Putri Kecil Tuan Mario

Putri Kecil Tuan Mario
Bab. 34 Pertanda Cemburu


__ADS_3

drt... drt... drt..


Suara getar ponselnya, mengalihkan perhatian Raisa yang sedang makan siang, bersama beberapa rekan kepala sekolah di sela istirahat siang kegiatan seminar peningkatan kompetensi kepala sekolah yang mereka ikuti di kota besar.


"Mbak Nisa... ". gumam Sinta menyalakan ponselnya.


" Iyya Mbak? Mbak Nisa masih di sekolah? " Nisa membuka percakapan.


"Tidak Ra... ini Mbak lagi makan siang sama bang Romy dan Mario". Nisa memberitahu. Mario ikut mendengarkan, Nisa sengaja menyalakan loudspeaker atas permintaan Mario.


" Naomi ikut dengan Mbak? ". Raisa bertanya pelan, mengalihkan perhatian dari Mario, sesuatu yang diharapkan Mario tidak terjadi.


" Tidak, Anak-anak tadi pas cuci tangan bersama, Siap-siap waktu makan, tidak ada yang mau ikut, ada Sinta kan? ". Nisa menjelaskan.


" Iya Mbak, Raisa sangat suka kegiatan menggosok gigi". Raisa tersenyum, Mario di seberang ikut tersenyum mendengar Raisa begitu mengenal prilaku putrinya.


"Iya betul, Ririn dan Rindam juga tidak mau kalah tadi, langsung menyiapkan peralatan sikat gigi dari slim bagnya, Nisa tertawa, kembarnya itu sangat kompak dengan Naomi kali ini, terutama Rindam, sedikitpun tidak berusaha menjahili sepupunya lagi.


" hmm... oh iya Mbak? Jam berapa Mbak Nisa dan rombongan berangkat? mohon maaf jadi tidak bisa menemani Mbak hari ini". Raisa cukup menyesal, tapi kegiatan ini memang tidak bisa ditinggalkan karena ia termasuk salah satu panitia inti.

__ADS_1


"Iya sayang, tidak apa-apa, Mbak ngerti kok, rencananya jam 03.00 sore baru kami berangkat, setelah habis makan mau meninjau lahan yang akan dibangun pusat kuliner oleh bang Romy, seperti kita bahas semalam, Nanti pembangunan dan desainnya semua diserahkan ke Mario". Nisa menyebut Mario beberapa kali sesungguhnya untuk melihat reaksi Raisa terhadap pria itu.


" oh gitu yah Mbak, Pak Mario sepertinya pemilik semua proyek pembangunan disini". Raisa sedikit memuji dengan terselubung. Mario tersenyum ge-er, begitulah orang lagi kasmaran, perhatian kecil pun begitu membekas di hati.


"Dan di banyak tempat di dalam dan luar negeri, memang sudah sangat tinggi jam terbangnya". Nisa menambahkan, memuji adik iparnya, suaminya menyentil jemari istrinya pertanda cemburu.


Nisa pura-pura cemberut. Romy segera merangkul istrinya dan mengecup keningnya, Mario memutar bola matanya malas melihat pasangan tidak tahu adat ini.


"Halo Mbak? " Raisa memanggil ketika tidak terdengar suara dari seberang.


"iya dek? " Nisa buru-buru memperbaiki duduk.


"Apa pak Mario masih bersama Mbak? ". Akhirnya sesuatu yang dinantikan Mario terwujud. Pria itu berteriak girang tapi tentu tanpa mengeluarkan suara.


" Tidak usah Mbak, biar saya hubungi di ponselnya, Terima kasih ". Raisa merasa kurang sopan.


" Baiklah, terserah kamu aja, mungkin sifatnya lebih privat. " Nisa tidak keberatan.


"Ih biasa saja Mbak, soal Naomi". Raisa tersipu malu, tapi tidak ada yang melihat pipinya yang merona saat ini.

__ADS_1


" oh oke.. oke.. ". Nisa terkekeh. Mario sudah kegirangan.


Drt... drt... drt... tidak lama, ponsel Mario bergetar. Memang betul segera Raisa melakukan panggilan.


Mario segera mengangkat, tanpa menyalakan loudspeaker.


" Halo.. ". Suaranya terdengar parau dan seksi, sangat meresahkan bagi perempuan, itu semacam anugrah alami dari seorang Mario memiliki suara sangat manly, baru mendengar suaranya sudah membuat deg-degan, belum lagi melihat wajahnya yang tampan.


Apalagi kalau ada yang pernah melihat dada bidang dan perut kotak-kotaknya, yang kata orang berbentuk roti sobek, tentu akan membuat kaum wanita histeris.


Raisa mendesah pelan. "Pria ini sesuatu sekali". Hehehe, mau bagaimana lagi, siapa yang dapat menyalahkan kharisma seseorang? yang salah dirinya jika tidak mampu membentengi diri.


" hemm... Pak Mario, begini.... ". Tak urung Mario pun mengalami hal yang sama, terhanyut suara merdu seorang Raisa, kalau sudah begini, jadilah dia menghayal membayangkan sesuatu.


Dirinya bukan anak-anak yang baru merasakan cinta, namun cukup lama menutup hati, tak urung membuat nya seperti orang meriang, saat rasa itu kembali bergelora.


" Pak Mario? " Raisa heran karena tak terdengar suara di seberang.


Bang Romy dan Nisa, tidak lagi menghiraukan 2 orang dewasa yang saling berkomunikasi lewat ponsel itu, mereka kalau sudah menikmati makanan begitu dihayati.

__ADS_1


Sebagai pengamat kuliner mereka sangat memperhatikan rasa, aroma dan tampilan suatu menu, mereka bahkan tahu kelebihan atau kekurangan dari bumbu hidangan yang mereka santap.


Nisa sebagai istri, tak urung mengikuti pola prilaku suaminya dalam mencobai setiap hidangan, selain pakar psikologi iapun menjadi pengamat dan pemerhati cita rasa hidangan kuliner.


__ADS_2