
"Bibi, Mama ke mana pergi lagi sama Tuan Victor ya? katanya mau melihat Aku latihan ballet tapi mana janji mereka? semua hanya omong kosong! Mereka berdua hanya punya satu kepentingan dalam hidupnya yaitu kebersamaan mereka," ucap Luzia datang-datang langsung nyerocos sambil melempar tubuhnya di sofa ruang keluarga pada Bibi pengasuh yang juga orang kepercayaan keluarganya.
"Ya ampun Nona Luzia nggak tahu? kalau tadi Nyonya ke dokter mungkin juga langsung ke rumah sakit. Memang Nona Luzia tidak dikasih tahu atau ditelepon sama Mama juga Papamu? Bibi juga sebenarnya lagi menunggu kabar kok perginya lama banget jangan-jangan Nyonya langsung dirawat karena dari pagi Dia mengeluh sakit kepala dan badannya lemas," sahut Bibi sambil menatap wajah Luzia yang sepertinya lagi kesal.
"Mama sakit? sakit apa?"
"Sakit kepala sudah beberapa hari ini tambah kurang masuk makanan jadi badannya lemas kata Tuan Victor," jawab Bibi.
"Mama aneh deh, biasanya tidak begitu selalu semangat dam memberi semangat pada orang lain mungkin karena ada Tuan Victor jadi manjanya keluar," gerutu Luzia.
"Nona masih panggil Tuan Victor kenapa susahnya panggil Papa? Juga kelihatan tidak senang dengan kehadirannya? Mungkin itu yang jadi pikiran Nyonya Cathy. Bibi begitu senang melihat Nyonya Catherine bahagia harusnya Nona juga bahagia ada seorang Papa yang begitu baik, begitu sayang dan begitu perhatian begitu memanjakan terlepas dari maslah mereka dulu, mungkin kini mereka telah menyadari kesalahannya dan cinta juga yang menyatukan mereka berdua dan jangan lupa kehadiran Nona juga Kakak Nona yang di sana adalah buah cinta mereka." Panjang juga jawaban Bibi semua bagai sindiran bagi Luzia.
Deg! Luzia merasa kalau Bibi bicara begitu apa adanya tapi terasa menyentuh perasaan terdalamnya. Hatinya mengakui kalau selama ini hanya Dirinya yang memperlihatkan tidak senang juga tidak suka dengan kehadiran Tuan Victor Papanya.
Haruskah Dirinya mulai menerima? Sampai membuat Mamanya sakit mungkin dari pikiran itu, tapi dari mana harus memulai? terasa canggung dan kaku di rasakan Luzia.
Tuan Victor atau Papanya bagi Luzia adalah seorang yang asing di dalam kehidupannya hadir secara tiba-tiba hanya mendengar dari cerita Mamanya selama ini walau daam ceritanya hanya hal baik yang di sampaikan Mamanya. Papanya itu seorang yang berpengaruh di dunia bisnis dan seorang yang baik tetapi Luzia belum pernah merasakan usapan atau belaian tangan sayang seorang Papa sampai usianya saat ini wajar tidak begitu antusias dan begitu ingin tahu yang Luzia tahu hanya ada seorang Mama di dalam hidupnya.
Tapi kini saat Mamanya bahagia haruskah Dirinya tidak ikut bahagia? Sedang dari kebahagiaan mereka Dirinya lahir dan ada di dunia ini.
Perasaan dan pemikiran dewasa Luzia mungkin hadir saat ini menyadari kalau Dirinya harus mulai bahagia.
"Telpon Mama Bi, di dokter mana atau di rumah sakit mana Mama berobat? Aku harus menyusulnya," ucap Luzia seperti biasa tidak sabar.
Bibi menelepon karena dari tadi Nyonya sama Tuan Victor belum juga pulang pasti ada apa-apa kalau mau langsung jalan tak mungkin karen Nyonya sejak pagi mengeluh sakit kepala.
__ADS_1
"Ya Bi ada apa?" suara lemah Catherine di ujung sambungan telepon.
"Nyonya ada di mana? ini Nona Luzia menanyakan tadi Bibi sampaikan kalau Nyonya itu berobat tapi tidak tahu berobatnya ke mana."
"Sampaikan kalau Aku di rawat Bi, rekomendasi dokter yang memeriksaku Aku kecapekan, dengan sangat menyesal Aku tidak jadi mengajak Putriku ke undangan makan malam relasiku nanti malam, Aku harus istirahat dulu beberapa hari Bi," ucap Catherine lalu memberitahukan kalau Dirinya di rawat di salah satu rumah sakit elite di kota itu walau tadi menolak merasa dirinya masih bisa beraktivitas hanya perlu istirahat saja.
"Aku langsung ke sana saja Bi biar temanku Brandon yang antar." Luzia langsung mengambil langkah setelah diberitahukan di mana tempat Nyonya Catherine dirawat.
Luzia merasa Dirinya bersalah mungkin dengan bersikap baik pada Papanya akan membuat Mamanya lekas sehat.
Di kamar rumahsakit Victor yang tadi menyarankan kalau Catherine lebih baik dirawat saja walaupun pada awalnya banyak bertentangan karena Catherine menolak.
"Apa salahnya Kamu istirahat di sini Sayang? Di sini nyaman ada Aku yang menemani, Kamu itu percis dulu sehabis Kita bulan madu langsung sakit. Apa Aku terlalu semangat dan Kamu tak kuat mengimbanginya hem?" Victor menggenggam jemari Catherine dan sesekali menciumnya sambil mengajak Catherine tersenyum.
"Ah, Kamu ada-ada aja Victor Aku hanya lelah kerja kalau melayani mu Aku merasa senang bisa memberimu kepuasan, Aku malah cemas ada di sini mungkin keberadaan ku di sini membuat cemas Putriku karena Aku jarang sakit apalagi sampai dirawat seperti ini."
"Aku akan baik-baik saja Victor, mungkin tidak baik bagimu Aku ada di sini karena Kamu tak bisa memeluk Aku semalaman, Aku juga akan merindukan saat itu." Catherine dengan senyumnya menggoda Victor.
"Ah Cathy, kan hanya semalam besok Masih biasa meneruskan bulan madu kedua Kita." Victor membelai muka Catherine dan menciumnya berkali kali seakan tak bosan pertemuan mereka masih seperti mimpi saja.
"Aku harus banyak-banyak berterima kasih kepada Valdes yang telah memberiku saran untuk bertemu denganmu ternyata ada kejutan istimewa dalam hidupku tentang Putriku Luzia yang tidak ada dalam bayanganku selama ini dan kebahagiaan yang ku rasakan saat ini bersamamu."
"Victor bawa kembali Putri Putriku ke sini karena itu kebahagiaanku setelah kehadiranmu di hidupku." Lirih ucapan Catherine merasa tak sanggup berpisah dengan Putri bungsunya seandainya Luzia mau ikut sama Papanya walau itu hanya sementara.
"Tentu saja Cathy, Putri Kita sudah besar semuanya sudah bisa menilai pada Kita orangtuanya."
__ADS_1
"Victor cobalah telepon Luzia Aku mau bicara."
"Baik Sayang."
Victor dengan menggenggam jemari Catherine dan di simpan di pipinya mencoba mencari nomor Putrinya. Tapi baru saja menanyakan pada Catherine pintu ada yang mengetuknya langsung handle pintu berputar dan terbuka.
Muka Luzia muncul dengan senyuman manisnya lalu menghambur ke tempat tidur Mamanya.
"Mama sakit karena Aku?" suara parau Luzia sambil memeluk Mamanya.
"Mama hanya kecapekan Sayang kata dokter, tadinya Mama nggak mau di rawat tapi Papamu menyarankan istirahat barang semalam di sini." Catherine membelai kepala Luzia.
"Maafin Luzi Mam kalau nggak ada Mama mungkin Luzi tak bisa apa-apa, Luzi banyak salah sama Mama selama ini, bikin capek Mama dan satu lagi Luzi tak ikut bahagia saat Mama bahagia."
"Mama mengerti perasaanmu Sayang, Mama sabar menanti hatimu bisa menerima dan memaafkan Papamu," ucap Catherine dengan berlinang air mata.
Luzia bangkit dan menghampiri Victor yang sejak datang Luzia bergeser berdiri sedikit menjauh.
Luzia sedikit bergumam dan memeluk Victor.
"Papa ..."
"Luzia Putriku."
*******
__ADS_1