
"Kalo gitu gw mau jadi detektif aja deh." Ucap Vela dengan semangat empat lima.
Enisha terkekeh. "Emang lo bisa jadi detektif?" Tanya Enisha.
"Yadong, siapa dulu Vela gituloh. Vela kan pintar." Jawab Vela dengan yakinnya.
"Pintar kaya ayam." Celetuk Enisha.
Vela melototkan matanya. "Pintar bangun pagi udah bangunin orang, dengan cara berkokok."
"Sepandai-pandainya ayam jago berkokok, akhirnya jadi yayam goyeng juga." Ucap Enisha menaik turunkan alisnya.
"Eh ngomong apa lo, sini gw patok lo." Tangan Vela membentuk Ular yang seakan-akan ingin mematuk Enisha.
"itu ular, bukan ayam." Ucap Enisha menggelengkan kepalanya.
"Terserah inces dong."
Enisha berfikir sejenak. "Eh iya Vel, gw baru inget. Sebentar lagi Al datang, yuk kita ke taman." Ucap Enisha sambil melihat jam tangan yang ada ditangannya.
"Lah emangnya dia ngajak ketemuan dimana sih En?" Tanya Vela penasaran.
"Di taman." Jawab Enisha menarik tangan Vela dan berjalan menuju taman.
Vela terkekeh. "Cie... pegang-pegang."
"Astaghfirullah, kenapa lagi Vel? bukannya wajar yah?" Tanya Enisha kebingungan dengan sikap Vela.
"Mengingatkanku, mengajarkanku, arti kenyamanan sebenarnya." Vela bernyanyi dengan antusias, tak peduli dengan sekelilingnya yang mulai melihatnya.
"Vel, udah dong. Dilihat orang tuh." Bisik Enisha.
"Nggak kok, apalagi si abang siomay itu mungkin dia bilang gini 'kok dia makin hari makin tambah keren ya'." Ucap Vela dengan percaya dirinya.
_
Si tukang siomay yang sadar dirinya dilihat Vela pun berkata. "Kok dia makin hari makin tambah aneh ya."
_
Enisha terkekeh. "percaya diri banget sih Vel."
"Ya nggak papa lah, Vela kan emang keren." Ucap Vela menaik turunkan alisnya.
"Dahlah, yuk ke taman." Ajak Enisha.
__ADS_1
"Oke."
Diperjalanan menuju ke taman, Vela tak sengaja melihat Arka sedang bersama wanita lain dengan berpegangan tangan?. Sontak saja membuat Vela melototkan matanya, hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Hah, itu kan....itu kan Arka! ngapain dia sama wanita lain? what? mereka berpegangan? wah gawat nih orang. Batin Vela.
Vela memberhentikan Enisha. "En, liat deh itu Arka kan?" Tanya Vela menunjuk arah dimana Arka berada.
Enisha lantas melihat ke arah yang ditunjuk Vela. "Ommo! jinjja? , Hah gw nggak percaya dia masih saja main dibelakang gw!" Ucap Enisha dengan tersenyum sinis.
Vela berfikir sejenak. "Bukankah itu si Sekar ya En?. Bukannya dulu katanya, Arka udah mutusin si Sekar? what? dia selingkuh lagi? gw nggak habis pikir sama si Arka, ini kedua kalinya kita mergokin dia sama Sekar." Ucap Vela geram.
Enisha terkekeh. "Biarkan saja, kita lanjutkan saja perjalanan kita. Untuk Arka, ya terserah apa maunya sekarang. Gw sudah pasrah, kalo mau bertahan dan mau berubah terimakasih. Kalaupun Arka ingin pergi, silahkan. Gw sudah lelah, memperbaiki hubungan ini sendirian." Jelas Enisha melihat kearah Arka dengan pandangan sinis.
Vela berfikir. "Hmm...cinta memang tak butuh alasan, tetapi cinta hanya butuh balasan." Jelas Vela melipatkan tangannya didada.
"Tumben pinter Vel." Ucap Enisha kagum.
"Astaghfirullah, gw kan emang pinter En." Ucap Vela memonyongkan bibirnya.
"Udahlah yuk lanjutin jalan lagi, nggak usah di monyong-monyongin tuh bibir." Ucap Enisha.
"Iri bilang boss." Celetuk Vela.
Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan mereka menuju ke taman dengan berjalan kaki, karna jarak antara cafe dengan taman dekat. Sesampainya di taman, Enisha dan Vela duduk di sana dikarnakan Al belum juga sampai.
Vela berfikir sejenak. "Hm...iya yah, si Arka kan kelas 12, masa iya mau minta ajaran sama si Raka. Lagian Raka nggak mungkin bisa, dia aja dikelas kita peringkat paling bawah. Gw nggak ngejek loh ya, emang faktanya Raka gitu."
Enisha terkekeh. "Hah mungkin dia keliru nyebut kakaknya Raka, jadi dia mau bilang kak Riko tapi jadi Raka, dan gw yakin dia nggak ketemu sama kak Riko, soalnya pas gw tanya Arka, dia gelagapan jawabnya."
"Udah ketauan belangnya En. Emang yah yang namanya buaya bukan hanya hewan doang, tapi manusia juga ada." Ucap Vela.
"Dahlah, males gw ngomongin si Arka." Ucap Enisha.
"Duh lama banget sih si Alnya En." Ucap Vela sambil meminum minumannya.
Enisha celingak-celinguk. "Nggak tau juga, kata Al sih dia datang jam segini."
"Untung aja dia cowo ganteng, coba aja kalok nggak, mungkin incess Vela nggak sudi buat nunggu." Ucap Vela menatap sendu ke arah Enisha.
Enisha membalas menatap Vela dan menjitak jidatnya. "Heh lo itu, fisik aja yang diomongin. Lagian juga kita datangnya lebih awal 5 menit Vel, jadi ya wajar kalo Al belum datang. Soalnya kan kadang kalo gw ketemu sama Tama, gw sering telat."
"Aw sakit tau En." Ucap Vela mengusap jidatnya yang kena jitak oleh Enisha.
"Yah habis lo ngomongin cowok gan..." Belum selesai Enisha berkata sudah ada yang mengagetkannya.
__ADS_1
"Enisha!!!" Sapa Al berdiri didepan Enisha dengan lantangnya membuat mereka berdua terkagetkan.
"ganteng-ganteng srigala, semua cowoknya ganteng semua nggak ada yang buriq. Astaghfirullah kenapa jadi ngomong gini." Ucap Enisha gelagapan.
Vela terkekeh. "Nah loh ngomongin fisik kan."
"Al lo ngagetin tau." Ucap Enisha memukul pundak Tama.
Al tersenyum. "Tumben dateng duluan?" Tanyanya.
"Yah, soalnya gw nggak mau lo yang nunggu. Masa iya mau nunggu melulu, nggak bosen?" Tanya Enisha balik.
Al terkekeh. "Nggak kok, lagian juga gw suka nunggu lo."
Vela berdekhem. "Ekhem...ngode nih Al. Ya kalo yang dikode peka, kalo nggak gimana coba Al?" Tanya Vela menaik turunkan alisnya.
"Ya biasa aja, lagian juga udah biasa kok." Jawab Al dengan entengnya.
"Pada ngomongin gw nih." Ucap Enisha melihat Vela dan Al bergantian.
"Tumben ngerasa." Kata Vela tanpa dosa.
Al memegang tangan Enisha, membuat Enisha menatap Tama dengan kebingungan. Al tersenyum melihat tangan Enisha, dan mengusap tangannya.
"Udah lama juga En, nggak ketemu." Ucapnya yang kemudian menatap kedua iris bola mata Enisha, membuat Enisha pun menatap kedua bola mata indah milik Al.
Vela berdekhem, membuat Enisha dan Al terbuyarkan dari tatapan masing-masing.
"Maaf." Kata Enisha menundukkan kepalanya.
Al segera mengangkat dagu Enisha dan kembali menatap Enisha. "Kamu nggak salah En, yang salah itu gw." Lirih Al.
Enisha membalas tatapan Al. "Nggak, gw yang harusnya minta maaf. Gw nggak bisa balas cinta lo." Jelas Enisha dengan mata berkaca-kaca.
"Stt...jangan nangis oke." Ucap Al mengusap pipi Enisha.
"Ngueng ngueng ngueng, nyamuk lewat dulu." Ucap Vela berjalan melingkari Al dan Enisha.
Enisha segera melepaskan tangan Al yang merangkup wajahnya.
Enisha terkekeh. "Apaan sih lo Vel" Ucapnya.
Senyum Al mengembang. "Nah gitu dong, lo itu cantik kalo tersenyum gini."
Tawa Vela pecah. "Lah berarti kalo lagi nggak tersenyum, Enisha jelek dong." Kata Vela tanpa dosa.
__ADS_1
"Ya nggak gitu juga konsepnya." Ucap Tama kebingungan.
"Lah terus gimana konsepnya?" Tanya Vela penasaran.