
"Temen sendiri kok nggak diakuin sih Ser." Enisha berjalan menuju kasir untuk membayar jilbab yang diambilnya tadi.
"Ini lo yang bayar kan En?" Tanya Vela antusias.
"Gratisan aja terus..." Sindir Sera.
"Biarin, lo kan juga dibayarin tuh sama Enisha." Vela memandang Sera dan tersenyum sinis.
"Gw kan baru pertama ini dibayarin Enisha, nggak kayak lo."
"Udah dong nggak usah pada ribut napa sih? nggak malu tuh sama anak kecil." Enisha menunjuk anak kecil yang sedang melihat mereka bertiga. "Mereka sampek melongo tuh liatin kalian."
"Mungkin dia lagi mikir, kok mbak yang pakek baju kuning cantik ya." Yakin Vela mengibaskan rambutnya.
"Mana ada cantik? yang ada dia bilang. Kok mbak yang pakek baju kuning itu kayak yang ada di sungai ya, mengambang."
".."
"Yuk kita pulang sekarang, udah selesai nih." Ajak Enisha. Vela yang mendengar itupun lantas berjalan paling depan dan membuka pintu toko dengan cara didorong.
"Astaghfirullah kok nggak bisa kebuka sih." Vela mencoba mendorong dengan kuat-kuat, tapi tetap saja tidak bisa terbuka. Membuat para pegawai dan pembeli lainnya menatap heran kearahnya.
Enisha yang melihat itupun lantas mendekati Vela dan menjitak keningnya dengan sedikit keras. "Budidayakan membaca!" Tegas Enisha menunjuk tulisan di pintu tersebut. Disana jelas tercetak tebal bertuliskan tarik. "Ini pintunya ditarik, bukan didorong!" Enisha menarik pintunya, dan terbuka. Vela yang meliha itupun lantas berlari keluar toko saking malunya.
"Ngapain lo, mukanya kok ditutup gitu." Tanya Enisha keheranan.
"Gw malu En."
"Oh punya malu juga nih anak, kirain nggak punya. Biasanya kan cuman bisa malu-maluin aja." Sindir Sera yang membuat Vela mengerucutkan bibirnya.
"Ngapain di monyong monyongin tuh bibir! Nggak bakal kena notip kok sama Lee Minho." Ucap Enisha.
Tin
Tin
Bunyi klakson mobil yang membuat tiga sejoli itu terkagetkan.
"Astaghfirullah... labaik labaik balaik." Enisha mengusap dadanya agar merasa tenang.
"Eh kuda kali tuh."
"Siapa sih? bikin kaget orang aja?!" Tanya Enisha menatap mobil yang ada disampingnya sambil berkacak pinggang.
Kaca mobil pun perlahan turun, dan menampakkan seorang lelaki memakai kaca mata hitam. Lantas lelaki tersebut membuka kaca matanya dan melihat Enisha dan tersenyum, senyuman yang menampakkan gigi putihnya.
"Yak!! lo ngagetin orang tau nggak sih Al!" Bentak Enisha.
__ADS_1
"Maaf. Mau gw anterin pulang?"
"Mau kok Al. Rejeki nggak boleh ditolak." Ucap Vela berjalan mendekati mobil dan membuka pintu mobil, tapi ditahan oleh Sera.
"Biar Enisha aja yang duduk disini, lo sama gw bagian belakang."
"Lah nggak mau gw kalo duduk sama lo."
"Bener tuh kata dia. Lo duduk dibelakang, disini buat Enisha." Jelas Al yang dibalas anggukan Vela. "Okedeh."
Vela dan Sera pun lantas segera masuk ke dalam mobil. Tinggal Enisha seorang yang hanya berdiri menatap ke arah mobil tersebut.
"Ayo cepetan naik En." Ajak Al.
Enisha yang mendengar itupun langsung menggelengkan kepalanya.
"Nggak Al. Gw nggak mau ngrepotin lo terus, mendingan gw cari taxi aja deh."
Ucapan Enisha tadi membuat Al segera keluar dari dalam mobil, menghampiri Enisha.
"Kalo gw bilang naik ya naik, gw nggak nerima penolakan!" Tegas Tama yang langsung memegang tangan Enisha, dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Al membukakan pintu mobil. "Masuk."
Enisha yang mendengar ucapan Al pun lantas segera memasuki mobil Al. Membuat Al tersenyum simpul.
Vela membuka kaca jendela mobil.
"Woi Al, cepetan dong. Ngapain ngelamun?" Tanya Vela membuyarkan lamunan Al.
Al lantas segera masuk ke dalam mobil, melihat Enisha sekilas. Lalu mendekatinya perlahan. Sampai-sampai kedekatan mereka tidak ada jarak sama sekali. Membuat Enisha tersudutkan.
Vela dan Sera pun membelalakkan matanya, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Gilaa..." Lirih Sera dan Vera bersamaan, lalu saling pandang memandang menggelengkan kepalanya pelan.
"Lo m-mau ngapain?" Tanya Enisha dengan keadaan gugup.
Al yang melihat kegugupan Enisha pun tersenyum tipis, membuat Enisha semakin tak karuan. Kemudian tangan kanan Al berada di samping kepala Enisha. Blush....lihatlah sekarang, pipi Enisha berwarna merah seperti kepiting rebus.
"Buang semua pikiran negatif lo, gw cuman mau pasang sabuk pengaman." Jelas Al memasangkan sabuk pengaman membuat Enisha salah tingkah. Dan membuat Vela dan Sera tertawa dibelakang sana.
"Aku benci pikiranku." Ucap Sera yang dibalas anggukan Vela.
"Aku juga."
Al yang melihat kesaltingan Enisha pun lantas tersenyum bangga. Menurutnya ini semua terlihat lucu dan menggemaskan. Lantas Al langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.
__ADS_1
Lo **** En, lo ****!!! ngapain juga sih ni otak nggak bisa diajak kerjasama. _Batin Enisha memukul mukul kepalanya.
Al yang melihat Enisha memukul mukul kepalanya pun terkekeh, membuat Enisha menatap heran ke arah Al.
"Lo ngapain?" Tanya Enisha penasaran. Apakah Al sedang kehilangan akal? kenapa dia tiba-tiba tertawa padahal tidak ada yang lucu sama sekali. Itulah yang ada dipikiran Enisha saat ini.
"Enggak kok, cuman lucu aja liat lo yang kayak gitu."
***
Aldebaran memberhentikan mobilnya di pinggiran jalanan kota, menatap ke arah luar jendela. Inilah yang dilakukannya ketika ia sedang jenuh, mengingat masa lalunya yang kelam penuh dengan kehitaman dan kebencian.
Kenapa kau tega melakukan ini? Cih rasanya aku sangat muak denganmu. Kau sama saja lebih rendah harga dirimu dibandingkan seorang ****** diluar sana. Dasar biadab!
Aldebaran menghembuskan nafasnya dengan agak kasar, memukul-mukul setir mobilnya. Kemudian ia sandarkan kepalanya, membuka kaca jendela mobilnya.
***
Tama menghentikan mobilnya dipinggiran jalan tepat disebrang mobil Aldebaran.
"Gw mau beli dulu ya." Ijin Al menatap Enisha.
"Mau beli bunga buat apa?" Tanya Vela penasaran.
"Buat seseorang, mumpung dia ada disini." Jawab Al.
"Fiks itu gw." Vela mengibaskan rambutnya dan mengenai wajah Sera, membuat Sera menarik rambut Vela.
"Pede kali lo nyet, itu bunga tuh buat Enisha! Paham!!" Teriak Sera tepat didepan daun telinga Vela membuat Vela menutup telinganya.
"Bilangnya nggak usah teriak-teriak kali, kan gw enggak budeg!"
"Mangkannya diem aja, nggak usah banyak ngomong. Capek mulut gw nanggepin lo."
"Yauda nggak usah dianggepin."
"Udah dong diem!" Pinta Enisha.
Al pun lantas keluar dari mobilnya, dan saat akan berjalan mendekati arah toko bunga. Pandangannya tak sengaja bertemu dengan pandangan Aldebaran.
Kenapa gw seperti kenal orang itu sih? siapa dia? dia pun tampak tak asing.
Dan disisi lain...
Kenapa aku seperti mengenal orang itu? siapa dia? dia tampak tak asing bagiku.
Aldebaran masih menatap ke arah Al dengan pandangan seperti sedang berfikir. Siapakah dia sebenarnya? dia seperti mengenalnya? tapi siapa? seperti memiliki ikatan batin bak seorang keluarga! tapi mana mungkin! itu tidak benar dan tidak akan pernah benar. Itulah yang ada dipikiran Aldebaran saat ini.
__ADS_1