Putri Kecil Tuan Mario

Putri Kecil Tuan Mario
Bab. 50 Fikiran Buruk


__ADS_3

"Bang.... apa abang mau mengantar barang?". Raisa mencoba menetralisir perasaan anehnya, sambil melirik wanita disisinya yang hanya diam sejak tadi, bahkan sempat tertidur dengan nyenyak selama dalam perjalanan.


"Iya mbak, kita antar pesanan dulu". jawab sopir pelan


" oh... pantas, saya liat bukan jalan yang biasanya ". Raisa cukup lega mendengarnya.


" Iya mbak, sebentar lagi sampai". ucapnya lagi lalu diam kembali.


Mobil telah melewati padang rumput yang luas, juga telah melintasi pohon-pohon pinus yang cukup lebat dan kini mereka menyebrangi sungai yang airnya cukup banyak, Raisa merasa sejak tadi mereka semakin menanjak, sepertinya mereka menuju perbukitan.


Pemandangan yang terlihat di kiri kanan jalan tampak indah karena melewati daerah persawahan yang luas, namun sangat sepi, kalaupun terlihat petani, jaraknya cukup jauh dan mungkin tidak bisa mendengar suara mereka, hanya ada bunyi burung-burung hutan.


Mereka melewati jalan desa yang menyerupai jalan setapak, namun aneh karena tanaman di kiri kanannya nampak tertata rapi seolah menuju ke sebuah desa atau ke sebuah...


"Eughh.... ".Raisa cukup terkejut karena tepat di belokan tebing baru yang ditumbuhi bunga-bunga cantik dan rimbun terdapat sebuah bangunan besar menyerupai sebuah vila.


Bangunannya cukup besar dengan beberapa kandang besar disisinya, entah.. . mungkin kandang sapi, kuda atau kambing.. . .


Raisa melihat 2 mobil mewah yang cukup berdebu, pertanda habis melakukan perjalanan cukup jauh, tampak terparkir di bagian samping villa.


Sopir bergegas turun, Raisa memperhatikan dari balik kaca mobil, namun bukannya menuju ke belakang untuk menurunkan barang, sopir itu membuka pintu di samping Raisa.


"Silahkan turun dulu mbak". Pria itu mempersilahkan Raisa turun.


" Kok? Kenapa bang? ". Raisa bermaksud protes


" Kami akan mengatur barang dulu di bawa kursi-kursi penumpang ". Sopir itu memberi alasan.


Akhirnya Raisa hanya mengangguk, mencoba mengerti lalu turun sambil melihat sekeliling.


Seorang wanita paruh baya muncul dari dalam rumah dan mempersilahkan masuk.


" Masuk dulu neng, biar bang sopir bekerja". wanita itu cukup ramah.


"Terima kasih, disini saja". Raisa menolak halus.


Wanita yang duduk di dekat Raisa tadi, berjalan mendekat.

__ADS_1


" Bu, kamar kecilnya diluar sini ada? ". Ia tersenyum tipis seolah menahan sesuatu.


" Oh mari saya antar". wanita itu berjalan mendahului.


"Tunggu, saya juga sepertinya perlu ke kamar kecil, Raisa akhirnya ikut, lebih baik sekalian daripada nanti pergi sendiri.


Mereka memasuki bangunan lewat teras depan, keadaan di dalam terlihat cukup tertata rapi dan bersih tanda tempat ini sering dibersihkan dan perabot meski tidak banyak namun cukup mewah.


Televisi LCD tampak menempel di dinding, juga kipas angin dan sebuah nakas cukup panjang.


Mereka melintasi ruang makan keluarga yang cukup lebar dengan meja makan panjang yang terlihat rapi namun suasana terasa sangat sepi, hanya menunjukkan disini mungkin sering diadakan acara dengan jumlah orang cukup banyak.


Wanita itu membuka sebuah kamar.


"Silahkan Mbak di kamar kecil ini". Mempersilahkan Raisa masuk.


" Biar mbak ini di kamar kecil di sebelah, mari". Wanita itu segera melangkah bersama wanita yang sejak tadi tidak bicara namun banyak menunjukkan senyuman pada Raisa.


Raisa bergegas keluar dari kamar kecil setelah selesai dengan urusannya, ia meraih handle pintu untuk membukanya.


"Eugh.... ". Raisa terkejut, diputarnya sekali lagi masih belum terbuka, seketika fikiran buruk bergelayut dikepalanya.


Tidak ada jawaban dari luar


"Halooo.... buka pintunya". Raisa berteriak lagi...


" Bremmm...". Suara mobil seakan menjauh, Raisa cepat berlari ke jendela, dilihatnya mobil yang tadi ditumpanginya bergerak menjauh.


"Heiii.... tunggu... tunggu... ". Raisa semakin panik, kenapa bisa sopir itu melupakan dirinya, Raisa mencoba membuka jendela yang ternyata terkunci juga.


Semakin jauh mobil mulai tidak terlihat setelah melewati belokan tebing yang mereka lewati tadi.


Raisa segera mengeluarkan ponselnya buru-buru, mencoba menghubungi nomor ponsel sopir yang menjemputnya tadi pagi itu.


" memanggil". Bisik Raisa cukup lega namun kemudian kembali kecewa karena tidak menunjukkan tanda berdering dan tidak dijawab.


Ia bingung, kaget dan juga ketakutan, kenapa ini terjadi? Siapa sopir itu? Lalu dibukanya ponselnya mencoba menghubungi seseorang.

__ADS_1


Hanya "memanggil", dicoba lagi nomor lain.. juga " memanggil", nomor berikutnya yang dicoba tetap begitu, seakan tidak ada signal ditempat ini pun tidak ada panggilan balasan untuknya.


Raisa terduduk di kursi meja rias yang ada di dekat jendela, perasaannya campur aduk, mencoba berfikir jernih, namun jantungnya tak urung sudah berdetak tidak menentu.


Raisa duduk terdiam menanti, mencoba mendengarkan adalah suara dari luar kamar, namun sangat hening dan sepi, apakah orang-orang tadi pergi dan ikut di dalam mobil tadi meninggalkan dirinya sendiri disini?


"Untuk apa? apa artinya ini? " Gumam Raisa, ia belum bisa memahami.


"Apa aku diculik? ". Fikiran buruk melintas.


Teringat 2 mobil mewah yang terparkir di sebelah rumah bagian kanan, tak bisa dilihatnya karena kamar ini terletak di bagian kiri.


"Kalau mobil itu masih ada, artinya masih ada orang disini, namun bila mobil itu pergi saat dirinya di kamar kecil berarti aku sendirian sekarang". Bisik Raisa dengan perasaan frustasi, ada kekhawatiran semakin besar didadanya, seperti batu yang mengganjal, Raisa merasa sesak.


Cukup lama Raisa duduk dengan usaha menekan banyak nomor ponsel yang bisa dihubungi namun aneh karena semua tidak dapat terhubung, seolah tidak ada signal disini.


.


Entah berapa lama Raisa terkunci didalamnya, Raisa duduk dengan perasaan gelisah dan ketakutan di pinggir tempat tidurtidur, Raisa hampir tertidur karena kelelahan, namun dipaksanya tetap terjaga.


Raisa terhenyak, jantungnya berdetak cepat dan sangat kencang, seseorang sedang memutar kunci dari luar, Raisa kontan berdiri dengan sikap berjaga-jaga, siapapun orang itu, Raisa yakin bukan orang baik.


Fikirnya, mana mungkin orang baik, Raisa tidak memiliki teman yang senang membuat kejutan semacam April mop, apalagi sekarang juga bukan bulan April.


Pintu terbuka perlahan, Raisa sudah bersiap, dia akan melakukan perlawanan bagaimana pun caranya.


"Ka.. Kau..!? ". Suara Raisa lantang namun tercekat karena kaget dan tidak percaya, namun dalam hati, ia cukup bersyukur, setidaknya pak Mario orang yang ia kenal.


Wajah itu tersenyum tipis namun tidak ramah, wajahnya menampilkan aura yang dingin dan arogan, meskipun terlihat semakin tampan namun...sedikit mengerikan.


Raisa mencoba membaca wajah pria yang sangat dikenalnya ini bahkan sesungguhnya sudah membuat fikirannya traveling ke mana-mana, mencoba mencari maksud dari semua ini, dan hanya kengerian yang terlintas.


"Apa kabarmu sayang". Suara itu keluar juga, terdengar berat dan khas, sesungguhnya Raisa kemarin, merindukan suara itu, namun kini fikirannya kalut, campur aduk, kesal, marah dan takut.


Apakah Pak Mario ini memiliki sifat jahat yang disembunyikan? mengapa dirinya diperlakukan seperti ini?


Raisa memandangnya marah.

__ADS_1


"Apa maksud anda begini? Kenapa kau menahanku disini? apa salahku? " Sungguh Raisa ingin menangis, ingin meneriaki dan memakinya, namun ia sudah sangat ketakutan tadi, kalaupun ia tidak berteriak histeris itu karena Raisa selalu berusaha tenang.


Hingga suaranya hanya serupa seruan tertahan, ditambah lagi matanya yang sudah berkaca-kaca.


__ADS_2