RAGA

RAGA
Raga | 22


__ADS_3

Pagi hari yang cerah ini, gadis cantik dengan pita dirambut cokelatnya ini tengah kebingungan mencari kedua sahabatnya yang entah kemana ini. Meisya berlarian kesana kemari menanyakan apakah ada yang melihat Affa dan juga Karlina. Ajaibnya, make-up natural gadis itu tidak luntur sama sekali walau sudah berlari-larian.


"Affa!" teriak Meisya saat melihat Affa baru saja selesai berbicara dengan Mella-Si sie acara. Meisya menghampiri Affa dengan nafas yang tidak teratur, “Gue cariin juga! Bentar lagi kelasan kita!" omel Meisya.


"Ah ya? Yaudah yuk kita kesana.”" ujar Affa.


"Lah? Karlina mana?"


"Dia lagi siap-siap mau tampil, udah yuk ah kita duluan aja ke lapangan." ujar Affa seraya menarik tangan Meisya ke lapangan. Affa pun duduk di bangku barisan paling belakang, dan benar, sekarang waktunya bagian kelasnya yang tampil. Meisya tersenyum senang, setidaknya penampilan dari kelasnya tidak se-flat penampilan kelas lain yang hanya begitu-begitu saja.


"Yap, penampilan selanjutnya dari 12 IPA 5 yaitu darii.....


"....MEISYA ARSELINA! BINTANGNYA SCORPIO!"


"WOAHHHH!"


"MEISYA! MEISYA! MEISYA!"


"SEMANGAT KAK MEISYA!"


Dukungan demi dukungan terdengar di telinga Meisya. Meisya celingak-celinguk mencari keberadaan seseorang. Affa menoleh ke arah Meisya, Affa menghembuskan nafasnya kasar, sudah tahu siapa yang dicari oleh Meisya.


"Sana maju dulu. Nanti juga dateng. Kalo gak dateng gue videoin plus gue ngelive deh!" seru Affa seraya mendorong badan Meisya untuk menuju panggung. Dengan perlahan, Meisya melangkah maju ke panggung untuk menampilkan penampilannya. Gadis itu menyanyikan dua lagu. Musik instrumentnya pun sudah siap. Meisya duduk di sebuah bangku, dibelakang piano. Ya, gadis itu bernyanyi sambil bermain piano.


Senyumnya merekah ketika melihat Raga, Dhirga, Liona, Rama, Remi, Dandi, Gaga, Leon dan Troy disana. Terlihat mereka sepertinya baru saja datang. Disusul oleh Iqbal dan juga Ratras yang baru saja selesai menampilkan penampilan mereka tadi. Senyumnya sedikit memudar ketika melihat seorang gadis cantik tengah menggandeng tangan kekasihnya, yaitu Paula.


"Fokus." batinnya seraya mulai memegang balok pianonya.


Meisya mulai memainkan nadanya, suara tepuk tangan Meisya mulai memainkan nadanya, suara tepuk tangan gemuruh menyelimuti lapangan SMA Scorpio.


"WOAAAHHH MEISYA!"


"MEISYA I LOVE YOU!" itu suara jeritan anak lelaki.


"******!" batin Raga. Cowok itu melepas genggamannya dengan Paula, Paula hanya mencebik kesal.


"Hari ini hari bahagiamu... Di sini kutegarkan hatiku... Memaksa setiap langkah... Dalam senyuman kepedihan."" Meisya bernyanyi dengan amat sangat merdu, suara indahnya membuat bulu kuduk penonton merinding. Raga tersenyum, entah mengapa lirik demi lirik dinyanyikan oleh Meisya begitu menyayat hatinya.


"Detik ini akan segera berlalu... Namun tidak semua kenangan itu... Terlalu banyak kisah Yang tiada usai bagiku."


Speechlees. Merinding. Entah semua itu ada di dalam diri para penonton. Semua menjadi bungkam akibat penampilan Meisya saat ini. Yang tadinya mengantuk pun menjadi semangat kembali.


"Tiba saatnya kuakhiri semua... Kuhapus harapanku selamanya... Akan kucoba terus melangkah... Walau serpihan perasaan hatiku...Masih bersamamu."


"Meisya hebat banget, suaranya gila khas banget!" pekik Liona seraya mengamati mimik wajah Meisya yang serius


itu. "Bener kamu. Ga, mantep gila bakatnya Meisya. Gue salut." sahut Dhirga.


"Sumpiliti, gue merinding bos!" seru Troy.


"Detik ini akan segera berlalu... Namun tidak semua kenangan itu... Terlalu banyak kisah... Yang tiada usai bagiku."

__ADS_1


"Tiba saatnya kuakhiri semua... Kuhapus harapanku selamanya... Akan kucoba terus melangkah... Walau serpihan perasaan hatiku... Masih bersamamu... Hoo..."


"WOAAAA MEISYA!"


"MEISYA! MEISYA!"


"LOVE YOU BABY!"


"Sialan!" umpat Raga seraya menatap tajam siapa yang berkata seperti itu.


"Santei bos, masih bocah dia. Belom tau aja kita siapa," kata Dandi dengan gaya sok cool-nya.


"Udah-udah diem! Itu udah mulai!" seru Liona.


"Bosen iihh..." rengek Paula kepada Raga. Raga tak memperdulikan gadis disampingnya ini. Ia tengah fokus pada gadis cantik yang ada di atas panggung itu dengan lagu yang dibawanya.


"Brisik lo!" sengit Troy.


"Ish apaan sih!" balas Paula jutek.


"Ku lihat diriku... Ku baca hatiku... Tiada yang lain... Yang tersirat... Ku lihat dirimu... Kau tak sendiri... Masih bolehkah... Harap ini."


"Engkau datang... Saat aku merasa tak ada daya... Engkau ada... Saat ku tak mungkin ada di sana." Ah, Meisya kesal. Air matanya mengalir. Mengapa dirinya sangat sensitif perasaannya?


"Engkau datang... Saat diri ini tak ingin pergi...Engkau ada... Dengan setangkai cinta tak termiliki."


"Ku lihat dirimu... Kau tak sendiri... Masih bolehkah... Harap ini..."


"Oh mengapa saat kita berdua.. Semua terasa indah.. Seakan kau untukku.. Engkau datang.. Saat diri ini tak ingin pergi.. Engkau ada.. Dengan setangkai cinta tak termiliki,"


Raga. Cowok itu merasa aneh sekaligus bangga kepada Meisya. Meisya menyanyikannya seperti sangat amat menghayati. Sampai-sampai gadis itu menangis. Apakah dua lagu itu mewakili perasaan Meisya? Raga bertanya-tanya.


Jawabannya adalah iya.


"LAGI, LAGI, LAGI!"


"LAGI, SYA!"


"Oke, satu lagu lagi. Ini.. Bisa ngewalikin perasaan seseorang yang dikecewakan oleh pasangannya." ucap Meisya membuat sorakan-sorakan bahagia dibawah panggung.


"Menjelang hari bahagiamu Kau tak pernah tahu aku bersedih Kau lupakan semua kenangan lalu Lalu kau campakkan begitu saja Tega..."


"Aku tahu dirimu kini Telah ada yang memiliki Tapi bagaimanakah dengan diriku Tak mungkin ku sanggup untuk kehilangan dirimu."


"Aku tahu bukan saatnya Tuk mengharap cintamu lagi Tapi bagaimanakah dengan hatiku Tak mungkin ku sanggup hidup begini Tanpa cintamu.."


"Tak ingatkah kau dulu pernah berjanji Bahagiakan diriku slamanya Tak berartikah cinta kita yang lalu Hingga kau bersama dengan dirinya Tega..."


"Aku tahu dirimu kini Telah ada yang memiliki Tapi bagaimanakah dengan diriku Tak mungkin ku sanggup untuk kehilangan dirimu.."


"Aku tahu bukan saatnya Tuk mengharap cintamu lagi Tapi bagaimanakah dengan hatiku Tak mungkin ku sanggup hidup begini Tanpa cinta darimu."

__ADS_1


"Tapi bagaimanakah dengan aku Tak mungkin sanggup kehilangan Aku tahu bukan saatnya Tuk mengharap cintamu lagi.."


"Tapi bagaimanakah dengan hatiku Tak mungkin ku sanggup hidup begini Tanpa cintamu Tanpa cintamu


Meisya menyelesaikan penampilannya. Suara tepuk tangan menenuhi lapangan sekolah. Banyak sekali yang berteriak untuk meminta Meisya bernyanyi lagi. Tapi, Meisya tidak mau. Karena masih banyak yang ingin menampilkan penampilan mereka. Gadis itu turun panggung disambut oleh Affa dan juga Karlina. Mereka saling berpelukan.


"Huaa Caca! Gue nangis tau!" pekik Karlina seraya menghapus air matanya.


"Demi apapun lo nyanyi penuh penghayatan banget tau gak si! Sampe pada diem semua gila! Dan lo tau? Anak-anak Vhigor kagum sama lo, kak Liona juga. Kecuali si bebek betutu," ucap Affa.


"Bebek betutu?" ulang Meisya.


"Noh si Paul." sahut Affa.


Meisya terkekeh, "Gak boleh gitu ah."


"Abisan rese banget Sya! Lagi seru-seru nonton lo masa dia ngerengek minta pulang. Apa banget coba!" cibir Affa kesal.


"Udah-udah, yuk kita kesana aja." kata Meisya seraya menunjuk ke arah Vhigor.


Meisya, Affa, dan Karlina pun menghampiri Raga dan teman-temannya. Meisya tersenyum manis kepada orang-orang yang menyapanya.


"Hai, Ga! Hai semua!" sapa Meisya.


"Haiii," balas anak-anak Vhigor.


"Hai, sayang. Aku bangga sama kamu." ujar Raga seraya mengelus kepala Meisya. "Hari ini kamu cantik sih, makanya banyak yang lenjeh." ucap Raga kesal.


"Adik kelas mata keranjang noh!" kata Raga membuat Meisya terkekeh.


"Eh kita makan-makan yuk?!” seru Iqbal kepada semua


seraya merangkul Affa.


"Boleh tuh!" seru Liona.


"Ikuttt kalo makannn!" kata Karlina.


Remi terkekeh, "Nah kan seneng gue kalo doi ikut, jadi semangat." ujar Remi seraya melirik ke arah Karlina. Karlina menjadi salah tingkah.


"Yuk!" kata Leon.


"Meisya sama Affa ikut mobil Raga, Karlina ikut mobil gue." ucap Dandi.


"Oke!"


Mereka pun berjalan menuju mobil. Meisya menggandeng Raga dengan posesifnya. Iqbal merangkul Affa. Dhirga menggandeng Liona seraya mengacak-acak rambutnya.


BRUK


Semuanya menoleh, semua mata tertuju pada sumber suara.

__ADS_1


"PAULA!"


BERSAMBUNG...


__ADS_2