
"Valdes, ikut masuk nanti bersamaku."
"Baik Tuan."
"Apa Catherine pasti ada di dalam kantornya?" Victor menunjuk ke atas yang sebentar lagi sampai.
"Ya, itu pasti. Terlalu banyak orang yang ingin bertemu dengan Nyonya tetapi sebagian orang telah membatalkan karena terlalu lama menunggu Aku yakin Nyonya termasuk pengusaha yang berpengaruh di kota ini," jelas Valdes menurut pengamatannya.
Sejak di dalam lift Valdes terus saja bicara sedang Victor berusaha menenangkan hatinya pertemuan sekian belas tahun berpisah akan terjadi lagi mungkin sebentar lagi, seperti apa entahlah....
Melewati lorong terasa panjang bagi Victor untuk sampai pada kantor yang di maksud hingga pintu besar yang bisa buka dengan sendiri telah terbuka di hadapannya.
Ada sedikit wawancara dengan petugas kemanan di post yang ada di pintu semua identitas di pintanya juga di wajibkan mengisi buku tamu bahkan pertanyaan sudah ada janji sebelumnya semua sudah diatur Valdes dengan rapi kini tinggal mengetuk pintu dan masuk.
Pintu terbuka Victor masuk duluan dibelakangnya Valdes mengiringnya dan pintu tertutup kembali.
Satu sosok berambut hitam ombak dibawah bahu berkacamata dengan pakaian resmi kantor terlihat elegan dibalik mejanya.
Berdiri bangkit dan mempersilahkan duduk di sofa tamu Catherine belum menyadari siapa yang datang di hadapannya.
Baru saat mau salaman Cathy tertegun dan menarik tangannya kembali masih dalam posisi berdiri.
"Victor Harper? Valdes?" suara Catherine terdengar bergetar sambil mundur beberapa langkah.
Valdes hanya diam saja di samping Victor membiarkan Victor yang mengambil peranan di situ.
"Maaf, mungkin kedatangan Kami mengejutkanmu Cathy Aku lagi ada di negara ini urusan bisnis terpikirkan untuk bertemu denganmu, apa kabarmu?" Victor maju beberapa langkah sampai terlihat begitu dekat melihat wajah yang di rindukannya.
Catherine tak menjawab hanya diam seperti bingung apa yang harus di katakan pada pria di hadapannya ini.
Victor semakin mendekat dan ingin memeluknya tapi Catherine menahan dengan menyetop pergerakan Victor dengan kedua tangannya.
"Jangan sentuh Aku! Kenapa kalian bisa dengan mudah masuk ke sini?"
"Cathy, Kamu tahu Aku apa yang sulit bagiku. Yang sulit bagiku melupakanmu, datang ingin meminta maaf padamu ada kesalahan dalam pertikaian Kita selama ini." Victor mempertegas bicaranya.
"Setelah sekian belas tahun baru kali ini Kamu sadar Victor? kemana saja selama ini saat Aku dalam masa buangan terpuruk merindukan Putriku yang nasibnya entah seperti apa? Kamu hukum Aku dan Anakmu sendiri tanpa ampun dengan di pisahkan dariku Ibunya? Jangan-jangan Kamu sudah mengatakan kalau Aku sudah meninggal! Ah ... terlalu Kamu Victor!" Catherine mulai mengembang bola matanya.
Victor diam dalam posisinya.
"Sungguh terlalu Victor!"
Catherine histeris dengan teriakan dan duduk lemas sambil menangis sambil menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya di sofa tamu ruang kantornya.
__ADS_1
Hatinya begitu syok dan kaget luar biasa tanpa kabar berita dan sedikitpun mimpi atau sejenisnya yang mengisyaratkan kehadiran Victor di hadapannya kini.
Victor melihat ke belakang Valdes sudah tidak ada lagi di situ mungkin keluar berjaga di balik pintu.
"Cathy, semua adalah kesalahanku harusnya Aku yang bertanggungjawab atas kejadian ini semua terjadi karena emosi cukup semua merasa tersiksa kini Putri Kita telah dewasa Aku tak kuasa lagi berbohong padanya Aku merendahkan diri di hadapanmu dengan memohon maaf sudi kiranya Kamu memaafkan Aku yang telah banyak salah padamu. Jujur Aku juga tersiksa selama ini," jelas Victor perlahan berjalan mendekat.
"Lalu apa arti semua ini Victor? Aku masih belum paham syukur Putriku masih ada dan kini telah dewasa. Mungkin akan aneh rasanya jika Aku bertemu. Apa yang Kamu inginkan dariku kini?" ucap Catherine sambil mengusap airmata di pipinya.
"Demi buah hati Kita maafkanlah Aku jangan hukum semua kesalahanku terlalu lama biarkan Kezia mengenalmu seperti harapan dan kerinduannya selama ini," jelas Victor.
Victor memeluk Catherine yang masih menangis dengan bersimbah air mata dan diam tak melakukan apa-apa saat Victor memeluknya dengan erat.
Memeluk Cathy adalah kebahagiaan dan dambaan hatinya selama ini, dengan sepenuh perasaannya Victor mencium rambut Cathy berkali kali berharap melonggarkan sesak di dadanya.
"Sepertiku yang selalu merindukanmu Cathy, Aku juga tersiksa apalagi saat melihat Putriku sendiri yang bagai pinang di belah dua percis sepertimu Aku tak berdaya selain datang memohon maaf padamu."
Victor membuka kacamata Catherine lalu mengusap airmata yang membasahi pipinya menyangga wajah itu dengan kedua tangannya dan menatapnya begitu dekat.
"Jangan pikirkan apa-apa untuk saat ini cukup ini sebagai permintaan maafku."
Dengan bergetar Victor mencium bibir itu dan memeluk kembali tubuh yang dirindukannya.
Sesaat semua diam hanya isak tangis Catherine yang masih bersisa.
"Aku tak akan meminta apapun selain Putriku Victor!"
"Cathy, Akan Aku kabulkan tapi jangan ambil Kezia dariku cukup kebebasan bertemu bagi kalian berdua setiap saat."
"Benarkah itu Victor? Ada apa denganmu kenapa semua begitu mudah berubah? Kenapa tak Kamu bawa juga Putriku ke sini?" tanya Catherine dengan bola mata masih mengembang.
"Waktu begitu berharga baginya untuk belajar banyak hal karena akan Aku persiapkan sebagai pewaris di kerajaan bisnisku," jawab Victor sambil menatap raut muka Catherine yang kelihatan masih begitu cantik.
"Victor, apa ada tujuan lain kedatanganmu ke sini?" Catherine sedikit menggeser duduknya merenggang dari Victor.
"Selain ingin meminta maaf Aku ingin bertanya padamu bagaimana perasaanmu setelah sekian tahun Kita berpisah? Karena jujur Aku masih memikirkan mu menjadi beban perasaan yang begitu menggangguku di setiap waktu, Aku merindukanmu."
Victor berusaha mendekat kembali dan meraih jari jemari Catherine lalu menciumnya.
"Apa Aku harus mempercayaimu Tuan Victor yang mulia?" ucap Catherine seperti menyindir.
"Tak mengharuskan Kamu percaya karena Aku akan membuktikannya kalau Aku serius datang karena panggilan hati yang merindukanmu."
"Jangan ganggu ketenangan ku, pulanglah Aku sudah memaafkan mu!"
__ADS_1
"Tidak Cathy, Aku belum melihat kalau Kamu benar memaafkan ku."
"Baik Tuan Victor kalau semua sudah di sampaikan boleh Aku meneruskan kerjaku?" Catherine berniat tak perduli.
"Tak bisakah hari ini tidak bekerja dan apa akan ada undangan ke tempat tinggal mu?"
Catherine membuang mukanya. Masih saja Victor begitu romantis dan memukau.
"Baiklah Aku undang ke tempat tinggal ku sebagai penghargaan atas usahamu yang telah begitu jauh datang ke sini," hibur Catherine betapa tidak bisa menolak pemaksaan dan keinginan juga penawaran sang flamboyan di hadapannya itu.
Selain biar tidak bertele-tele biar masalahnya cepat selesai.
"Terimakasih Cathy, biarkan Aku tetap ada di sini karena tidak ada alasan lain bagiku untuk keluar kecuali pulang bersamamu dan melihat apa kejutan itu."
"Aku mengundangmu nanti malam masih ada yang ingin Aku sampaikan, boleh Aku meneruskan kerjaku?"
"Tidak, Aku ingin bersamamu siang ini juga cancel semua janjimu dengan siapapun kalau itu di rasa akan merugikan mu Aku akan membayarnya berapapun kamu minta! Aku tidak mau menunggu sampai malam!"
"Kesombongan yang tak pernah hilang dari Dirimu Victor!"
"Apa Kamu tak mengerti perasaanku Cathy? Haruskah Aku lebih sombong lagi setelah hatiku begitu sombong bisa menatap wajahmu kembali?"
"Seperti biasa Mungkin Aku tak bisa menolakmu Victor."
Suasana hening Catherine menelepon asisten pribadi nya membatalkan semua pertemuan dengan alasan yang tidak bisa di mengerti.
Victor mematikan ponsel nya setelah sebelumnya menelepon Valdes yang berada di luar.
Mereka keluar bersamaan diiringi Valdes dan pengawal pribadi Victor yang naik mobil berbeda juga tujuan yang berbeda pula.
Valdes menuju ke hotel kembali dan Victor bersama Catherine ke arah di mana selama ini Catherine tinggal.
"Aku begitu tak sabar bagaimana rupa Putriku setelah kini dewasa Victor," ucap Catherine sambil menyetir fokus pada jalan yang akan di lewatinya.
"Nanti Aku perlihatkan sesampainya di tempat tinggal mu," jawab Victor sambil tangannya mengusap tangan Catherine di atas stir mobil.
Catherine diam Victor selalu datang dengan segala kejutannya, ada debaran aneh dalam hatinya setelah sekian lama tak bersentuhan secara pribadi dengan lawan jenis.
Mobil belok ke arah jalan lengang yang di penuhi rindang tumbuhan pinus di kiri kanan jalan dan belok lagi seperti memasuki kawasan perumahan dan mobil berhenti di sebuah rumah cukup besar dan mewah. Catherine memijit tombol remote control pintu terbuka.
"Mari masuk inilah tempat di mana Aku menikmati hidup dalam kesepian!"
******
__ADS_1