Putri Kecil Tuan Mario

Putri Kecil Tuan Mario
Bab. 9 Butuh Udara Segar


__ADS_3

Sekembalinya ke rumah Raisa diam tercenung cukup lama. Barusan Pak Mario mengantarnya pulang dari hotel. Ternyata penjemputan paksa untuk mengenalkan pada putrinya.


Sebenarnya Raisa terkejut dibuatnya, beberapa waktu lalu, ia terfikir tentang wanita muda dan cantik. Lalu kemana wanita itu sekarang? Kenapa pria ini dengan berani mengajaknya ke hotel. Namun yang muncul dihadapan nya sungguh diluar dugaan.


"Anak? jadi pria ini sudah punya anak?Anak nya juga begitu lucu dan menggemaskan dengan rambut ikalnya serta pipi gembulnya".


Raisa kembali teringat pertemuan mereka tadi.


Sungguh Raisa terpesona dengan anak imut itu.


Sekali lagi kenyataan mengejutkan nya, tak percaya, pria itu masih juga menggoda gadis lain di saat sudah di karunia makhluk imut seperti ini.


"pasti ibunya pun sangat cantik".Gumam Raisa. Sayang sekali wanita itu tidak muncul tadi, hingga menjelang kepulangan nya tadi. Sebelum mengantarnya pulang.


"Sayang.... Sudah mandi? " Mario balas memeluk ketika bocah imut itu menghambur kepelukan nya. Nampak sekali kedekatan mereka. Saat itu Raisa teringat papinya di penjara. hatinya sedikit ngilu.


"Hehhh.... ". Raisa menghela nafas pendek. Pak Mario menginginkan putrinya bersekolah sementara ditempat nya. Apa motif pria itu sebenarnya?

__ADS_1


Dia menginginkan lahannya, tapi menyodorkan putrinya bersekolah ditempatnya. Apa itu berarti Raisa bisa bernafas lega.


Bahwa pria itu tidak akan menekan dirinya untuk menyerahkan tanahnya? Apa pria itu akan menghentikan keinginannya membangun lahan parkir dan resort diatas tanahnya?


Terlepas dari masalah itu, Raisa merasa senang dengan putrinya. bocah itu sangat cerdas dan nampak penuh ide. Teringat tadi bagaimana gadis itu, duduk menjauh dari mereka berdua dengan ucapannya yang mengejutkan Raisa..


"Tante... silahkan berbicara dengan papa, Naomi mau main dulu, Naomi tunggu disitu yah". sambil menunjuk sudut ruangan dimana diatas sofa terletak beberapa boneka dan mainannya.


Raisa sudah faham, biasanya anak-anak yang cerdas memiliki banyak ide dan fikirannya yang cenderung mirip tingkah orang dewasa, namun ia tetap terpana juga melihat sikap dewasanya itu. Lalu Naomi asik bermain tanpa sedikitpun melihat mereka.


"Kau lihat... bagaimana menurutmu tentang putriku? ". Akhirnya pak Mario bersuara setelah melihat kekaguman Raisa.


"Benar... putri ku sangat cerdas, karena itu, aku merasa sayang jika sekolahnya harus berhenti, ketika melihatmu sebagai pemilik sekolah itu, aku terfikir, mungkin bisa meminta tolong padamu. Anakku bisa bersekolah sementara di tempatmu". ucapnya


"Naomi... tadinya aku sudah begitu putus asa dengan penyakitnya, namun saat melihatmu, fikiran ini muncul begitu saja, mungkin Naomi perlu udara segar. Harapan ku besar disini. Kulihat kau begitu bersemangat mempertahankan sekolah itu. Aku janji akan memperbarui proyek itu, tidak sulit bagiku. Asal kau mau memberikan kesempatan pada putriku. Sebagai awal kau bisa mengajak kami berkeliling melihat tempat-tempat indah disini". Pak Mario sudah panjang bercerita tanpa jeda, menahan Raisa untuk bersuara.


Dengan tegas seolah ucapannya adalah perintah. Sesungguhnya Raisa ingin menolak. Siapa pria ini, datang sesuka hatinya dan memberinya pengaturan begitu.

__ADS_1


Tapi Raisa merasa dirinya berada posisi yang sedikit sulit untuk menolak. Pria ini melibatkan anaknya. Anaknya sakit katanya.


Apa Raisa harus percaya? Anak itu nampak sangat sehat. Tidak ada satupun cela yang Raisa lihat dari fisiknya.


Sikapnya pun sangat terpuji. Anak itu berbicara sopan, bertingkah layaknya orang dewasa, itupun sudah biasa bagi anak seusianya meski memang yang ini lebih istimewa dari caranya betutur kata.


Lalu dimana kelainan nya. Kalaupun memang sakit? Kenapa diserahkan padanya. Bukannya harusnya mencari dokter ahli untuk menangani.


Katanya butuh udara segar. Apa penyakitnya menyangkut infeksi tertentu. Mungkinkah penyakit itu hanya muncul suatu waktu tertentu? Tapi kenapa mamanya tidak pernah muncul? pertanyaan itu terus membayangi Raisa.


Tidak mungkin pak Mario menyembunyikan istrinya, atau datang ke daerah ini tanpa membawa ibu dari anaknya, dimana penyakitnya bisa kambuh sewaktu-waktu.


Apakah istrinya seorang wanita karier yang begitu sibuk. Atau kah anaknya itu memiliki kemiripan dengan dirinya. Punya ibu, tapi ibu yang egois dengan pemikiran nya sendiri. Ibu yang tidak bisa meninggalkan dunia sosialitanya


Memikirkan itu, Raisa melunakkan dirinya. Ia akan menganggap ini tugas seorang guru TK tidak ada maksud lain, terlebih yang berhubungan dengan papanya.


Raisa juga memikirkan Darren. Darren mau kembali bekerja itu yang utama. Sesungguhnya ia lebih senang Darren hanya fokus pada sekolahnya saja, namun sepertinya pemuda itu sedikit mengalami masalah akibat kekecewaan nya.

__ADS_1


Raisa hanya ingin adiknya tetap berada di jalur yang benar, sehingga mengikuti kemauannya. Sekolah sambil bekerja lebih baik daripada keluyuran tak tentu arah.


__ADS_2