
Raka yang ditugaskan Arka untuk menghalangi Enisha pun lantas menghampiri Enisha, dengan langkahnya yang lebar.
"Lo mau kemana En?" Tanya Raka basa basi.
"Gw mau itu tuh ke gudang."
"Ngapain ke gudang?"
"Soalnya tadi gw liat Al lo ajakin kesana!"
"Terus apa hubungannya? dia kan bukan siapa-siapa lo En." Menarik tangan Enisha berjalan di koridor sekolah dan berhenti di tengah tengah.
"Ya dia sahabat gw, pasalnya tadi lo bilangnya mau ke ruang guru. Bukan ke gudang." Ucap Enisha di sela-sela jalannya yang ditarik oleh Raka.
"Haluin aja kalo tadi itu Al masuk ke ruang guru."
"Bentar-bentar, apa jangan-jangan..." Enisha menutup mulutnya yang menganga karna keterkejutannya.
"Jangan-jangan apa?"
"Jangan lodeh kali bang." Ucap Vela mendekati Enisha, dan mengalungkan tangannya ke tangan Enisha.
"Lo ngapain kesini?" Tanya Raka menatap dari atas sampai bawah penampilan Vela yang agak....? aneh?. Pasalnya Vela memakai masker wajah, dan juga lihat kaos kakinya panjang sebelah.
Vela yang merasa aneh dengan pandangan Raka itupun segera menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya sendiri.
"Apa liat-liat, biasa aja dong liatnya. Kayak nggak pernah liat cewe cantik aja." Vela melepaskan maskernya, membuangnya ke sembarang tempat dan menepuk-nepuk pipinya.
"Velaaaa! jangan buang sampah sembarangan!" Enisha segera memungut masker tadi, dan membuangnya ke tempat sampah.
Raka tersenyum simpul. "Ramah lingkungan nggak kayak dia, Markonah yang nggak bisa jaga lingkungan."
"What?? lo ngatain gw markonah?" Tanya Vela berkacak pinggang.
"Hush, jangan pada berantem." Enisha kembali berjalan ke arah gudang dan dihalang Raka dengan badannya.
"Lo mau ngapain?" Tanya Raka menatap kebawah.
"Harusnya gw yang bilang gitu, lo mau ngapain halangin gw beegoo." menatap ke atas. ( maklum gaes, Enisha pendek:') )
"Gw, itu apa namanya." Raka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ah iya, heh Vel lo itu cocok kalo dipanggil markonah tau nggak." Ucapnya mengalihkan pembicaraan.
"Nggak usah mengalihkan pembicaraan." Tegas Enisha.
"Enak aja lo ngatain gw markonah yang ada lo tu markonah." Emosi Vela yang sudah naik ke ubun-ubun.
"Lah gw kan cowo."
"Bodo amat mau lo cowo, mau cewe, mau banci gw nggak peduli. Markonah kok bilang markonah, kan ya markonah dasar markonah."
__ADS_1
"Ngomong apaan sih ni anak."
Enisha seperti mendapatkan celah, dia mencoba berlari lagi ke arah Gudang. Baru sampai depan pintu, tangan Enisha sudah ditarik sama Raka.
"Gw udah bilang jangan masuk, keras kepala banget sih lo!" Bentak Raka.
**
"Teletubbies lucu." Celetuk Riko menatap Al.
"Hahaha, lucu banget." Kata Al menaikkan satu alisnya.
"Cowo banyak cewenya namanya fakboy. Cewe banyak cowonya 'cuman temen'." Ucap Roy membuat Riko menjitak kembali kening Roy. Tapi sebelum terkena jitakan Riko, Roy sudah terlebih dahulu menghindar.
Roy menjulurkan lidahnya. "Nggak kena."
"Dasar temen nggak ada akhlak." Menunjuk Roy dengan pandangan permusuhan.
Roy melihat kekanan dan kesamping. "Kok nggak ada ya?"
"Lo cari apa?" Tanya Riko mendekati Roy.
"Oh ini lo Rik, gw lagi nyari cas hp."
"Oh nih." Menyodorkan cas hpnya. "Buat apa?" Tanyanya penasaran.
"Buat ini." menempelkan ujungnya ke kepala dan memberikan ujung atasnya ke Riko balik. "Loh kok dikembalikan? tadi nyari." Ucap Riko kebingungan dengan tingkah temannya hari ini yang sangat aneh.
"Wes ra waras cah iki." Menepuk jidatnya.
"Astaghfirullah gw masih waras Rikoo."
"Iyain dah, yang waras ngalah."
"Gw ngalah, gw kan waras." Kata Roy tanpa dosa. Dan tersenyum ramah ke arah Arka menganggukan kepalanya sekali. Menjulurkan tangannya. "Silahkan yang pada mau berantem. Dimulai jangan ditunda mulu."
Arka yang melihat tingkah Roy hanya menatapnya dengan pandangan datar. Lalu pandangannya beralih ke wajah Al, tepat dikedua bola matanya. Mereka bertatapan agak lama. Tatapan Arka seperti bilang ngalahin lo itu mudah, begitupun sebaliknya dengan Tama, dia seperti berkata lo bukan apa-apa bagi gw.
Roy yang melihatnya pun jenuh. "Awas nanti jatuh cinta, pada pandangan kelima." Riko yang mendengar ucapan Riko pun lantas memukul kepala Roy bagian belakang.
"ee..semprol, wedos prucol, kuceng ucol."
Riko menutup mulut Roy menggunakan tangannya. "Nggak bisa diem banget sih lo, kayak cewe."
"mm...mmmm..." Memegang tangan Riko, berharap Riko melepaskan sekapannya.
"Diem nggak? lo kalo nggak mau diem, gw giniin terus." Ancam Riko yang dibalas anggukan Roy.
"Hah...hah..hah.." Roy mengatur nafasnya setelah lepas dari sekapan Riko. "Temen nggak ada akhlak, harus di isi akhlak dulu nih orang."
__ADS_1
"Lo ngomong lagi gw sekap pakek solasi!" Ancam Riko lagi yang membuat Roy diam seribu bahasa.
Gubrak...
Meja dan Kursi yang ada dibelakang Al berserakan, dan sampai ada yang rusak.
Arka memulai perkelahian. Dia memukul telak rahang Tama dengan kerasnya, dan mengakibatkan pinggir bibirnya berdarah.
**
"Suara apa itu!" Enisha mendorong tubuh Raka. Raka yang tidak seimbang pun, tersungkur kebelakang mengakibatkan pintu gudang terbuka.
"Arka...Al..." Panggil Enisha membelalakkan matanya melihat Al yang terjatuh.
Enisha berjalan menghampiri Al, dan membantu Al berdiri.
"Al, lo... berdarah." Enisha memegang bibir Al dan mengusap darahnya.
Arka yang melihatnya pun terselimuti hawa emosi yang meronta-ronta. Arka kembali mendekati Al, dan mencengkeram kerah Al. Enisha yang melihat itupun segera melerai.
"Arka...udah Ar hentikan." Mohon Enisha dengan sangat-sangat dalam menatap iris bola mata Arka. Arka yang merasa iba dengan tatapan sendu, segera melepaskan cengkramannya terhadap Al.
"Ada apa ini!" Ucap Bu Tata yang kebetulan lewat didepan gudang, dan melihat ada keributan.
"Bu Tata." Lirih Enisha menelan kelu ludahnya sendiri.
Bu Tata yang melihat bibir Al yang berdarah pun segera mendekatinya.
"Apa ini." Tunjuk bu Tata. "Kalian berdua bertengkar?" Tanya bu Tata yang sudah mulai marah.
"Kalian bertiga... Enisha, Arka, dan kamu. Ikut saya!" Tegas bu Tata yang sudah tidak bisa diganggu gugat.
*
Ditengah lapangan, panas teriknya matahari. Tak membuat tiga sejoli itu berhenti memberikan hormat pada bendera, yang tertera di tiang tengah-tengah lapangan.
Arka yang sudah merasa bosan pun, mencoba untuk menjahili Enisha. Arka mencoba memberantakkan rambut Enisha. Enisha yang sedang tidak mood sama sekali pun memarahi Arka.
"Arka!! nggak usah ganggu!"
"Gangguin pacar sendiri, apa salahnya." Menaik turunkan alisnya.
Arka kembali menjahili Enisha, dan membuat Al sudah tak tahan emosi.
"Lo bisa diem kagak?!" Bentak Al mencengkeram kerah baju Arka.
"Masalah buat lo? wajar dong. Dia pacar gw!" Bentak Arka juga tepat didepan wajah Al.
"Lo mau gw pukul lagi?" Tanya Arka meremehkan Al, kemudian membalas Al dengan mencengkeram kerah baju Al.
__ADS_1
"Bisa pada diem nggak?! Kalo nggak bisa diem!!! Gw nggak mau lagi biacara sama kalian berdua!!!" Ancam Enisha yang membuat Arka dan Al diam seribu bahasa.