Putri Pewaris Sang Mafia

Putri Pewaris Sang Mafia
Di kota ini


__ADS_3

"Leon, Kita sudah sampai di sini lihat begitu luas kota ini metropolitan layaknya kota ini mau ngapain Kita di sini mulai mencari kekasihmu di mulai dari mana heh? kayaknya seperti mencari jarum di dalam lautan jerami saja." Toddy meragukan semua usaha sahabatnya Leon dan dirinya.


"Mau ngapa-ngapain juga boleh mau mulai cari kerja, mau tiduran saja atau jalan-jalan ke mana saja juga boleh tinggal pilih maumu apa?" jawab Leon dengan santainya.


"Kita akan bosan lama lama di sini kalau nggak ada kegiatan masa setiap hari akan mencari menyisir semua rumah bertanya apa di situ ada kekasihku?" ucap Toddy lagi tetap merasa pesimis.


"Lo takut nggak makan ikut Aku ke sini? Kalau takut nggak makan mulailah cari kerja jadi apa saja sebagai pelayan restoran, pekerja bangunan atau juga jadi sopir angkutan boleh juga. Satu yang tak mau Gue dengar keluhan!" tutur Leon sambil tersenyum.


"Baik Tuan Leonard Pablo yang mulia, mulai hari ini tidak akan ada keluhan Gue siap dengan segala perintah."


"Anggaplah Kita di sini sedang mencari kerja, Mulai besok Aku akan melamar menjadi koki restoran lumayan kalau di terima bisa makan dengan enak setiap waktu. Kemampuanku begitu banyak saatnya kini Kita manfaatkan dengan baik dan saatnya Kita sembunyikan identitas sebenarnya."


"Kedengarannya menyenangkan Leon tapi apa kemampuanku?"


"Hahahaha ... kemampuanmu meragukan setiap usahaku, kini Aku sudah berada di kota ini lihat saja semuanya akan lebih mudah, tidurlah biar besok bisa bangun dan melihat keindahan kota ini." Leon menjawab tanpa melihat wajah sahabatnya Toddy yang tiduran di tempat tidur.


"Baiklah Aku akan berhenti mengeluh dan mulai percaya akan kemampuanmu." jawab Toddy sambil membuka ponselnya.


Leon membuka satu lembar peta kota itu entah darimana di dapatkannya meneliti setiap detilnya dan menerapkannya di dinding ruangan itu, lalu mencari titik di mana Dirinya berada saat ini.


Toddy tak mengerti sama sekali apalagi harus mencari seseorang yang tidak jelas di mana keberadaannya.


Satu koper hanya pernak pernik yang menurut Toddy tak ada gunanya kecuali laptop dan senjata api juga senjata tajam itu mutlak harus punya sebagai senjata diri dalam keadaan darurat.


Leon membuka laptopnya mencari peta kota di mana tinggalnya kini di mesin pencarian semua terlihat mudah baginya.

__ADS_1


"Kita berada di pinggiran kota ini tapi cukuplah untuk tinggal dan mencari makan juga kalau ingin menikmati suasana kehidupan malam kota ini tidak terlalu jauh," jelas Leon seperti bicara sendiri.


Toddy terlihat sudah tidur karena kecapekan setelah perjalanan dan satu tempat tinggal sudah di booking sejak mereka berangkat entah seperti apa semuanya Leon begitu mudah melakukannya.


Datang ke bandara langsung menyebutkan alamat pada taksi yang mengantarnya Toddy hanya melongo saja tak bisa berkomentar apa-apa.


Leon membuka jendela hamparan kota di hadapannya seperti ingin memeluk kota ini sampai ke tiap pelosoknya hingga bisa menemukan kekasih hatinya.


Yakin dengan cintanya yang akan berpadu bertemu walau sesulit apapun pasti selalu ada jalan bagaimanapun caranya.


Senja di kota ini meninabobokan Toddy yang tidur setelah makan, Leon memandang sahabatnya sambil tersenyum.


'Kezia, dalam hamparan malam Kota ini, dalam hening suasana kukatakan selamat malam padamu. Rasanya semakin dekat Kita berada semakin tak menentu rasa hatiku. Andai ruang dan waktu bukan penghalang lagi bagi Kita Aku ingin segera menggenggam cinta itu dan tak melepaskannya lagi.'


'Hai Leon, semua dambaanmu begitu terasa sakit di dadaku, Andai Kamu bisa terbang datang membawa obat gelisah ingin Aku padukan rasa ini hingga jadi cinta yang sempurna.'




Sampai di situ chatting berhenti tak di sangka malam ini adalah satu keberanian dari Leon mengirimkan poto Dirinya terlebih dulu dan bersambut Kezia juga mengirimkan poto Dirinya.


Berdua sama sama tertegun sulit membayangkan hati mereka seperti apa hanya satu keinginan melihat walau dalam layar sosok yang selalu ada dalam mimpi-mimpi mereka kini telah tergambar di hadapannya.


Leon langsung men-save dan melakukan pencarian di mesin pencarian identik dengan salah satu sekolah, perguruan tinggi atau kantor juga biro apa saja yang mungkin Kezia pernah berada di situ tapi Leon menarik nafasnya karena pencarian tetap nihil.

__ADS_1


Tak salah bagai bidadari bermandi cahaya seperti ada dalam bayanganku sama ini, Kezia, satu kesepakatan bersama di antara Kita "tidak ada kebohongan" berarti gambar yang kita kirim adalah bukti diri Kita.


Leon menatap wajah cantik yang terus di pajang jadi profil laptopnya begitu juga Kezia melakukan hal sama.


Satu langkah lagi minta nomor ponselnya semua terdeteksi sudah tapi semua belum sampai ke arah sana, biarlah waktu yang akan menentukan dan Kezia yang akan menuntunnya.


Banyak yang harus di jaga diantara mereka termasuk privasi dan perasaan masing-masing terutama Leon pada Kezia.


Malam semakin larut menenggelamkan rasa dalam hati Leon, membayang dalam cipta angan dan khayalnya menjadikan kata indah dalam bait puisi yang terangkum.


'Lukisan senja hari ini bagai pijar yang semakin nyala di hatiku menyingkap hitam jelaga yang selama ini menutupi kelam hatiku, Terimakasih rembulanku telah memberiku satu lukisan nyata nan indah.'


'Ah, Matahariku! Sudah kuduga sejak kulihat indah dalam hangatnya sinar yang Kau pancarkan di sela embun pagi yang berkilau menyejukkan mata hatiku betapa hangat dada ini dalam pesonamu yang begitu menggoda, sungguh hadirmu seperti khayal dan angan ku, begitu ingin dekat raga ini bersamamu.'


'Hadirmu begitu tiada umpama yang dapat mengungkapkan kalau cintaku begitu tak terlukiskan wahai rembulan pujaan, bagai bait yang terindah dalam tulisan kata sang pujangga cinta. Jangan biarkan Aku dalam damba hadirlah dalam nyata karena setiap pancaran sinarmu selalu ada kelip kebahagiaan bagi bintang bintang juga bagi seisi alam.'


'Betapa ingin Aku bersandar pada hangatnya sinarmu juga ingin tenggelam dalam pesona ragamu yang menggoda, tak bisa bayangkan jika itu bukan mimpi tapi jadi seorang pangeran yang datang dengan membawa manis madu cinta.'


'Telah Aku telusuri tiap inchi lukisan terindah dalam benderang malam yang menghangatkan hatiku. Aku hanya berharap Matahari bisa datang memiliki jiwa ragaku yang pasrah dalam dahaga cinta yang menanti.'


'Seperti janjiku yang akan terbit di setiap pagi setia pada peredaran, betapa tak sabar Matahari ingin segera. bersanding dalam debaran disaat Kita bertatap tanpa batas, bisa bahagia menatap indah wajahmu dan lembutnya suaramu bagai angin yang semilir membuat Aku tidur dalam buaian.'


'Tetaplah setia pada janjimu jangan biarkan Aku luruh dalam penantian dan angan yang tak nyata. Tunggu akan ada petunjuk selanjutnya untuk langkahmu menuju kebahagiaan Kita.'


'Tentu saja Rembulan, memandang wajahmu yang bermandi cahaya sangat menggetarkan hati semakin tak kuasa saja dalam dada ini menahan gejolak keinginan untuk menggapai mu.'

__ADS_1


*******



__ADS_2