
"Rara ayo cepat bangun nanti kamu telat ke sekolah" sayup-sayup suara seorang yang sangat ku hapal terdengar sampai alam bawah sadarku. Aku semakin merapatkan selimut ke tubuhku sampai sesuatu yang sangat menyengat mengganggu indera penciumanku.
1...
2..
3.
''Kyaaaa" tanpa babibu lagi aku bangun dan melompat dari tempat tidurku tanpa peduli dengan seorang wanita paruh baya yang sedang asik menertawakanku sambil mengangkat tinggi-tinggi mentimun di tangannya.
"Bi Inah ishhh... kan Rara takut sama timun tapi kok dikerjai terus sih" rajukku pada wanita yang ku sebut 'Bi Inah' tadi.
"Ya habisnya Rara udah bibi bangunin gak bangun-bangun. Sudah sana cepat mandi nanti telat loh masuk sekolahnya" aku pun menurut dengan perkataannya.
Oh iya, aku belum memperkenalkan diriku dengan benar kepada kalian. Kenalkan namaku Indira Alfiyana atau biasa di panggil Rara. Ibuku asli orang jawa bahkan beliau masih keturunan keraton Yogya sedangkan Ayahku adalah blasteran Jerman-Belanda,jadi tak heran kalau aku memiliki wajah oriental seperti kebanyakan bule campuran di Indonesia. Ngomong-ngomong aku sangat takut dengan yang namanya 'mentimun' menurutku itu adalah buah paling aneh dengan bau yang sangat menjijikan di dunia ini. Jadi tolong jauhkan timun dariku jika kalian tak sengaja bertemu denganku di jalan.
Pasti kalian bingung kenapa yang membangunkanku tadi adalah Bi Inah bukannya Ibuku. Kenyataannya memang begitu dan itu sudah terjadi sejak aku mulai masuk sekolah dasar. Sekarang Ibu ku sedang sibuk mengurus perusahaan modelingnya di Belanda dan Ayahku jangan ditanya sudah pasti sibuk mengurus pembangunan rumah sakit barunya,ayahku seorang Dokter fyi.
Sudahlah hidupku tak seindah drama sinetron yang sering di tonton Bi Inah.
__ADS_1
Aku sudah selesai dan bersiap untuk sarapan.Ketika sampai di bawah mataku bertemu tatap dengan sepasang manik hitam segelap malam yang diam menatapku di tempatnya duduk.
"Sudah Lama?" tanyaku setelah duduk di meja makan berhadapan dengannya.
Tak ada jawaban,hanya anggukan kepala singkat yang dapat ku tangkap saat meliriknya.
Dia adalah Dirga Pramodya,sahabatku sejak zaman ingusan dulu. Dia memang seperti itu,selalu diam dan minim ekspresi,sangat kontras denganku yang terbilang ceria.
"Jangan ngelamun,kesiangan" kan benar kataku,irit sekali dia ngomong padahal kan gak di suruh bayar per katanya.
Setelah selesai sarapan,kami berangkat ke sekolah naik mobil sport hitam yang di bawa Dirga ketika menjemputku tadi.
Karena itu,Dirga jadi incaran kaum hawa di sekolah selain alasan wajah Dirga yang tampan juga dompetnya yang tebal bukan kepalang. Tapi tak satupun yang mendapat respon dari Dirga. Hahaha... aku bahkan pernah di gosipin berpacaran dengan manusia es itu yang justru membuatku tertawa geli jika membayangkannya.
"Kenapa senyum?"
"Emang gak boleh? Senyum kan ibadah"
"Gila"
__ADS_1
"Kamu bilang aku gila?" tanyaku membeo.
"Bukan,lihat!" aku mengikuti arah mata Dirga yang melihat dua orang perempuan sedang jambak-jambakan di pinggir trotoar dengan satu orang pemuda berada di antaranya berusaha melerai. Dasar sinting!.
"Hahahaha... gila banget tuh cewek bedua. Mending yang di rebutin ganteng lah ini apaan hahahaha..." tawaku lepas begitu saja tanpa menyadari bahwa sekarang mobil Dirga sudah memasuki area parkir sekolah.
"Jangan lupa bahagia,sayang"
deg...
deg....
deg.....
'Hah apaan,kuping gue gak salah denger tadi Dirga ngomong sayang kan ya?'
Loh Dirga mana? Kok ilang?
Dan ya! Dirga meninggalkanku dengan ekspresi bodoh di dalam mobil sendirian.
__ADS_1
"DIRRRGAAAAAAA!"