
Sekar menatap tajam ke arah Enisha, berjalan melingkari Enisha dan Vela membuat Vela merasa jijik dengan tatapan Sekar.
"Kenapa? lo iri kan sama gw."
"Gw nggak peduli." Ucap Enisha menarik tangan Vela yang langsung pergi meninggalkan Sekar dan rombongannya.
Daripada berdebat dengan Sekar, Enisha lebih memilih untuk pergi. Karna diyakinkan jika berdebat dengan Sekar, pasti akan menyangkut pautkan dengan harta, entahlah itu membuat Enisha muak, padahal kekayaan keluarga Enisha lebih tinggi dibandingkan keluarga Sekar.
Sekar sendiri tidak mengetahui jika kekayaan keluarga Enisha jauh lebih tinggi dibandingkan keluarganya, karna Enisha orangnya tidak pernah memakai brand mahal, mungkin sebab itu Sekar berfikir kalo keluarga Enisha jauh berada dibawahnya.
"En lo kok nggak ngelawan aja sih?" Tanya Vela.
Enisha tersenyum simpul. "Kan tadi gw udah ngelawan Vel."
"Masa iya ngelawannya cuman nyindir doang? ya kalo dia mau berubah, kalo nggak gimana coba?" Vela berjalan mendahului Enisha menghadap ke belakang, jadilah Vela berjalan mundur.
Enisha yang melihat tingkah Vela itupun hanya bisa geleng-geleng kepala sembari tersenyum kecil, bagaimana tidak? tak jauh didepannya terdapat tiang, otomatis Vela kan.....ya kalian tau sendiri lah apa yang terjadi.
"Vel kalo jalan yang bener, ntar ketabrak si item." Enisha memegang kedua bahu Vela dan memutar balikkan Vela menghadap ke depan.
"Untung gw kagak nabrak si item, kalo gw nabrak, wah bisa-bisa malu gw. Mana disini rame lagi." Ucap Vela mengusap kepalanya sendiri.
Enisha terkekeh. "Nggak nyangka ya Vel, lo bisa malu. Biasanya cuman malu-maluin doang."
"Nggak kebalik En? bukannya yang malu-maluin itu kamu?" Tanya Vela menaik turunkan alisnya.
Enisha memutar kedua bola matanya malas. "Serah lo."
Vela celingak-celinguk. "Mana nggak ada tuh En?!"
Enisha mengernyit. "Maksud lo apa?" Tanya Enisha kebingungan yang langsung menirukan gaya Vela.
"Hm... tadi kan lo bilang Sera." Jawab Vela.
"Siapa yang bilang Sera?" menaikkan satu alisnya.
"Lah tadi lo bilang Sera En!" Geram Vela.
Enisha berfikir sejenak, kemudian merangkul pundak Vela mengajaknya untuk berjalan.
"Gw nggak bilang Sera tapi bilangnya seraahhhhh.." Jelas Enisha memanjangkan huruf h.
Vela manggut-manggut tanda mengerti.
**
__ADS_1
Pagi hari Enisha terbangun dari tidurnya, melihat jam dinding yang ada di kamarnya. Waktu menunjukkan pukul 05.30 membuat Enisha melototkan matanya.
"Hah? u-udah j-jam segini?" Tanyanya yang langsung menyibak selimutnya segera menyiapkan peralatan sekolah dan bersiap-siap. Entah kenapa setiap hari Senin Enisha selalu saja bangun kesiangan, tidak seperti hari biasanya. Selain hari Senin, Enisha selalu bangun lebih awal, tetapi kenapa hari Senin selalu menjadi hari sialnya.
Apakah dia akan dihukum lagi karna telat? atau dihukum karna atributnya yang tidak lengkap? itulah yang ada dipikirannya saat ini. Mungkin Enisha akan minta diantar oleh sopir pribadinya, karna Enisha tak mau kena hukum lagi. Udah capek kena hukum mulu, mau pensiun jadi murid bandel, pengen jadi murid teladan. Lagipula Al nanti kan bakalan pindah kesekolah Enisha, maka dari itu Enisha harus pensiun, biar serasa dipuja-puja sama sahabatnya.
"Mi, Enisha antar dong." Pinta Enisha mendekat ke tempat Karasha.
Karasha hanya tersenyum simpul, membuat Enisha menggoyangkan tangan Karasha.
"Ayo dong mi, anter Enisha, Enisha nggak mau telat mi." Pintanya penuh harap.
"Biar diantar sama pak Budi aja ya." Ucap Karasha yang masih sibuk dengan apa yang dikerjakannya.
"Bu Budinya mana? kakak Budinya mana? Adek Budinya mana? kakek Budinya mana? nenek Budinya mana?" Tanya Enisha.
Karasha terkekeh. "Anak mami kok malah bahas keluarganya pak Budi ya?" Tanya Karasha balik.
"Yah habisnya mami nggak mau nganter Enisha." Lirih Enisha.
"Mami sibuk sayang." Jelas Karasha yang dibalas anggukan Enisha.
Enisha menarik nafas dalam-dalam. "Iyadeh, kalo gitu Enisha berangkat dulu ya mi." mencium tangan Karasha.
"Pak Budi oh pak Budi ayo pak berangkat sekarang." Panggil Enisha dengan nyanyian membuat Karasha geleng-geleng kepala.
Enisha memutar kedua bola matanya malas. "Nggak pak, taun depan!"
"Oh lama bener non, bukannya mau berangkat sekarang ya non?" Tanya pak Budi kebingungan.
"Udah tau sekarang masih aja nanya pak-pak." Ucap Enisha memijit pelipisnya yang agak pusing.
"Oh yauda non silahkan masuk." Ucap pak Budi membukakan pintu rumah.
Enisha terbelalak. "Pak Budi, kita itu mau naik mobil bukan masuk rumah lagi!" Jelas Enisha dengan menekan setiap kata sembari tersenyum paksa.
"Maaf non, bapak lupa." Kata pak Budi tanpa dosa. "Mari non." Berjalan ke arah mobil dan membukakan pintu mobil, Enisha pun langsung masuk ke dalam tanpa berkata lagi.
Jadi keinget Vela kan, gara-gara Pak Budi. Batin Enisha menatap kearah luar jendela.
*
Enisha berlari sekuat tenaganya menuju ke kelas agar tidak terlambat lagi, untung saja hari ini tidak diadakan upacara, mengigat sebentar lagi muridnya akan menghadapi ujian.
Sampai didepan pintu kelas. "Huft...Selamat." Katanya tergesa-gesa, kemudian menarik nafas dalam-dalam. Masuk ke dalam kelas dan langsung duduk dibangkunya.
__ADS_1
"Pagi gaes." Sapa Enisha.
"Pagi." Jawab Sera dan Vela bersamaan.
Enisha mengernyit. "Tika belum dateng?" Tanyanya.
"Udah tau belum dateng, kenapa masih tanya." Ketus Sera yang sedang membaca buku novel.
Vela segera membalikkan posisinya menjadi menghadap ke belakang.
"Lo kenapa sih Ser?" Tanya Vela kebingungan.
"Bukan urusan lo." Jawab Sera dengan cepatnya.
"Niatnya mau bantuin kalo ada masalah, e malah diginiin. Dasar gak ada akhlak banget nih orang." Geram Vela.
"Udah dong nggak usah pada berdebat." Lerai Enisha.
Sera tersenyum sinis. "Si Vela duluan noh."
"Lah kok gw Ser? kan lo duluan." Ucap Vela melipatkan tangannya didada.
"Terserah." Ketus Sera.
"Udah dong kalian berdua jangan berdebat mulu, nggak capek apa?" Tanya Enisha.
Sera melirik Enisha sekilas. "Ada temen baru ntar."
Enisha mengernyit. "Tau dari mana lo Ser?"
"Apa sih yang nggak diketahui dari gw." Ucapnya percaya diri.
"Sombong amat!" Telak Vela memandang remeh Sera.
Sera menaikkan satu alisnya. "Iri? bilang boss.."
Vela terkekeh. "gw? iri? nggak kebalik neng?" Tanya Vela penuh dengan keyakinan, yang dijawab dengan sinisan Sera. "Alah si maemunah, sok kali lah." melirik Sera dengan remehnya.
"Terserah." Ketus Sera.
Enisha menepuk jidatnya. "Bisa nggak? sehari aja kalian nggak berdebat?" Pinta Enisha penuh dengan keyakinan.
"Nggak bisa." Jawab Vela dan Sera bersamaan.
"Kompak banget, mendingan baikan deh." Ucap Enisha menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
"Nggak mau." Ucap Vela dan Sera bersamaan, membuat mereka berdua saling menatap. Seperti sedang manjalin tali permusuhan bukan pertemanan.