
Mario tidak membutuhkan bantuan abangnya untuk mempertemukan dirinya dengan Raisa. Itu dalam kuasa nya, ia mampu melakukan sendiri. Tentulah, dia tidak akan meragukan kemampuan dirinya untuk urusan perempuan. Apalagi menyangkut wanita yang dicintainya.
Yang diinginkannya hanya akses untuk masuk kesana.
Alhasil, sekarang mobilnya yang terparkir dengan kaca full oneway itu, bertengger manis di depan asrama dimana Mario duduk bersama Bang Romy dan Erik. Sementara disana berjalan anggun 2 wanita cantik yang tampaknya sudah akrab, yaitu Raisa dan Nisa, istri Bang Romy, sekaligus pemilik tempat itu.
"ck... tak kusangka, mbak Nisa akrab dengan Raisa". Mario berdecak
" kau meragukan gadis itu? ".
Mario mengusak rambutnya. Ada rasa rindu memandang pujaan hatinya dari jauh. Rindu yang terlalu, semua serba terlalu...begitu lirik sebuah lagu
" Sebenarnya mereka sudah saling kenal sejak dulu , Nisa mengenal Raisa saat membawakan materi psikologi remaja di sekolah Raisa di SMA, Raisa itu bintang di sekolahnya. Sejak itu mereka akrab.Sering bertukar kabar, tapi terputus sejak Nisa ikut dengan ku pindah kesini ditambah kasus orang tua Raisa.
Mereka baru kembali mengadakan kontak ketika Raisa bermaksud mencari tempat konseling untuk adiknya. Pertemuan mereka kembali tidak disangka, aku bahkan baru tahu, gadis yang diceritakan Nisa ada di asrama adalah gadis yang sama yang telah mengganggu fikiran adikku ini, beberapa hari yang lalu".
Raisa sendiri akhirnya sudah bisa meninggalkan Darren di asrama setelah memastikan Darren benar-benar sudah akrab dengan lingkungan disana. Terlebih mbak Nisa dan suaminya sangat menyukai Darren, yang sesungguhnya baik.
Akhirnya Raisa kembali ke sekolah. Hal yang pertama ditanyakan adalah kabar Naomi. Memang selama kepergiannya, hpnya di nonaktifkan karena tidak ingin terlacak oleh pak Mario, karena yakin pria itu mampu melakukan nya.
Menurut Sinta, Naomi tetap bersekolah disini dengan ditemani Wieke, tantenya, yang diminta mengantar jemput sementara bu Raisa tidak ada. Raisa tercengang. Apa yang dikatakan pria itu pada anak dan adiknya. Seolah dirinya akan mudah mengikuti keinginan Pak Mario. Huh... dasar pemaksa.
"Apa bunda, akan lama perginya?, Naomi tampak bersedih". Raisa membelai rambutnya.
__ADS_1
" Tidak, hanya 4 hari".
"janji yah bun, tidak lama, Naomi sayang bunda, papa juga... papa sedih waktu bunda lama perginya".
Hah... Raisa tercengang. Bagaimana bisa? mustahil. Ada maminya yang menemani, bagaimana bisa seorang anak merelakan ayahnya, bukan bersama ibunya? Raisa sungguh pusing memikirkan.
" Mami Naomi kan ada, tante Wieke juga". Raisa mencoba mencari tahu.
"iya, tapi papa sama mommy, cuma teman, mommy punya rumahnya sendiri. tengok Naomi juga kalau pas tidak ada kerjaan saja".
" bukankah bunda Raisa juga baru kenal sama Naomi, tapi mami kan ibunya Naomi, yang lahirin Naomi". Raisa mengingatkan
"iya sih bund, Naomi sayang mommy juga sayang bunda, tapi papa sayangnya cuma sama bunda Raisa, kalo mommy sudah ada om Robert yang sayang".
Sejak 2 hari, Raisa mengikuti pelatihan di hotel, di kota propinsi. Raisa sudah memberitahu Naomi tentang kesibukannya nanti. Gadis itu kelihatan bersedih, namun kehadiran tante dan ibunya di akhir pekan, memudahkan Raisa untuk pergi. Sejak Raisa tidak muncul selama 2 bulan, Naomi terbiasa untuk menunggu bersama Sinta, sampai tantenya datang menjemput.
Malam hari setelah menenangkan diri dengan berendam di kamar hotel dengan aroma terapi. Raisa sudah akan istirahat. Setiap peserta pelatihan ditempatkan sekamar dengan 2 orang peserta lain, sesama kepala sekolah, jadilah mereka bertiga. Kedua rekannya sama-sama sudah tertidur, belum lama ketika ponsel Raisa menyala berkali-kali, tanda panggilan masuk. Ia sengaja mengubah ke mode senyap. Awalnya Raisa ingin mengabaikan ketika melihat siapa yang memanggil.
"Apa aku harus naik dan mengetuk kamar nona Raisa? " Isi chat itu membuat bibir Raisa memberengut.
"Selalu saja... ". Ia mencibir. Spontan ia melangkah untuk mengganti baju tidurnya dengan pakaian santai dengan ditutupi sweater pendek. Waktu memang belum larut, namun pelatihan yang sampai sore membuat mereka memutuskan istirahat di awal waktu, selain cuaca diluar cukup mendung. Hujan rintik-rintik sejak sore, tidak deras namun membuat pilihan berada di balik selimut lebih baik.
Raisa tertegun di ujung tangga, wajah itu sangat tampan, tengah duduk dengan posisi menyamping dari tempatnya berdiri. Suasana loby yang ber interior klasik dan bunga-bunga ukuran besar sebagai pemanis ruangan saat ini sedang lengang membuat Raisa terpaku dan terbawa suasana romantis.
__ADS_1
Raisa mengeluh dalam hati.
"Kenapa begini? ". Raisa menyesali hatinya.
Ketika Mario mengangkat kepala dan memalingkan muka kearah Raisa, seolah tersadar seseorang sedang mengamatinya. Pria muda berusia 28 tahun itu berdiri dan melangkah, seperti seorang kekasih menyambut orang yang dicintai nya.
Tatapan mata yang memandang dalam-dalam dari pria dengan potongan rambut slicked back, rambutnya disisir rapi klimis ke belakang dengan cambang yang dibiarkan tumbuh pendek, menambah kesan seksi. Demikian Raisa berbisik dalam hati. Sedikit mengeluhkan fikirannya yang suka travelling kemana-mana akibat keseringan menonton film romantis di Netflix.
Sesaat Raisa terhanyut suasana namun kemudian senyum teramat manis yang merekah dibibir Mario segera membuyarkan lamunan Raisa. Raisa jadi tersipu. Wajahnya terasa menghangat, meski diluar masih rintik-rintik.
"Akhirnya nona besar bersedia menemui orang yang tengah resah ini".Guraunya saat mereka sudah berhadap-hadapan.
Apa maksudnya coba. Gumam Raisa. Mata Raisa membola.
" Bisakah tuan segera menyampaikan maksud"
Raisa ikut berlaku konyol.
Hehehe... Mario terkekeh pelan, tatapan nya tetap intens. Ada getar yang merambat di permukaan kulitnya. Sekujur tubuh Raisa meremang, ketika tiba-tiba pria itu meraih tangannya dan mengajaknya menuju kursi di sudut dekat jendela besar yang sudah tertutup tirai tipis dan panjang.
Hanya satu sofa panjang di sudut dari pintu menuju teras samping hotel, hingga suara air hujan masih cukup terdengar. Suasananya meresahkan hati keduanya, apalagi ada alunan musik Kiss Me dari Dermot Kennedy.
Raisa menyesali situasi canggung ini. Dia harus menyelamatkan dirinya.Dia takut sesuatu terjadi jika mereka tak mampu menahan gejolak Masing-masing.
__ADS_1