
Walaupun sudah biasa bagi Enisha jika Vela dan Sera selalu saja berdebat, tetap saja itu membuatnya merasa sedih. Bagaimana tidak? kedua sahabatnya berdebat cuma karna hal masalah yang sepele? apa karna kepribadian mereka yang bertolak belakang? entahlah, itu membuat Enisha bingung.
Selang beberapa menit kemudian Pak Arif datang.
"Selamat Pagi semua." Sapa pak Arif.
"Pagi pak."
"Oke semuanya, hari ini kita kedatangan murid baru loh. Kamu yang ada diluar sini masuk." Perintah pak Arif.
Murid baru itupun masuk dengan gayanya yang cool? ya murid baru yang sedikit menjadi sorotan para kaum hawa. Membuat para kaum hawa terkagum-kagum, dia laki-laki? tentu saja, jika tidak mana ada kaum hawa terpesona.
Pak Arif tersenyum ramah. "Inilah murid barunya."
Vela pun segera merapikan pakaiannya, dan tersenyum melihat Ak. sedangkan Sera sedikit menyenggol tangan Enisha dengan tangannya.
"En liat tuh, murid baru." Bisik Sera menyadarkan Enisha yang sedang melamun.
Disaat Enisha melihat murid baru tersebut, ternyata dia juga sedang memperhatikannya?
Enisha membelalakkan matanya. "Al..." Lirihnya, yang dibalas dengan senyuman Al.
"Silahkan perkenalkan dirimu pada teman-teman." Ucap pak Arif menepuk pundak Tama.
"Oh iya pak." Merapikan tampilannya. "Perkenalkan nama saya Aldevaro Argadafa, biasa dipanggil Al. Salam kenal untuk kalian semua." melambaikan tangannya sembari tersenyum.
"Fiks ini jodoh gw." Lirih Vela menangkup wajahnya memandang Al dengan sejuta rasa.
Sera yang mendengar ucapan Vela hanya memutar kedua bola matanya malas. "Halunya tinggi banget."
"biarin emang masalah buat lo, iri bilang." Balas Vela dengan sinisnya.
"Silahkan duduk disebelah Raka Al, itu tempat duduknya." Ucap pak Arif mempersilahkan.
"Terima kasih pak."
Al terlihat sangat senang sekali, dan sangat bersyukur. Bagaimana tidak senang? dia duduk bersebelahan dengan Enisha, dia memang sebangku dengan Raka, tapi betapa beruntungnya dia ternyata bangkunya bersebelahan dengan Enisha! dan bagaimana tidak bersyukur? Enisha duduk disebelah kiri dan Al sebelah kanan. Mimpi apa Al tadi malam hingga memiliki keberuntungan langka seperti ini.
Rasanya gw pengen ngerayain hari ini, saking senangnya perasaan gw ini. Batin Al sambil tersenyum.
Raka yang melihat Al tengah tersenyum melihat Enisha pun menyenggol bahu Al.
Raka terkekeh. "Senyam senyum sendiri, ntar kesambet."
"Habisnya gw lagi dapet keberuntungan ini, keberuntungannya langka pula." Ucapnya dengan yakin.
"Kenalin gw Raka Oktabara Aidan panggil aja gw Raka." memperkenalkan dirinya dengan menjulurkan tangannya bermaksud untuk bersalaman tanda teman, Al yang mengerti maksud Raka pun lantas membalasnya. "Oh iya." Ucapnya memperkenalkan diri.
"Lo suka sama Enisha? atau lo udah kenal sama dia?" Tanya Raka penasaran.
__ADS_1
"Bisa jadi dua-duanya." Katanya tanpa berfikir panjang.
"Wah ternyata lo juga suka sama Enisha! hmm oke-oke... kita sama saja, saingan berarti." Bisik Raka menaik turunkan alisnya.
"Lo suka Enisha?" Tanya Al penasaran.
Raka terkekeh. "Siapa sih yang nggak suka sama dia. Bukan hanya gw, banyak kok yang suka."
"Gw sahabatnya Enisha." Ucap Al dengan percaya dirinya.
Raka terbelalak. "Hah?! wah-wah kalo ngedapetin pasti mudah ini."
"Dia udah punya pacar, jadi agak susah bro." Jelas Al sendu.
"Wah-wah yang sahabatnya aja susah dapetin, apalagi gw yang cuman temen nggak dianggep." Ucap Raka.
Al berfikir sejenak. "Si Arka kelas berapa?" Tanya Al dengan seriusnya.
Raka menaikkan satu alisnya. "Arka? huft, dia kelas 12. Kakak kelas kita, satu kelas sama kakak gw. Dan asal lo tau, kakak gw juga suka sama Enisha." Bisiknya sambil menatap Enisha.
"Sepopuler itukah Enisha?" Tanya Al tak percaya.
Raka terkekeh. "Tentu saja, bagaimana tidak? kamu saja juga terjatuh pada pesonanya, baik luar maupun dalam hatinya."
"Benar juga, dia orang yang periang." Lirih Al melirik Enisha.
**
"En nggak ke kantin?" Tanya Raka.
Melihat Raka sejenak. "Enggaklah, gw lagi males." melanjutkan membaca novelnya.
Al yang melihat itupun agak sedikit kesal, mungkin bukan hanya kesal melainkan juga cemburu. Al pun memutari bangku-bangku, dan sampai ditempat duduk Sera, menduduki kursi yang sedang kosong tersebut.
"Suka baca novel action ya En? bukannya sukanya yang romance?" Tanya Al.
Enisha melirik Al, dan fokus membaca novelnya yang dikasih Sera tadi sebelum Sera pergi ke kantin. "Lagi pengen aja."
Al yang melihat tingkah Enisha pun mengacak rambut Enisha, membuat Raka melototkan matanya.
"Lo beneran mau saingan sama gw nih Al?" Tanya Raka.
"Saingan apaan sih Ka." Ucap Al menaikkan satu alisnya kemudian tersenyum simpul.
Raka terkekeh. "En, coba lo pilih gw apa Al?" Tanyanya tanpa dosa.
Enisha memutar kedua bola matanya malas. "Bisa pada diem nggak? gw lagi baca novel nih."
"Nggak bisa, jawab dulu pertanyaan si Raka." Ucap Al.
__ADS_1
"Kita main kata-kata aja ya." Geram Enisha.
"Oke." Jawab Al dan Raka bersamaan.
"Raka, lo mau nggak jadi matahari gw?" Tanya Enisha tersenyum paksa.
Raka tersenyum penuh kemenangan. "mau dong." melirik Al yang sedang kesal.
"Yauda, menjauh 149,6 juta kilometer dari gw." Usir Enisha.
Duar...
Bagai disambar petir disiang bolong, membuat Raka yang tadinya tersenyum bangga menjadi ....zonk. Yang sukses membuat Al terkekeh, tawanya pecah seketika melihat ekspresi Raka.
"Gw enggak nih En?" Tanya Al disela-sela tawanya.
Enisha melirik Al. "Nggak, lo kan sahabat gw."
"Jahat banget sih En sama gw." Sendu Raka dengan gaya imutnya.
Enisha mengernyit. "Kalo lo gini, kok mirip cewe ya Ka."
"Astaghfirullah malah disamain cewe, emang gw bencong apa?!" Kesal Raka.
"Mungkin." Kata Enisha dan Tama bersamaan.
Raka semakin kesal. "Kompak banget sih, mentang-mentang sahabatan. Oh iya En, nggak mau jadiin gw sahabat?" Pinta Raka.
"Nggak." Kata Enisha dan Al lagi dan lagi bersamaan, membuat Raka frustasi.
"Hah rasanya gw nggak sanggup jadi sadboy, gw jadi fakboy aja." Pasrah Raka yang sukses membuat Enisha menjitak jidat Raka dengan keras.
"Arghh...sakit En." Rintih Raka memegang jidtnya, dan mengusapnya.
"Ngapain jadi fakboy."
"Yah habisnya gw nggak lo terima, daripada gw jadi sadboy mendingan jadi fakboy kayak si Arka." Ucap Raka dengan cepatnya.
Enisha melototkan matanya. "Arka nggak fakboy!" kembali ingin menjitak jidat Raka tapi dihalang Al.
"Udahlah En, kasian loh." Bisik Al yang bisa didengar oleh Raka.
"Nggak usah pada bisik-bisik percuma, gw juga masih denger." Ucap Raka.
"Yauda, mangkannya diem." Ucap Enisha dan Al bersamaan.
"Iya-iya gw diem." Pasrah Raka berdiri mengembalikan kursi Al ke tempat semula.
"Lo mau kemana?" Tanya Al penasaran.
__ADS_1
"Gw mau ketemu sama kakak gw, kak Riko."