Putri Pewaris Sang Mafia

Putri Pewaris Sang Mafia
Catherine sakit


__ADS_3

"Luzia belum bangun Bibi? jam berapa malam pulangnya?" tanya Catherine sambil duduk di samping Victor pagi itu siap untuk sarapan.


"Belum terlalu malam Nyonya malah terlihat lapar makan yang ada di meja makan dan masih membawa makanan dari kulkas ke kamarnya," jawab Bibi yang bertugas menjaga pintu walau Luzia sudah tahu kalau Bibi ketiduran pasti bawa kunci sendiri.


"Biarkan Dia tidur bukankah ini hari libur? Apa Kamu nggak mau pergi ke mana Sayang biar Aku antar?" tanya Victor memulai sarapannya.


"Semakin Kamu mau pulang rasanya semakin nggak enak saja hati dan perasaan ini Victor. Atau Aku ke dokter saja ya?"


"Panggil dokter terbaik ke sini bila itu yang akan membuat Kamu lebih nyaman," jawab Viktor melirik dengan cemas pada Catherine.


"Boleh tapi sore maunya. Aku ada nomor teleponnya."


"Ada apa denganmu Sayang? Aku janji akan datang lagi dengan Putri Kita ke sini setelah bicara dengan Ayako. Setelah itu boleh ikut bersamaku ke negaraku ada banyak hal yang ingin Aku berikan padamu Sayang di istanaku karena itu adalah rumahmu juga." Victor terlihat cemas melihat kegelisahan Catherine.


"Aku begitu banyak pikiran Victor terutama sikap Putri Kita yang masih seperti itu padahal Kamu di sini udah hampir dua minggu Kita menghabiskan waktu bersama-sama dengan kebahagiaan tapi kehadiranmu tidak mendatangkan sedikitpun kebahagiaan di hati Putri Kita Luzia." Catherine seakan merasa bersalah dengan kebahagiaan Dirinya sedang Putrinya merasa tak suka.


Lagi bicara tiba tiba Luzia datang masih dengan muka dinginnya duduk di kursi miliknya. Menuangkan air minum dan mengambil juice dan roti panggang di hadapannya.


"Sayang, sudah bangun?" tanya Catherine sambil tersenyum.


"Iya, Aku ada kegiatan hari ini."


"Mama akan ada makan malam sama relasi Mama dan kali ini kebetulan lagi ada Papamu jadi Kita datang bertiga nanti ya Sayang."


Luzia diam tak berkomentar apapun menolak atau mengiyakan. Hanya makan dan tak memandang pada siapapun hanya melihat pada makanan di hadapannya.


"Papa janji tak ada pengawal yang akan mengantar menemani Kita kalau memang dirasa tidak nyaman buatmu," tambah Victor di sambut anggukan Catherine.


"Mungkin bagi Luzia belum terbiasa saja Pap."


"Nggak apa-apa Papa hanya mengikuti saja Mam, Apa yang membuat Putri Papa senang. Gimana sudah berpikirnya jadi ikut sama Papa bertemu Kakakmu dan melihat sekolah mode di sana Papa malah senang kalau Putri Papa bisa berpikir dengan baik."

__ADS_1


"Gimana Sayang penawaran Papamu sangat menyenangkan bukan?" tambah Catherine menimpali perkataan Victor.


"Aku masih memikirkannya."


"Baiklah, tapi sekali lagi jangan lama lama mikirnya Papamu mau pulang masih ada waktu kok. Papa paling dua hari lagi di sini Nanti Paman Valdes menjemput Kita akan Papa kasih kejutan pada Kakakmu Kezia di sana lalu mengajaknya juga ke sini." Victor bicara seperti pada Anak TK saja jauh dari sifat dan caranya yang biasa dalam bicara kalau di negaranya.


"Berpikirlah dengan baik Sayang kalau Mama tidak terikat dengan pekerjaan pasti Mama juga akan ikut Papamu, tapi nanti malam ikut ke acara Mama sama Papa ya semua relasi pasti akan membawa keluarganya Kamu bisa berkenalan dengan siapa saja mau teman laki-laki ataupun perempuan." Catherine tersenyum berharap jawaban ya dari Putrinya


"Mau kemana acara siang ini Sayang? Boleh Mama sama Papa antar dan terus kita jalan jalan mau?"


"Aku ada latihan balerina."


"Oh, ya? boleh Papa melihat penampilanmu saat latihan?" ujar Victor dengan antusias.


Luzia hanya ngangkat bahunya menyatakan terserah. Menyelesaikan sarapannya dan berlalu ke kamarnya.


Catherine yang melihatnya dangan hati tertekan walaupun ada sedikit peningkatan dari sikapnya sedikit penerimaan tetapi itu adalah suatu kemajuan.


"Sabar, nanti juga akan ada saatnya. Nanti Kita tengok ke sanggarnya perlihatkan kalau Kita juga ada perhatian dan Luzia merasa diperhatikan." Hibur Victor pada Cathy yang terlihat banyak melamun.


Catherine mengangguk menerima usapan Victor di wajahnya.


"Undangan makan malam itu pentung bagimu Sayang?"


"Memang kenapa?


"Aku lebih ingin melewatkan waktu berdua bersamamu," jawab Victor.


"Ah, Aku mengerti maksudmu tapi menciptakan kebersamaan dengan Putri Kita itu lebih penting bukan?" jawab Catherine dengan tersenyum.


"Baiklah, Aku begitu tak rela kehilangan waktu kebersamaan karena Aku akan pulang walau sebentar saja datang lagi nanti ke sini dengan kejutan Putri pertama Kita Sayang." Victor menatap wajah muram Catherine.

__ADS_1


Catherine tersenyum mengingat sifat Victor yang kadang tak mengerti seorang yang berpengaruh di negaranya dengan kerajaan bisnis usaha di tiap negara penyumbang pajak besar di negaranya tapi kalau di sini tak lebih dari seorang laki laki manja yang selalu menuntut untuk di belai dan tak ada kata puas di tempat tidur.


Selalu bilang bulan madu ke dua ternyata lebih mengasyikan dan tanpa protokoler yang mengikatnya lebih leluasa kemana mana bersama Catherine yang di cintanya.


Menginap di hotel, berjalan jalan ke mana mereka suka hanya dengan satu pengawal yang jadi sopir ternyata enak juga dan lebih bebas.


Laki-laki begitu otoriter, tegas dalam tindakannya kadang kasar dan sadis pada musuh bisnisnya kalau bicara kata curang yang tahu Catherine beberapa kali Victor membunuh lawan bisnisnya yang ketahuan menggelapkan uangnya dan berbuat curang di perusahaannya, saat mengkhianati kepercayaannya Victor lenyapkan dengan sadis dan rapi di hadapan semua pengawal dan orang kepercayaan di lingkungan dan lingkaran orang orang dalam Puri kebesarannya.


Terkadang keluarganya juga harus menyaksikan kesadisannya dalam melenyapkan pengkhianat dengan melemparnya pada aligator lapar piaraannya di ruang bawah tanah yang tertutup.


Victor bukan psikopat tapi seorang berkepribadian dan mafia yang sangat di segani. Semua harus tunduk pada perintahnya termasuk siapa saja Anak dan Istrinya dan begitu banyak kepiawaiannya. Sangat mahir dan luwes mainkan senjata tajam dan juga senjata api memiliki koleksi yang begitu banyak selain dimainkan sebagai olahraga yang rutin dilakukannya.


Victor merasakan gagal dalam rumahtangga karena keegoisannya semua harus ditebus dengan perpisahan yang begitu panjang dan merasa hidup tidak memiliki cinta sekian lama.


Kini merasakan kembali bertemu dengan cinta pertamanya serasa pertemuan dua minggu belumlah cukup tak ada pilihan lain selain harus hidup bersama lagi. Tapi Ayako Yoshimura akan bagaimana jika nanti Catherine balik lagi ke negaranya?


Itu yang manjadi pikiran Victor saat ini, Ayako harus tetap jadi istrinya dan cintanya Catherine juga harus ada di sisinya juga Putri putrinya juga harus kumpul menyempurnakan kebahagiaannya.


"Victor Aku harus berobat hari ini nanti lanjut melihat Luzia ke sanggar dan malamnya Aku nggak mau absen bertemu rekan bisnisku," ucap Catherine sambil memegang kembali keningnya.


"Baiklah, Aku panggil dulu Keizeero. Duduk dulu di ruang keluarga atau mau di kamar saja?"


"Aku dikamar saja sambil mau ganti pakaian."


Victor terlihat panik Catherine mungkin benar-benar sakit.


Mengantar dulu Catherine ke kamarnya dan memanggil pengawalnya selalu berjaga di rumahnya Keizeero yang di bawa dari negaranya.


*******


__ADS_1


__ADS_2