
"Carilah gadis baik-baik Nak, begitu banyak gadis yang bisa Kamu pilih di manapun dari kebangsaan apapun dari keturunan manapun yang sesuai dengan kriteriamu, menikahlah supaya hatimu tenang bukan malah ingin pergi meninggalkan Ibumu meninggalkan perusahaan yang Bapakmu wariskan ini apa yang Kamu cari dalam hidup ini Nak?" ucap Tarra Wells Ibunya Leonard Pablo saat Anaknya meminta izin mau pergi entah ke mana.
"Aku ingin memuaskan hatiku sebelum Aku meneruskan bisnis ini, sebelum Aku menetap di suatu tempat menetap di suatu daerah atau mungkin di sini nantinya dan meneruskan masa depanku untuk itu izinkan Aku untuk pergi walau Aku juga tidak tahu akan pergi ke mana mungkin berpetualang mencari arti dari kehidupan ini," jawab Leon merasa kalau Dirinya harus menemukan di mana seorang Kezia Harper berada walau cuma berbekal hati dan keyakinannya Kezia begitu membuat hati Leon penasaran semua kata-katanya selalu menganggu konsentrasi hari-harinya, mencari walau ke ujung dunia teman curahan perasaan teman di kala sepi dan teman di tiap sendirinya.
"Ibumu akan bersedih Nak, kemana Akan pergi tentukan arah tujuanmu biar Ibu bisa tetap memantau mu dari jauh jangan pergi tanpa tujuan itu tidak baik." Tarra Wells tak bosan mengingatkan berharap bisa merubah kerasnya keinginan putranya itu.
"Ibu, Aku janji akan berkirim kabar saat berada di mana dan sampai di mana setiap hari kepada Ibu tetapi ada hal yang juga selalu mengganggu hari-hariku Aku ingin pernyataan dengan sejelas-jelasnya dari Ibu tentang kematian Papaku itu karena seorang anak sejati akan menemukan dan harus menemukan fakta dengan sejelas-jelasnya bagaimana kematian Papanya." Selalu dan selalu itu pertanyaan Leon dan pasti jawaban Ibunya itu juga
"Anakku, biarlah itu jadi kisah masa lalu karena kematian Papamu adalah takdir yang sudah di gariskan Sang Penguasa Alam, seorang anak tidak harus melanjutkan jalan cerita kelam masa lalu orangtuanya tapi harus meneruskan kesuksesan dan mengambil suri teladan baik dari orangtuanya." Tak bosan bosannya Tarra Wells mengingatkan kebaikan bagi Anaknya itu.
Bagi Tarra tak guna menciptakan rasa dendam pada hati putranya karena itu baru asumsi bukan fakta yang bisa di lihat sejelas jelasnya kalau suaminya di ninja atau meninggal karena ada konfirasi, lalu tuduhan dari pihak keluarganya menjurus pada seseorang dengan latar belakang ada kisah diantara keduanya.
Cukup sampai di sini sampai suaminya saja semua hanya di pantas pantas saja yang fakta sebenarnya susah di buktikan
"Tidak Ibu, Aku sudah berjanji sejak kecil kalau Aku dewasa Aku harus menemukan fakta yang sebenarnya dan yang seterang terangnya bagaimana kematian Papaku," jawab Leon yang kelihatan tetap mantap dengan keinginannya.
"Berulangkali Ibu katakan kalau Papamu meninggal karena sakit yang diawali kecelakaan sudah seperti itu memang kenyataannya.
Tarra tahu putranya sangat keras kepala dan berprinsip sulit di tentang sama kayak Papanya semasa masih hidup.
"Berarti cerita kakek waktu itu bohong belaka?" tanya Leon lagi.
"Kakek sejak dulu memang tidak sepaham sama Ibu jadi Kamu bisa menilai dan memastikan semua ucapan Ibu ucapan Kakek akan bertentangan hanya pesan Ibu berdamai lah dengan apapun yang terjadi di masa lalu dengan yang menimpa orang tuamu karena kalau dijadikan sakit mungkin sakitnya seorang Istri tidak akan terobati dengan kehilangan suaminya tetapi Ibu ikhlas itu jalan nasib yang harus Kita terima," panjang ucapan Tarra membuat Leon sejenak berpikir mencerna ucapan Ibunya.
__ADS_1
"Jadi Papa meninggal bukan karena di bunuh?"
"Papamu meninggal karena kecelakaan, sakit lalu meninggalkan Kita semua titik."
"Tapi kenapa harus ada dua versi antara keterangan Ibu sama Kakek?"
"Karena Kakekmu berjiwa bisnis, semangat pebisnis memang harus seperti itu yakin dengan dirinya, pendapatnya juga selalu menemukan jalan," Tarra semakin takut salah saja kalau jawabannya tidak terkonsep malah menimbulkan kebingungan bagi putranya.
Selain bisnis dan kebenaran haruskah Kita mengesampingkan
N dengan pendapatnya?
Entahlah karena Ibu bukan pebisnis hanya meneruskan Bisnis Papamu sampai Kamu dewasa dan bisa memegang kendali perusahaan ini."
"Baiklah kalau Ibu tidak mau jujur Aku hargai keputusan Ibu apapun itu tetapi Aku telah mengantongi beberapa fakta bahwa saat dulu Papa berbisnis siapa saja relasi, yang pro dan kontra Aku cari bertanya untuk beberapa sumber yang bisa dipercaya yang mungkin sekarang masih berkaitan dengan bisnis Papa yang ada atau kepada siapa saja yang mungkin bisa memberikan jawaban."
Leon mengangkat kedua barunya merasa tak masuk semua jawaban yang ibunya ucapkan dirinya bersikeras ingin mencari fakta burung merpatinya telah berdamai menerima keadaan kalau bapaknya sudah meninggal dengan cara kematian seperti apa tetapi baginya sesuatu hal yang menarik seandainya dirinya tahu cerita yang sebenarnya.
Leon tetap memasukkan pakaian ke kopernya dalam pandangan sedih Ibunya.
"Nak, apa ada perkiraan berapa lama Kamu Akan pergi tinggalkan Ibu?"
"Entahlah Bu, sampai Aku merasa ingin pulang. Ibu jangan sedih karena suatu hari Aku akan pulang dan berada di hadapan Ibu kembali."
__ADS_1
"Apa sudah ada seorang gadis di sini yang Kamu beri janji untuk masa depanmu Nak?
"Belum Bu, karena gadis itu haya ada di dunia maya yang menarik hatiku."
"Akankah bisa menemuinya
Nak?"
"Entahlah Bu, tapi Aku akan berusaha menembus dunia maya dan membawanya ke dunia nyata." Leon yakin dengan keinginan dan sekantung ransel keyakinannya.
"Hati hati Nak bawa hati bersih ke manapun Kamu melangkah karena modal hidup yang sebenarnya adalah kejujuran."
Leon memeluk Ibunya mengecup kedua pipinya dan mengusap airmata dari wanita yang melahirkannya itu, tapi Leon tak bisa menolak keinginannya sendiri untuk berpetualang entah ke mana.
Walau di rasa berat tapi semua harus di jalani.
"Aku akan merindukan Ibu dan Aku ingin melanjutkan hidup di sini tetapi ada rasa penasaran hatiku pada seseorang yang membuat hatiku tidak tenang entah di mana dan entah seperti apa."
"Kamu persis Papamu sulit di tentang kalau sudah berkeinginan Ibu hanya mendokan kamu menemukan apa yang di cari dan secepatnya pulang ke pangkuan Ibu."
"Tentu saja Bu."
Leonard akhirnya pergi juga dengan bawa satu tas lusuh di pundaknya dan satu koper kecil pakaian ganti dengan diantar tatapan Ibunya dan tetesan air mata.
__ADS_1
*******
Sambil nunggu up PUTRI PEWARIS SANG MAFIA Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, Noda Kelam Masa Lalu. By Enis Sudrajat