QUEELESHA

QUEELESHA
PART 14


__ADS_3

"Huh, apaan sih taunya cuman nyusahin orang aja!"


**


"Cie...yang dihukum ditengah lapangan. sempat-sempat nya ada uwu-uwuannya." Ucap Vela menaik turunkan alisnya membuat Enisha berdecak kesal.


"Jan ngadi-ngadi dah lu."


"Nggak ngadi-ngadi kok mbak, cuman ngada-ngada."


"Alah di Maemunah, sok-sok an kali." Ucap Sera berjalan mendekati Enisha dan Vela.


"Ngapain lo kesini!"


"Serah gw lah."


"Biarin lah Vel, dia kan sahabat kita."


"Kita mau kemana sih?" Tanya Vela.


"Ke planet mars!" Celetuk Sera.


"Gw nggak tanya sama lo."


"Bodo amat."


"Dahlah nggak usah pada debat, yuk kita beli jilbab sama lagi." Ucap Enisha berjalan melangkahkan kakinya, di ikuti oleh Sera dan Vela.


"Beli dimana?" Tanya Vela membuat Sera memutar kedua bola matanya malas.


"Beli aja sono di Indomaret."


"Ini bulan Februari beegoo."


"Tauk deh."


"En, kita mau beli dimana?"


"Beli di tempat biasalah."


"Purwodadi? wah kota sweke. Hohoho."


***


Aku akan memulai permainan ini sekarang. Batin Aldebaran dengan seringai yang tersungging jelas dibibirnya, dan menampakkan aura dinginnya.


Aldebaran lantas memilih bangkit dari duduknya.


Lalu pandangannya tertuju ke arah jam dinding yang terletak di ruangan kerjanya. Jam telah menunjukkan pukul 14.00.


"Seharusnya tadi aku tidak berangkat kerja saja." Pikiran Aldebaran mulai bertengkar hebat lagi. Pasalnya dia berangkat ke kantor jam 13.00 tadi. Membuat para pegawai yang ada dikantornya menatap heran kearahnya, biasanya Aldebaran akan libur jika sudah melewati jam 12.00. Tapi kenapa ini? Tuan Muda Alde berangkat ke kantor? wah ini suatu keajaiban di Villon Group.


Aldebaran lantas melangkahkan kakinya menuju keluar dari gedung Villon Group, memasuki mobilnya. Menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.


Disaat mobil Aldebaran memasuki kawasan rambu-rambu lalu lintas. Dia tak sengaja melihat wanita yang menurutnya tidak asing? siapa?.


***


"Oh kita mau beli Rabbani?" Tanya Vela.


"Nggak!" Celetuk Sera


"Lah terus ngapain kita kesini?"

__ADS_1


"Udah tau masih nanya aja."


"Ikan hiu makan tomat." Sela-sela Enisha.


"Nggak bisa beegoo."


"Gw mau pantun Vel."


"Oh gitu, cakep."


Sera memukul punggung Vela. "Belum nyet."


"Oh belum yah, lanjut En."


"Ikan hiu makan tomat."


"Cakep."


"Mana ada hiu makan tomat?"


Vela seperti berfikir sejenak. "Hiu makan apa sih?"


Enisha mendengus geli melihat tingkah Vela yang tengah kebingungan. Tiba-tiba pandangannya tak sengaja bertemu dengan seorang lelaki yang tempo hari membuatnya naik darah? wah rasa-rasanya Enisha ingin mencambik-cambik habis orang yang berada di dalam mobil itu. Pertama kali Aldebaran merasa jenuh, dan sengaja membuka jendela mobilnya. Tapi siapa sangka setelah membuka jendela mobilnya, pandangannya bertemu dengan Enisha.


"Eskalator..." Ucap Enisha tanpa suara, dan menjulurkan lidahnya ke arah Aldebaran. Aldebaran hanya membalasnya dengan tatapan yang seperti berkata jangan main-main. Membuat Enisha menelan kelu ludahnya sendiri.


Sera menepuk pundak Enisha, membuyarkan pikirannya dan pandangannya.


"Ngapain lo? kok lo kayak." Belum selesai Sera berkata sudah disrempet oleh Enisha.


"Nggak ngapa-ngapain kok, yok kita masuk." Ajak Enisha mengalihkan pembicaraan.


"Yaudah skuylah." Vela mengalungkan tangannya ke tangan Enisha.


"Nggak usah pegangan gitu napa sih Vel?"


"Udah-udah mendingan kita masuk aja yok."


***


Aldebaran memandang dengan pandangan sinis. "..." Mengambil ponselnya di sakunya, tangannya sedikit menari di atas layar kaca mencari sesuatu dan memanggilnya.


"Hallo tuan?" Sapa orang yang disebrang sana.


"Bim..." Panggilnya sambil menyandarkan kepalanya.


"Iya tuan?"


"Kau cari tau kehidupan tentang seorang gadis."


Gadis? Apakah Tuan muda sudah membuka hatinya? _Batin Bima.


"Jangan beranggapan kalau aku suka padanya. Lakukan saja perintahku!" Tegas Aldebaran dengan penuh penekanan.


Bagaimana mungkin tidak suka? .jika tuan muda menyuruhku untuk mencari kehidupan seorang gadis! ini pertama kalinya tuan muda menyuruh untuk mencari kehidupan seorang wanita! sungguh keajaiban! _Batin Bima.


"Sudah kukatakan aku tidak suka padanya! jangan berfikiran kalau aku tidak bisa membaca apa yang kamu pikirkan Bim!"


"Ah iya tuan, hamba mengerti."


"Baguslah."


Tut

__ADS_1


Tut


Tut


Panggilan terputuskan oleh pihak Aldebaran. Aldebaran segera melanjutkan perjalanan pulangnya menuju mansion milik pribadinya. Disanalah tempat dimana menjadi saksi bisu, dunia masa lalunya yang mengalami penyelimutan awan hitam. Tempat yang masih sama, dengan suasana yang berbeda semenjak kepergian orang yang sangat disayanginya. Sungguh miris! .


"Rasanya aku benar-benar muak dengan semua ini."


Sedangkan disisi lain...


Tut


Tut


Tut


"Tadi disuruh libur, sekarang udah disuruh kerja lagi." Ucap Bima menggelengkan kepalanya.


Berjalan melangkah menuju sudut ruangan yang ada di mansion Aldebaran. Ya, Bima tinggal di mansion Aldebaran sudah sedari umur 13 tahun. Bima sendiri merasa sangat beruntung menjadi tangan kanan Aldebaran, sebagai orang kepercayaan Aldebaran. Bima juga sedikit mengetahui tentang masa lalu Aldebaran, masa lalu yang cukup miris.


Tiba-tiba saja langkahnya terhenti tepat didepan pintu, saat memegang gagang pintu hendak membuka pintu.


"Gadis siapa yang tuan muda maksud?" Tanyanya pada dirinya sendiri.


Ah benar! cctv yang ada di mobil tuan muda. Aku akan melihatnya. _Batinnya lalu membuka pintu dan masuk kedalam.


Melangkahkan kakinya menuju ke meja khusus disiapkan untuk dirinya. Bima mulai membuka rekaman cctv yang ada di mobil Aldebaran.


"Apakah gadis ini yang dimaksud tuan muda." Ucapnya tak percaya. Pasalnya dia disuruh mencari kehidupan seorang gadis yang masih sekolah.


Jari-jarinya pun mulai mengetik dan mencari sesuatu yang diyakininya sebagai kehidupan pribadi sang gadis. Queenisha Arlendra, putri dari keluarga Arlendra, dia adik dari Wildan Arlendra! wah kebetulan sekali. Ucap.Bima dalam hati, yang tengah serius membuat laporan dengan sedetail mungkin.


Dia cantik! semoga saja dia dapat merubah sifat tuan muda.


***


Enisha memandangi setiap jilbab yang ingin dibelinya.


"Yang ini aja gimana gaes."


"Nggak." "Iya En." Ucap Vela dan Sera bersamaan.


"Astaga beda pendapat ternyata. Yauda deh cari yang sependapat aja."


"Coba yg itu aja En." Ucap Vela dan Sera bersamaan lagi, sembari menunjuk pada jilbab yang sama. Membuat mereka berdua saling berpandangan.


"Kok lo nyamain gw sih." Sebal Vela menginjak-injakan kakinya.


"Gak kebalik neng." Sindir Sera menirukan gaya Sera agak sedikit lebay.


"Udah dong nggak usah pada debat." Lerai Enisha.


Enisha pun berjalan melangkah mengambil jilbab yang ditunjuk Vela dan Sera tadi.


"Yang ini kan." Ucap Enisha dibalas dengan anggukan Sera dan Vela.


"Jangan deket-deket gw ih." Sera menghindar menjauhi tempat Vela dan memilih mendekati Enisha.


"Vel jangan ngupil disini napa." Ucap Enisha dengan suara pelan.


Vela pun memberhentikan kegiatannya.


"Yah habisnya, nih sumur kotor. Udah waktunya buat dibersihin biar kinclong."

__ADS_1


"Punya temen gini banget." Ucap Enisha membuat Sera menggelengkan kepalanya.


"Bukan temen gw."


__ADS_2