
Sejak aksi nekadnya beberapa minggu lalu dimana Mario memaksakan secara tiba-tiba mencium bibir Raisa dengan kedua tangannya dalam cekalan yang kuat.
Ciuman itu sangat singkat, namun berhasil membuat seluruh pipi Raisa yang putih bersih berubah warna seakan diberi pemerah pipi.
Malu, kesal dan berdesir senang, ini harus diakuinya, bohong kalau ia tidak suka, ia merutuki dirinya yang mau saja dilecehkan, meski tetap saja lebih banyak rasa sebalnya.
Sebal dengan tindakan semena-mena pria itu, yang suka memaksakan kehendak.
Tentu saja Raisa tidak Terima diperlakukan seenaknya, mereka tidak memiliki hubungan yang jelas sebagai kekasih, yang memberi hak pada pria itu untuk bertindak diluar batas kesopanan.
Jikalau pria itu merasa hebat, hingga dengan mudah berpindah dari satu wanita ke wanita lain, untuk bersenang-senang, maka Raisa bukan wanita semacam itu, ia jelas memiliki prinsipnya sendiri.
Namun entah mengapa, untuk berbuat kasar atas sikapnya yang lancang menciumnya, Raisa tidak melakukan perlawanan.
Ciuman sebentar namun seolah telah meluluhkan pertahanan dirinya itu, ditanggapi Raisa dengan mendorong tubuh Mario ke belakang setelah berhasil lepas dari cengkramannya.
"Kau... Kau keterlaluan!". Raisa tidak tahu mesti melakukan apa lagi, terlebih malu jikalau tiba-tiba dipergoki orang, seakan mereka berbuat mesum di tempat umum.
Raisa memilih berlari menerobos hujan, membuka pintu mobilnya dengan cepat, sudah mengabaikan bajunya yang basah, ia tidak memedulikan Mario yang menatapnya, tidak peduli pandangan pria itu tentangnya.
Raisa hanya berharap bisa segera menghindar, ia tidak tahu bagaimana kondisi hati dan fikirannya, yang ia tahu ia harus melarikan diri sebelum semuanya tidak bisa dikendalikan.
Hari itu, Mario memang telah membuat nya benar-benar berfikir kacau, selama ini, meskipun kadang-kadang mereka dalam situasi tegang dan canggung oleh sikap Mario yang suka menggodanya, atau,
Mario seringkali membuat situasi sedikit canggung dan membuat jantung dan jiwa Raisa jungkir balik oleh ulah konyolnya.
Raisa masih mencoba menahan diri, Raisa hanya tidak ingin terjebak oleh perasaannya, meski hatinya sering tidak sejalan dengan fikirannya, dan
Tubuhnya kadang memberi respon tidak sesuai dengan akal sehatnya, karena ikut terjebak dalam permainan Mario.
Raisa tidak menyadari, karena berusaha terus menolak dan tidak mau mengakui perasaannya yang sesungguhnya diam-diam merasa senang dengan semua bentuk kekonyolan Mario.
Atau tepatnya, Raisa ingin memungkiri semua perasaan itu, karena bagi Raisa, hubungan Mario dan Nadya lah yang seharusnya dipertahankan, untuk kepentingan putri mereka.
Raisa tidak ingin menjadi duri, menjadi penyebab keretakan yang semakin besar diantara mereka, Raisa bukan gadis itu, yang mau mengambil kesempatan disaat hubungan satu pasangan sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Ketika melihat upaya bu Siska, wanita cantik, pengusaha sukses di kota ini, Raisa berfikir, apakah Pak Mario yang menutupi kondisi rumah tangganya atau bu Siska yang keterlaluan?
Tidak mungkin wanita itu tidak mencari tahu, ia seorang wanita yang sangat cerdas dalam bisnis, tidak mungkin orang-orangnya tidak memberikan informasi.
Apalagi beberapa kali Raisa mendengar bu Siska mencoba menyapa Naomi dalam pertemuan mereka yang kadang-kadang tidak terduga, saat Naomi berada dalam pengawasan Sinta.
Raisa juga yakin, bu Siska mengenal kak Nadya, bunda Naomi, wanita itu sudah beberapa kali mengunjungi putrinya, sejak dipercayakan di bawah pengawasan Raisa.
Nadya pernah tinggal berhari-hari menemani putrinya, ketika Mario lebih banyak di kota mengurusi bisnisnya yang lain.
Wieke maupun Nadya, tampaknya memiliki hubungan yang cukup baik, Wieke maupun Nadya sangat pandai menempatkan diri mereka sebagai keluarga Naomi.
Mereka benar-benar tidak menunjukkan adanya bentuk ketidakcocokan jika sudah berada di sekitar Naomi.
Wieke maupun Nadya, sangat pandai memainkan peran tante dan ibu bagi Naomi, sehingga Raisa tidak pernah menangkap raut perselisihan diantara keduanya.
Jadi bagaimana Raisa akan sanggup menjadi wanita pengacau yang hendak mengambil kebahagiaan seorang anak kecil?
Sejak kecil, Raisa terbiasa memiliki apapun keinginannya, dan didalamnya tidak sekalipun papi dan maminya mengajarkan tentang mengambil milik orang lain.
Sehingga kadang-kadang Raisa terbersit, bisakah papinya merugikan orang lain? jika yang ditanamkan pada putra putrinya adalah sikap jujur dan bertanggungjawab?
Namun untuk kasus Mario, Naomi, dan Nadya, sebelum bertemu Raisa, mereka telah saling memiliki dalam satu keluarga, dan kini sedang ada masalah, tentu tidak seharusnya Raisa ada diantara mereka untuk memperkeruh keadaan.
Siapa juga yang tidak memiliki masalahnya Masing-masing? hidup berarti siap menjalani masalah dan mencari solusinya adalah jalan yang harus ditempuh.
Raisa terbiasa berfikir positif, Raisa melewati semua masalah dalam hidupnya dengan fikiran terbuka, jadi menurutnya, dirinya yang harus menyingkir diantara ketiga anggota keluarga itu.
.
Sejak hari itu, Raisa belum pernah lagi berjumpa pria itu, hampir 3 minggu ini, Mario tidak pernah menampakkan dirinya.
Raisa pun tidak berusaha mencari tahu, meski itu lewat obrolan dengan Naomi, anehnya, bocah cerdas inipun seolah tutup mulut tentang ayahnya, tidak sekalipun celotehannya menyebut papanya.
Padahal biasanya, secara jelas ia akan berkata,
__ADS_1
"Bunda... nanti yang antar jemput Naomi, tante Wieke, karena papa sedang tugas ke kota".Atau...
" Bunda, kata papa, Naomi nginap sama bunda Raisa, karena papa tugasnya lama di kota, tante Wieke juga kerjanya lembur, jadi tidak bisa datang".
Meskipun, Raisa sudah tahu sebelumnya, lewat pemberitahuan papanya di chat atau lewat Erik saat mengantar atau menjemput.
Seperti hari ini, sehari sebelumnya, Wieke telah datang menyampaikan pada Raisa, jika dirinya akan kembali ke kota untuk seminggu karena urusan pernikahannya sudah memasuki tahap foto prewedding.
Pagi ini, Raisa menyambut kedatangan Naomi di gerbang sekolah, gadis itu menyambut uluran tangan dan memeluk Wieke yang berpamitan.
"Tante jalan dulu yah sayang, baik-baik dengan bunda Raisa, tidak boleh rewel". Pesannya sembari mengecup pipi Naomi.
Selalu begitu nasehat untuk Naomi, dan anak itu memang tidak pernah merepotkan Raisa maupun Sinta.
Raisa sudah sangat menyayanginya, meskipun Raisa mencoba bersikap biasa saja dan tidak menunjukkan perhatian berlebihan, Raisa tahu, ia sudah jatuh hati pada bocah cerdas itu.
Terkadang Raisa meneteskan airmata terharu, bila malam hari sebelum tidur gadis kecil itu menelponnya dari hotel tempatnya menginap untuk meminta dibacakan sebuah cerita pengantar tidur.
" Bunda, kata tante Wieke, nanti mommy mau datang kemari". Naomi berceloteh sambil menarik tas kopernya masuk ke kelas.
Raisa termangu sesaat.....
"Oh ya? asik dong, Naomi bisa main sama mommy". Raisa berseru tertahan
" Hmmmm... ". balas Naomi sembari melanjutkan langkahnya ke kelas.
"Naomi... ". Seorang temannya menyapa dari atas luncuran
" Lintang". Naomi berseru ceria lalu melambaikan tangan
"Naomi". Dua orang temannya yang bermain jungkat jungkit kompak menyapa
" Bayu...Abdi....". Kembali Naomi balas menyapa keduanya sembari tersenyum manis.
'Naomi... ". Beberapa orang temannya berlarian menyambut dan ikut ke kelas.
__ADS_1
Raisa yang menyaksikan dari gerbang tempatnya berdiri menyambut murid lain yang baru datang, diam-diam tersenyum simpul.
"Nih anak, persis diriku, banyak fansnya, wkwkwk". Gumam Raisa cekikikan diam-diam.