
"Jangan Victor!"
"Kenapa Sayang? tak merasakan sedikit saja rasa yang bergejolak seperti dalam hatiku begitu ingin melepaskan semua beban yang sekian lama hanya ada dalam hati ini," ucap Victor sambil menatap wajah yang begitu di rindukannya selama ini tak siang ataupun malam hanya Catherine yang membayang di ingatannya.
Kini semua ada di depan matanya, melihatnya menangis dengan sorot marah, kecewa juga kerinduan yang tak pernah terungkap.
Ingin Victor menghapuskan semua itu membuatnya tersenyum kembali dan memberinya kenyamanan juga tuntutan hasrat yang ingin melepaskan kerinduan tanpa batas.
"Aku merasa belum siap, semua bagai khayalan dan mimpi saja bagiku Victor." Catherine membuka pakaian luar dan menyimpannya di cantolan di pojok kamarnya.
"Cathy, Aku tahu hatimu juga mendamba pertemuan ini Aku tahu buatlah semua berjalan apa adanya," jawab Victor sambil berjalan mendekat ke arah Catherine berada.
"Victor, Aku tak mau semua ketahuan sama Putriku karena saat ini waktunya Putriku pulang dari les." Cathy memberi alasan.
"Ah Catherine, kenapa harus banyak alasan? Aku tak suka menunggu Aku menginginkanmu setiap waktu yang Aku lalui hanya keinginan yang baru kali ini Kita bisa bertemu." Victor semakin mendekat, Catherine hanya diam menatap tajam pria yang pernah ada dalam hidupnya.
Victor menarik sebelah tangan Catherine dan menggenggamnya erat menariknya dengan sedikit kasar sehingga tubuh mereka tidak berbatas lagi.
"Putri siapa yang bersamamu itu? Jangan banyak alasan Aku tahu Kamu juga begitu mendamba pertemuan ini." Victor bicara begitu dekat dengan muka Catherine.
Victor tidak memberikan kesempatan untuk menjelaskan mulutnya langsung membungkam mulut Catherine dengan rakusnya. Lalu menariknya ke tempat tidur dan menyergapnya dengan ciuman panas.
Dengan gagah perkasa Victor bangkit mengunci pintu menutup semua gorden dan membuka pakaiannya sendiri di hadapan Catherine yang menutup matanya dengan nafas tersengal.
Menikmati tubuh kekar dan kekuatan yang luar biasa akhirnya keluar juga des**an dari mulut Catherine dan tangannya tak bisa kalau tak membelai dada berotot di atas tubuhnya itu.
Victor seperti telah mempersiapkan pertemuan ini sedang Catherine masih terlihat syok dan akhirnya usapan Catherine di dada Victor membuat senyum Victor mengembang dan semakin memacu hasratnya.
Bergumul dalam sejuta kerinduan kembali menyusuri saat saat dulu mereka menikmati hal serupa, kini serasa menemukan kembali masa yang telah hilang.
__ADS_1
"Cathy Sayang, Aku tak bisa hidup tanpamu ternyata, Aku butuh tubuh Kamu dan cintamu, Kamu beda dengan siapapun Aku tersiksa selamanya tidak tahan Aku merindukan semua yang ada di Dirimu Sayang terlalu lama Aku memendam semua ini." Suara Victor hampir hilang di sela nafasnya yang terputus putus.
Victor menyelesaikan pertarungannya dengan kepuasan, memeluk Cathy yang entah seperti apa perasaannya saat ini bahagia kah?
Setelah sekian lama dalam kesendirian dalam marah dan kecewa juga kebencian yang di ciptakan oleh Victor sendiri kini Victor datang dengan permohonan maafnya juga dengan cinta yang masih menggebu sungguh dilema bagi Catherine saat ini.
Memeluk dan membelai tubuh yang kecapaian dalam balutan satu selimut adalah hal yang tak terkira bagi Victor, menatap wajah cantik yang selalu saja menggetarkan hati dan perasaannya.
"Siapa Putri yang bersamamu itu?" Victor bertanya sambil membelai rambut Cathy yang sebagian Anak rambutnya terlihat basah.
"Astaga! Luzia pasti sudah datang tahu Mamanya ada di rumah mungkin lagi menungguku makan siang, Victor bangun bersihkan dirimu Aku tunggu di meja makan ada kejutan buatmu!" Cathy bangun dan mengenakan kembali semua pakaiannya. Sekilas melirik Victor yang masih kecapaian di tempat tidur lalu membuka pintu langsung keluar.
Kejutan? Kejutan apa yang di maksud Catherine? Victor tersenyum ada banyak rahasia diantara mereka termasuk sikap Catherine saat ini.
Victor turun tangga hanya mengenakan celana panjang saja dengan bertelanjang dada terlihat kotak-kotak dadanya dengan otot yang menyembul keluar tanpa pelindung pakaian.
Victor tertegun memandang ke arah meja makan ada satu sosok perempuan muda dan Catherine sendiri yang masih menyiapkan sajian makan siang di bantu seorang wanita paruh baya.
Victor balik badan naik lagi masuk kamar berpakaian dan keluar setelah terlihat rapi.
Lalu duduk di samping Catherine di hadapannya seorang gadis tersenyum sekilas pada Victor mungkin Cathy telah memberitahukan siapa Dirinya pada gadis itu.
"Sebelum makan Aku perkenalkan kalau ini adalah Putriku Viktor namanya Luzia."
"Hai!" Luzia tersenyum mengangkat sebelah tangannya pada Victor dan Victor manggut sambil tersenyum.
"Luzia ini adalah Papa Victor yang Mama sering ceritakan, Kamu adalah Putrinya yang kedua. Maaf baru kali ini Mama bisa perkenalkan karena sesuatu dan lain hal juga ada Kakakmu Kezia yang juga belum pernah Mama kenalkan, Kamu adalah juga pewaris darah Victor Harper."
Victor langsung tersedak dan menyimpan kembali cangkir minuman yang barusan diminumnya.
__ADS_1
"Apa maksudmu Cathy?" tanya Victor dengan sorot mata tajam memandang Catherine.
"Inilah kejutannya Victor, Luzia adalah Putrimu juga, saat dulu Aku pergi ke negeri ini Aku dalam keadaan hamil muda Aku sadari saat kandungan mulai membesar Aku berniat memusnahkan kenangan terakhir bersamamu tapi kesadaran lain datang menyapaku, Aku berhasil melewati masa-masa sulit dalam kehidupanku saat itu sampai lahir Putriku yang kedua ini darah dagingmu Victor!"
"Cathy? Kenapa tak kasih kabar semua ini kepadaku sejak dulu?"
"Ke mana harus Aku layangkan kabar itu Victor? sedangkan Kamu sendiri menutup komunikasi sama sekali denganku bukankah tak ada selama ini Kamu membuka komunikasi untuk sekedar tahu keadaan Putriku di sana? tidak Victor! itu adalah hukuman juga buatmu seperti Aku yang tak tahu kabar Putriku Kezia sama sekali, tapi Aku selalu bercerita tentang kebaikanmu di hadapan Putriku ini semua telah terbuka kalau Luzia adalah Putrimu juga!" Cathy dengan lugas bicara di hadapan Victor juga putrinya Luzia.
"Ca-the-rine, Lu-zia...."
Victor terbata memanggil nama dua orang di hadapannya terasa dibalikkan dunianya kini. Semua terasa bukan kejutan tapi palu godam yang menghantamnya dengan tiba-tiba.
"Kenapa Mama masih menerima laki-laki seperti ini? Dan bertahan dalam kesendirian selama belasan tahun? sungguh Aku tak mengerti kenapa Mama begitu setia pada laki-laki tak bertanggungjawab seperti ini?" Luzia dengan santainya menunjuk Victor yang katanya tadi di kenalkan sebagi Papanya.
Deg! Victor merasa semua kata-kata Putrinya bagai pisau tajam ke jantungnya.
"Luzia, Mama tidak mengajarkan kejelekan kepadamu seperti apa Papamu itu adalah kenyataannya, pasti ada alasan kenapa Kita berpisah dan baru kali ini bisa bertemu."
"Maaf Tuan Victor, mungkin kehidupanku sudah terbiasa tidak punya Papa seperti juga Kakakku Kezia yang tak pernah tahu di mana dan seperti apa rupanya Aku hanya punya Mama, jadi kedatanganmu ke sini tidak menjadi antusias lagi bagiku, cukup bagiku punya Mama saja dan rumahtangga kalian bukan satu contoh terbaik bagi siapa saja," ucap Luzia sambil bangkit meninggalkan meja makan.
"Luzia! Mama mau kembali duduk!" Catherine memanggil kembali Luzia.
Luzia tak menghiraukan ucapan Mamanya terus saja berlalu dan masuk ke dalam kamarnya.
"Apa yang harus Aku katakan pada Kalian? Semua diluar dugaanku hanya maaf yang bisa Aku mohonkan pada kalian. Cathy benarkah itu Putriku juga? Biarkan Dia menghukum ku seperti apa maunya."
"Tak mendengar ucapan Putrimu tadi Victor? Aku masih berstatus istrimu sampai saat ini dan masih bertahan dengan kesendirian hanya besama Putri Kita, Bukannya Aku tidak bisa mencari seseorang dan marah pada kenyataan tapi untuk apa? Kebahagiaanku saat ini hanya bersama Putriku aku tidak bisa membayangkan akan seperti apa hidupku seandainya tidak ada Luzia, mungkin Aku sudah mengakhiri hidupku sendiri tetapi ada Luzia yang membuat Aku tetap ingin hidup lebih lama."
*******
__ADS_1