
Suasana Seminar yang berjalan lancar dan tenang, para peserta seminar tampak antusias mendengarkan penyajian materi dari narasumber yang sangat menguasai bidangnya dengan judul materi " Kemampuan Inovatif Guru dalam Melaksanakan Pembelajaran di PAUD ".
Raisa tampak menyimak dengan serius paparan bagaimana seorang guru harus memiliki sikap inovatif agar dapat menjangkau semua muridnya yang Masing-masing memiliki ciri khas dalam menangkap suatu pembelajaran.
Dijelaskan lebih lanjut jika anak memiliki gaya belajar berbeda-beda, misalnya, anak yang suka melihat sesuatu secara langsung,disebut cenderung belajar secara visual.
Kemudian, anak yang memahami sesuatu melalui pendengarannya kemungkinan memiliki gaya belajar auditori.
Sedangkan anak yang memahami sesuatu melalui berbagai kegiatan motorik merupakan anak dengan gaya belajar kinestetik.
Selanjutnya, dikatakan bahwa memiliki sikap inovatif dalam memahami karakteristik sekolah sangatlah penting. Oleh sebab itu, menata lingkungan belajar menjadi nyaman merupakan aspek yang harus dilakukan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran.
Esensi dari pembelajaran adalah bertujuan menciptakan suasana pembelajaran yang hidup dan menyenangkan.
Disampaikan pula bahwa untuk dapat menjadi seorang pendidik yang hebat, seorang guru semestinya mengantongi 4 kompetensi pokok, yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.
Hal ini ditekankan karena untuk dapat mencetak guru-guru hebat tidak dapat dilakukan dengan mudah.
Melainkan seorang guru harus terus menerus berinovasi dan bersedia menyediakan waktu, fikiran dan tenaga dalam mendapatkan dan membagikan sekaligus segala bentuk keilmuan, wawasan, dan pengetahuan yang diperolehnya kemudian diberikan kepada siswanya.
Acara seminar berlangsung hingga menjelang pukul 03 sore karena diisi sesi tanya jawab yang mengundang minat para peserta untuk bertanya.
Mereka berharap dapat mengulik banyak ilmu dari pemateri yang dapat dibagikan kepada peserta yang tampak haus berbagai informasi seputar disiplin ilmu para pendidik ini.
Raisa sedang menunggu grab di depan gedung tempat seminar berlangsung sambil bercengkrama dengan beberapa rekan guru dan kepala sekolah.
"Bu Raisa ikut dengan kami yuk, kita jalan-jalan, melepas penat". Ajak rekan Kepsek nya.
" Terima Kasih bun, mohon maaf belum bisa bergabung dulu, saya ada urusan pribadi, saya berencana mengunjungi seorang kerabat". Raisa menolak dengan halus.
"Oh begitu, baiklah bun, kami duluan yah". Teriak teman-temannya saat memasuki mobil yang mereka pesan.
Raisa juga bermaksud memanggil ojol, namun belum juga mengetikkan pesanan ke aplikasi, satu mobil sedan mewah berhenti tepat didepannya.
Sebastian turun dari mobil dengan sikap gagahnya, Raisa cukup tersentak, tidak menyangka pria itu tiba-tiba muncul dihadapannya.
Meski lama tidak bertemu, Raisa bukan orang yang mudah lupa dengan penampilan seseorang yang cukup dikenalnya, termasuk Sebastian yang baru berjumpa lagi setelah sekian lama.
__ADS_1
"Kak Tian? kok tahu aku disini? ". Raisa menyeletuk mengungkapkan keheranannya, mencoba mengingat-ingat kapan pernah menyampaikan kegiatannya ini pada Sebastian.
Namun seingatnya, tidak pernah ia berkomunikasi dengan mantan kakak kelasnya itu, di waktu lewat belakangan ini, selain pertemuan pertama mereka di kampus 3 bulan lalu.
"Hehehe". Sebastian terkekeh.
" Jangan kaget begitu ". Sebastian menyugar rambutnya.
" Penyelenggara acara ini pihak kampus, aku tahu info ini dari panitia termasuk nama-nama undangannya ". Sebastian menjelaskan untuk menghilangkan keheranan Raisa.
" Salah satu narasumbernya, temanku, aku tadi bermaksud menyapa temanku, melihat mu berdiri sendirian, tentu saja aku memilih menyapa seorang gadis cantik dibanding pria itu". Sebastian mengaku terus terang dengan tawa lebarnya.
Raisa hanya tersenyum tipis.
" Aku antar ya? " Sebastian mengajak Raisa ikut dengannya, sembari siap membuka pintu mobil.
"Arah kita berbeda kak". Raisa ingin menolak ajakan Sebastian.
" Itu tidak masalah, aku bisa mengantar mu dulu, baru ke tujuan ku". Sebastian memaksakan keinginan.
Raisa mempertimbangkan dalam hati, entah mengapa hatinya cukup gelisah, entah apa yang ditakutkannya, ia bukan gadis yang terikat pada seorang kekasih terlebih seorang suami.
Raisa bimbang, seolah ada satu hati yang harus dijaganya, Tiba-tiba terlintas bayangan wajah pak Mario, pria yang sudah 2 bulan tidak kelihatan.
Tapi kenapa? Kenapa harus merasa resah memikirkan perasaan pria itu? mereka bukan suami istri ataupun sekedar pasangan kekasih.
Kenapa harus takut? Raisa tidak sedang berselingkuh, Raisa bukan sedang menghianati seorang kekasih atau tunangan yang sedang berjauhan dengannya.
Pak Mario memang banyak mengucapkan kata-kata yang menunjukkan rasa suka pada Raisa, lantas? bisakah itu dijadikan alasan untuk menolak niat baik pria lain?
Lagipula, bukankah tidak ada jalan untuk Raisa dan pak Mario? Bukankah Raisa sendiri yang memutuskan tidak ingin menjalin hubungan apapun dengan papa Naomi itu?
"Hem.. ehem... ". Sebastian mencoba membuyarkan lamunan Raisa, Raisa yang berdiri termangu seolah sedang berfikir.
" Apakah begitu sulit menerima ajakanku? " Sebastian tersenyum cengengesan melihat tingkah Raisa.
Raisa yang ditegur sontak tersadar.
__ADS_1
"Maaf kak, aku sedang memikirkan apa jangan-jangan aku nanti akan digampar seorang wanita yang mengaku pacar atau malah istri kak Tian". Seloroh Raisa sambil tersenyum kecut, merasa terciduk sedang malamun, Raisa berusaha menjaga harga dirinya.
" hahaha.... ". Sebastian tertawa cukup keras.
" Apa perlu ku perlihatkan tanda pengenal ku, untuk melihat statusku? " Seloroh Sebastian.
"Bukankah pengenal pun bisa di manipulatif? " Raisa sedikit menantang.
"Tapi aku bukan pria semacam itu". Sebastian tak mau kalah.
Ayolah Raisa, apa salahnya memberinya kesempatan? " Bisik hati Raisa mencoba berdamai
Ayolah, buka dirimu sedikit, kenapa? apa salahnya? Raisa mulailah belajar terbuka pada kaum lelaki. Bisiknya Menghibur diri.
" Baiklah, awas ya kak, kalau besok-besok ada yang menemuiku sambil marah-marah dan mengaku pacar kak Tian, aku tidak mau lagi berteman dengan kak Tian". Raisa pura-pura marah.
"okey nona, apapun yang hendak kau lakukan pada orang rendah ini nanti tidak masalah, sekarang silahkan masuk dulu". Sebastian buru-buru membuka pintu mobil untuk seorang gadis cantik.
" Baiklah, nona Raisa hendak diantar kemana? ". Tiba-tiba saja Sebastian sudah bersikap layaknya seorang bawahan kepada atasannya.
" Hemmh... tolong antarkan saya ke jalan Pattimura kak ". Raisa mencoba bercanda
" Siap nona, segera laksanakan ". Sebastian segera menjalankan kendaraan menuju arah yang dimaksud, hatinya berbunga-bunga karena gadis yang disukainya bersedia untuk diantar.
Tanpa mereka sadari, seseorang sejak tadi memperhatikan dan mengambil beberapa gambar mereka lalu mengirimkan pada seseorang melalui ponselnya.
.
.
"S..... ". Pria itu spontan menggebrak meja, membuat asisten setianya kaget dan langsung berdiri karena terkejut.
" Dia... Rik, siapkan keberangkatan kita, sekarang, kita kembali dulu, aku tidak bisa membiarkan ini terjadi ". Suaranya meninggi dengan wajah dipenuhi sorot kemarahan dan kecemburuan.
Pria itu, Mario, dia baru saja menerima beberapa foto dan video, dimana Raisa dijemput dan ikut masuk ke mobil seorang pria.
Hal itu tentu saja menyulut kemarahan Mario, bagaimana bisa Mario membiarkan hal itu, perasaannya terasa sesak melihat gadis yang dirindukannya pergi dengan pria lain.
__ADS_1
Sementara dirinya disini, menahan rindu, membiarkan semua perasaan rindu itu menumpuk, karena tidak bisa meninggalkan pekerjaan yang ditanganinya di Amerika.