Putri Pewaris Sang Mafia

Putri Pewaris Sang Mafia
Sikap yang masih sama


__ADS_3

"Luzia Mama mau bicara hal penting bersamamu jangan terus menghindar karena semua harus Kita selesaikan apapun pendapatmu Mama dan Papa akan menghargainya." Catherine mulai bicara.


"Aku mau ke jalan sama teman dulu ada banyak janji, bukankah Mama lebih senang Aku tidak ada di rumah biar bisa berdua dengan Tuan Victor?" jawab Luzia dengan datar.


"Luzia, bisa tidak mendengar Mama kali ini saja?" Catherine sedikit tegas melihat sikap yang diperlihatkan manusia sejak awal begitu cuek kecut dan tak perduli.


"Mama mau bicara apa. Bicara saja!" Luzia menjawab tanpa melihat pada Mamanya juga Papanya Victor yang sudah duduk pada tempatnya.


"Luzia, kedatangan Papamu ke sini coba lihat dari kepentingannya dari niatnya pikirkan dengan hati yang tenang dengan hati yang tidak emosi dengan hati yang tidak ada kebencian walau bagaimanapun Dia Papamu yang menjadikan Kamu itu ada terlepas dari kesalahan yang pernah dilakukannya pada Mama kepadamu kepada Kakakmu juga kepada pernikahan Mama, tapi semua bukan untuk diperpanjang toh di situ juga ada kesalahan Mama." Catherine berusaha memberi pengertian.


"Lalu Aku harus bagaimana? Bisa akrab lendotan dan langsung manja? Tidak, Tuan Victor bagiku adalah orang asing yang yang datang dalam kehidupanku. Aku mungkin tidak membencinya hanya perlu waktu untuk bisa berdamai dengan kesalahannya selama ini." Luzia dengan jelas bicara tentang isi hatinya.


"Mama tidak menuntut seperti itu begitu juga Papamu tetapi minimal Kamu bisa menerima mengakui kalau ini Papamu minimal dari sikap baik dan penerimaan mu ada banyak yang Papamu tawarkan untukmu untuk masa depanmu Kenapa tidak Kamu mengambilnya atau kalau mau Papamu banyak memiliki fasilitas Kamu bisa memanfaatkannya sebagai Putrinya Kamu berhak atas segala fasilitas yang Dia miliki dan bila memungkinkan Mama ingin Kamu pergi bersamanya untuk menemui Kakakmu biar kalian bisa mendekatkan diri lebih jauh mengenalnya kalau itu saudara kandungmu." Catherine tak bosan-bosannya membujuk merayu dan berusaha memahami keinginan Putrinya itu.


"Kenapa bukan Mama yang pergi bukankah Mama yang duluan senang saat Tuan Victor datang?" jawab Kezia masih dengan nada ketusnya, sedikit melirik pada Victor yang tidak mau mengambil peranan karena ini bukan rumahnya, setidaknya itu adalah pengakuannya kalau di sini jelas Catherine yang seharusnya berperan mungkin untuk saat ini.


"Luzia tolong jangan panggil Tuan Victor lagi hargai Papamu panggil Dia layaknya hubungan darah diantara kalian panggil Papa mulai sekarang!" tegas Catherine dengan nada sedikit tinggi.


"Aku belum mau menggantungkan hidup dan menerima fasilitasnya biarkan Aku dengan jalanku kalau Mama tidak suka Aku yang akan keluar dari rumah ini! Biar media di negaranya tahu kalau Tuan Victor yang mulia dan tanpa cela ternyata telah menelantarkan Anak juga istrinya selama belasan tahun!" ancam Luzia sambil menatap muka Mamanya dan Papanya yang sejak tadi diam menyikapi pertentangan Anak dan Ibu.


"Ya ampun Luzia bukan itu yang mama inginkan cobalah mengerti sedikit keinginan Mama Kamu itu kan mau lulus SMA ingin meneruskan sekolah dan kuliah ingin menjadi model ingin menjadi desainer Papamu bisa memfasilitasi apalagi di negaranya adalah kota mode yang paling terkenal di dunia tidak tertarik kah Kamu?" Suara Catherine sedikit melembut.

__ADS_1


"Kenapa Mama sudah tak bisa membiayai ku? baiklah Aku akan kerja kalau begitu!"


"Masalahnya bukan itu tetapi yang lebih berkewajiban adalah Papamu selain itu Mama ingin Kamu kenal dekat akrab dengan Kakakmu ada banyak pelajaran yang bisa Kamu beri dan juga Kakak mu beri sehingga bisa saling menyempurnakan kekurangan dan kelebihan masing masing cobalah bersikap lebih lembut dan lunak pada Papamu jangan sampai Papamu sudah pulang Kamu merasa menyesal telah bersikap tidak baik," ucap Catherine merasa belum bisa menemukan cara untuk meluluhkan hati Putrinya ini.


"Kenapa sejak dulu Kami di pisahkan? Apa salah Kami anak-anak Mama sama Papa sehingga merasa jadi orang yang tak punya sandaran dan orangtua lengkap? Kalian hanya mementingkan Diri sendiri dan sama-sama egois hanya mengikuti emosi saja tanpa melihat dan merasakan perasaan Anak-anak kalian! Dimana kalian saat Kami Anak-anak mu begitu membutuhkan kehadiran kalian?


Victor hanya diam sambil mengangguk angguk mungkin membenarkan ucapan Putri bungsunya tak sedikitpun melakukan pembelaan atau menyangkalnya dengan alasan berusaha menelan semua ucapan Luzia.


"Sayang, Mama hanya ingin Kamu menerima Papamu sebagaimana Mama menerimanya, itu saja dulu." Catherine menutup mikanya dengan kedua telapak tangannya hatinya sedih, sementara Dirinya bahagia dengan kehadiran Victor kembali sungguh semua di luar dugaan Catherine juga Victor soal sikap Luzia.


"Luzia, Papa tidak memaksamu lakukan apa yang Kamu inginkan tapi Papa sangat menunggu hatimu bisa dengan lapang menerima kembali Papa di sini. Papa sangat menghargai semua pendapatmu apa yang ada dalam perasaanmu Papa terima semua itu tapi jangan sakiti Mamamu dengan membencinya juga seperti bencinya Kamu pada Papa, Papa mau mendirikan perusahaan di negara ini Papa ingin Kamu yang akan mengendalikannya suatu saat nanti."


Ada tetes air mata dari bola mata Catherine membuat Luzia diam.


"Sayang, Kenapa Mama menerima Papamu kembali semata-mata untuk kalian selain rasa cinta di antara Kami masih tetap ada kalau dipikir lebih sakit dan kecewa mungkin Mama yang lebih sakit tapi untuk apa kalau memang orang sudah berniat baik dan meminta maaf? tolong pikirkan kembali kata-kata Mama ubahlah sikapmu pada Papamu. Papamu begitu ingin bicara ngobrol sama Kamu, mengantarmu kemana Kamu ingin pergi Papamu betapa ingin Kita bertiga bisa makan di luar, Kita bisa jalan bersama tetapi melihat sikapmu seperti itu semua jadi serba salah."


"Maaf, Aku mau nonton sama temanku, entah kenapa akhir akhir ini merasa tidak betah ada di rumah."


Luzia bangkit menyudahi makan malamnya dan mencium pipi Mamanya melewati Victor yang duduk di sebelah Mamanya.


Catherine hanya diam melihat punggung Putri kesayangannya keluar tanpa berkata apapun lagi.

__ADS_1


"Bagaimana pergaulannya Sayang apa begitu bebas Aku jadi cemas karena semakin tidak betah di rumah kelihatannya Aku semakin merasa bersalah Cathy."


"Luzia sebenarnya Anak rumahan memang banyak kegiatan tetapi Aku selalu mengontrolnya dengan siapa Dia jalan atau latihan atau hanya nonton sama temannya di malam minggu."


"Makanlah Victor, Aku jadi tidak selera lagi makan Aku merasa nggak enak badan mungkin terlalu capek dan banyak pikiran," ucap Catherine sambil mengurut keningnya.


"Sayang maafkan Aku, semua karena Aku percis saat dulu Kita menjalani bulan madu Kamu jatuh sakit sampai Aku di peringati sama dokter."


"Ah, Kamu masih saja ingat Victor, tapi Aku juga tak bosan selalu saja minta yang satu itu sampai akhirnya Aku di nyatakan hamil baru mengurangi kegiatan itu." Catherine dengan tersenyum pindah duduknya ke pangkuan Victor.


Mereka berciuman mengenang masa masa indah dulu saat mereka mulai bersatu.


"Ke dokter Aku antar ya? Jelas Kamu kecapekan siang dan malam selalu harus menuruti keinginanku yang tak ada puasanya."


"Aku hanya ingin istirahat dikamar saja minum obat sakit kepala dan ada pelukan, ciuman juga usapan lembut mu Victor."


Victor tersenyum dan mengangguk lalu bangkit meraih pinggang Catherine berjalan berdua menuju kamar utama.


*******


__ADS_1


__ADS_2