
"Gw tau kok semuanya." Ucap Arka.
"M-mksd lo?" Tanya Enisha yang langsung menundukkan kepalanya.
Arka pun lantas meletakkan tangannya dipapan tulis, tepat di samping bahu Enisha. Membuat Enisha mendongakkan kepalanya.
"Tatap gw kalo lagi ngomong yah." Ucap Arka dengan lembutnya. Ucapan Arka membuat kedua pipi Enisha merah merona seperti kepiting rebus.
"G-gw..." Aduh gimana ini? gw jawab apa?.
Arka terkekeh. "Lucu banget sih lo." tangan kirinya mencubit hidung Enisha.
Welah gw iri boss. _Batin Rara melihat sahabatnya itu.
"Pagi semua!!" Sapa Vela sahabat Enisha yang langsung terkagetkan dengan adegan mesra antara Enisha dan Arka. "Pagi-pagi udah bikin iri ni ye, jangan-jangan kalian berdua pacaran ya? Hayo ngaku!"
"Nggak kok." Ucap Enisha cepat.
"Ngapusi itu bohong loh En." Ucap Vela menaik turunkan alisnya.
"Ngapusi kan emang bohong Vel." Ucap Enisha.
"Doain aja." Ucap Arka berjalan keluar kelas, sambil mengedipkan satu matanya ke arah Enisha. Enisha terpaku dengan apa yang dilakukan Arka tadi.
Vela yang melihat sahabatnya sedang melamun itupun lantas mendekatinya. "Heh jangan ngelamun, ntar kesambet sama vampir."
"Emang dinegara kita ada vampir?" Tanya Rara berjalan mendekati kedua sahabatnya.
"Mungkin." Jawab Vela.
Enisha berjalan menuju bangkunya. "Gaes gw mau ngajak kalian nih."
"Kemana." Tanya Rara dan Vela bersamaan.
"Gimana kalo liburan akhir tahun ini ke Grobogan aja?" Ajak Enisha.
Rara berfikir sejenak. "Grobogan itu dimana?"
"Masa lo gk tau Grobogan sih Ra?" Tanya
Enisha tak percaya.
"Beneran En, gw nggak tau."
"Gw juga nggak tau nih." Ucap Vela menaikkan kedua bahunya tanda tak mengerti.
"Yauda gini aja, kalian ngikut gw aja. Masalah Grobogan itu dimana? ntar juga tau sendiri." Jelas Enisha tidak ambil pusing, memandang kedua sahabatnya secara bergantian.
Rara memandang Vela sejenak. "Gw sih ngikut aja." Ucap Rara yang langsung diangguki Enisha. "Gw juga deh, yang penting ntar kita disana beli oleh-olehnya samaan ya guys." Ucap Vela.
Tet
__ADS_1
.
Tet
.
Tet
Bel sekolah telah berbunyi menandakan siswa siswi untuk segera masuk ke kelas masing masing.
"Eh En, lo ngerasa ada yang aneh nggak?" Tanya Rara.
"Aneh gimana mksd lo?"
"Kok Arka bisa tau gitu." Ucap Rara memecahkan teori yang ia pikirkan.
"Tau apa?" Tanya Enisha yang sama sekali tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Rara sahabatnya itu, yang duduk disebelahnya. Sedangkan Vela duduk didepannya sendirian.
Rara memutar kedua bola matanya malas. "Kok kamu nggak ngerti sih. Maksud gw itu, kok tadi si Arka bilang kalo dia itu tau semuanya."
"Oh yang itu. Gw sih nggak ambil pusing." Ucap Enisha menyenggol tangan Rara.
"Lo nggak mau jujur aja gitu kalo lo suka sama Arka?" Tanya Rara.
"Kodratnya wanita itu menunggu bukan mengejar." Ucap Enisha menyenggol tangan Rara.
"Sekali kali, wanita yang ngejar. Masa iya cowo terus?"
Rara pun lantas memandang ke depan, dan betapa terkejutnya dia. "Lo kok nggak bilang dari tadi sih kalo Pak Arif udah datang?"
"Ya habisnya lo ngomong terus, padahal tadi gw udah nyenggol terus loh." Jelas Enisha.
Rara lantas memberhentikan obrolannya dan fokus pada apa yang diterangkan Pak Arif guru bahasa Inggris tersebut. Sedangkan Enisha, pandangannya lebih fokus pada bangku depan sebelah kirinya. Tempat duduk Arka berada.
Pandangannya terkunci hanya pada Arka bukan pada pelajaran yang diterangkan gurunya tersebut. Arka melirik kebelakang sebelah kanannya dengan pandangan yang masih menghadap ke arah papan tulis berada.
Liatin gw ya? _Ucap Arka dalam hati yang langsung tersenyum bangga. kemudian ia putuskan untuk mencermati apa yang diajarkan gurunya. Biar Enisha semakin terpesona olehnya.
Pak Arif yang merasa diabaikan oleh Enisha pun lantas memanggil Enisha. "Sekarang bapak akan menyuruh absen nomor 9....Enisha."
"En.." Lirih Rara menyenggol tangan Enisha.
Enisha masih dalam keseriusannya memandang Arka. Sampai Pak Arif memanggilnya lagi. "Enisha." Panggilnya yang membuat seisi kelas menghadap Enisha, begitu pula dengan Arka. Enisha yang sadar pandangannya bertemu dengan Arka pun lantas menundukkan kepalanya.
"Enisha." Panggil Pak Arif untuk ketiga kalinya.
"Iya pak." Mendongakkan kepalanya.
"Tadi bapak suruh apa?" Tanya pak Arif.
"Lo tadi disuruh kedepan." Bisik Rara.
__ADS_1
Lantas Enisha pun berdiri berjalan kedepan. "Nah sekarang bapak mau ngelatih bahasa Inggris kamu, nanti kamu artikan ya. Anggap saja ini seperti permainan." Ucap Pak Arif.
"Baik pak."
"Nanti yang lain juga, tapi harus berpasangan. Nanti bapak sendiri yang memilih sesuai absen." Jelas Pak Arif.
"Iya pak." Ucap seisi ruangan serentak.
"Oke untuk pasangan yang bersama Enisha, bapak akan memanggil absen nomor..." Melihat jam dinding. "Jarum panjang menunjuk ke angka berapa? jika absennya angka tersebut silahkan maju."
Senyuman Arka mengembang, lantas ia segera berdiri. "Saya pak." Ucap Arka mantap.
"Kenapa gak gw aja sih? gw kira absen 14. Ntar bilangnya 9+5 berapa?" Lirih Raka teman sebangku Arka.
"Wah hebat, momennya pas banget nih." Ucap Rara tak percaya.
"Oke sekarang mulai permainannya. Arka, kamu yang bisikin kata kata ke Enisha. Dan Enisha mengartikan apa yang diucapkan Arka." Ucap Pak Arif.
Arka pun lantas mendekati Enisha dengan membungkuk, menyetarakan tingginya dengan tinggi Enisha. Mendekati daun telinganya. "You will meet him." Bisiknya.
"Apa artinya En?" Tanya pak Arif.
"Kamu akan bertemu dengannya." Jawab Enisha.
"Weslah kode iki jenenge." Lirih Raka yang mulai pasrah.
Njir ngekode. _Batin Rara.
"Kurang dua lagi Ar." Ucap pak Arif.
"Iya pak." Mendekati daun telinga Enisha lagi. "Often disappointment comes from hope." Bisiknya.
"Seringkali kekecewaan datang dari harapan." Ucap Enisha.
"Ekhem Ekhem..." Ucap bangku paling belakang.
Kemudian Arka mendekati daun telinganya lagi untuk terakhir kalinya. "i love you...Aku serius." Bisiknya yang membuat Enisha melototkan matanya.
Enisha terlihat berfikir, membuat pak Arif meyakini kalau Enisha tidak dapat mengartikannya.
"Enisha, apa artinya?" Tanya pak Arif.
"Artinya...artinya...."
"Apa En?" Tanya Vela penasaran.
"A-ku c-cinta k-kamu." Ucap Enisha gagap.
Ucapan Enisha tadi sontak membuat seisi ruangan berseru. "Cie...Cie...." Orang yang berada di bangku belakang pun sampai bersiul.
Pak Arif terkekeh. "Wah wah sepertinya permainan saya ini bisa untuk digunakan ajang pencarian jodoh." Ucap pak Arif disela sela tawanya sembari bertepuk tangan di ikuti oleh para muridnya.
__ADS_1
Arka pun tersenyum melihat Enisha yang kalang kabut. Menurutnya ini terlihat sangat lucu. Tapi tidak dengan Enisha, ia tidak berani untuk memandang Arka, ia hanya bisa menundukkan kepalanya.