Putri Kecil Tuan Mario

Putri Kecil Tuan Mario
Bab. 12 Bunda, Maafin Naomi


__ADS_3

Hari-hari berikutnya. Raisa menjadi semakin dekat dengan Naomi, gadis kecil itu sungguh menyenangkan dan sangat mudah menyesuaikan diri. Meski Mario menjadi menyebalkan karena menjadikannya tempat penitipan. Raisa tidak bisa menolak.


Mario tidak mengatakan menitipkan anaknya di bagian Daycare, sekolahnya. Dimana orangtua menjemput anaknya pada jam 5 sore. Mario memintanya secara pribadi. Bukan menempatkan Naomi sepanjang hari disana, namun lebih seperti anak asuh Raisa untuk waktu tertentu sesuai perjanjian mereka yang sepihak dibuat Mario, Bila tiba-tiba Mario punya keperluan mendadak ke kota, ia menitipkan Naomi pada Raisa. Bahkan dengan biaya dibayar di muka dalam jumlah yang sangat besar.


Dengan menjadikan keputusan atas proyek itu terletak ditangannya dimana Raisa diharuskan mengikuti pengaturan nya bila ingin terbebas dari rencana proyek. Aneh...Padahal Raisa mengantongi dokumen pemilikan yang sah dan lengkap, jadi kalau mau menolak pun Raisa memiliki kekuatan. Namun entah mengapa. Ia memilih mengikuti permintaan pria itu.


Menjadikan Naomi, anak angkatnya sementara.Terkadang bila situasi memungkinkan Naomi ikut bersamanya, bila tidak gadis ceria itu ikut bergabung di kelas penitipan atau menemani Sinta di ruang Kepala Sekolah.


Naomi sudah membawa banyak keperluan bermainnya ke rumah Raisa, dan karena rumah dan sekolah berada di dalam pagar yang sama. Naomi sudah mengatur nya demikian rupa. Mengambil dan menukar mainan atau pakaian sesuai kebutuhan nya.

__ADS_1


Raisa semakin takjub. anak itu sama sekali tidak ingin merepotkan. Apapun keputusan Raisa diikutinya dengan tenang dan senang hati. Meski tetap keluar pertanyaan dari mulutnya, kenapa begitu? buat apa? apa sebabnya. Tugas Raisa hanya menjawab lalu memberi pengertian, dan ajaib....Naomi segera faham dan menurut tanpa perlawanan. Gadis kecil itu sangat mudah beradaptasi. Tidak rewel dengan banyak keinginan.


Ketika mengantuk, ia meminta dibawa ke kamar kecil untuk mencuci badannya, ia memilih baju tidurnya dari bahan tipis lalu mengganti bajunya sendiri kemudian segera terlelap damai begitu berasa di kasur. Raisa menjadi terharu melihatnya. Apakah anak itu berada pada situasi dimana ia tidak bisa bermanja-manja sehingga begitu terbiasa melayani dirinya sendiri, mengingat usianya.


Sampai suatu ketika Naomi tiba-tiba menggigil dan mengalami demam tinggi dan tubuhnya menjadi kemerahan dan semakin lama semakin membesar membengkak menyerupai ruam-ruam. Bahkan bengkak itu merata hampir di sekujur tubuhnya.


Mau tidak mau, Raisa cukup panik, meski sudah diceritakan sebelumnya, ia tidak menyangka penyakit itu akan muncul disini, mengingat daerah ini sejuk penuh pepohonan rindang, jauh dari asap kendaraan dan debu yang tebal. Pun makanan yang diberikan pada anak-anak disini sudah diperhatikan betul standar kebersihan dan kebutuhan gizi serta kecocokan dengan usia anak untuk dikonsumsi dalam jumlah secukupnya.


Dan ia tidak bisa memberi obat sembarang, segera saja Raisa memanggil Sinta, stafnya, memanggil kendaraan.

__ADS_1


Sementara dirinya menemani Naomi sembari terus menunggu kabar Mario.


Raisa, tidak bisa tidak meneteskan air mata, kengerian terpancar diwajahnya.


"Bunda, maafin Naomi, sudah membuat bunda kuatir, Naomi tidak apa-apa, ini sudah sering bunda". Naomi mencoba menenangkan Raisa yang sudah tidak bisa menahan tangis. Meski ia, mencoba tenang namun akhirnya air mata nya luruh meski tidak ada suara.


Akhirnya Mario mengangkat panggilan,


"Tenanglah, jangan panik, aku akan segera kembali, tidak perlu ke dokter, tolong cari dalam laci nakas, di kamar hotel, aku akan memberi petunjuk cara penggunaan nya nanti. itu resep dari dokter, itu memang obat Naomi, setiap gejala itu muncul".

__ADS_1


Akhirnya, Raisa bisa sedikit tenang saat Naomi tampak pulas, tidak lagi merasa sesak dan mengalami demam dan gatal disaat bersamaan. Raisa terus memantau perkembangan Naomi sesuai instruksi Mario.


__ADS_2