Putri Kecil Tuan Mario

Putri Kecil Tuan Mario
Bab. 7 Papa Jangan Khawatir


__ADS_3

Kabar kembali nya Mario didengarnya dari Darren, kabarnya, pria itu kembali dengan seorang wanita bernama Naomi, lewat percakapan para wanita-wanita di kantor cabang, Darren dipanggil untuk memperbaharui kontrak.


Raisa sedikit terhenyak mendengarnya, ia bukan cemburu, hanya saja sikapnya yang suka menggoda membuat Alena tidak habis fikir.


"Dasar...tukang selingkuh, ternyata dia punya kekasih dan masih juga ingin bermain mata".


Karena jengkel, Raisa sengaja mengabaikan janjinya menghubungi Mario sekembalinya dari kota. Raisa memilih larut dalam kesibukannya. Malam hari dengan bus malam, ia berangkat ke kota. Sudah tiba Jadwal mengunjungi ayahnya di penjara.


Kepergiannya kali ini sekaligus meminta ibunya ikut ke kota kecil ini untuk tinggal bersamanya juga Darren,


bagaimana pun, tinggal bersama maminya dalam suasana sebuah keluarga tentu lebih menyenangkan dan lebih aman untuknya sebagai seorang gadis.


Berat perasaan Raisa meninggalkan Darren kali ini, takutnya adiknya itu pergi lagi, namun difikirnya lagi, Darren sudah besar, Raisa harus belajar mempercayai adiknya.


Dan Dia sudah mewanti-wanti, Darren untuk tidak berbuat sembrono sebelum keberangkatannya. Sementara tanggung jawab sekolah seperti biasa diserahkan pada Sinta. Karena Sinta sudah sangat faham segala hal mengenai PAUD itu.


*


"Aku harap ayah cepat keluar dari sini, Darren dan aku membutuhkan ayah". Raisa berucap pelan sambil menyodorkan sekaleng biskuit dan sekeranjang buah kesukaan ayahnya.


" Ayah juga berharap demikian, nak ". Papinya menatap sendu. Kalau saja ia tidak tergiur tawaran bisnis yang difikirnya jauh lebih menguntungkan dari yang sudah ada, ia tidak akan tertipu dan mengalami kerugian yang sangat besar, bahkan membuat usahanya bangkrut dan ia terlilit utang kemudian dituduh melakukan pemalsuan data keuangan perusahaan.

__ADS_1


Tapi semua sudah terjadi. Menyesal pun, ia tetap harus menjalani masa hukumnya, kecuali pengacaranya bisa membuktikan keterlibatan beberapa petinggi perusahaan dalam usaha menggulingkan dirinya hingga semua kesalahan dilimpahkan padanya.


"Bagaimana Darren, adikmu? Kenapa tidak ikut mengunjungi papi? papi juga rindu padanya, sudah lama dia tidak mengunjungi papi". Raisa faham karena


Darren memang sangat dekat dengan papinya. Namun ia tidak mungkin menceritakan masalah adiknya itu, jika hanya akan menambah beban fikiran papinya.


" Darren baru mulai bekerja Pap, Dia punya perjanjian, tidak boleh bolos dalam beberapa bulan ke depan". Raisa menceritakan separuh kebenaran Darren.


"Kalau pekerjaan nya sudah cukup aman, Raisa ajak dia menemui papi lagi, yang penting papi sehat-sehat disini".


" Kalian baik-baik saja berdua? " wajah papinya tampak pilu mengucapkan itu. Raisa yakin, papinya pasti teringat maminya lagi.


Papi sempat sakit ketika tahu maminya pulang ke Amerika dan meninggalkan mereka berdua, karena tidak mau ikut maminya pulang ke negaranya.


Papinya tampak antusias mendengarkan. Ia bersyukur anak gadisnya sangat cerdas serta mandiri.


Kembali ia teringat istrinya. Wanita yang dicintainya itu, kenapa tidak seperti anaknya yang begitu tabah meski harus berjuang keras. Kalau tidak ingat anak-anak yang masih mengharapkan mami mereka, sudah diputuskan untuk menalak wanita itu. Tapi itu mungkin tinggal menunggu hari saja.


Winarta merasa istrinya itu bahkan mungkin tidak bisa setia menunggunya, mengingat istrinya sangat cantik dan ia tahu, saat bersama pun dulu, banyak yang diam-diam suka menggoda istrinya. Jika kekurangan harta saja membuatnya tidak tahan, bagaimana dengan godaan lain, berupa kebutuhan bathinnya.


Sejak mengetahui keputusannya untuk pulang ke Amerika, sebagai suami yang merasa dicampakkan ia memilih tidak ingin bertemu istrinya itu, hingga wanita itu pun menjadi membeku dan melakukan hal yang sama, enggan mengunjunginya.

__ADS_1


Nyaris selama 3 tahun dalam penjara ini, hanya 2 kali wanita yang sesungguhnya masih dicintainya itu datang menemuinya.


Namun, keputusannya sudah bulat. Jika anak-anak nya sendiri bisa diabaikan, apalagi suaminya, jadi untuk apa mempertahankan wanita itu.


Jika memang dia menemukan kebahagiaan diluar sana dengan pria lain. biar saja, ia sedikitpun tidak ingin kecewa lagi.


Raisa memandang keluar jendela bus yang membawanya kembali ke tempat tinggalnya. Perasaannya masih cukup nyeri memikirkan papinya yang semakin tua kelihatan, meski papinya tidak kelihatan menderita, mungkin karena papinya bisa ikhlas menjalani masa hukumnya, namun Raisa tahu, papinya cukup terluka dengan sikap maminya.


Mereka sempat bertemu di Restoran mewah tadi. Begitulah maminya, tidak mau sedikitpun kelihatan kekurangan.


Maminya yang mengajak Raisa makan siang di Rumah makan yang mahal. Dulu pun mereka sekeluarga pernah makan disana.


Maminya sudah dikenal disana, karena maminya menyukai menu-menu seafood nya. Hanya saja ada yang berbeda, kali ini Raisa datang sendiri dan maminya sudah menunggu disana dengan seorang pria.


Meski dari jauh Raisa melihat, pria itu beranjak meninggalkan maminya, keluar lewat pintu yang lain, begitu melihat Raisa. Raisa tidak bodoh, Raisa tahu, itu pastilah pria yang menjadi kekasih maminya.


"Cih... ". Raisa ingin mengumpat seketika itu juga, namun rasanya sia-sia. Raisa tidak ingin terbebani dengan berbagai fikiran. Setiap orang bertanggungjawab atas dirinya pikirnya selalu. Jika itu bisa ditanggung nya, biarkan saja.


Raisa, masih merasa sentuhan pelukan maminya. Raisa juga masih bisa menangkap tatapan sendu maminya, tapi kesedihan nya untuk apa? Karena Raisa dan Darren memilih hidup sendiri?


Raisa tersenyum kecut. Cukup sudah. Masalah mereka tidak akan lagi mengganggunya. Sekarang tanggungjawab nya adalah Darren, juga anak-anak PAUD didikannya.

__ADS_1


Raisa tidak terburu-buru untuk menjalani kehidupan lain selain ini. Apalagi pendamping. Ia bisa berdiri diatas kakinya.


__ADS_2