Putri Pewaris Sang Mafia

Putri Pewaris Sang Mafia
Tak terima Luzia


__ADS_3

"Apa Mama merindukan Papa? setelah sekian belas tahun tak ada kabar berita? tiba-tiba datang dengan enaknya mohon maaf dan dengan naif begitu mudahnya Mama menyerah kembali ke pelukannya. Haruskah cinta seperti itu begitu setianya? tak inginkah Mama tahu kehidupan Papa selama berpisah belasan tahun berapa wanita yang telah masuk dalam kehidupan Papa kenapa Mama begitu mudah jatuh kembali kepada pelukan Papa? sedang Aku sendiri tidak merasakan apa-apa dengan kehadirannya." Luzia melakukan protes pagi itu saat mau sarapan, ketika Luzia tahu semalam Mamanya tidur kembali sama Papanya di kamar yang sama seperti siang kemarin.


"Luzia, Ada banyak hal yang belum Kamu pahami dalam kehidupan ini Mama mengerti arah tujuan bicaramu tetapi jujur antara Mama dan Papa dulu pernah saling mencintai. Apalah daya Mama demi kalian juga semua itu Mama lakukan." Catherine berusaha menjawab apa yang di ucapkan Putrinya.


"Aku merasa tak butuh seorang Papa lagi saat usiaku segini juga tak ingin semua alasannya kenapa datang kesini! membebankan semua itu pada Mama, kenapa Mama harus berkorban terus tak cukupkah dengan keadaan Kita sekarang ini walau tanpa Papa?" tanya Luzia terlihat kesal.


"Dalam rumah tangga ada banyak hal permasalahan termasuk Mama dan Papa yang mengharuskan berpisah sekian belas tahun dan kini di pertemukan kembali hanya untuk satu keluarga yang utuh. Saat kalian dewasa nanti akan ada masanya pergi dari kehidupan Mama ada hal yang tidak bisa di cukupkan dari seorang Anak, Ada kebutuhan yang dibutuhkan seseorang itu dari seorang pasangan," Catherine menjelaskan pemahaman lain dari pandangan Luzia yang di rasa Catherine berlebihan.


"Untuk apa keluarga yang utuh? sedangkan Kita berdua sudah tenang dengan kehidupan yang Kita jalani, Aku tetap tak setuju Mama berhubungan lagi dengan Papa." Luzia tetap berkeras dengan pendapatnya.


"Sayang, Papamu sudah berterus terang kalau Kakakmu di sana begitu merindukan Mama itulah alasan utamanya tidakkah Kamu juga ingin bertemu dengan Kakakmu?" tanya Catherine memandang wajah Putrinya.


"Yang Papa inginkan adalah Mama bukan kepentingan lain! Coba Mama tak setia apa yang bisa di dilakukannya? menyesal atau marah?" jawab Luzia sambil mengambil satu lembar roti dan selai isian kesukaannya.


"Sayang mengertilah kalau diantara Kita ada seorang Kakak, Kamu Adiknya, yang ingin Mama kasih tahu pada Papamu juga Kakakmu." Catherine masih dengan suara lembutnya tetap memberi pengertian pada Luzia.


"Kemana selama ini yang namanya Tuan Victor konon katanya begitu berpengaruh? kaya luar biasa tetapi bagiku tidak lebih hanya seorang yang tidak bisa mengendalikan Dirinya sendiri tidak bisa bijaksana dalam mengambil keputusan tetapi kini setelah belasan tahun setelah banyak yang dikorbankan Anak, Mama datang dengan permohonan maaf dan sesal mungkin juga kata cinta dan rindu sama Mama jangan-jangan sudah berapa banyak wanita yang dicampakkan dan setelah itu kembali datang seperti pada Mama!" Luzia berhasil mengatakan semua uneg-unegnya yang membuat Cathy menggelengkan kepala.


"Luzia! stop berhenti jangan menjelekkan Papamu semua belum tentu seperti itu Papamu seperti yang Mama ceritakan seorang yang baik tetapi kalau tidak bijaksana dalam menyikapi pertikaian sehingga terjadi perpisahan itu manusiawi," bela Catherine semata hanya ingin menanamkan image baik Victor pada Putri nya.


"Itu karena Mama terlalu mencintainya! Mama tak ingat saat diusir di campakkan bahkan diasingkan dengan perjanjian dan ancaman tak dihargai bahkan saat mengandung Aku, di mana Tuan Victor Harper saat itu? ingat Mam! Tuan Victor mungkin sedang bersuka ria dengan kemenangannya!" Luzia terlihat marah dan sangat kesal.


"Kenapa denganmu Nak? Perasaan Mama tak pernah mengajarkan hal menentang seperti itu? Kenapa Kamu seakan benci pada Papamu sendiri?" tanya Catherine berhenti menyiapkan sarapan tapi menatap wajah Putrinya yang kelihatan lagi marah.


"Ya Aku sudah merasa tenang hidup tanpa hadirnya seorang Papa. Di mana Tuan Victor saat kenaikan kelas saat semua orang tua komplit datang menghadiri dan memberi selamat saat Aku jadi juara, di mana Tuan Victor saat Aku ulang tahun? Juga di mana Tuan Victor saat Aku kemping pertama kalinya juga saat hujan Aku takut akan geledek dan Mama tidak ada di rumah? Saat itu Aku berpikir Aku harus tegar karena sudah tak memiliki Papa! Salahkah Aku menganggap begitu?" tanya Luzia dengan emosi.

__ADS_1


"Semua tak salah Sayang, berbeda pandangan dengan Mama itu pasti dan boleh saja, Kamu Anak muda pasti pandangan yang praktis tanpa panjang jauh dalam berpikir tapi cobalah mengerti pasti akan ada sisi baiknya Sayang." Masih dengan kelembutannya Catherine menjawab semua ucapan Luzia.


Victor dengan jelas mendengar pertentangan antara Catherine dan Putrinya Luzia, Victor hanya termangu mendengarnya semua yang diucapkan Putrinya tak salah memang tapi apa tak ada kesempatan untuk berbaikan dan meng-utuhkan kembali keluarganya?


Victor turun sambil berdehem bermaksud ingin menjadi penengah diantara Catherine dan Putrinya.


Luzia langsung bangkit memperlihatkan ketidaksukaan dan penolakan pada kehadiran Victor.


Catherine hanya termangu sambil berdiri melihat punggung Putrinya yang berlalu.


"Biarkan dulu Dia dengan pendapatnya, sampai mengerti maksud baik kehadiranku di sini," ucap Victor mengusap punggung Catherine.


Catherine duduk di kursi makan sambil menutup muka dengan kedua tangannya, menangis mendapat tentangan dari Putrinya sendiri.


"Aku merasa berhasil mendidik Putriku Victor, tapi kenapa begitu keras saat menentang mu?" ucap Catherine sambil terisak.


"Aku juga bukan orang benar tapi begitu keras mungkin mewarisi gen dariku walau Kamu didik secara halus tapi watak yang sebenarnya akan keluar juga. Sama seperti Putri Kita paling besar selalu bikin Aku marah jengkel dan kesal tapi seiring waktu semua berjalan dengan baik." Hibur Victor sambil mengusap usap rambut Cathy dengan sayang.


"Maafkan Dia Victor, sebenarnya itu bukan kebiasaannya, Dia Anak baik lembut dan penurut."


"Aku percaya itu, mungkin kaget saja setelah sekian tahun menemukan Mamanya tidur bersama seorang Pria, ada rasa cemburu merasa Mama nya ada yang mengambil. Hal biasa terjadi Aku yang harus di maafkan tiba tiba hadir dalam kehidupan kalian."


"Victor, ada banyak hal yang perlu Aku sampaikan padamu, berapa lama Kamu akan berada di sini? Dan apa rencana mu selanjutnya?" tanya Catherine.


"Aku menginginkan lebih lama lagi di sini sampai kerinduanku padamu merasa sudah sembuh dan nanti Aku pulang balik lagi ke sini ingin membawa Kezia padamu."

__ADS_1


"Maksudku apa rencana mu untukku?"


"Mau mu apa? mintalah apapun semua akan Aku kabulkan, rumah tinggal yang bagaimana yang diinginkan, perusahaan seperti apa, dan aset yang berjalan sedang Aku pikirkan semua tinggal sampaikan." jawab Victor dengan pasti.


"Bukan itu Victor apa tidak lebih baik ajak Luzia ke negaramu biar bertemu Kezia di sana apa ada seorang Istrimu atau beberapa orang di sana?" tanya Catherine pada Victor.


"Maaf, Cathy. Hanya ada satu Istriku di sana Ayako Yoshimura yang Aku nikahi tak lama setelah Kita berpisah tapi Aku tak memiliki keturunan walau sampai saat ini mungkin Ayako masih berharap."


Catherine diam, tak bisa dirinya kalau tidak membayangkan bagaimana hubungan Victor dengan istrinya itu ada rasa tak suka di dalam hati Catherine.


"Apa Kamu mencintainya Victor?"


"Aku hanya butuh status sosial karena sekian lama Aku menyentuhnya, selalu saja perasaan bersalah padamu yang hadir Cathy."


"Omong kosong! Aku tahu kuatnya tuntutan kebutuhan mu akan hal itu," sindir Catherine.


"Mungkin juga usia jadi alasannya Aku tidak sekuat dulu Cathy."


"Seperti yang Kita lakukan siang itu dan semalam tidak sekuat dulu? lalu seperti apa kuatnya seorang Victor di ranjang?" Catherine bicara dengan muka merona.


"Jujur hanya bersamamu Aku merasakan kepuasan Sayang."


"Jangan membual masih pagi, Putrimu masih marah padamu. Aku ingin ikut bersamamu dan segera bertemu Putriku Victor."


"Catherine beri Aku waktu untuk menyampaikan pada Ayako, walau semua atas perintahku tapi Aku begitu menghargainya. Akhir-akhir ini Kezia sedang akrab dengan Ibu sambungnya itu entah dalam hal apa terlihat mereka selalu bersama-sama walaupun sejak awal mereka jauh dari kata akur."

__ADS_1


*******



__ADS_2