
**
Tap
Tap
Tap
Langkah tegas Aldebaran berjalan menuju sebuah ruangan paling tertinggi, di dalam gedung Villon Group. Yang tidak sembarang orang bisa masuk kedalamnya, hanya orang tertentu saja yang dapat memasukinya. Dan tentu saja atas izin Aldebaran.
"Tuan, sepertinya proyek pembangunan taman kolam biru tertunda." Ucap Bima, tangan kanan Aldebaran yang sudah bekerja sangat lama dengannya. Orang kepercayaan Aldebaran, dan sudah dianggap Sega seperti saudaranya sendiri.
"Kenapa?" Langkah Aldebaran terhenti setelah mendengar ucapan Bima. Menoleh pada Bima lalu menatapnya, dari tatapannya seperti menanyakan kenapa bisa proyek pembangunannya tertunda? Bima yang mengerti itupun lantas memberikan semua laporan-laporan yang ada.
"Anda bisa melihatnya sendiri tuan." Membungkukkan badannya setelah memberikan laporan kepada Aldebaran.
Aldebaran melanjutkan langkah kakinya yang lebar menuju ke ruangannya.
Ting
Secara otomatis pintu ruangan langsung terbuka setelah Aldebaran menempelkan sidik jarinya ke gagang pintu tersebut.
Aldebaran berjalan melangkah menuju tempat duduk kebesarannya, menghela nafas panjang dengan agak malas. Sepertinya dia sedang tidak mood, akibat semalaman yang tidak bisa tidur sama sekali.
"Buatkan aku kopi!" Perintah Aldebaran, yang langsung diangguki oleh Bima. Aldebaran segera membuka laporan yang diberikan Bima tadi.
Aldebaran tertawa kecut, membaca laporan yang diberikan Bima. "Apakah kau belum puas? Ini semakin membuatku sangat membencimu!" Tangan kanannya mengepal kuat, mengakibatkan laporan yang diberikan Bima tadi hancur.
"Seperti inikah dia sebenarnya?" Aldebaran sungguh dibuat frustasi dengannya. Apa salahnya? hingga dia berbuat semena-mena padanya? bukankah seharusnya dia mendapatkan kasih sayangnya? tapi apa ini? apakah Aldebaran bukan hal yang berharga baginya? Entahlah itu membuat dia benar-benar frustasi.
Pikiran dan hatinya berperang hebat. Antara tidak suka dan suka, hatinya mengatakan dia adalah sosok yang baik. Tapi kenapa pikirannya berbeda? pikirannya mengatakan kalau dia adalah sosok yang hanya mementingkan dirinya sendiri, lebih mementingkan harta dan tahta dibandingkan diri Aldebaran yang menginginkan sentuhannya, dan juga kasih sayangnya.
Hingga sebuah seringai tersungging jelas dibibirnya.
"Huh, aku jadi ingin sekali memberikan penyesalan padamu." Menyandarkan kepalanya di kursi kebesarannya.
"Kopinya tuan." Bima masuk membawa kopi Aldebaran, dibalas dengan deheman Aldebaran.
"Bim." Panggil Aldebaran menatap Bima.
"Iya tuan."
"Apakah kamu pernah berfikir untuk menikah?" Tanya Aldebaran.
Ada apa ini? kenapa Tuan Muda membahas tentang pernikahan? Bukankah Tuan Muda sendiri tidak pernah mengucapkan kalimat itu? sungguh ini keajaiban! apakah Tuan Muda akan menikah? _Batin Bima.
"Jawab aku!" Tegas Aldebaran yang tak kunjung mendapatkan jawaban.
"Saya belum memikirkan untuk menikah Tuan." Jawab Bima dengan cepatnya.
__ADS_1
"Begitukah? Bim, liburlah hari ini!" Perintah Aldebaran dengan menatap Bima dengan pandangan jangan membantah, segera laksanakan.
"Baik Tuan, saya permisi." Pamit Bima membungkukkan badannya, berjalan mundur kemudian keluar pergi meninggalkan ruangan Aldebaran.
Aku akan memulai permainan ini sekarang. Batin Aldebaran dengan seringai yang tersungging jelas dibibirnya, dan menampakkan aura dinginnya.
**
Al yang mengerti itupun langsung menghadap ke arah Enisha. "Iya kok, kita mau ke kantin, lo mau nitip?" Tanya Al agar Enisha tak curiga sedikit pun.
Enisha menatap iris kedua bola mata Al mencoba interogasi dengan matanya. Apakah Al sedang berbohong padanya? dan benar saja sepertinya Al berbohong padanya.
"Bohong!"
"Enggak kok En, kita nggak ke kantin. Cuman tadi itu Tama dipanggil sama guru, iya kan Tam." Ucap Raka mengedipkan matanya ke arah Al menatapnya dengan pandangan jawab aja iya.
"Ah iya itu."
Enisha manggut-manggut. "Oh, yauda deh kalo gitu." Berjalan ke arah bangkunya, duduk kembali di tempat duduknya tadi.
Al menatap setiap inci apa yang dilakukan Enisha tanpa berkedip satu kali pun.
"Nggak jadi?" Tanya Enisha membuyarkan tatapan Al.
"Ah hm iya ini gw mau pergi, ayo Ka."
"Aneh." Lirih Enisha yang bisa didengar Al dan Raka.
"Diem lo!" Perintah Raka dengan ucapan yang terdengar dingin, membuat Vela menutup mulutnya dengan tangannya sendiri.
"Ayo Al, cepetan."
*
Tap
Tap
Tap
Dengan langkah tegasnya Al berjalan menuju gudang belakang Sekolah, dituntun sama Raka. Yang sudah ada Arka dan temannya didalam gudang sebagai penonton dan juri.
"Gimana Al? lo terima tantangan gw?" Tanya Arka menatap Al dengan remehnya.
"Gw Terima!" Tegas Al mengepalkan kedua tangannya hendak menghajar Arka tapi dihalang Riko.
"Eh tunggu dulu, sepertinya ada cewe di luar sana." Ucapan Riko membuat Arka memerintahkan Raka untuk melihat siapa yang datang. Raka lantas berjalan menuju arah pintu dan membukanya. Membuat Raka membelalakkan matanya. "Enisha.." Lirihnya.
"Woi ada Enisha tuh, gimana?" Tanya Raka.
__ADS_1
"Ya lo halangin kek, gimana sih jadi orang beego banget."
"Gimana halanginnya kak? emangnya Enisha lagi datang bulan ya?" Tanya Raka dengan polosnya yang membuat Riko mendekatinya, dan menjitak keningnya dengan keras.
"Astaga naga....!!!! sakit kak!" Memegang keningnya yang terasa sakit akibat jitakan Riko yang amat-amat keras.
"Lo kok malah jadi kayak temennya Enisha yang aneh itu."
"Ya mana gw tehek, ngap."
"Bukan adek gw."
"Lah gw adek lo kak, gw aduin ke mama loh."
"Kok malah jadi gini sih." Memegang kening Raka. "Nggak panas, tapi kok nggak waras."
"Enak aja bilang Raka nggak waras!"
"Lah mangkannya jadi adek gw itu yang aesthetic kek. Jadilah kayak kakak, keren.."
"Keren apanya? ketek leren?" Ucapan Raka membuat Riko melototkan matanya.
"Kalian bisa akur nggak?" Tanya Arka memandang duo sejoli kakak beradik yang sedang berdebat itu.
"Bisa kok kalo dia nggak nyari gara-gara." Ucap mereka bersamaan, menunjuk ke arah lawannya. Raka menunjuk Riko, dan Riko menunjuk Raka.
"Heh lo dulu ya yang nyari gara-gara tadi." Riko menatap tajam ke arah Raka.
Raka terkekeh. "Kakak dulu yang nyari garangan."
"Lambemu kudu tak solasi!!! gara-gara le udu garangan!" Teriak Riko tepat di depan telinga Raka membuat Raka memukul perut Riko.
"Ngegas banget kayak motor kak, santai kak."
Arka memutar kedua bola matanya malas, mencari sesuatu dan ya ketemu. "Roy, lo halangin si Enisha sono." Perintah Arka yang dibalas dengan anggukan Roy.
"Lah gw aja lah." Pinta Raka yang dibalas dengan tatapan tajam Arka.
"Astaghfirullah kamu tu berdosa banget, jangan solimi."
"Soleha kali!" Bentak Riko membuat Raka menginjakkan kakinya ke kaki Riko.
Riko pun lantas memukul kepala Raka. "Oalah g*blok, nduwe adi kok koyok ngeneki."
"La piye ra trimo?!" Tantang Raka berkacak pinggang.
"Yang mau taruhan itu gw sama Al atau lo berdua? hm." Ucap Arka membuat Raka dan Riko berpelukan. "Enggak kok, kita nggak berantem. kakak adek nih Ar, Teletubbies berpelukan." Ucap Riko menepuk-nepuk punggung Raka.
"Roy, mendingan gw aja yang ngalangin." Cegah Raka.
__ADS_1
"Ya cepetan sana!" Telak Arka.