Putri Kecil Tuan Mario

Putri Kecil Tuan Mario
Bab. 29 Kecupan di Pipi


__ADS_3

Raisa sudah di dapur mencuci semua bahan sayuran, untuk dibuat sup dan perkedel jagung, tangannya bergerak lincah dibawah kran membersihkan semua kotoran yang melekat.


Sebentar saja Raisa bergerak kesana kemari, menyiapkan bahan-bahan dan bumbu-bumbu pelengkap.


Mario masih diluar, tadi jagung yang dipetiknya lumayan banyak, jagung yang yang sangat cocok untuk direbus, jadilah Mario melanjutkan dengan menyalakan tungku perapian dari sisa kayu-kayu yang ditebang.


Raisa sesekali mengintip di jendela, terlihat cukup sigap pria itu melakukan pekerjaan yang tidak biasa untuknya.


Raisa tersenyum diam-diam, dulu pun dirinya tidak terbiasa dengan semua pekerjaan kasar, ia terbiasa dilayani oleh asisten rumah tangga, namun sejak keputusannya untuk mandiri, semua harus bisa dilakukan sendiri.


Raisa sebenarnya tidak tega, tapi itu kemauannya dan Raisa tidak ingin berdebat lagipula Mario yang memaksa, tadi Raisa sudah mau menyalakan perapian, tapi tangan pria itu malah menarik Raisa, alhasil,


Raisa hampir terjatuh di pelukannya, hampir saja Raisa dibuat tegang lagi dengan situasi yang canggung, selalu saja begitu, tampaknya membuat Raisa salah tingkah, sudah jadi kegemaran baru dari papa Naomi itu.


Sementara Naomi, sudah bersih, gadis cilik itu sudah mandi sendiri di dalam baskom besar dengan memainkan bebek-bebek plastiknya, sekarang ia sudah asik dengan mainan baru yang dibawa papanya tadi, sebuah perlengkapan mainan memasak pizza dan sayuran.


Raisa mulai memotong sayuran satu persatu, ketika Mario muncul di dapur.


"Boleh aku numpang membersihkan diri? badan dan bajuku sudah bau asap, aku sudah meminta seseorang, datang membawa baju ganti". Mario meminta persetujuan dari Raisa.


" Oh tunggulah, kusiapkan dulu kamar mandinya". ucap Raisa hendak masuk ke ruang kamar mandi.


"Tidak usah repot, biar aku saja". Mario kira Raisa akan mengangkat air atau semacamnya, sehingga lagi-lagi ditariknya tangan Raisa mencegah masuk ke kamar mandi, berkali-kali digenggam oleh Mario, Raisa sudah akrab dengan jari itu, sayangnya, jantungnya yang tidak mau diajak tenang, selalu saja sentuhan sedikit itu menimbulkan reaksi hebat.


"Tidak, bukan itu... ". Raisa mengelak, Raisa masuk buru-buru dan keluar lagi secepatnya dengan menebalkan muka bergegas keluar ke samping rumah mencari jemuran, tadi ia buru-buru mandi saat Mario memetik jagung karena tidak ingin terlihat.

__ADS_1


Rumahnya di samping sekolah ini sangat sederhana, kamar mandi hanya satu, itupun diluar kamar tidur, sehingga yang punya hajat harus bergantian dan akan mudah terlihat orang lain di rumah itu.


Sejak sekolah dibangun, Raisa sudah menambah satu lagi kloset dan kamar mandi, tapi itu di luar rumah, tepatnya di samping sekolah, untuk keperluan murid dan pihak sekolah, dan Raisa tidak tega meminta Mario membersihkan diri disana.


Mario terkekeh melihat kegugupan Raisa menutupi pakaian dalam yang dipegangnya.


"Apa perlu bantuan ku? " Lagi-lagi Mario ingin menggodanya.


"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri, silakan masuk". Raisa mengelak


Raisa hendak masuk kembali, namun tubuhnya menubruk tubuh tinggi besar didepannya yang menutupi jalannya.


" Apa... ". ia mengangkat muka tekejut, wajah mereka sangat dekat.


" Maaf... ". tangan Mario buru-buru memegang bahu Raisa


"Ah iya, tolong berhentilah memanggilku tuan dan lainnya, telingaku sakit mendengarnya, panggil namaku atau apa saja sesukamu". Tangan Mario agak keras meremas lengan Raisa memaksanya menatap wajahnya.


"Kita tak sedekat itu untuk memanggil anda, tidak sopan". Raisa sedikit meringis.


Mario frustasi, wanita ini masih memasang benteng yang tinggi, membuatnya gemas


Cup


Raisa membelalak, kakinya gemetar dan jantungnya serasa mau loncat keluar, kecupan di pipi itu memang sangat singkat dan cepat, namun permukaan kulitnya sudah meremang, Raisa diam membeku.

__ADS_1


"Dengar sayang...Maafkan aku, tapi kau sangat keras kepala". Bisik Mario, suaranya parau dan berat, gairahnya terasa tertahan.


Raisa menunduk, emosi dalam hatinya bercampur aduk, sedikit senang juga kesal dengan kelancangan Mario padanya.


" kumohon jangan marah padaku, itu karena kau sangat acuh, apa kau tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, aku menginginkan mu, kau dengar? hmmmm...mengertilah atau aku tidak akan menahan diri lagi". Mario terdengar kejam, Raisa bergetar.


"Kau... kenapa kau datang tiba-tiba dan bertindak semaumu? ". Suara Raisa melemah.


" heh... hehhhh....". Hembusan nafas Mario panjang.


"Itu karena dirimu". Mario menuduhnya kejam, tatapannya mengintimidasi


" Apa maksudmu? kenapa aku? aku tidak pernah menggoda mu? ". Raisa menolak disalahkan.


" oh ya? lalu kenapa suaramu begitu mendayu-dayu? dan kenapa tatapanmu dan semua tingkah mu terus ada di kepalaku, apa kau melakukan sesuatu? ". Mario semakin mendesak Raisa.


" Mustahil, kau... kau gila, putri mu begitu cerdas, kenapa kau, kau begitu... ". Raisa tercekat tidak percaya dengan pendengarannya.


" Mungkin benar, aku gila karenamu, kau penyebabnya, jadi kaulah yang harus menuntaskannya". Mario mendesak Raisa semakin rapat ke dinding. Aroma tubuhnya sangat menusuk, aroma maskulin yang menggoda, Raisa terjebak oleh hayalan dan akal sehatnya.


"Tidak.... ". Raisa menggeleng, Tiba-tiba saja ia sedikit ngeri, hari ini sepi.


" hahaha.... ". Mario terbahak-bahak.


" Kau makin cantik sayang, kau takut atau sedang terbakar seperti ku? ". bisiknya lembut.

__ADS_1


Raisa mendorongnya kuat-kuat, sebel.


mungkin butuh kemampuan khusus


__ADS_2