. Meski mungkin betul. Raisa tidak mungkin mengakui itu. Dirinya seorang guru. Meski suka seenaknya, Raisa tahu dalam hal ini, ia harus melihat situasi. itu bukan urusan nya jadi untuk apa dia ingin tahu. Raisa memfokuskan diri pada Naomi.
Mario sudah menceritakan perihal penyakit Naomi. Serupa penyakit alergi. Penyakit yang bisa muncul sewaktu-waktu tanpa gejala awal, menyangkut kulitnya yang sensitif, namun belum jelas faktor penyebabnya.
Apakah dari makanan daging, seafood, ataukah dari lingkungan seperti cuaca dingin, cuaca panas, debu atau asap ataupun kondisi lainnya yang dapat menjadi pemicu. Namun sejauh ini, menurut Mario, Naomi pernah berada dalam situasi itu, tapi itu tidak bisa dianggap sebagai pemicu, karena ada jarak beberapa jam atau beberapa hari setelah mengalami kondisi tadi barulah penyakitnya muncul. Mungkinkah efeknya baru kelihatan setelah melewatinya waktu cukup lama? Biasanya sebuah alergi akan muncul tidak lama setelah pemicunya terjadi atau di alami oleh penderitanya. Namun kasus Naomi berbeda.
Raisa hanya terdiam mendengarkan. Ia tidak bisa membuat pernyataan ataupun memberi penjelasan setelah mendengar cerita Mario. Hal ini baru baginya.
__ADS_1