Putri Pewaris Sang Mafia

Putri Pewaris Sang Mafia
Luzia dan sikapnya


__ADS_3

"Victor, yakin ingin lebih lama tinggal di sini? Aku senang saja bersamamu tapi apa semua bisnis dan usahamu terganggu?" tanya Catherine sambil membelai dada Victor dan sesekali mengelus pangkal lengannya.


"Aku berencana pada awalnya keliling mengontrol semua perusahaan ku di tiap negara rencana awal sebulan perjalananku semua bisa diatur, tapi sepertinya semua akan berubah setelah ada di dekatmu. Aku akan membuka cabang usaha di sini dan akan membuat istana kedua di negara ini, tolong jangan paksa Aku untuk pulang," jawab Victor sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Catherine.


"Bukan itu masalahnya tapi aku ingin bertemu Putriku Victor Kamu sendiri malah mengkondisikan Valdes dan yang lainnya meneruskan perjalanan bisnismu sedang Kamu stay di sini mau berapa hari berapa minggu lagi memuaskan dahaga pertemuan Kita? Kabari Putriku bagaimana perjalananmu jangan membuat Dia cemas." Usulan Catherine karena kelihatan Victor seakan lupa diri dan lupa urusan juga tujuan awalnya.


"Cathy, cukup Valdes yang selalu mengabari ke rumah pada Tom, Ada satu keinginanku yang harus Aku lakukan yaitu membuat Putri keduaku Luzia memaafkan dan menerimaku." Lanjut Victor. Karena selama ini sejak kedatangannya sudah hampir 5 hari dan mau mencapai seminggu keberadaannya di sini Luzia tidak memperlihatkan penerimaan pada kehadiran Victor saat bertemu dengan Victor selalu saja buang muka bahkan tidak pernah bertegur sapa lagi sama sekali sejak pertentangan pagi itu sama Mamanya.


Bukan tidak jadi pemikiran bagi Catherine juga tapi begitu kuat penolakan yang di perlihatkan Luzia sehingga harus mencari cara dan membicarakannya secara serius bersama Victor. Siapa tahu Victor punya cara dan strategi untuk memenangkan hati Putrinya itu.


"Bagaimanapun sikapnya itu adalah Putrimu juga Victor mungkin merasa kaget juga sekian lama tidak hadirnya laki-laki di rumah ini sekian lama pula tidak ada yang mengisi kekosongan seorang figur Papa dalam hidupnya kini secara tiba-tiba Kamu hadir mengagetkannya," ucap Catherine merasakan hidupnya juga seperti mimpi saja, menghapuskan dahaga belaian seorang laki-laki dalam hidupnya, mengobati segala kerinduan sekaligus kecewa dan bencinya selama ini.


"Aku maklum semuanya Sayang bagaimanapun sikapnya padaku itu imbas dari kesalahanku tapi Aku bangga telah mencetak dua gadis cantik dari rahim seorang Mama yang sangat cantik juga, Aku akan berusaha bisa mencairkan suasana sama Putri bungsuku yang wajah cantiknya selalu di tekuk saat bertemu denganku sepertinya ada dendam di hatinya," jawab Victor membayangkan saat Putrinya Luzia tak mau melihatnya setiap berpapasan di rumah ini.


"Buktikan ucapanmu Victor kalau Kamu bisa menguasainya, mencairkan suasana tegang diantara kalian sampai Dia mau mencium dan memelukmu Aku yang akan senang. Aku telah membesarkan sampai Dia hampir dewasa satu kebanggaan ku Luzia begitu pintar dalam segala hal bagaimana dengan Kezia?" tanya Catherine menatap mata tajam Victor.


"Lebih pintar lagi pastinya walaupun Aku kasih julukan Si Pemberontak karena apa? yang selalu dipertanyakan adalah Mamanya. Memandang curiga dan selalu salah kepadaku Menolak semua yang Aku perintahkan dan mengajukan keinginan yang bukan keinginanku seperti masak, menyulam, menari ballet, dan minta les bernyanyi, sedang yang Aku harapkan dari Putriku adalah menjadi wanita yang tangguh bisa beladiri memainkan semua senjata tajam dan senjata api sebagai perlindungan Diri, belajar teknik berbisnis dan melatih intuisi tinggi juga pembukuan dan manajemen, boleh belajar alat musik biar imajinasi otaknya berkembang terus."

__ADS_1


"Astaga Victor, sebegitu otoriternya Kamu? sedang pendidikan yang Aku berikan kepada Anakku di sini kebebasan dalam segala hal dengan catatan harus yang positif semua yang diinginkan Aku turuti asal membuat hatinya bisa senang dan serius dalam mempelajarinya berharap apapun bisa bergembira. mungkin karakter dua Putri Kita akan bertolak belakang," Catherin bicara seperti berbisik.


"Bisa jadi, tapi mungkin ada baiknya juga suatu saat Aku ingin menyatukan Putri Kita berdua hidup dalam satu rumah satu sama lain biar saling membutuhkan dan satu sama lain bisa saling melengkapi, seperti Mama dan Papanya yang sekarang bisa tersenyum bersama bercerita tentang anak-anaknya yang begitu cantik dan pintar dalam segala hal." Victor menatap manik biru di bola mata Catherine.


"Victor banyak ketakutan dalam hidupku, apalagi kini setelah Kita bisa bersama lagi. Takut perpisahan dalam rumah tangga Kita selama ini akan jadi trauma bagi putri-putri Kita terbukti sekarang juga telah menorehkan ketidaksukaan Luzia kepadamu."


"Ada apa denganmu Sayang? Apa yang Kamu takutkan? Semua perlu waktu jangan khawatir sekarang ada Aku di sisimu semua bisa didiskusikan walau keputusan ada pada Kita sebagai orangtua. Aku yakin satu waktu Luzia akan mencium dan memelukku mengakui kalau Aku adalah Papanya dan akan membutuhkannya suatu waktu."


"Aku berharap begitu Victor, cukup kebahagiaan anak-anak Kita dan masa depannya terjamin."


"Satu lagi, kebahagiaan Kita."


Victor mengusap punggung Catherine di dalam selimut. Lalu memeluknya memberinya kehangatan dan kedamaian, banyak yang ingin diungkapkan dalam diam kalau semua akan baik baik saja cukup satu kesalahan dan harus di tebus dengan perpisahan panjang membuat luka dan kecewa.


Selama mereka bersama sama tak pernah melewatkan kebersamaan dalam kemesraan siang ataupun malam dan selalu mengakhiri kebersamaan dengan kepuasan.


"Aku tak ingin kehilangan lagi, walau Aku telah memprediksi pasti ada wanita lain di sisimu yang mendampingi hidupmu selama ini tapi Aku jujur merasa cemburu tapi apa dayaku? Apa Aku juga salah?"

__ADS_1


"Aku menikahi Ayako demi status sosial, tapi kini semua berkembang ada kasih sayang diantara Kami dan Putri Kita, biarkan Ayako Yoshimura ada di sisiku tanpa merubah segalanya Aku masih cukup kuat punya dua perempuan apa Kamu masih bisa merasakan?"


"Victor bukan masalah biologis saja yang harus Kamu pikirkan Aku yakin Kamu masih tangguh dalam memuaskan, tapi bisakah Kamu berlaku adil pada semua istrimu bagaimana membagi waktumu dan menjaga perasaan Kami?" tanya Catherine sambil menelentangkan tubuhnya.


"Aku punya dua perempuan yang sangat mengerti Aku yakin bisa menjalaninya masa lalu dan masa sekarang semua tetap harus berjalan bahkan Aku akan hidup bahagia di antara empat wanita yang menjadi kebanggaanku jangan pinta Aku untuk melepaskan Ayako tetapi jangan pinta juga di antara Kita untuk berpisah kembali Aku tidak akan bisa memilih diantara kalian bagiku kalian adalah belahan jiwaku," ucap Victor melupakan wibawa dan tingginya status sosial juga kemuliaan dari keberhasilannya dalam menjalankan kerajaan bisnis yang di sandang nya kalau di hadapan perempuan.


"Aku harus bisa menekan perasaanku sendiri dan membuat prinsip dalam hidupku saat bersamaku seperti sekarang ini Kamu adalah milikku tapi saat keluar dari rumah Kamu bukan siapa-siapaku," ucap Catherin.


"Kamu bagian dari hidupku ada dua Putriku kini, biarkan Ayako ada di tengah-tengah Kita," Victor menatap Catherin yang masih kelihatan gamang hatinya.


"Apa Aku akan siap menjalani kehidupan seperti itu?"


"Aku akan berada di tengah tengah kalian dan menjadi yang terbaik."


"Victor Aku mencintaimu," bisik Catherin begitu dekat di telinga Victor, "Kenapa Aku bisa bertahan dan begitu mudah memaafkan mungkin karena rasa itu terlalu dalam di hatiku."


"Sayang, malah kalau lagi dekat dengan Ayako Aku selalu memanggil namamu, Aku sadar itu satu kesalahan tapi Ayako mengerti kalau pernah ada kehidupan dan cinta lain dalam hidupku," ucap Victor mengakhiri percakapan mereka dan memulai kegiatan yang sangat menyenangkan malam itu.

__ADS_1


******



__ADS_2