Putri Kecil Tuan Mario

Putri Kecil Tuan Mario
Bab. 45 Dua Wanita Cantik


__ADS_3

Lewat Sinta, Raisa dapat tahu kemana Pak Mario sebulan ini tidak kelihatan di sekitar anaknya ataupun di sekitar proyek-proyeknya yang terus berjalan.


Mobil-mobil truk setiap hari melintas di samping sekolah dan beberapa excavator dan buldoser masih terus bekerja di bawah sana, disekitar sungai.


Memang, seorang Ceo tidak selalu datang memantau, karena telah ada kepala-kepala cabang Perwakilannya.


Raisa tentu sangat faham kesibukan seorang Ceo, tidak jauh berbeda dengan kesibukan papinya dahulu.


Raisa diam-diam merasakan keresahan, meski tidak diucapkannya pada siapapun, termasuk Sinta.


Bagaimana pun dirinya sedikit terbiasa dengan gangguan-gangguan kecil dari pak Mario.


Hanya dirinya seorang yang tahu seberapa sering pria itu, mengirimkan chat sedikit jahil dan menggoda ke ponselnya.


Seberapa sering pak Mario menelponnya dan membisikkan kata-kata rayuan dan gombalnya secara terang-terangan.


dan juga seberapa sering pria itu muncul dihadapannya dalam situasi yang menegangkan karena sikapnya yang nyata menunjukkan ketertarikan pada Raisa.


Raisa telah terbiasa berhadapan dan bersitegang dengan pria dengan sosok nyaris sempurna di mata kaum hawa itu.


Raisa sanggup bertentangan dan melawan segala godaannya, Raisa juga mampu menunjukkan sikap acuh atas segala rayuannya.


Meskipun untuk urusan putrinya, Raisa dapat dengan patuh mengikuti segala pengaturan pria itu, karena Raisa telah menyatakan kesediaannya sejak awal untuk turut membantu demi kesembuhan Naomi.


Selain urusan anaknya, Raisa telah memantapkan dirinya untuk tidak terlibat urusan apapun dengan big bos itu.


Raisa mengabaikan segala bentuk perhatiannya, karena Raisa tidak ingin terjebak, Raisa selalu meyakinkan dirinya, ia masih terlalu muda untuk bersitegang dengan dua wanita cantik.


Dua wanita cantik yang dikenalnya saat ini, Nadya selaku ibu Naomi dan Sisca, seorang pengusaha cantik, partner bisnis pak Mario untuk urusan proyeknya di wilayah ini.


"Hai hati tenanglah, Hai jiwa yang resah sabarlah, Hai nona, masih banyak yang penting untuk diselesaikan, kuliahmu, Darren, papi dan mommy juga sekolahmu ini". Gumam Raisa pada dirin sendiri, mengingatkan dirinya.


Kalaupun Raisa ingin memiliki kekasih, bukankah selayaknya yang diharapkan seseorang seperti Sebastian?


Usia mereka tidak terpaut jauh, dan Sebastian mungkin tidak akan melibatkan dirinya dengan wanita-wanita cantik yang memperebutkan dirinya.


Raisa bukan gadis yang suka ribut karena seorang cowok, bahkan dulu, gang mereka terkenal dengan cewek-cewek yang anti dengan cowok, terlebih cowok playboy yang suka memainkan hati gadis-gadis.

__ADS_1


Kalaupun Raisa menginginkan kekasih, Raisa memiliki kriteria sendiri, cowok cool yang cerdas, yang tenang, yang tidak dikelilingi banyak wanita cantik disekitarnya.


Raisa memimpikan berdua bersama seseorang yang dicintainya kelak, berjalan-jalan berdua menyusuri pantai atau bersepeda berdua di pagi atau sore hari di sepanjang perkebunan teh.


Bukankah itu impian yang sederhana dan romantis?


"Sangat romantis mbak". Sinta bertepuk tangan kecil saat mendengar penuturan Raisa, beberapa hari lalu ketika Sinta bertanya...


" Apa impian mbak Raisa, kalau memiliki kekasih?". Tiba-tiba saja Sinta bertanya aneh.


"Masih jauh Sinta, Mbak berharap Darren bisa kuliah dulu, aku juga pingin liat papa bebas, alangkah baik lagi, kalau mami bisa ikut berkumpul". Bisik Raisa, Tiba-tiba saja matanya sudah berkaca-kaca.


Sinta ikut merasakan kesedihan gadis cantik yang sudah dianggapnya seperti kakak baginya.


" Apa menurutmu, Sebastian memiliki kriteria itu?" Tiba-tiba saja Raisa mengajukan pertanyaan yang sedikit rumit bagi Sinta.


"Pertanyaan bodoh". Gumam Raisa


"Apa Mbak Sinta benar-benar tertarik pada Sebastian, kakak kelas mbak itu? ". Sinta memang belum melihat Sebastian langsung.


" Yah, Sebastian bolehlah". Raisa berucap nyaris serupa bisikan.


Meski kini, Raisa lebih kecewa pada maminya karena tidak menunjukkan kesetiaan yang sama.


Raisa telah menganggap Sinta seperti keluarga, mereka hampir setiap hari bersama, hanya sekali dalam sebulan, Sinta pulang ke rumah, menemui ayah, ibu dan adik-adiknya di kampung, nun jauh di atas bukit.


Karena itu hubungan mereka teramat dekat itu, Raisa terbuka pada Sinta, bercerita tentang keluarga maupun masalah pribadinya.


Hanya saja Raisa, tidak terus terang bercerita tentang semua sikap Mario kepadanya selama mereka bertemu.


Sebagai pemilik dan Kepala Sekolah, Raisa tidak ingin menciptakan rumor buruk tentang kisah asmara seorang Kepsek dengan seorang Developer yang tiba-tiba muncul.


Developer tampan yang memiliki istri dan anak, istrinya seorang model yang cukup terkenal dan anaknya yang bersekolah di tempat Raisa.


Orang-orang desa sangat polos dan mereka bisa menilai kelakuan baik dan buruk, dari seorang pendidik.


Apa jadinya anak-anak didiknya, jika pengelolanya saja tidak tahu membedakan yang pantas dan tidak pantas dilakukannya.

__ADS_1


Selain itu, Raisa tidak ingin bersinggungan dengan Nadya maupun Siska, lagi-lagi dua wanita cantik yang menginginkan pak Mario.


Nadya yang jelas-jelas, ibu dari Naomi, bocah cerdas dan cantik, murid kesayangannya, Raisa tidak sanggup melihatnya bersedih jika terpisah dari kedua orang tuanya.


Nadya, pasti akan memperjuangkan suaminya, meski telah melakukan kesalahan, Raisa tetap tidak merasa pantas berada diantara suami istri yang bermasalah.


Lalu, Bu Sisca yang cantik dan cerdas, pengusaha kaya dan terpandang di daerah ini, Raisa sungguh merasa bukan levelnya untuk bersaing dengan wanita itu.


Raisa tergelitik, membayangkan dirinya berseteru dengan wanita yang usianya cukup jauh diatasnya, dan mereka ribut karena seorang pria?


"Oh my God! ". Jerit hati Raisa


" Jangan sampai, kemana perginya reputasinya sebagai gadis bar-bar yang tidak mudah jatuh pada pesona laki-laki".


Bukan... bukan itu, yang paling dipertimbangkan oleh Raisa sesungguhnya, Ia telah bersusah payah mendirikan sekolahnya, ia tentu tidak akan menghancurkan semua yang sudah dirintisnya karena urusan, berebut cinta, seorang pria.


"Tidak... Tidak... ". Tanpa sadar Raisa menggelengkan kepalanya.


Ia harus mencari cara agar terlepas dari gangguan-gangguan Mario, atau mungkin memang, pria itu telah berhenti.


Mungkin saja pria itu telah menemukan mainan baru, hiburan baru.


Wanita cantik dan menarik diluar sana sangat banyak, dan mereka sangat mudah ditemukan diantara pria-pria tampan dan kaya.


Terlebih sosok seperti Mario, bahkan tanpa embel-embel kekayaannya pun, posturnya begitu menggiurkan untuk wanita-wanita kaya.


Dan Raisa, takut dengan kenyataan itu, lebih baik dirinya mencari jalan aman, menghindar sebelum terperangkap lalu terluka.


Lagipula, Raisa gadis yang cantik, tidak sulit baginya mencari pria-pria menarik sesuai kriterianya.


Entah mengapa, belakangan ini, Raisa merasa seperti orang meriang, merasa sebagai pribadi yang berbeda.


Tiba-tiba saja, ia banyak berfikir tentang bagaimana menemukan pria idamannya.


Ia merasa membutuhkan seorang pria disisinya, seorang dosen yang cerdas dan berkacamata juga hebat dalam keilmuan mungkin?


Atau, pria kantoran yang sederhana, yang pergi pagi pulang sore, lalu malamnya duduk di ruang keluarga bersama keluarga.

__ADS_1


Yah, pria sederhana yang tidak mungkin jadi bahan rebutan, dua wanita cantik, seperti Nadya dan Sisca.


__ADS_2