
Pengenalan karakter dan cerita
QUEELESHA ARMADJA
Dia adalah seorang gadis yang dilahirkan dari rahim selingkuhan ayahnya. Setelah ia dilahirkan, Elesha diberikan kepada ayahnya, lalu ibunya pun pergi. Tidak ada yang tau ia pergi kemana, ia pergi dan tak pernah menampakkan batang hidungnya. Hilang bak ditelan bumi.
Elesha mendapat perlakuan buruk dari ibu tirinya yang tak lain adalah istri sah dari ayahnya. Ibunya selalu saja membandingkan dirinya dengan putri kesayangannya, Navela Armadja. Bahkan sang ayah pun selalu saja menuntut balasan atas jasanya yang telah membesarkannya. Hanya sahabatnya Raden yang selalu ada untuk Elesha.
Hingga suatu hari ayahnya menyuruh Elesha pindah ke sekolah lain. Demi menuruti permintaan Vela si anak manja. Elesha dan Vela dibesarkan dengan didikan yang berbeda. Semua yang Vela inginkan selalu saja dikabulkan ayahnya. Itulah sebabnya Vela menjadi anak yang manja. Sedangkan Elesha, di didik dengan keras sejak dini hingga pernah membuatnya depresi dan hampir mengakhiri hidupnya sendiri. Tapi berkat ia bertemu dengan Raden, semua menjadi biasa saja bagi dirinya.
" Ayah, aku ingin dia tidak satu sekolah denganku." Rengek seorang gadis menggelantungkan tangannya memohon kepada ayahnya agar permintaannya segera dikabulkan. Walaupun ia tahu, tanpa merengek pun ayahnya akan mengabulkan permintaannya.
Elesha yang melihat kejadian itu di depan matanya pun menyunggingkan senyumannya. Drama apa lagi ini?.
" Memangnya kenapa jika kalian satu sekolah?"
" Apakah ayah tidak tahu? aku selalu dihina! mereka semua membandingkan kepintaranku dengan dia!" Menunjuk Elesha dengan tatapan tajam. Yang ditunjuk saja melihatnya dengan tanpa ekspresi. " Padahal kan aku lebih pintar dari pada dia. Iya kan yah?" Menggelayut manja.
Meskipun Elesha tahu jika permintaan sang adik akan dikabulkan. Ia tetap diam, tak menunjukkan sedikit kekesalannya. Hingga membuat Vela geram, karna tujuannya bukan hanya ingin membuang Elesha jauh-jauh darinya tetapi juga masih ingin mencemooh Elesha. Kenapa kau diam saja bodoh! seharusnya kau meminta kepada ayah untuk tidak mengabulkan permintaanku! agar aku bisa leluasa menghina dirimu sebelum kau pergi! dasar! .
" Baiklah ayah akan mengabulkan permintaanmu. Tapi ayah hanya akan memindahkannya ke sekolah dekat sini saja."
Vela terbahak, ia merasa permintaannya tidak dikabulkan. Awalnya ia mengira jika ayahnya akan menyuruh Elesha bukan hanya untuk pindah sekolah, tetapi juga pindah rumah. Tentu saja itu membuat Vela marah. Selama ini ayahnya selalu memahami semua yang dikatakannya. Tapi apa ini, ayahnya tidak mengerti apa yang sebenarnya diinginkan Vela. " Ayah bilang mengabulkan? Aku kira ayah akan mengusir dia juga dari rumah ini. Aku muak melihat wajahnya yah."
__ADS_1
Tutup saja matamu jika kau muak dengan wajahku.
Elesha benar-benar dibuat bingung dengan tingkah Vela. Apakah selama ini dia belum puas dengan apa yang selama ini diperbuatnya. Semua perbuatan Elesha selalu saja dipandang rendah oleh Vela.
" Dimana dia akan tinggal jika ayah mengusirnya?" Tanya ayahnya yang masih mempunyai sedikit hati nurani. Ucapan sang ayah membuat hati Elesha senang. Bagaimana tidak, ternyata ayahnya masih memperdulikannya. Elesha sempat tersenyum memandang ayahnya.
Hingga senyuman itu hilang ketika ibunya datang dengan hinaan nya. " Untuk apa kau memperdulikan anak haram ini. Sudah mendapatkan nama saja hal yang paling beruntung baginya. Sedari awal seharusnya kau tidak dilahirkan dari jalang itu." Seperti biasa, ibunya selalu saja membuat kata-kata yang selalu menyakiti hati kecil Elesha.
Ketika keluarga justru manjadi orang yang paling menyakiti bagi Elesha, apa yang harus ia lakukan. Diam.
Tapi kata-kata itu menghina ibu yang sudah melahirkannya. Rasanya Elesha ingin sekali melawan perkataan ibu tirinya. Tapi apalah daya, jika dia melawan bukannya meringankan masalah malah menambah masalah. Dan diam adalah cara satu-satunya yang ada dibenaknya.
Selalu merasakan bagaimana tak dihargai dan selalu disakiti.
Elesha mencoba menahan rasa sakit yang dirasakan kepalanya. Ia tak berani mengatakan sepatah katapun. Mungkin jika dia berbicara sepatah kata saja akan membuatnya berada dalam masalah besar. Dan rasa sakit yang ia rasakan akan semakin sakit.
" Aku bukan membelanya sayang. Apakah kau tidak tau? dialah sumber uang buat kita nanti." Ucap sang ayah membuat ibunya melepaskan cengkramannya dari rambut Elesha dan mendorongnya jatuh tersungkur dibawah kakinya.
Elesha segera bangkit dan pergi dari ruangan ayahnya menuju kamarnya. Menundukkan pandangannya yang sedang menyembunyikan air matanya agar tak seorang pun melihatnya jika ia sedang bersedih.
Setelah sampai dikamar Elesha segera mengunci pintu kamarnya. Dengan langkah yang cepat menghampiri kaca yang ada di wastafel. Melihat dirinya yang kacau. Elesha segera membasuh mukanya. Dan selalu teringat dengan ucapan yang dilontarkan ayah, ibu tiri, maupun adiknya.
___
__ADS_1
*Kau itu tidak pantas menyandang gelar Armadja.
*Cih! kau hanya numpang dirumah ini. Jadi jangan sekali kali kau meminta pertolongan pada pembantu diruma ini!
*Kau sama saja seperti ibumu! tak tahu malu! sepertinya memang benar jika buah jatuh itu tidak akan jauh dari pohonnya!
___
" Apa salahku?" Melihat dirinya yang ada di balik cermin. " Ini tadi lumayan sakit." Ringisnya memegang kepalanya. Sungguh Elesha dianggap seperti mainan didepan mereka semua.
" Haruskah aku menyerah? Tidak tidak, menyerah bukan tujuanku. Tapi semuanya tidak sesuai dengan harapanku."
Elesha berusaha menguatkan dirinya sendiri. Jika bukan dirinya sendiri lantas siapa lagi, tidak ada yang perduli padanya. Lagipula sahabatnya yang selalu ada untuk dia sedang tidak bisa untuk diajak bertemu karna kendala masalah pribadi sahabatnya.
Berusaha untuk kuat sendiri itu sangat sulit. Kadang kita harus selalu bersikap baik-baik saja didepan semuanya. Jika diluar Elesha akan selalu bersikap ceria. Tidak menunjukkan kesedihan sama sekali. Agar semua temannya tidak mengetahui jika dirinya diperlakukan layaknya mainan dikeluarganya sendiri.
Elesha pernah yakin suatu hari ia akan merasakan sebuah kebahagiaan. Ia percaya bahwa takdir tidak akan mempermainkannya. Dan waktu tidak akan mengkhianatinya. Tapi kali ini Elesha agak menyimpang dengan perkataanya dulu.
Apakah takdir sedang mempermainkanku?
Sungguh waktu adalah pengkhianat! waktu benar-benar selalu merenggut kebahagiaanku.
Jangan lupa vote, like dan sarannya ya.
__ADS_1
Terimakasih sudah baca ceritaku🥺