Putri Pewaris Sang Mafia

Putri Pewaris Sang Mafia
Merubah arah tujuan


__ADS_3

"Halo!"


"Ya, Tuan."


"Valdes, rubah arah tujuan Kita untuk besok beli tiket pesawat ke negara tetangga dari sini!" ucap Victor diujung sambungan telepon.


Valdes langsung bangun sambil tersenyum menerima telepon dari Tuannya lewat tengah malam. Rupanya Victor belum tidur terus saja mungkin berpikir dan akhirnya memutuskan menelepon Dirinya lewat tengah malam ini.


"Baik Tuan ke negara 'I'?"


"Jangan pernah bertanya lagi!"


"Perintah akan dilaksanakan semoga Tuan sehat sehat saja apa sakit kepalanya sudah baikan? tidurlah semua akan baik baik saja sudah mengabarkan pada Tom di rumah? Takut lupa memantau keadaan Nyonya dan Putri Tuan."


"Sudah, Putriku habis latihan dan bermain musik semua berjalan dengan baik bahkan lebih dari apa yang Aku perkirakan terutama dalam keterampilan penguasaan senjata," ucap Victor terdengar riang.


"Bagus, bukankah itu yang tuan harapkan?"


"Hanya intuk menutupi ketakutan juga kekhawatiranku saja Valdes, Anakku hanya satu mungkin cuma satu-satunya sebagai penerus garis keturunanku. Bagaimana Aku tidak menjaganya?"


"Baik Tuan, istirahatlah Aku sudah dapat tidur mungkin mau mencari tiket lewat online lewat penyedia layanan."


Telepon terputus Victor kembali melihat sambungan langsung keadaan rumah dari Tom lewat perangkat canggih semua termonitor bahkan semua sudutnya.


Senyum anggun Ayako yang selalu di rindukannya walau tak sepenuh hati dan perasaannya.


Semua kegiatan Istri dan Putri jadi tontonan obat kerinduan Victor akan rumah tempat tinggalnya.


Kembali pada lamunan dan khayalan akan Chaterine hati Victor baru kali ini merasa ciut dan takut akan ucapan Catherine nanti yang mungkin akan membalikkan kata-katanya dulu saat nanti Dirinya datang dan mohon maaf mencabut semua perjanjian dan kalau memungkinkan bisa meneruskan rasa yang pernah ada diantara mereka tapi mungkinkah?


Hanya waktu yang akan bicara semakin beranjak usia semakin tinggi kesadarannya akan segala hal yang pernah dilakukan kesadisan kekejaman otoriter mendikte pada siapa saja kini Victor sudah mulai melemah telah datang begitu banyak kesadaran pada Dirinya hatinya bisa menerima masukan siapa saja termasuk masukan dari sahabat saudara dan orang kepercayaannya Valdes.


Kini kerinduan pada cinta pertamanya mulai mengusiknya saat dirinya begitu dekat berada di wilayah di mana Catherine berada.

__ADS_1


Dadanya semakin degdegan dan bergejolak walau waktu keberangkatan dan pertemuan belum tentu semudah itu bisa langsung terlaksana.


Catherine yang pernah jadi kebanggaannya harus melukai perasaan terdalamnya saat dengan terang terangan mengatakan tak mencintainya.


Tapi kini Victor meyakini ucapan Catherine saat itu hanya karena mereka sedang bertikai mungkin bukan dari dalam perasaannya karena Victor yakin Catherine mencintainya seperti Dirinya sampai saat ini.


Sampai pagi datang menjelang Victor hanya bisa tidur beberapa kejap saja saat Valdes mengetuk pintu kamarnya Victor sedang merasakan sakit di kepalanya mungkin akibat kurang tidur tetapi Viktor meyakini semua itu karena perasaannya yang seakan meledak membayangkan pertemuannya nanti dengan Catherine.


Victor bangun mengembalikan pistol dari bawah bantalnya juga pisau dengan seribu satu kegunaan sebagai tameng keselamatan Dirinya.


Semua kehati hatian mutlak di lakukan di manapun Dirinya berada terlebih di negara yang sedang di kunjunginya.


Berendam di air hangat sebagai relaksasi dan selalu mewaspadai setiap detik kehidupannya, karena Victor menganggap hidup di dalam dunianya yang kini di gelutinya penuh dengan ancaman akan keselamatan Dirinya juga keluarganya.


Pengawal dan orang kepercayaannya jadi keharusan bagi setiap perjalanannya.


Memilih pakaian terbaik dengan penampilan yang masih terlihat gagah Victor tak bisa konsentrasi sampai membuka pintu dan pengawal menyertainya keluar setelah semua barang di packing dengan bersih dan memeriksa kamar yang telah di tinggali Victor.


Valdes berdiri menyambut Tuannya sambil membungkuk di ruang makan siap dengan segala laporan dan kesiapan untuk agenda hari ini.


"Bagaimana kabar terbarunya di negara itu?" tanya Victor di tujukan pada Valdes.


"Menurut agen yang selalu mengabarkan padaku semua baik baik saja, Nyonya berkantor di salah satu gedung di kota metropolitan itu, perusahaannya di bidang retail berkembang pesat setelah negara itu melakukan pemilu dan pilkada kini kebijakan pemerintah begitu pro pada pengusaha untuk perbaikan sistem negara itu yang kini sedang berkembang." Panjang lebar Valdes menyampaikan apa yang diketahuinya.


"Baik, jam berapa penerbangan Kita?"


"Dapat penerbangan pertama, karena Aku yakin Tuan ingin segera ke sana."


Victor menelan makanannya yang begitu terasa seret di tenggorokannya dan cepat-cepat mengambil cangkir warna emas dan meminumnya untuk melancarkan makanan yang tadi ditelannya.


"Masih banyak waktu, tapi kalau harus menunggu di bandara juga tak masalah karena kemacetan biasanya tidak bisa di prediksi."


Membayangkan pertemuan dengan Catherine Istri atau sudah jadi mantan entahlah Victor tak meyakini itu tapi merasa tubuhnya begitu lemas dan dadanya berdebar seperti mau meledak, sosok Catherine muda kini ada di raga Putrinya Kezia yang kini berada jauh di belahan bumi mana.

__ADS_1


Tak banyak yang di sampaikan Valdes sebelum rombongan itu bergerak ke bandara menuju Negara yang di tuju.


Victor duduk di kawal semua kepercayaannya dengan kesiagaan tingkat tinggi menunggu pesawat datang. Sampai merasa aman di salah satu kursi di mana Victor bjsa yang narik nafas dengan lega.


Tanpa transit hanya memerlukan penerbangan sekitar tiga jam mengudara pesawat yang membawa rombongan Victor lepas landas di bandar udara yang dituju.


Victor harus berpikir punya anak perusahaan di negara ini untuk alasan dan pengembangan bisnisnya mungkin itu yang akan di bahas dengan siapa saja nanti setelah Dirinya masuk ke Kota metropolitan mungkin juga dengan Catherine.


Jam 10 pagi Victor sudah berada di dalam hotel yang tidak jauh di mana Catherine berkantor, cukup megah terlihat jelas gedung yang terdiri dari perkantoran hotel dan pusat perbelanjaan di beberapa lantai bawahnya.


Valdes tak terlihat mungkin menyambungkan hubungan pada Catherine dan nanti akan di kabarkan pada Victor.


Terasa lama membuat Victor merasa Valdes begitu lamban dalam bekerja padahal semua sudah diatur strateginya.


Rencana awal Victor akan jadi investor asing di perusahaan Catherine dan akan datang ke kantornya walau itu akan jadi kejutan bagi Catherine sendiri entah seperti apa penyambutannya.


"Halo Tuan,"


"Ya Valdes gimana bisa bertemu hari ini?" tanya Victor terdengar tidak sabar.


"Aku sudah nyambung ke kantornya tapi operator yang menerima karena Ibu Catherine sedang tidak ada di tempat lagi ke sekolah Putrinya menghadiri apa lah pembagian raport mungkin," sela Valdes diujung sambungan telepon.


"Apa? Putrinya? Catherine punya seorang Anak?" Victor merasa kaget sendiri.


"Mungkin Putri angkat Tuan. Bisa saja hidup dalam kesendirian mengangkat Anak sebagai teman."


Victor menghela nafas yang mendadak terasa sesak.


"Jam berapa jadinya bisa bertemu?"


"Nanti operator yang akan mengabarkan lagi Tuan."


*******

__ADS_1



__ADS_2