
Hari ini siswa dan siswi kelas 12 SMA Scorpio baru saja selesai melaksanakan simulasi UNBK. Suasana sekolah menjadi riuh akibat ulah sang ketua OSIS yang mengumpulkan mereka semua di lapangan.
"Yap temen-temen. Kayak yang gue bilang beberapa hari lalu, selesai kelas 12 menjalani simulasi UNBK kita akan mengadakan pensi yang diadakan dilapangan sekolah tercinta ini!" seru sang ketua OSIS-Derry.
"Dan pensinya akan ditampilkan oleh seluruh siswa dan siswi kelas 12. Untuk kelas 10 dan 11 hanya menonton ya."
"Setelah pulang sekolah nanti, diharapkan seluruh siswa dan siswi kelas 12 untuk berkumpul diaula sebab akan ada pengarahan dari gue untuk masalah besok. Terima kasih, sekian."
Setelah berkumpul di lapangan, Meisya, Affa dan Karlina pun pergi menuju kantin untuk mengisi kekosongan hati -Eh perut mereka.
"Gue kayak biasa." ucap Meisya.
"Gue juga." sahut Karlina.
"Oke."
Pesanan mereka pun datang, dibawakan oleh Affa. Ketiga gadis cantik itu pun memakan makanan mereka dengan lahap. Sesekali, mereka bercerita-cerita. Entah apa yang dibicarakan oleh mereka, biarlah mereka saja yang tahu.
“Oh iya, btw, lo nerima gak si Remi?” tanya Affa kepada Karlina.
Karlina menggeleng, “Gue tolak. Gue bener-bener takut, Fa." ucapnya.
Meisya menoleh ke arah Karlina, menghela nafasnya lalu menatap Karlina intens. "Gak semua cowok kayak mantan lo itu, Kar." ujar Meisya serius.
"Ada saatnya lo harus buka hati lo lagi untuk orang lain, gak stuck di situ-situ aja." kata Meisya lagi.
"Tapi, Sya, gue bener-bener trauma."
"Trauma lo bakal hilang, kalo lo sendiri ada niat untuk ngelewatinnya."
"Gitu ya?" cicit Karlina.
Meisya mengangguk. "Ubah mindset lo."
Karlina pun mengangguk, ia memeluk Meisya dari samping. "Makasih banyak ya, Sya."
"Sama-sama. Udah ah yuk, lima menit lagi jam pulang. Dan kita harus kumpul di aula."
...🌸🌸🌸...
__ADS_1
Meisya dan teman-temannya pun kini sudah berada di aula. Mereka bertiga duduk dibangku yang sudah disediakan. Mereka duduk dibarisan nomor tiga. Meisya bernapas lega, satu tahap dikelas 12 ini sudah ia lewati. Tinggal beberapa tahap lagi ia akan menjalani ujian kelulusan.
"Langsung pada intinya. Gue cuma mau ngejelasin konsep yang diadakan besok. Perkelas udah gue mintain data anak-anak yang ikut pentas, dan syaratnya adalah satu kelas harus ikut semua. Nah, gue mau acara ini meriah."
"Baju atau pakaian bebas. Tapi tolong, pakaian yang sopan. Untuk yang dancer, yang sopan ya. Gak enak nanti kalau yang punya sekolah ini ngeliat. Acara mulai dari jam 8 pagi, sampe jam 4 sore. Untuk MC, dari OSIS. Dan nanti kalau kalian butuh sesuatu atau apa, bisa lapor ke Mella, dia yang ngurus acara ini. Dan untuk tempat ganti baju atau make-up, udah gue siapin. Cewek cowok beda pastinya." ucap Derry.
"Kayaknya udah jelas ya, kalau gitu apa ada pertanyaan?"
"ENGGAK!"
"Oke udah jelas. Tampilkan penampilan terbaik kalian, jangan lupakan kalau ada hadiah nanti untuk lima orang dengan penampilan terbaik. Sukses untuk besok! Gue akhiri, terimakasih dan sekian."
Setelah mendapat pengarahan dari ketua OSIS, seluruh siswa dan siswi kelas 12 berhamburan keluar aula untuk menuju rumah masing-masing. Meisya, Affa, dan Karlina pun keluar dari aula. Mereka mengambil tas mereka dikelas. Lalu Affa pergi ke parkiran untuk mengambil mobilnya. Kalau Meisya, gadis itu sudah dijemput oleh supir suruhan Dhirga.
Bagaimana dengan nasib Karlina? gadis itu menggerutuki dirinya sendiri karena ia mendapat kesialan. Mamanya mengabari bahwa Mamanya tidak bisa menjemputnya karena mendadak ada panggilan dari kantor. Mamanya menyuruhnya untuk menaiki bus atau ojol.
Tin!
"Naik, Kar." seru cowok itu. Karlina masih tidak mengenalnya karena wajah cowok itu tertutup oleh helm full facenya. Saat cowok itu membuka helmnya, ia mengisyaratkan Karlina untuk naik keatas motornya.
Karlina masih tak bergeming, cowok itu geram. “Mau anak-anak Aftar nyulik lo?" tanya cowok itu.
Karlina pun menggeleng, lalu segera menaiki motor cowok itu. Cowok itu tersenyum puas, lalu melajukan motornya dan segera mengantar gadis di belakangnya ini.
"Gak."
"Kenapa?"
"Libur."
"Ohh.."
"Udah sampe, makasih ya. Maaf kalo ngerepotin lo." ujar Karlina seraya tersenyum tipis. Cowok itu mengangguk, "Sama-sama. Gue balik." ucap cowok itu.
"Hati-hati, Rem."
...🌸🌸🌸...
Meisya baru saja sampai dirumahnya. Alangkah terkejutnya gadis itu melihat Raga ada disana bersama Dhirga dan juga Liona. Meisya salim kepada Wina, lalu duduk disamping Wina.
__ADS_1
"Ada apa ini?" tanya Meisya.
"Kamu gak apa Sya? Aku tau dari salah satu bodyguardnya Dhirga kalau Marsyel dateng kerumah kamu kemarin. Kamu gak apa kan?" Raga mengintrogasi Meisya. Meisya tersenyum tipis, lalu mengangguk.
"Aku gak apa, orang pas Marsyel mau jawab ucapan aku ngapain dia ada disini, tiba-tiba bodyguardnya Dhirga nyerang dia sampe dia pergi." ucap Meisya membuat hati Raga menghangat. Sungguh, Meisya benar-benar obat baginya.
"Dia belum apa-apain kamu kan?" tanya Raga lagi.
Meisya menggeleng, "Belum dan jangan sampe."
"Sekarang lo ganti baju dulu, kita tunggu disini." kata Liona kepada Meisya. Meisya pun mengangguk.
"Ada yang mau kita omongin." lanjut Liona. Hal itu membuat Meisya penasaran, gadis itu segera mengganti pakaiannya dan segara turun kebawah untuk menemui Raga, Dhirga dan Liona.
"Hal apa yang mau dibicarain?" tanya Meisya.
"Gue dan anak-anak Vhigor mau jalan-jalan ke daerah gunung." jelas Liona.
"Itu janji kedua aku setelah makan-makan Sya waktu anak-anak berhasil buat pesta ulang tahun untuk Paula." kata Raga.
"Gue khawatir, disaat kita pergi lo dan teman-teman lo dalam bahaya. Jadi, rencana kita lo, nenek lo dan semua yang ada dirumah ini nginep dirumah Affa. Ayahnya Affa kan polisi, setidaknya dia bisa ngelindungi kalian. Tiga bodyguard gue aja gak cukup ngelawan Aftar dengan Marsyel yang licik." jelas Dhirga kepada Meisya.
"Gue gak bilang sama nenek soal ini, tapi gue ngejelasin ke nenek bahwa selama tiga hari itu ada penyemprotan nyamuk makanya kalian diungsiin dirumah Affa. Gue udah izin sama nyokap bokap Affa, dan mereka setuju." kata Dhirga.
“Kita milih rumah Affa karena rumah Affa lumayan jauh dari sini." kata Liona.
"Kenapa.. Gue gak diajak?" tanya Meisya hati-hati.
"Sorry banget Sya. Tapi gue yakin, dirumah Affa kalian aman. Dan kalo misal lo ikut, yang jaga nenek siapa? takutnya nenek main bukain pintu ke orang yang gak dia kenal, ngaku-ngaku temen lo padahal itu anak Aftar, gimana?" kata Dhirga. Meisya menggeleng, memikirkan hal itu lagi.
"Ya, gue nurut."
"Bagus." ucap Raga.
"Paula... Ikut?"
Raga terdiam. Lalu detik berikutnya cowok itu mengangguk. "Tante Dini dan Om Feri yang minta."
"Ohh.."
__ADS_1
"Sorry Sya.."
BERSAMBUNG...