
Mario tiba-tiba datang lagi mengantar Naomi kerumahnya,Mario memohon agar Raisa bersedia menampung anaknya beberapa waktu, karena ia akan sibuk di kota dan berharap anaknya bisa dititipkan kembali pada Raisa diluar jadwal sekolah. Seperti sebelumnya, Mario menyerahkan biaya yang besar untuk keperluan Naomi termasuk biaya penitipan, Raisa tidak bisa menolak karena amplop itu sudah diletakkan di meja Kepsek tanpa sepengetahuannya. Bukan itu yang begitu menarik hati Raisa, melainkan janjinya untuk membawa ke dewan direksi dan para pemegang proyek pembuatan Arung Jeram agar tidak mengambil alih tanah miliknya, meskipun dengan ganti rugi yang setimpal. Mario menepati janjinya dengan menunjukkan bukti berupa surat keputusan perubahan proyek yang sudah disetujui dewan direksi. Itu sangat melegakan bagi Raisa. Terserah bagaimana Mario merubah rancangannya. Asalkan sekolah nya tak terganggu. Toh nanti, Raisa akan membangun tembok pagar yang cukup tinggi agar tidak terganggu aktifitas disekitarnya.
Kali ini Mario harus tinggal cukup lama di kota, katanya ia punya urusan penting dan memakan waktu dan tidak bisa mengajak Naomi.
Setelah cukup lama berinteraksi dengan Raisa baru kali ini Naomi bertemu Darren, yang menatapnya aneh.
" Siapa nama kakak? ". Naomi membalas tatapan tidak bersahabat Darren dengan bertanya, tidak ada jawaban. Darren sebal bila orang banyak tanya kepadanya.
" Ini sepeda kakak".
Darren melirik bosan dan acuh
" Wauh, sepeda kakak bagus dan unik". Puji Naomi polos. Darren memandang gadis cilik itu. Baru kali ini ada seseorang, terlebih anak kecil memuji miliknya.
__ADS_1
"Boleh Naomi pegang teralinya? ". Naomi memberanikan diri mendekat.
" sst... tidak usah dekar-dekat". Naomi tertahan, langkahnya terhenti.
"Darren... " tegur Raisa. "Dia cuma anak kecil loh"
"Sebaiknya aku pergi, Desy sudah menungguku" Darren menuntun sepedanya keluar sambil memandangi Naomi.
"Darren.ingat pulang sebelum jam 09.00 malam" Raisa mengingatkan.
Berbeda dengan Desy, pacarnya. Desy mengikuti apapun keinginan Darren. Dia seakan tidak terganggu, bahkan sekalipun Darren merokok dan menghembuskan asap ke wajahnya. Desy hanya nyegir.
Darren buru-buru melewati pintu, sehingga menabrak Sinta yang hendak masuk.
__ADS_1
"Aduh..." Sinta mengadu sakit, akibat jatuh terduduk. Darren berdiri melongo memandang Sinta, namun akhirnya tangannya terulur sambil menggerutu
"Kenapa sih kamu, jalan tidak liat-liat, dasar cewek bodoh".
Sinta yang jatuh hanya melongo terdiam menatap Darren.
" Ish... apaan sih, dia yang jalan tidak liat-liat, kenapa aku yang disalahkan? " Keluh Sinta dalam hati.
"Cepat sini, pegang tanganku". Darren menarik tangan Sinta cepat, membuat gadis itu terkejut dan tidak siap sehingga berdiri terburu-buru dan malah menabrak dada Darren. Keduanya malah jatuh terjerembab berdua dengan posisi tubuh Sinta diatas tubuh Darren. Posisi mereka menjadi intim dan hanya bisa saling tatap dengan suasana canggung, Darren memandang bibir Sinta yang mungil, menimbulkan keinginan untuk mengecup bibir itu, ternyata menatap gadis itu dari jarak sedekat ini sangat menggoda. Sementara Sinta yang salah tingkah ditatap begitu, Tiba-tiba mendorong tubuh Darren dan berdiri buru-buru, membuat tubuh Darren terjengkang ke belakang dan terbentur pintu.
"Augh.... " Darren memegangi kepalanya yang sakit.
"Maaf mas Darren". buru-buru Sinta ingin membantu..
__ADS_1
" Sudah... sudah... sana, ketemu kamu selalu bikin kacau, lain kali tidak usah dekat-dekat, bikin urusan runyam saja". Sinta terdiam mendengar Darren memakinya. Cowok ini jarang menegurnya, seolah menaruh jengkel padanya. Sekalinya bicara. kata-katanya sangat pedas menyakitkan hati. Entah mengapa Sinta merasa sakit hati mendengar nya. tanpa terasa matanya berkaca-kaca. Mengapa Darren menaruh benci padanya. Apa kesalahan nya? Ia tidak pernah mengusik pemuda ini. Terlebih Darren adalah adik dari mbak Raisa, orang yang sangat dikaguminya. Bahkan Sinta sungkan pada pemuda itu, sebagai bentuk rasa hormatnya. Raisa adalah wanita yang sudah mengangkat derajatnya. Dia baru saja tamat SMA ketika mereka bertemu, sementara Darren baru masuk SMA di sekolah nya dulu. Saat itu Sinta tidak punya cukup biaya untuk kuliah karena ibunya hanya buruh cuci. Meski besar keinginan nya untuk kuliah, terpaksa keinginan itu ditahannya sambil mengumpulkan uang dengan melakukan berbagai pekerjaan kasar, termasuk menerima cucian dan menyetrika. Sampai akhirnya bertemu Raisa, yang sedang mencari orang untuk membantunya di PAUD. Raisa mengajaknya bergabung, membantunya di Sekolah, meski dengan gaji seadanya, Sinta langsung mengiyakan dengan besar hati. Ini merupakan anugrah yang sangat besar baginya hingga tidak akan disia-siakannya. Sinta akan berjuang bersama Raisa, membantu sepenuh hatinya.